Apa jadinya jika dua orang yang tidak saling mencintai justru harus hidup dan tinggal dibawah satu atap yang sama sebagai suami istri?!
Celine tak pernah menyangka jika hidupnya akan berakhir dengan sangat menyedihkan. Menikah dengan laki-laki yang sama sekali tak dia cintai, hidup satu atap sebagai pasangan suami-istri.
Setiap hari Celine selalu makan hati karena suaminya selalu membawa pulang wanita lain ke rumah mereka. Apakah Celine cemburu? Apakah Celine sakit hati? Maka jawabannya adalah tidak, bahkan dia tak peduli sama sekali.
Lalu langkah apa yang akan Celine ambil pada akhirnya? Tetap mempertahankan pernikahannya, atau justru mengakhirinya?! Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11: Mungkinkah Hanya Mimpi?!
Celine menoleh saat melihat siluet suaminya berjalan di belakangnya. Celine memicingkan matanya dan menatap Aiden penasaran. "Kau mau kemana?" tegur Celine saat melihat Aiden hendak keluar sambil membawa handuk kering, sehelai kaus dan celana piyama.
Pria itu menghentikan langkahnya lalu menoleh. "Aku akan menumpang mandi di kamar, Neo," jawabnya.
Dahi Celine saling bertautan, bingung dengan jawaban Aiden. "Apakah kran di kamar mandi sedang rusak?" tanya Celine, Aiden menggeleng. "Lantas?" sambungnya
"Aku tidak ingin membuatmu canggung, jika melihat ku keluar kamar mandi hanya dengan handuk saja!"
Pipi Celine memerah mendengar jawaban suaminya, jangankan ingin melihat Aiden bertellanjang dada, membayangkannya saja Ia tidak pernah.
"Ja..jadi karna itu? Bukannya kau bisa membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi,"
Celine berkata sedikit gelagapan membuat Aiden gemas dan tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pipi istri cantiknya itu. Tapi hal itu tidak Aiden lakukan karena tidak ingin membuat Celine semakin canggung.
"Hn, baiklah kalau begitu!" Aiden tersenyum tipis, pria itu berbalik. Membuat Celine sedikit bingung ketika laki-laki itu tiba-tiba berhenti di depan pintu kamar mandi.
"Ada apa?? Apa kau melupakan sesuatu?" tanya Celine memastikan.
Alih-alih menjawab, Aiden malah meresponnya dengan seringai misterius yang tidak Celine ketahui maknanya. "Mau mandi bersama?" tawar Aiden sambil mengedipkan matanya, membuat wajah Celine seketika merona.
Dengan cepat dia mengambil bantal yang ada di sampingnya lalu melemparkan pada laki-laki itu. "Dasar messum," Aiden terkekeh, Ia baru sadar ternyata menggoda Celine sangat menyenangkan. Dan selepas kepergian Aiden. Celine menarik sudut bibirnya dan tersenyum samar 'Ternyata dia tidak seburuk dan sedingin yang terlihat,' batin Jessica tersenyum.
15 menit kemudian Aiden keluar lengkap dengan pakaian santainya. Kaos putih polos dan celana piyama panjang, tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Pria itu tersenyum samar ketika mendapati Celine tertidur sambil memeluk novel yang sebelumnya dia baca.
Aiden meletakkan handuknya lalu menghampiri gadis itu. Di ambilnya novel itu dengan hati-hati lalu menyimpannya di atas meja. Aiden tersenyum tipis.
Di pandangi wajah gadis itu lalu pandangannya turun menuju bibir merah mudanya, perlahan pria itu membungkukkan tubuhnya sambil mendekatkan wajahnya, kepalanya sedikit miring kesamping menuju bibir Celine.
Aiden menutup matanya saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Celine lalu mellumat bibir itu dengan perlahan agar Celine tidak sampai terbangun. Ciuman sepihak itu hanya berlangsung 15 detik saja, kemudian ciuman Aiden beralih pada kening Celine dan mengecupnya lama.
Tangannya mengusap pipi Celine, sebelum menegakkan tubuhnya. Setelah itu Aiden segera berjalan keluar tanpa suara dan menutup kembali pintu kamarnya.
Kedua mata itu terbuka perlahan. Keterkejutan masih tampak jelas di wajahnya, jari-jarinya menyapu permukaan bibirnya yang terasa sedikit basah lalu beralih pada keningnya.
Pandangannya menyapu ke seluruh penjuru ruangan, legang dan tidak mendapati siapa pun di kamar itu termasuk Aiden. Celine bangun dari posisi berbaringnya lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur, wajahnya mendongak menatap langit-langit kamar Aiden, pandangannya menerawang jauh.
Dia sedang bertanya-tanya tentang apa yang baru saja terjadi. "Mungkinkah itu hanya mimpi? Atau aku sedang berhalusinasi?" gumam Celine pada dirinya sendiri.
Celine mencoba berfikir dengan jernih. Ia bermimpi seseorang telah mencium bibir dan keningnya, namun anehnya mimpi itu terasa begitu nyata bahkan bibir dan keningnya terasa basah. Tapi jika ciuman itu nyata, lalu siapa yang melakukannya? Mengingat tidak ada siapa pun di kamar itu ketika Ia membuka matanya.
Akhirnya Celine pun menyimpulkan jika ciuman itu adalah mimpi. Tak ingin terlarut dalam pemikirannya yang cukup membingungkan itu. Dia kembali berbaring dan melanjutkan tidurnya.
.......
.......
Di tengah malam Celine terjaga dari mimpinya. Jam yang menggantung di dinding kamar bernuansa biru putih itu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Gadis itu menggerakkan tubuh dalam posisi berbaringnya, Ia merasakan sesuatu yang ganjil.
Ruang di sisi kanannya terasa dingin yang artinya tidak ada yang menempati, benar dugaan Celine bila Aiden memang tidak tidur satu ranjang dengannya. Lalu Celine mengulirkan pandangannya kearah sofa dan sedikit terkejut mendapati Aiden tidur di sana dalam posisi terlentang dengan satu tangan menutupi wajahnya tanpa selimut.
Tubuhnya hanya terbungkus oleh pakaian yang melekat di tubuhnya. Sontak saja gadis itu bangkit dari berbaringnya lalu melangkah menghampiri Aiden.
"Ai,"
"Eunngghh??" guncangan kecil pada tubuhnya membuat Aiden sedikit terusik.
Pria itu menggeram rendah, dengan enggan Aiden membuka salah satu matanya dan mendapati siluet Celine berdiri di sampingnya. Dahi Aiden mengernyit, sebelum kedua matanya terbuka sepenuhnya. "Ada apa?" tanya Aiden dengan suara bass-nya, khas orang bangun tidur.
"Kenapa kau tidur di sofa? Tubuhmu bisa sakit semua, lagi pula ranjang itu tidak terlalu kecil untuk kita berdua!" tutur Celine.
Aiden terdiam untuk beberapa saat, matanya mengunci mata hazel milik Celine yang begitu meneduhkan, sedangkan Celine yang ditatap seperti itu oleh Aiden menjadi sedikit salah tingkah.
"Ja...jangan salah paham, bu..bukan maksudku ingin satu ranjang denganmu. I..ini adalah kamarmu dan kau tidak seharusnya tidur di sofa!" Celine mencoba memberikan penjelasan. Lalu pandangan matanya tertuju pada jari-jarinya yang saling meremas. Kebiasaan yang selalu Jessica lakukan ketika sedang gugup.
"Aku hanya tidak ingin membuatmu tidak nyaman dengan tidur satu ranjang denganku, aku tau kau masih tidak terbiasa!" Celine mengangkat wajahnya setelah mendengar ucapan Aiden.
Dan gadis itu terdiam 'Ternyata dia memikirkan perasaanku?' batinya tak percaya.
Lalu Celine mengalihkan pandangannya dan menatap kearah lain. Meskipun Ia telah menikah dan hidup satu tahun bersama Aiden, namun sedikit pun dia tidak tau Aiden pria seperti apa. Yang Celine tau, Aiden adalah pria dingin dan berbahaya, namun akhir-akhir ini dia mulai melihat sisi lain dari laki-laki itu.
Ternyata Aiden tidaklah sedingin yang terlihat, Aiden adalah pribadi yang hangat dan menurutnya cukup menyenangkan. Muncul dibenak Celine untuk bisa mengenal Aiden lebih jauh, tidak ada salahnya bukan? Toh mereka telah resmi menjadi pasangan suami-istri.
"Kau yakin ingin tidur satu ranjang denganku?" sekali lagi Aiden memastikan.
Celine mengangkat wajahnya lalu mengangguk yakin. "Ya," jawabnya singkat.
Aiden tersenyum tipis, wajah Celine bersemu merah saat tangan Aiden mengacak rambutnya. "Kau bisa menggunakan guling sebagai pembatas diantara kita!" ucap Aiden,
Celine menggeleng. "Tidak perlu, bukankah kita suami-istri yang sah? Jadi untuk apa membuat batas wilayah aman untuk kita?" Celine menundukkan wajahnya yang bersemu merah, menyembunyikan dari Aiden.
"Baiklah, jika maumu begitu. Ini masih malam sebaiknya kita tidur lagi!" ucap Aiden dibalas anggukan oleh perempuan itu.
"Baiklah," keduanya berjalan menuju ranjang, meskipun sama-sama ragu tapi akhirnya mereka tidur bersama.
.
.
Bersambung
*mereka melaknat aiden yang bersandiwara membawa wanita lain tapi mereka membela dan membenarkan celine yang selingkuh, bermesraaan, bercumbu dengan lelaki lain
fakta
novel menunjukkan karakter authornya dan koment menunjukan karakter readernya
dia selingkuh dan beemesraan dengan lelaki lain baru dia heran bingung kenapa suaminya mengdarinya
beginilah kelakuan wanita egois, munafik dan tidak punya perasaan sama sekali
dia melakukan hal paling menjijikan, selingkuh dan bermesaan dengan lelaki lain tapi tidak sadar dia melakukan kesalahan
jujur pemikiran celine sangat menjijikan
othornya ini plin plan amat...MENJENGKELKAN
Hanna sama yg lainnya
lanjut💪