Belum hadirnya seorang buah cinta di tengah-tengah keluarga kecilnya di usia pernikahannya hampir sepuluh tahun itu membuatnya bersedih.
Segala upaya dan usaha sudah mereka tempuh dan lakukan, tapi hasilnya tetap nihil hingga mereka memutuskan untuk bekerjasama dengan seorang ibu hamil yang ditinggal oleh suaminya itu yang sudah memiliki tiga orang anak untuk bekerjasama dengannya.
Akankah kehidupan rumah tangganya akan bahagia dengan kehadiran seorang bayi laki-laki yang dipersembahkan oleh mamanya dengan sukarela?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
Takdir dan garis tangan setiap orang itu berbeda-beda. Seperti halnya, apa yang terjadi pada Anna Jamilah. Perempuan yang memilih berangkat ke Seoul, Korea Selatan untuk menjadi TKI dan tidak lama memilih menikah dengan pria yang berjanji padanya seumur hidupnya. Tetapi, apa yang terjadi padanya tidak sesuai dengan impian dan harapannya.
Pria yang sudah menikahinya malah mengkhianatinya dan balik ke Indonesia, Jakarta karena dengan istri keduanya dan juga menelantarkan anak dan istrinya yang sedang mengandung.
Ayunda Atifa Balqis menitikkan air matanya menangisi kepergian satu-satunya orang yang jujur dan dekat dengannya, karena tidak memiliki maksud,niat dan kepentingan yang terselubung.
Ayun menoel pipi dan hidungnya bayi kecil yang malang itu,"Mbak makasih banyak atas bantuannya Mbak, saya dan suamiku tidak akan pernah melupakan jasa-jasa dan kebaikanmu aku akan menjaga mereka seperti layaknya anak kandungku sendiri,anak yang terlahir dari rahimku, aku janji akan hal itu," ucapnya sendu dengan meneteskan air matanya.
"Ya Allah… nasibmu begitu malang Nak, baru saja melihat dunia ini, Mama kalian sudah meninggal dunia," lirihnya Ayunda Atifa.
"Ayun,apa maksud dari perkataanmu, siapa yang meninggal dunia?" tanyanya Bu Widya Wati yang datang tanpa memberikan informasi kedatangannya itu.
Ayun menatap intens ke arah Mama mertuanya itu," kenapa Mama mengetahui jika aku sudah melahirkan di rumah sakit ini? Semoga saja Mama tidak mendengar semua perkataanku," batinnya Ayun.
"Kamu kok melamun lihatlah anakmu sepertinya kelaparan, butuh asi," ucapnya Bu Widya.
Ayun segera tersadar dari lamunannya,ia berpura-pura kesulitan untuk bergerak leluasa sehingga Bu Widya yang menggantikan posisinya itu untuk memberikan asi kepada kedua putra kembarnya.
"Kamu tidak boleh banyak gerak, kamu itu habis operasi katanya dokter ada kista rahimmu dan satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah kau harus tutup kandungan," ungkap Bu Widya.
Ayun terkejut mendengar perkataan dari mama mertuanya itu, padahal sama sekali ia tidak mengetahui hal itu jika suami dan dokter Aulia sudah merencanakan hal tersebut untuk berjaga-jaga jika,kelak akan ada lagi yang bertanya tentang adiknya si kembar.
"Apa ini sesuai dengan perkataan dari Mas Ibra agar lebih terlihat nyata bukan rekayasa, pantesan perawat memasangkan beberapa perban di perutku, aku kira itu korsek seperti ibu baru melahirkan lainnya," Ayun membatin dengan raut wajahnya yang pura-pura meringis kesakitan agar tidak ketahuan jika ia hanya berbohong.
Bu Widya yang melihat apa yang terjadi pada anak menantunya itu segera berjalan ke arah Ayun sambil berteriak memanggil dokter dan perawat.
"Suster! Dokter tolong cepat kemari!" Teriaknya Bu Widya yang juga ikutan panik.
"Maafkanlah aku Mama aku sudah berbohong, lagian aku melakukan ini karena, gara-gara Mama juga aku terpaksa melakukan ini semua demi keutuhan rumah tanggaku, karena aku sangat mencintai Mas Ibra, semoga kelak jika ini ketahuan Mama bisa mengerti dengan keadaan kami," Ayun membatin dengan buru-buru menyeka air matanya itu.
Dokter Aulia dan sekitar tiga perawat segera berdatangan masuk ke dalam ruangan inap perawatan dari Ayunda.
"Apa yang terjadi dengan pasiennya Bu?" Tanyanya Dokter Aulia.
"Tadi menantuku sepertinya meringis kesakitan menahan perihnya mungkin dari jahitan di perutnya itu," jelas Bu Widya yang sangat khawatir dengan kondisinya Ayun.
"Ibu Ayun seharusnya untuk sementara waktu jangan banyak gerak dulu, karena ibu baru melahirkan dengan secar dan juga menutup kandungannya Ibu jadi, harus lebih berhati-hati jika Ibu tidak ingin terus-menerus tinggal di rumah sakit kami,"
"Maaf dokter, saya terpaksa bergerak karena tadi kedua bayiku menangis sepertinya kelaparan terus enggak ada orang yang bisa aku mintai pertolongan," terangnya Ayun dengan suara yang dibuat selemah mungkin.
"Maafkan saya Dok, ini salah saya yang sudah lalai menjaga Nyonya Ayun, karena tadi saya sangat lapar jadi butuh istirahat sebentar, maafkan saya yah Nyonya Ayunda," imbuhnya Risa Sarasvati perawat yang membantu dokter Aulia.
"Ti-dak apa-apa kok lain kali tolong infokan terlebih dahulu sebelum meninggalkan ruangan ini,"
"Iya, insya Allah Nyonya,"
"Untungnya saja aku cepat tanggap mengeluh kesakitan jika tidak,Mama akan memaksaku untuk menyusui kedua bayiku dengan asiku," Ayun terus menatap ke arah mamanya itu.
"Nyonya Ayun jika obat dan jamunya yang sudah saya berikan sudah habis tapi, ASI-nya masih tersendak bahkan tidak mau keluar stop konsumsi obatnya yah, Ibu bisa bantu mereka dengan asi formula saja, karena setiap ibu muda itu kondisi fisik tubuhnya berbeda-beda," jelasnya Dokter Aulia.
"Tidak apa-apa kok dokter, aku juga sewaktu lahirkan kedua anakku asiku juga enggak keluar, tapi untungnya enggak asi sama aku kalau tidak paa yuuu daaa raaaku akan membesar," tuturnya Bu Widya.
Ayun dan dokter Aulia saling bertatapan satu dengan yang lainnya dengan saling melempar senyuman tipis.
"Syukur Alhamdulillah... mereka selalu baik dan hadir untuk menolongku disaat genting seperti ini,"
sungguh mulia hati pak ibra