Cerita ini sangat panjang dan menakutkan bagiku. Jika ditanya apa penyesalan terbesarku, maka aku akan menjawab tanpa ragu. Aku menyesal meninggalkan Negeri Bintang untuk belajar ilmu kebatinan.
Buruknya, giliran itu semakin mendekat padaku. Aku tak bisa menghindar darinya, karena dia selalu bersamaku. Begitu juga kalian. Dia selalu mengikuti kalian.
Jika cerita ini sampai pada kalian, berarti giliranku telah sampai. Setidaknya, aku bisa memberitahu kepada orang-orang Negeri Bintang, ada seseorang bernama Algol Perseus.
Cover by Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Akira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI KESEBELAS: JANGAN MENENGOK KE BELAKANG!
Algol menatap Alphard dengan cermat. Ia sudah menduga bahwa tak ada yang romantis di balik perkataan Alphard. Apalagi pria ini selalu membawa aura kelam di sekitarnya.
Ia yakin Alni yang melankolis, dan Sadir yang agak dungu, tak akan menyadarinya. Namun berbeda dengan dirinya. Ada hal yang sengaja Alphard metafora kan agar maknanya agak tersirat.
“Bukankah selalu tersenyum itu bagus? Jika hasilnya bagus, apa yang penting tentang proses?” tanya Alphard sambil mencabuti rerumputan di pinggir jalan.
Algol tidak menghiraukan tindakan bersih-bersih Alphard, “Bagus atau tidaknya tergantung dari perbuatanmu."
Sadir yang sangat kelelahan, menyela kegiatan wajib antara Algol dan Alphard, “Bisakah kalian melanjutkannya nanti? Aku nyaris mati di sini.”
Algol menyetujui hal tersebut, dan mengunci mulutnya. Lagipula sangat tidak etis jika mereka harus menyeret dua ekor manusia yang tak berdaya di perjalanan yang sulit ini. Bahkan Algol sudah dua hari tidak mandi, dan mulai merasakan ada aura-aura buruk di tubuhnya.
Ditambah lagi dengan makhluk besar yang masih berusaha mengintip Algol dari balik pepohonan. Samar-samar Algol mendengar bisikan dari makhluk itu. Ia tak bisa mendengarnya dengan jelas, dan ia juga tak mau mengetahui isi perkataan makhluk itu.
Tentu saja, Algol masih tak mengerti tentang keberadaan makhluk itu. Mengapa yang lainnya tak melihatnya?
Namun selama makhluk itu tidak mengganggunya lagi, berarti itu hanya sekadar hantu hutan yang terganggu dengan keberadaan mereka.
Algol pernah mendengar tentang cerita masyarakat setempat yang pernah diganggu oleh hantu hutan.
Katanya, seorang petani bersama istrinya punya kebun buah-buahan yang jaraknya jauh dari rumah. Jadi, mereka harus melewati hutan belantara yang masih asri. Biasanya, mereka selalu pulang sebelum matahari terbenam, sehingga tak ada masalah apa-apa.
Dikarenakan rumah mereka yang jaraknya jauh dari kebun, mereka biasanya hanya memanen buah-buahan secukupnya, agar bisa dibawa pulang dalam satu kali angkut.
Namun hari itu, buah-buahan mereka dipesan dalam jumlah banyak oleh saudagar kaya. Tanpa pikir panjang, sang suami menyetujuinya.
Akhirnya, karena buah yang dipanen banyak, mereka harus dua kali bolak-balik untuk mengambil buah. Mereka tak bisa menggunakan kereta, karena jalan yang ada hanyalah jalan setapak kecil.
Pada kali pertama, mereka masih baik-baik saja karena matahari belum terbenam. Namun tidak dengan kedua kalinya.
Saat mereka sudah memasuki hutan, mereka merasa diikuti oleh sesuatu. Awalnya, mereka tak menghiraukannya. Lama kelamaan hal itu membuatnya jadi penasaran.
Tak lama sang suami mengatakan, “Jangan menengok ke belakang.”
Akan tetapi, istrinya yang tak tahan melanggar perintah suaminya. Sang istri menengok, dan nyaris pingsan saat mendapati sepasang mata sebesar gentong air tepat di belakang mereka.
Sang istri yang ketakutan berteriak, pemilik sepasang mata besar itu juga berteriak.
Saat mereka berlari, makhluk itu juga ikut berlari.
Apa saja yang dilakukan oleh mereka, makhluk itu selalu mengikuti.
Pada akhirnya, buah-buahan yang mereka panen hanya ditinggalkan begitu saja.
Semua itu tidak berhenti hanya sampai di hutan itu saja, bahkan saat mereka sudah sampai ke rumah. Sang istri yang melihat sepasang mata itu, mendadak selalu ketakutan. Ia tak bisa tertidur, tetapi suaminya malah tertidur dengan lelap karena kelelahan.
Sang istri yang baru saja bisa tertidur, tiba-tiba terganggu dengan suara suaminya yang mengigau. Dengan kesal, sang istri membalikkan badannya hendak membangunkan suaminya. Saat itulah ia menyadari bahwa dirinya bukan berada di rumahnya. Melainkan masih berada di dalam hutan itu.
Dan yang berada di sebelahnya bukanlah suaminya, tetapi sosok yang bertubuh besar, dan memiliki mata sebesar gentong air, serta tangan yang panjang.
Cerita itu berakhir sampai di situ saja, dan tak ada bukti bahwa cerita itu benar-benar terjadi, sehingga Algol mengira itu hanyalah sebuah rumor.
Namun sosok besar itu benar-benar ada.
Mendadak Algol berpikir, apakah orang-orang di sekitarnya hanyalah bayangan Algol saja?
Bisa jadi Algol menjadi seperti sang istri, yang tak tahu bahwa dia masuk dalam ilusi hantu hutan.
“Algol, jika kau ingin masuk ke jurang, aku bisa mendorongmu,” suara Alphard yang menyebalkan terdengar.
Algol tersentak dari lamunannya, dan ia terkejut saat ia melihat jurang yang dalam di hadapannya.
Ia segera mengejar rombongannya yang sudah agak jauh dari posisinya. Apa dia harus menendang kaki Alphard, agar dia tahu bahwa Alphard itu manusia atau bukan?
Cerita itu hanyalah rumor, titik! Buktinya Alphard masih tetap menyebalkan seperti saudara sejatinya setan.
Mungkin saja cerita itu sengaja dibuat agar menimbulkan pesan moral di dalamnya. Seperti tidak boleh melakukan sesuatu yang sebenarnya di luar kemampuan kita, dan juga jangan melanggar apapun perintah yang diberikan orang lain.
Cerita itu tidak benar, dan Algol hanya berhalusinasi.
Tak lama kemudian, mereka melihat punggung Mizar dalam remang-remang malam.
Algol berprasangka baik, Mizar mungkin melambatkan langkahnya agar mereka dapat menyusul. Mizar mungkin tak seburuk yang Algol kira. Kecurigaannya pada Mizar tentu saja ada, tetapi mereka sekarang dalam posisi sangat memerlukan bantuan dari Mizar.
Jadi, Algol harus berprasangka dengan baik.
“Kau pasti memikirkan cerita romantis yang aku ceritakan tadi?” tanya Alphard dengan senyum tipisnya.
Algol mendelik, “Aku tahu cerita itu ditempuh dengan jalan yang buruk.”
“Apa maksudmu dengan jalan yang buruk? Yang pria hanya ingin mengabulkan keinginan dari orang yang dicintainya,” jelas Alphard keras kepala.
“Terserahmu saja.”
"Dasar tidak romantis!" ejek Alphard.
Mizar tiba-tiba berhenti, dan membalikkan tubuhnya menatap Algol, dan kawan-kawannya, “Aku tahu kalian brengs*k, tetapi aku yakin kalian punya telinga.”
Alphard menggaruk kepalanya yang gatal karena tidak mandi selama dua hari.
“Jangan mengganggu yang lain. Ingat!” tegas Mizar.
Algol mengangguk dengan terpaksa. Entah mengapa ia tak suka disama-samakan dengan yang lainnya. Apalagi digolongkan dalam kelompok yang sama dengan manusia tak berotak seperti Alphard.
Namun ia tak mau membuat masalah lagi.
Mizar hanya menghela napasnya dengan lelah saat mendapati tak ada jawaban dari kelompok gila di hadapannya. Ia dengan jengkel berjalan kembali hingga mereka mencapai sebuah lereng bukit.
Di sana terdapat sebuah rumah yang besar, tetapi dengan gaya yang tradisional. Di depan rumah itu terdapat sepasang patung batu yang dipahat secara kasar. Di bagian kiri, dan kanan rumah terdapat tanaman bambu hijau yang menjulang tinggi. Meskipun begitu, halaman rumah besar itu cukup bersih.
Algol pikir rumah ini tak pantas untuk berada di tengah-tengah hutan seperti ini. Dan lagi, ia masih tak mengerti mengenai pelatihan kebatinan.
Apakah dia harus bangun pagi seperti saat dulu dia berlatih pedang di istana kekaisaran?
Apa mungkin dia harus bersemedi di bawah pohon bambu?
Saat Algol membayangkan betapa buruknya pelatihan ini, Algol merasa seharusnya ia lebih mengikuti keinginan ayahnya.
Setidaknya, meskipun ia merasa kehilangan jati dirinya, dia tak akan kehilangan nyawanya. Apa mungkin selama ini Algol hanya kurang bersyukur, sehingga dia diberikan kehidupan yang seperti ini?
Sekian lama Algol termenung, suara Mizar terdengar lagi.
“Selamat datang di rumah pelatihan. Kalian akan tinggal di sini selama masa pelatihan. Jangan membuat keributan, dan jangan berkelahi. Siapa saja yang melanggar, tidak akan ada toleransi.”
Benar, inilah awal dari neraka yang akan dialami Algol nantinya.
***
Selamat membaca :D
Saya harap masih ada yang membaca cerita ini. Halo semuanya! Jangan lupa letakkan jempol anda pada tempatnya 😁
Rasanya up kali ini agak lama dari yang biasanya. Bagi yang menunggu cerita ini, saya mohon maaf karena terlambat.
Terima kasih buat yang like, komen, vote, serta memberi rating pada cerita saya. Jangan segan-segan untuk memberi kritik dan saran, karena dengan itu saya bisa terus belajar dan berkembang.
Tinggalkan jejak ya, kakak-kakak semua. Jika sedang banyak poin, silahkan di vote 👍
Mari bertemu lagi di chapter selanjutnya.
Adhios~
penggambaran setiap karakternya menunjukkan tingkat depresi yang sangat tinggi dalam kehidupan mereka sebagai bangsawan, dimana keidealisan hidup sejatinya memang sulit dicapai.
mungkin akan diadu domba nantinya agar saling membunuh satu sama lain.
Aku balik lagi..
Baca lagi, meski dengan akun baru karena akun lamaku gx bisa login
Cerita yg menarik, bikin penasaran, & seru
👍👍👍👍
😍😍😍😍😍