Wasiat perjodohan membuat dua insan di persatuan dalam sebuah ikatan , meski tidak ada cinta antara kedua nya , karena pria itu sudah memiliki kekasih yang cantik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Langit Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11 hati mulai terusik
Reno menarik napas panjang, menatap mata Dila dengan penuh kesungguhan.
“Dila, kamu tahu kan... aku menikahi Mala hanya karena kakek. Kalau aku nolak perjodohan itu, aku akan kehilangan semua — warisan, perusahaan, dan... mungkin juga keluargaku. Tapi kamu juga tahu, hatiku nggak pernah berubah. Cuma kamu.”
Dila diam, hatinya berdebar. Ia masih ingin percaya, tapi luka masa lalu membuatnya ragu.
“Aku bahagia sekarang kamu udah sah cerai sama Chandra,” lanjut Reno, suaranya lembut tapi penuh penekanan. “Itu artinya… kita nggak lagi hidup dalam bayang-bayang siapa pun. Sekarang, ayo kita pulang ke apartemen. Malam ini, aku akan nginap di sana. Nggak ada rapat, nggak ada alasan. Cuma aku dan kamu. Aku janji akan habiskan waktu bersamamu.”
Dila akhirnya menoleh, perlahan. Matanya menyelidik wajah Reno, mencari kebohongan yang mungkin terselip. Tapi ia hanya menemukan kerinduan dan tekad.
“Kamu serius?” bisiknya.
Reno tersenyum tipis, lalu merengkuh Dila dalam pelukannya yang hangat. “Iya, sayang. Aku serius. Malam ini, aku milik kamu sepenuhnya.”
Pelukan itu terasa seperti penghapus keraguan, meskipun jauh di lubuk hati Dila, masih tersisa sedikit pertanyaan — seberapa lama Reno akan bertahan melawan tekanan keluarga dan realitas pernikahan yang sah?
Namun untuk malam ini, ia memilih percaya.
Lampu temaram menyinari ruangan dengan cahaya lembut. Wangi parfum mawar menguar dari tubuh Dila yang baru selesai mandi, mengenakan gaun satin tipis berwarna merah marun. Di meja makan, segelas wine dan lilin kecil menyala, menciptakan suasana romantis.
Reno duduk di sofa, menatap Dila yang berjalan menghampirinya dengan senyum menggoda.
“Aku udah tunggu momen ini lama banget,” bisik Dila sambil duduk di pangkuan Reno, mengusap pipinya dengan lembut.
Reno tersenyum dan membalas pelukan Dila. Tubuh mereka saling mendekat. Ciuman demi ciuman terjadi, hingga akhirnya mereka larut dalam dekapan satu sama lain.
Namun di tengah keintiman itu, Reno tiba-tiba terdiam. Tatapannya kosong. Bayangan wajah Mala muncul dalam pikirannya, wanita yang dinikahinya tanpa cinta, tapi selama beberapa hari terakhir mulai menunjukkan sisi lembutnya. Ia teringat bagaimana Mala menyentuh tangannya dengan penuh perhatian saat menyajikan makan malam, atau saat dia diam-diam menyelimutinya ketika Reno tertidur di sofa.
"Reno...?"suara Dila pelan, menyadari ada yang aneh. “Kamu kenapa? Kok diem?”
Reno tersadar, buru-buru menutup pikirannya dan mencoba tersenyum. “Nggak apa-apa, sayang. Aku cuma capek sedikit.”
Dila memeluknya lebih erat. “Kamu yakin? Jangan bilang kamu mikirin dia...”
Reno tak menjawab. Hanya menatap langit-langit sejenak, lalu membisikkan, “Aku di sini, kan?”
Namun kata-kata itu justru menegaskan kegelisahan di hatinya.
Malam berlanjut, tubuh mereka bersatu... tapi di kepala Reno, dua nama terus bergema: Dila, cinta lamanya yang penuh gairah... dan Mala, istri sahnya yang mulai mengisi ruang kosong dalam dirinya dengan cara yang tak dia duga.
Mala duduk sendiri di ruang makan. Di hadapannya, dua piring nasi hangat, semangkuk sup kesukaan Reno, dan tumis sayur yang baru saja ia masak. Lilin kecil di meja makan mulai meleleh, sementara jam dinding berdetak pelan, menyayat kesunyian.
Pukul 23.00.
Tak ada suara pintu dibuka. Tak ada deru langkah kaki. Tak ada Reno.
Mala menatap makanan yang sudah dingin. Sudah berkali-kali ia mengecek ponselnya, berharap ada pesan atau telepon masuk. Tapi tetap sepi.
Ia menarik napas panjang, menunduk, dan berbisik pelan pada dirinya sendiri.
“Mala, kamu harus sadar… kamu bukan siapa-siapa untuk dia. Kamu cuma istri di atas kertas. Istri yang dipertahankan karena warisan. Bukan karena cinta.”
Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya yang bersih dan penuh luka memasak tadi pagi kini mengepal pelan.
“Kamu berharap lebih. Kamu masak, kamu tungguin dia pulang, kamu senyum tiap pagi… tapi dia bahkan gak lihat kamu sebagai perempuan. Bahkan mungkin sebagai manusia pun tidak.”
Air matanya menetes, jatuh ke atas sendok yang dingin.
Mala berdiri perlahan, mengambil satu piring, lalu berjalan menuju tempat sampah. Satu per satu makanan yang ia siapkan dengan cinta, ia buang ke dalam kantong plastik hitam.
Tak ada amarah. Hanya keheningan dan kecewa yang terlalu sering dipeluk dalam diam.
Di balik pintu apartemen yang tertutup, Mala berbisik dengan suara lirih.
“Kamu gak pulang malam ini, Reno. Tapi suatu saat kamu akan pulang, dan saat itu mungkin aku yang gak akan ada lagi di sini.”
Setelah membuang makanan yang sudah dingin, Mala menarik napas panjang. Matanya sayu, langkah kakinya berat. Ia menaiki anak tangga satu demi satu, seperti membawa seluruh beban rumah tangga yang tak pernah ia minta.
Tangga itu sunyi. Seperti dirinya.
Sesampainya di kamar, ia membuka pintu pelan. Lampu kamar menyala remang, menyisakan cahaya lembut dari lampu tidur di sudut ruangan. Ia berjalan ke arah ranjang, lalu melepaskan selendang tipis yang masih melingkar di lehernya.
Tanpa mengganti pakaian, ia langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
Kasur itu dingin. Luas. Tapi kosong.
Ia menatap langit-langit kamar sambil menghela napas panjang, membiarkan air mata jatuh diam-diam ke bantal. Tak ada isak tangis, hanya lelah yang tak bisa diceritakan kepada siapa pun.
“Aku capek... Tuhan. Capek nunggu, capek berharap, capek pura-pura kuat.”
Bantalnya basah, tapi tubuhnya tetap diam. Malam makin larut, dan rumah itu makin sepi — tak ada suara kunci pintu, tak ada langkah kaki Reno.
Di dalam hatinya, Mala tahu: ia sedang mencintai seorang suami yang tidak akan pernah benar-benar pulang.
semangat thor.. mampir juga dong ke ceritaku..