NovelToon NovelToon
Every Moment Of You

Every Moment Of You

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:32.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kiky Mungil

Juliana, si perfeksionis, sinis, ketus dan menjunjung tinggi nilai kehormatan seorang wanita, sementara Harsa adalah bentuk nyata dari kerusakan moral manusia yang ada diseluruh dunia, yeah, setidaknya dimata Juliana.

Mereka adalah musuh bebuyutan sejak jaman primitif hingga takdir membawa dua orang itu bekerja dalam satu divisi dan satu ruangan yang sama. Saling membalas umpatan, makian, dan pertengkaran hingga perdebatan sudah bukan lagi hal baru. Tapi siapa yang menyangka, rupanya kebencian mereka malah membawa mereka berdua terbangun suatu pagi di atas ranjang yang sama!

"Kau pasti menjebakku, kan? Kau sengaja mau mencoreng reputasiku sebagai wanita terhormat!" Tuding Juliana.

"Hei, aku mungkin bejat dimatamu, meski begitu aku mempunyai syarat dan ketentuan berlaku untuk wanita yang bermain denganku, dan kau tidak memenuhi semua persyaratan dan ketentuan yang ada." Harsa menyeringai.

Lalu, bagaimana bisa semua itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Pria Idaman.

Malam semakin larut, namun masih ada beberapa pedagang kaki lima yang masih membuka tendanya, masih menyediakan jasa memasak dan menghidangkan makanan yang mereka jual untuk orang-orang yang kelaparan malam hari dan terlalu malas untuk masak sendiri, atau tidak ada lagi stok bahan makanan di rumah atau sekadar ingin mencari angin malam untuk mengusir penat dan segala kejenuhan.

Dimas membawa kakaknya makan malam pada salah satu pedagang kaki lima yang menyajikan nasi uduk dengan lauk ayam goreng, lele goreng dan juga sea food. Juliana memilih cumi saos padang sebagai makan malamnya tadi, sementara Dimas nasi uduk dengan lele goreng lengkap dengan lalapan dan sambal terasi khas.

Sekarang setelah kenyang mengisi perut, Dimas dan Juiana memilih untuk sejenak menikmati malam di pinggir jalan sembari menikmati segelas wedang jahe hangat.

“Yang tadi itu siapa, Kak?” tanya Dimas.

“Yang mana?”

“Laki-laki yang tadi bersama Kakak.”

“Oh,” Itu si kutu kupret alias keong racun alias buaya darat alias nyamuk penghisap darah. “Harsa, rekan satu divisi ku.” Jawab Juliana meski enggan menyebutkan nama pria menyebalkan itu.

“Ganteng.” Dimas memberikan komentar yang langsung mengundang sorotan tajam dari Juliana. “Kenapa? Memang ganteng, kok.”

“Atas dasar apa kau menilainya ganteng?” Juliana mengernyit.

“Aku sih hanya menilainya secara objektif aja, dilihat dari sisi mana pun, orang itu memang ganteng. Tinggi, berdirinya tegap, mukanya maskulin banget. Kakak tidak naksir?”

Seketika itu juga Juliana yang sedang menyesap wedang jahe tersedak dan menyemburkannya ke jalanan. Untung bukan ke wajah Dimas atau ke tukang parkir.

“Kenapa sih Kak?” Dimas menepuk-nepuk punggung Juliana.

“Si Harsa itu adalah manusia paling abhnormal yang pernah aku kenal sepanjang hayatku.”

“Kakak tidak suka padanya?”

“No, big no! Wanita-wanita lain boleh saja menggilainya, tapi tidak denganku. Dia bukan tipeku!”

“Memang seperti apa tipe Kakak?”

“Lelaki yang menghormati harga diri wanita. Dan si Harsa itu tidak mempunyai bakat itu.”

“Hmmm. Sepertinya Kakak mempunyai masalah dengannya, ya?”

“Aku tidak bermasalah dengannya jika saja dia tidak selalu mencari masalah denganku.”

“Ahh… aku mengerti, bisa jadi dia seperti itu karena dia menyukaimu.”

“Apa?!” Juliana membelalak. “Tidak mungkin. Asal kau tahu, kami itu musuh. Musuh abadi!”

“Sejak kapan?”

“Sejak bumi diciptakan!”

“Hati-hati, Kak, jangan terlalu membencinya, nanti-”

“Oke, cukup, Dimas! Kenapa kau tiba-tiba bertingkah seperti cupid tidak jelas begini? Sepertinya kau kebanyakan begadang mengerjakan tugas kuliahmu. Lebih baik sekarang kita pulang saja. Ayo cepat!” Juliana bangkit berdiri, mengentakkan langkah kakinya seperti pasukan pengibar bendera

***

Juliana, Novi, Mona, dan Harsa baru saja kembali dari lokasi proyek pembangunan yang akan nantinya akan dibangun perumahan beberapa unit. Juliana merasa bangga dan puas dengan hasil kerjanya melihat bagaimana urusannya dengan pejabat setempat tidak mendapatkan kesulitan sama sekali. Ia jauh lebih santai hari ini ketimbang hari kemarin, ia juga terlihat tidak lagi memperdulikan keberadaan Harsa.

Tidak lagi terprovokasi dengan candaan pria itu. Setiap kali Harsa membuka suara, Juliana memilih untuk pergi atau menyumpal telinganya dengan ear phone, kecuali jika perkataan yang keluar dari Harsa menyangkut soal pekerjaan, Juliana akan bersikap kooperatif.

Haru menggeser kursi kerjanya hingga menempel pada Harsa, meja Harsa yang kebetulan bersebrangan dengan Juliana, membuat Haru dan Harsa dapat melihat dengan jelas bagaimana adanya perubahan sikap Juliana pada Harsa seharian ini gara-gara insiden kecoak mainan di dalam kotak makan.

“Apa kau tidak merasa asing dengan perubahan Juliana padamu?” Bisik Haru sambil pura-pura membaca dokumen yang ada di atas meja Harsa.

“Kenapa memangnya?” Harsa balik bertanya.

“Entahlah, dia tidak lagi membalas godaanmu.”

“Ah, dia hanya sedang mempertahankan diri dari seranganku. Kita lihat saja seberapa lama dia bisa tidak terprovokasi olehku.” Harsa nyengir jahil.

“Sebaiknya tidak perlu.”

“Kenapa?”

“Nanti malah kau yang harus membabat habis kumis dan bewokmu.” Gantian Haru yang menyengir jahil.

Harsa terkekeh meledek ucapan Haru.

Juliana berdiri membawa serta beberapa map plastik dalam pegangan tangannya, ia menghampiri meja Harsa tanpa menunjukkan ekspresi apa pun di depan Harsa dan Haru.

“Gambar rancangan saluran pipa yang kau revisi, apakah sudah siap?” tanya Juliana.

Tapi Harsa diam saja, ia malah pura-pura sibuk dengan rancangan gambar di atas mejanya sementara Haru sudah kembali pada mejanya.

“Apa lubang telingamu penuh dengan kotoran?” tanya Juliana, yang selalu memaki Harsa dengan kalimat-kalimat formalnya, yang anehnya, Harsa menyukai itu.

“Oh, sekarang kau bicara padaku lagi, Nona Sempurna?”

“Tidak. Aku hanya bicara jika itu menyangkut soal pekerjaan. Jadi jangan harap aku akan terprovokasi lagi dengan tingkah dan keanehan dirimu.” Jawab Juliana. “Mana gambarmu, Pak Agus menunggunya.”

“Kau akan ke ruangan Pak Agus?”

“Ya. Pak Agus memintaku untuk membawa rancangan revisimu itu. Cepat!”

“Baiklah, ayo!” Harsa berdiri, seraya membawa apa yang tadi diminta Juliana.

“Apa yang kau lakukan?” Juliana mengernyit tak suka.

“Ke ruangan Pak Agus untuk memberikan hasil pekerjaanku.”

Di sisi lain, Pandu, Novi, Rina dan Mona mulai menonton dengan asik pertengkaran yang mereka rindukan meski sebenarnya cukup membosankan.

“Apa kau tidak sadar diri? Aku hanya meminta hasil rancanganmu saja, karena aku tidak sudi keluar bersama denganmu dari ruangan ini.”

“Kenapa? Karena jika kita keluar bersama, itu artinya kita akan kembali pada mode sandiwara kita? Dimana plotnya kini kita mulai saling tertarik, dan… oh ya ampun, jangan-jangan kau mulai tertarik padaku sungguhan ya?” Harsa menunjukkan ekspresi terkejut yang dibuat-buat.

Juliana menarik napas panjang, terlihat sangat jelas bagaimana Juliana harus berusaha keras untuk tidak membalas perkataan Harsa dengan kata-kata ketusnya yang bermatrabat.

“Dengar, ya. Sampai kiamat pun kau tidak akan mampu menjadi tipe lelaki idamanku. Kau boleh saja menjadi lelaki yang disukai wanita-wanita bodoh itu, tapi tidak denganku. Aku hanya tertarik pada pria terhormat dan bermatrabat yang menghormati harga diri wanita, yang mana hal itu tidak ada dan tidak akan pernah ada pada dirimu.” Tegas Juliana lalu memutar tubuhnya untuk meninggalkan ruangan disusul dengan Harsa yang menampilkan seringai jahil pada wajahnya, sama sekali tidak terlihat tersinggung dengan kalimat yang keluar dari bibir Juliana.

Ting!

Pintu lift bergerak terbuka, dan seketika itu juga napas Juliana tercekat begitu melihat siapa yang ada di dalam lift itu.

“Selamat pagi, Pak Ditto.” Sapa Harsa sopan sambil menganggukkan kepalanya singkat, ia masuk ke dalam lift, begitu pun denga Juliana yang tiba-tiba terlihat tegang.

“Pagi, Harsa. Pagi, Juliana.” Sapa Ditto dengan suara yang membuat lutut Juliana lemas dan jantung Juliana berdegup.

“P-pagi Pak.” Juliana menjawab dengan sedikit kegugupan yang gagal ia sembunyikan.

Dag dig dug dag dig dug!

“Kalian akan ke lantai berapa?” tanya Ditto dengan murah hati.

“Lantai 17 Pak, terima kasih.” Harsa menjawab.

“Saya juga, apa kalian akan ke ruangan Pak Agus?” tanya Ditto lagi, menatap Juliana dan Harsa bergantian.

“I-iya Pak.” Juliana menjawab dengan senyuman manis pada wajahnya. Sesekali tangannya mengusap tengkuk dan menyentuh rambutnya yang terikat kuat ke belakang kepalanya. Gerakan itu tentu saja tak luput dari perhatian Harsa.

“Saya juga. Baguslah, kita ke ruangan beliau bersama.” Ditto tersenyum.

Tuhaaaann… Juliana meleleh. Kakinya begitu lemas seperti slime.

Ditto begitu dekat dengannya. Jarak mereka hanya beberapa kaki saja. Minyak wangi mahal yang dipakai Ditto menyihir Juliana yang menatap Ditto seperti anak kecil yang memandangi mainan mahal yang sangat diimpikannya. Moment yang begitu langka sampai rasanya Juliana ingin sekali menghentikan waktu hanya untuk memandangi pria idamannya itu lebih lama lagi.

Brak!

Dan moment itu pun rusak oleh seorang bernama Harsa yang tidak sengaja menjatuhkan dokumennya.

“Maaf.” Katanya santai.

Dasar nyamuk menyebalkan!

.

.

.

TBC~

1
apajalah
👍🍂🍁🍂🍁👍👍👌
apajalah
👌👌👌🍁🍁🍁🍂🍂🍂👍
Lastri Naila
uhhh..aq selalu baper dgn cerita mu thor...
Sriza Juniarti
good job harsa
Sriza Juniarti
bagusss..suka..syka..🥰🥰
Whyro Sablenk
novelnya super duper bagus pull/Drool//Drool//Drool/
farah felany
gemes romantisnya
Rianti
papa dan anak sama saja ternyata. kocak,santai..
Rianti
aku suka cara Harsa ..
Rianti
Luar biasa
Rianti
heran,novel sebagus ini loh. pokoknya aku suka alurnya. kayak natural aja gitu. cara penulisan juga enak dan gampang dicerna pembaca.
Kiky Mungil: Haloooo... terima kasih untuk rating, like, dan comment yang kamu kasih ❤️
semoga kedepannya saya bisa lebih baik lagi membuat kisah 🥳
total 1 replies
Rianti
senyum senyum sendiri aku bacanya ini
Rianti
novel bagus gini kok sepi komen ya
Sriza Juniarti: iyaa..setuju..sebagus ini belum ditmukan pembaca lainnya🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
suka..
Puspa Ayundari
seru ceritanya ,trima ksih kk thor....semoga sukses kedepannya ...🥰🥰🥰
Kiky Mungil: terima kasihhh... 😊 doa yang sama juga untuk kamu 🫰🏼
total 1 replies
Ariones
Bagus kak. semangat yah. nulisnya....
btw jangan lupa mampir di karya gw yg berjudul Ayunda, gadis pelunas hutang 😘
Kiky Mungil
Halooo salam dari saya untuk semua pembaca setiaku yang baik hatinya :)
Akhirnya Every Moment Of You sudah tamat. Terima kasih yang sudah sabar menunggu setiap bab nya update, karena jujur, kisah kali ini cukup menguras energi saya, banyak hal yang saya pertimbangkan untuk saya tulis atau tidak. Misalnya seperti apakah saya perlu menuliskan adegan yang bikin kipas-kipas? Sementara tujuan saya menulis kisah kali ini adalah mengutamakan cerita cinta yang manis di kantor, pertemanan, dan menyampaikan pesan pada pembaca bahwa kita tidak bisa dan tidak boleh menilai seseorang hanya dari melihatnya saja tanpa benar-benar mengenalnya.
Tapi, mungkin ada pembaca yang kecewa karena tidak ada adegan yang bikin degdegserr...maaf yaa🙏🏻
Saya akan membuat kisah yang degdegserr pada kisah lainnya... ditunggu yaa 😊✌🏻
ummilia1180
semua novel yang kamu buat sangat baguss.... semangat terus ya....
Kiky Mungil: Haaiii.... wah terima kasih!!
total 1 replies
BYSS
good👍
Kiky Mungil
Hai... terima kasih sarannya :)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!