Dalam tahap revisi
Menikahi seorang cowok yang jelas jelas sudah ia ketahui perilakunya setiap hari selalu berbuat onar dan terkenal karena kenakalannya
Tapi ia tidak bisa menolak untuk membatalkan perjodohan yang sudah di buat orang tua mereka bahkan sejak mereka bayi
Karya : Myhani
Ig : @srihani.92
Fb : @srihani
Tg : @srihani
WA : 0852-2141-5356
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daffin yang posesif
"Mie ayam tiga ya pak."
Baim duduk di sebelah Nara dan Mia di depan mereka hanya terhalang meja.
"Persiapan besok udah kelar kan?"
"Siap pak ketu." jawab Mia diangguki Nara.
Tanpa mereka sadari tiga pemuda yang selalu bikin onar di manapun ia berada tengah berjalan kearah tempat duduk mereka dengan gaya cool nya.
Brukkkk
Daffin menendang kursi yang di duduki Baim.
"Minggir!"
"Elo gak lihat masih banyak kursi yang kosong?"
"Elo mau gue hajar lagi?" Daffin menggeram. Baim memutar bola matanya malas.
"Elo duduk di tempat yang salah." ujar Daffin lagi menatap Baim yang masih diam di tempatnya, pemuda itu malah bersiap makan "An*ing gue bilang pindah."
Mia menatap mereka silih berganti dengan tatapan heran. Apa mungkin wajah lebam Baim itu karena berantem sama Daffin?
Sementara kedua cs Daffin tengah santai di belakang sang ketua sambil bersedekap sada dengan senyum sinisnya pada Baim.
"Fin. Elo nggak usah cari ribut di sini, oke." Nara berdiri dan mengajak Daffin pindah ke sebrang meja sebelah Mia.
"Elo belain dia?" Daffin menunjuk Baim dan Nara menggeleng "Ck. Gue bilang jangan deket-deket dia lagi elo masih ngeyel, elo mau gue hukum?"
"Tap_"
"Alasan."
"Heh. Elo pacar macam apa, yang seenaknya kasar pada ceweknya?" ucap Baim yang sudah tidak tahan melihat Nara di perlakukan kasar.
"Sebaiknya elo gak usah ikut campur." sinis Remon yang duduk di samping kanan Baim dan Tama di sebelah kiri.
"Im. Please." Nara memohon supaya Baim tidak lagi bicara dan memancing amarah Daffin.
"Apa apaan. Elo mohon-mohon sama dia, gue gak suka."
"Gue gak maksud gitu Fin," Nara mengusap punggung tangan Daffin, "udah ah. Elo mau makan apa, biar gue pesenin."
"Biar gue aja Ra." Tama bangkit lebih dulu menuju stand makanan.
Mia yang tadi fokus menyimak lebih memilih melanjutkan makannya.
"Jadi besok kita berangkat naik bus kan?" tanya Mia setelah menghabiskan makannya.
"Iya, besok kita kumpul di sekolah dulu seperti biasa, baru berangkat ke perkemahan." jawab Baim "Elo Ra. Udah dicatat semua 'kan segala perlengkapan dan kebutuhan kita selama di sana?" Nara mengangguk menaggapi pertanyaan Baim barusan.
"Kenapa mesti cewek gue?"
"Elo bukan anggota jadi diam aja."
"Sekarang gue anggota jadi berhak tau." kening Baim berkerut.
"Dia akan ikut Im, gak apa 'kan? " sahut Nara.
"Serah, tapi awas aja elo bikin masalah."
********
Daffin memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Kemudian turun di ikuti Nara, usai berbelanja dari super market.
"Nara bantuin gue." teriaknya dari depan lemari.
"Kenapa sih, berisik banget?"
"Gue gak tau apa aja yang mesti di bawa besok."
"Ck. Makanya elo harus sering sering ikut kegiatan sekolah kek gini misalnya."
"Kalo bukan demi elo gue males." Daffin beranjak dan merebahkn badannya di tempat tidur.
"Fin, ransel elo gue taro sini ya?" hening tak ada jawaban "Ilah pantes diam, tidur rupanya." bibir Nara melengkung setiap melihat wajah polos Daffin ketika tidur.
"Coba aja elo semanis ini walau pun saat bangun, mungkin gue akan mudah jatuh cinta sama elo." gumam Nara.
"Tapi walaupun elo kasar gue akan tetap berusaha kok buat cinta sama elo, gue juga akan berusaha supaya elo jatuh cinta sama gue. Karena cuma elo suami gue sekarang dan selamanya." Nara ikut berbaring di samping Daffin.
Kedua ujung bibir Daffin tertarik ke atas, entah dia tidur atau hanya pura-pura tidur.
padahal kan Nara tokoh sentralnya.