Karena sebuah sumpah Dany Admaja harus merawat putri sahabatnya yang meninggal karena kecelakaan mobil. Dany merawat Alena yang baru berusia delapan tahun dan menganggapnya seperti keponakannya karena kala itu Dany sudah berusia 28 tahun namun sepuluh tahun kemudian, Alena tumbuh menjadi gadis cantik yang mulai membuat hati Dany bergetar dan sialnya, gadis itu membuka seluruh pakaiannya untuk menggodanya. Apakah Dany Admaja akan tergoda dengan rayuan putri sahabatnya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Yang Tidak Boleh Ada
Dany suddah kembali, dia masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Dia baru saja dari kampus, berniat menjemput Alena namun nyatanya Alena sudah pulang sedari siang
Padahal dia berniat mengajak Alena makan malam bersama saat kembali tapi gadis itu tidak mengabarinya sama sekali.
..."Alena, apa kau di rumah?" Dany memanggilnya sambil berteriak....
Alena tidak mendengar karena dia masih tidur, itu karena selama dua hari dia kurang tidur akibat bergadang menyelesaikan tugas kuliahnya.
Dany tampak heran, mana Alena? Dia bahkan pergi ke dapur dan melihat makanan sudah terhidang di atas meja. Senyum menghiasi wajah karena dia mengira semua makanan itu disiapkan oleh Alena.
Sebaiknya dia mandi terlebih dahulu dan setelah itu mencari Alena. Dia tahu gadis itu berada di dalam kamarnya. Mungkin Alena sedang beristirahat sebentar karena sudah lelah menyiapkan makan malam.
Suara dering ponsel membangunkan Alena dari tidurnya. Alena mengambil benda itu dan melihatnya. Alena terkejut saat melihat jam yang berada di ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore saat itu. Gila, dia tidur begitu lama.
Alena mengusap wajahnya yang mengantuk, dia juga duduk di atas ranjang dengan terburu-buru. Tidak saja tertidur begitu lama, dia juga lupa membuat makan malam. Perut juga sudah lapar, sebaiknya dia segera membuat makanan.
Setelah mencuci wajahnya, Alena segera berlari keluar, yang dia cari adalah bahan makanan yang dia tinggalkan di depan pintu namun sayang, bahan makanan itu sudah tidak ada. Alena terus mencari, mungkin saja ada yang menyingkirkannya jadii dia terus mencari sampai akhirnya, Alena harus kecewa karena bahan makanannya sudah berada di tong sampah dalam keadaan hancur.
Mau tidak mau dia kembali ke dalam, Alena tampak sedih dan menunduk. Padahal dia ingin membuat makanan untuk dinikmati bersama dengan Dany tapi sepertinya gagal. Oh, dia melupakan satu hal. Bukankah calon istri Dany sudah menyiapkan makanan? Jadi dia rasa tidak perlu membuat makanan lagi.
Alena kembali melangkah masuk ke dalam kamar dengan perasaan tidak menentu. Lebih baik dia tidur saja sampai pagi dan tidak keluar kamar. Jika dia tahu akan bertemu dengan calon istri Dany maka dia tidak akan kembali.
Dany sudah selesai mandi, yang dia cari sudah pasti Alena. Dany melangkah menuju kamar Alena dan mengetuk pintu kamarnya dengan perlahan.
..."Alena, kamu di dalam kan?" tanya Dany sambil mengetuk....
Alena tidak menjawab, dia terlihat malas dan enggan. Dia juga malas untuk bertemu Dany.
"Alena, kamu tidur ya?" tanya Dany karena tidak ada jawaban.
Alena tidak menjawab, hal itu semakin membuat Dany khawatir. Karena takut terjadi sesuatu dengan Alena, Dany membuka pintu dan masuk ke dalam.
Dany tersenyum saat melihat Alena sedang bersembunyi di bawah selimut. Biasanya Alena akan seperti itu saat dia sedang marah dan merajuk.
Alena diam saja saat merasakan seseorang naik ke atas ranjang, itu sudah pasti Dany. Selimut di cengkeram dengan erat agar Dany tidak bisa membukanya dan melihat keadaannya.
..."Lagi marah sama Om ya?" tanya Dany....
..."Ngak!" jawab Alena sinis....
..."Yang bener? Kalau ngak ngambek buka dong selimutnya!" Dany berusaha membuka selimut tapi Alena menahannya....
..."Ngak mau, Om. Keluar sana. Alena lagi males liat muka Om!"...
..."Eh, kok gitu? Emang salah Om apa? Kok marah sama Om?"...
..."Pokoknya Alena mau Om Dany keluar!" pinta Alena lagi. Dia berusaha menahan tangisan, bagaimanapun dia harus mulai terbiasa tanpa kehadiran pria itu karena dia berencana untuk pergi dan tinggal sendiri....
..."Kamu kenapa sih? Lagi datang bulan? Kok marah-marah gak jelas kayak gitu?" Dany benar-benar heran karena Alena tidak pernah seperti itu. Apa telah terjadi sesuatu tanpa dia ketahui?...
..."Maaf, Om. Alena lagi bad mood dan mau tidur aja."...
..."Ya udah, tapi ntar keluar makan ya atau mau Om ambilin?"...
..."Ngak usah, Alena bisa sendiri," tolak Alena karena dia tidak mau makan makanan yang dibuat oleh calon istri Dany....
..."Ya udah, Om keluar!" Dany mengusap kepala Alena yang ditutupi sebelum beranjak pergi. Sangat aneh, dia jadi curiga dengan sikap Alena yang tidak biasanya....
Suara pintu tertutup terdengar, Alena menyingkap selimut dan menatap ke arah pintu dengan tatapan kosong. Dia tahu cepat atau lambat dia akan berpisah dengan Dany karena selama ini Dany hanya berperan sebagai orangtua pengganti saja tapi baginya, Dany sangat spesial.
Dia juga tidak bisa mencegah Dany untuk menikah apalagi yang akan menikah dengannya adalah wanita yang dipilihkan oleh ibunya ditambah lagi, Dany hanya menganggapnya sebagai sebuah tanggung jawab akibat sumpah yang dia ucapkan pada ayahnya dulu.
..."Maaf, Om. Padahal perasaan ini ngak boleh ada. Seharusnya Alena ngak boleh jatuh cinta sama Om Dany tapi perasaan ini hadir tanpa Alena inginkan. Alena harus bagaimana, Om?" Alena menutupi wajahnya, menangis....
Dia benar-benar baru menyadari perasaannya itu beberapa hari belakangan. Dia juga tidak mau perasaan itu ada karena akan merusak hubungannya dengan Dany tapi perasaan yang ada di hati, tidak bisa dia hindari.
Dany menikmati makanan yang dibuat oleh Alena dengan banyak pikiran, dia juga melihat makanan itu dengan teliti. Aneh, apa Alena jadi pintar memasak? Rasa makanannya tidak seperti biasanya. Dia tahu Alena bukan koki handal dalam membuat makanan, dia bahkan bisa membakar sebuah dapur hanya untuk menggoreng seekor ikan tapi makanan yang sedang dia nikmati saat ini? Apa Alena yang membuatnya?
..."Bi, ini siapa yang buat?" tanya Dany pada sang pembantu rumah....
..."Saya, Tuan," dusta pembantunya karena dia diancam oleh ibu Dany untuk tidak mengatakan jika Clarisa datang ke rumah untuk membuat makanan....
..."Yang bener?" tanya Dany tidak percaya....
..."Iya, Tuan. Saya belajar akhir-akhir ini. Gimana rasanya, apa tidak enak?"...
..."Enak sih," Dany menatap sang pembantu dengan tatapan curiga, "Tapi aku yakin bukan Bibi yang membuat ini semua."...
Pembantunya terdiam, dia tahu Dany tidak mudah ditipu tapi dia juga diancam jadi mau bagaimana lagi.
..."Bi, ngak usah nipu lain kali. Aku ngak mood bahas kayak gini tapi awas kalau bibi berani bohong lagi!"...
..."Maaf, Tuan," jadi pembantu memang serba salah....
Dany tidak berkata apa-apa lagi, dia jadi tidak mood untuk melanjutkan makannya. Sebaiknya dia membuat sesuatu untuk Alena karena dia tidak mau Alena sakit akibat tidak makan.
Alena masih berbaring di atas ranjang saat Dany masuk ke dalam sambil membawa makanan. Setidaknya sudah tidak ada selimut yang menutupi tubuhnya. Dany bisa melihat kedua mata Alena yang sembab, foto kedua orangtuanya juga berada di dalam pelukan gadis itu. Sepertinya Alena sedang merindukan kedua orangtuanya sehingga dia menangis.
Karena tidak ingin mengganggu Alena, Dany keluar dari kamar dan meninggalkan sebuah ciuaman di pipi. Akhri-Akhir ini jadi aneh, semua bermula dari perjodohan yang dilakukan oleh ibunya. Sikap Alena juga jadi aneh, apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu? Sungguh dia sangat ingin tahu dan besok dia akan mencari tahu.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu