Sejak ia masih kecil, ia ingin sekali menyelesaikan pendidikan tinggi menjadi dokter, lalu menikah. Tapi sekarang kebalikannya, ia dijodohkan saat masih menduduki bangku SMK kelas 11.
gimana penasaran kan sama ceritanya? biar ga penasaran mending dibaca><
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sitifauzia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dikejar om ceo posesif, Bab11
Hari H
jam sudah menunjukkan pukul 05.00. Zia pun terbangun dari tidurnya
"udah jam lima yaa, sholat dulu deh" ucap zia seraya mengarah kekamar mandi, dan bebersih. Tidak lupa juga ia mengambil wudhu dan menunaikan sholat subuh.
tok tok tok
"sayang ini mama, kamu udah bangun?" tanya sang mama
"udah maa, masuk aja maa. Gak zia kunci kok" ucap zia
kemudian sanita masuk kedalam kamar tersebut
ceklek
"ada apa maa?" tanya zia
"tidak ada apa-apa nakk, mama tadi hanya memastikan kamu sudah bangun atau belum. yasudah mama mau kebawah dulu ya nak" ucap sanita
"iyaa maa" jawab zia
"duh kok gue jadi degdegan gini yaaa" gumam zia
pada pukul 06.00 zia dikejutkan dengan kedatangan sahabatnya itu
tok tok tok
ceklek
"ziaaaa" teriakan dari kedua sahabat zia saat memasuki kamar zia
"lohhh, kalian kenapa cepat sekali datangnya? ini masih jam enam pagiii" ucap zia
"yagapapa dongg, kami kan ingin bercanda tawa dengan elu zii sebelum ntar elu diajak suami lu" ucap runi
kemudian zia memaluk sahabatnya erat dan menangis
"gue pasti bakal kangen sama kalian, hiks hiks" ucap zia
"kami jugaa, udah jangan nangis, ini kan hari bahagia eluu seharusnya elu seneng dong. Bukan malah nangis" ucap runi
"iyaa" ucap zia saat menghapus air matanya
tok tok tok
suara ketukan pintu, dan mereka bertiga serentak melihat kearah pintu
"sarapan dulu yuk" ajak Alfandi
"iyaaa sebentar" jawab zia
"yasuda, tapi jangan lama lama yaa" ucap Alfandi, lalu dianggukin oleh zia dan pergi menuju kemaja makan
"zii itu siapa?? gilaa nganteng bangettt" tanya runi heboh
"zii, lu punya sepupu ganteng begitu kenapa dirahasiain sama kita" omel mona
"itu calon suami gue" jawab zia
"apaaa?!" kaget mereka tak percaya
"zii, kok lu bisa dapet yang seganteng itu sih ziii. Gimana caranya? tanya runi
lalu zia mengangkat kedua bahunya dan berkata "ntah lahh, gue juga gatau. Oiya sarapan yukkk"
"emangnya gapapa zi kalau kami sarapan bersama keluargamu?" tanya mona
"ck, ya gapapa lahh. Yauda ayo buruan" ajak zia sambil menggandeng kedua sahabatnya itu menuju ruang makan
selesai makan, mereka pun bergegas untuk berdandan
"Nah karena wajah kamu udah cantik alami, jadi makeup nya ga usah terlalu tebal yaa, natural aja" ucap perias
"iyaa mbak" jawab zia senyum
"okeyy, tinggal ngesanggul rambut kamu. Sebentar yaaa" ucap perias
kemudian perias menyanggul rambut zia dengan model sanggul croissant chignon tak lupa memakaikan Bros sanggul yang elegan
"sudahhh" ucap sang perias
"mbak ini aku??" tanya zia
"iyaa dong, gimana? cantik kan??" ucap perias
"iyaa mbak, ini cantik bangett" ucap zia
tok tok tok
"dekk, udah siap? yuk turun" ajak Iqbal
"udah bang" jawab zia. Lalu zia menggandeng tangan Iqbal dan menuju kebawa
"waww ziaa cantik bangett" puji Mona
*iyaa cantik bangettt" ucap runi
Alfandi pun tak berhenti menatap zia dari mulai menuruni tangga dan duduk disampingnya
"sudah bisa dimulai?" tanya Aditya
"sudah" jawab Alfandi tegas
kemudian mereka berjabat tangan dan memulai ijab qobul
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Alfandi Bimo Adijaya dengan anak saya yang bernama Siti Fauzia Binomo dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan emas sebesar 300gram dibayar tunai" ucap Aditya
"saya terima nikah dan kawinnya Siti Fauzia Binomo dengan mas kawin yang telah disebutkan dibayar tunai" ucap fandi takkala tegas
"bagaimana para saksi, sahh?
"sah
"sah"
"sah"
"Alhamdulillah"
kemudian mereka berdoa dan memakaikan cincin satu sama lain
"Salim sama suaminya dongg" ucap sang ayah
lalu zia mencium tangan suaminya dengan takzim. Dan tidak lupa fandi pun mencium kening istrinya tersebut
"duhhh gue jadi baperrrr" ucap runi
"samaa, guee jugaaa" balas mona
selesai ijab qobul fandi dan zia duduk diatas sofa pelaminan tersebut
"mulai sekarang, jangan panggil saya om. Panggil saya dengan sebutan mas, saya akan berusaha untuk menjaga kamu disisa usia saya" ucap alfandi
'duh gue jadi baper' batin zia
"iya mas" jawab zia dengan senyuman
kemudian kelurga Binomo pun bersalaman dengan sang pengantin
"tolong dengarkan ucapan suamimu" pesan sang papa
"iyaa paa" jawab zia
"nakk, patuhi suamimu yaaa" ucap sang mama
"iyaa maa" jawab zia
"caela, bocil udah nikah aja nih. jangan suka keluar rumah tanpa izin dari suami mu yaa" ucap sang abang
"iyaa bang"
"bro, gue titip adik gue sama elu. Kalau sempet elu nyakitin zia, gue orang pertama yang bakal ngehajar elu" ucap Iqbal kepada alfandi
"iyaa bro, gue ga bakal nyakitin zia kok" ucap aditnya
kemudian kini giliran sahabat zia yang bersalaman
"aaa ziaaa, sekarang udah jadi istri orang aja nih. Btw dia punya adik ga? kalau punya bisa dong dijodohin sama gue" ucap runi
"huss" ucap zia.
"hahahhaha" tawa runi
"selamat yaa zii, semoga cepat diberi momongan heheheh" ucap mona
"hey kalian berdua ini sama saja" ucap zia
"hahahahha" tawa mereka serentak