*KHUSUS PEMBACA UMUR 17+*
Pertemuan mereka berdua membuat roda takdir berputar.
Hari – hari indahnya bermula saat Dion bersama dengannya, mengawali dan menutup hari dengan mengucap namanya yang sudah terukir didalam hati. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua dari kebahagian itu, hingga suatu saat....
“Lebih baik aku tidak pernah bertemu denganmu.” Gumam Dion
Di malam hari, gelap, tanpa cahaya aku berdiri dan kembali menyesali perbuatanku. Awan besar menutupi rembulan, aku tak dapat berkata – kata lagi tanpa kusadari air mata telah mengalir.
“maafkan aku teman – teman....”
Disini, dikelas ini, diantara jasad seluruh sahabat2ku, aku menangis.
Dengan tatapan kosong dan tubuh bermandikan darah.
“anak iblis”
“Pembunuh”
“Penjahat”
Satu persatu sebutan itu terdengar ditelingaku hingga sampai membuatku lupa akan identitasku sendiri. 1 minggu kemudian Aku terbangun disebuah rumah sakit jiwa tanpa mengingat apapun dan langsung pindah ke kota Lando dan berseklah di SMA Violet
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahroni nurhafid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Pilihanku
Hari telah
berubah manjadi siang waktu istirahat kami, kami pakai untuk membersihkan kelas
dan bersiap melanjutkan pelajaran karena kelas kami sudah tertinggal jauh dari
kelas lain.
Dion :”Setelah
ini mapel apa?”
Rui :”olahraga,
sampai jam terakhir.”
Jay :”SEMUANYA
AYO KITA PERCEPAT BERSIH – BERSIHNYA AGAR TIDAK TERLAMBAT!”
“iyaaaaa~” jawab
semua orang dengan malasnya,
Dion :”kenapa Jay
keliatan semangat gitu? Eh bukan jay memang selalu selamat tapi kenapa yang
lain keliatan tidak semangat gitu?”
Rui :”oh iya
kalau dipikir – pikir kau belum pernah ikut kelas olahraga ya?”
Dion :”Begitulah,
karena seragamku masih belum datang jadi aku selalu pergi keperpus. Memangnya kenapa?
Rui :”oh...hehe...”
Dion :”hmm?”
Ibo :”itu adalah
neraka!” saut Ibo dengan wajah memucat
Dion :”Ibo kau
tidak apa – apa? Wajahmu terlihat pucat sekali .”
Ibo :”oh....he’em
gue masih hidup.”
Dion :*berbisik
ke Rui “memangnya kenapa dengan Ibo?”
Rui :” Ibo sejak
dulu sangat membenci olahraga, karena ia sejak kecil ia memiliki stamina yang
kecil dari rata – rata anak laki – laki lain dulu saat SD ia pernah mendapat
tes fisik push up dalam satu menit dan ia mendapat point terendah, bahkan
terendah digolongan putri, karena gurunya menganggap ia tak serius ia selalu
mendapat jatah lebih banyak dari yang lain. Dan hal itu terus berlanjut sampai
SMA, mungkin itu yang membuatnya trauma.”
Setelah mendengar
cerita menyedihkan itu ke dekati Ibo dan menepuk pundaknya,
Dion :”berjuanglah.”
Ibo :”T-tenang
saja aku sudah mempersiapkan kemungkinan terburuknya.”
Ibo mengeluarkan
kertas berjudul ‘surat wasiat’
Dengan cepat
kuambil kertas tersebut dan merobek – robeknya lalu membuangnya keluar jendela,
Ibo langsung
mengejarnya namun sudah terlambat, ia hanya bisa pasrah melihat surat wasiat
nya terbang terbagi menjadi kecil – kecil kelangit sambil menangis,
Dion :”Tenang
saja, kau tidak akan sampai mati Ibo. Iya kan Rui?”
Rui :”hmmm....hehe..”
tiba – tiba Rui memalingkan pandangannya dariku dan membuatku ikut takut,
Dion :”Tu-tunggu
, rui kau jangan menakut – nakutiku lah.” Saat ku coba mendekati Rui tiba –
tiba ia menjauh dan beralasan mau menyapu bagian lain
Dion :”Hey
serius! Ada apa ini?!”
Ketua :”nanti kau
akan mengetahuinya, Dion.”
Bel berakhirnya
istirahat pun berkumandang dan bersamaan dengan selesainya kami membersihkan
kelas.
Disekolah ini
kelas olahraga dibagi menjadi 2 golongan yaitu golongan putra dan putri
berdasarkan golongannya semuanya sangat berbeda dan terpisah, golongan putra
punya guru sendiri dan golongan putri memiliki guru mereka sendiri juga dari
materi memang sama tapi penerapannya itu bebas sesuai cara guru masing – masing
itulah penjelasan singkat dari ketua.
Golongan putri menuju
ruang ganti dan mereka akan langsung berangkat ketempat berkumpulnya mereka,
sedangkan kami golongan putra berganti baju di dalam kelas sebenarnya ada ruang
ganti baju untuk putra tapi kami lebih memilih berganti dikelas karena lebih
efisien saja.
Dengan segala
tirai jendela dan pintu tertutup rapat kami mulai menggangi seragam kami, saat
kubuka kancing kerahku ku melihat sebuah kalung dengan kunci menggantung
dalamnya. Saat melihat kunci tersebut tanganku berhenti bergerak dan teringat
kembali akan perkataan adikku.
[Keliatannya kakak
belum siap mendengarkannya.]
Saat aku
tenggelam dalam pikiranku tiba – tiba suara gaduh dari teman – temanku membuatku
terdasar,
Jay :”RUI!! HARI
INI AKU AKAN MENGALAHKANMU!!”
Rui :”iya – iya....
aku sama sekali tidak peduli jadi berjuanglah.”
Ibo :”Ke-ketua.....bisakah
ketua menuliskan surat wasiat baru untukku? Tanganku tidak bisa berhenti
bergetar sejak tadi.”
Kegaduhan ini,
keributan ini, dulu aku selalu terganggu dengan keadaan seperti ini. Namun kenapa?
Kenapa sekarang aku merasa sangat senang? Aku tak merasakan ada rasa jengkel
atau terganggu dengan keramaian ini. Aku merasa sangat hangat.
Kupepegang
kunciku dengan kuat mengingat perkataan teman – teman padaku,
[kalo lu bisa
ngerasain sakit itu artinya lu baik – baik aja.] perkataan Ibo
[Semua orang itu
pernah membuat kesalahan itu hal yang normal, kalau orang yang tak pernah
berbuat salah itu patut dicurigai.] Pesan dari Rui
[APAPUN YANG
TERJADI TETAP SEMANGAT DAN JANGAN MENYERAH DION! KAMI SELALU ADA DISINI
UNTUKMU!] Pesan dari Jay
[bagaimana cara
kami memaafkanmu kalau kau saja tidak berbuat salah. Kami tak pernah memikirkan
semua itu, apapun tindakanmu dan pilihanmu kau tetaplah bagian dari kami. Kau
tak perlu memaksakan diri menyesuaikan dengan kami. Cukup jadilah dirimu
sendiri karena hal itu takkan merubah fakta bahwa kau salah satu dari kami,
bisa kau lihatkan sifat kita semua berbeda – beda tapi tetap bersama, karena
kami tak pernah takut akan perbedaan dan lebih menerima perbedaan itu sendiri.]
pesan dari ketua
(Benar!)
(Terima kasih
semuanya, kini aku sudah mendapatkan jawabannya)
(Pada akhirnya
aku hanya seorang pengecut, aku takut kalau aku tak bisa menerima diriku yang
dulu)
(Seorang pengecut
yang takut dibenci oleh orang – orang)
(Seorang pengecut
yang takut mendapat masalah)
(Seorang pengecut
yang takut kehilangan jati dirinya)
(Seorang pengecut
yang hanya bisa berlari dari kenyataan)
(aku tau cepat
atau lambat semua misteri ini akan terpecahkan)
(tidak hanya
waktu namun juga butuh keberanian untuk memecahkannya)
(sekarang.....aku
sudah sangat siap)
(siapapun diriku
itu)
(apapun diriku
itu)
(Dion adalah
namaku)
(Dion yang
diberkahi teman, sahabat serta kehidupan yang luar biasa ini)
(Itu adalah
sesuatu hal yang takkan pernah berubah, apapun yang terjadi)
Ketua :”Hey! Dion
kenapa kau Cuma diam saja, ayo cepat ganti baju teman – teman sudah berangkut
duluan tadi.”
Dion :”Ketua,
Ketua pernah berkatakan kalau ketua mengetahui segalanya?”
Ketua menghela
nafas dan duduk dikursiku,
Ketua :”sehebat
apapun aku, aku tetaplah seorang manusia. Aku bukanlah dewa maupun tuhan aku
juga punya batasan.”
Dion :” tapi
bagaimana kakak mengetaui semua tentangku?”
Ketua :”aku tidak
mengetahui semuanya, aku hanya mengetahui apa yang kuketahui dan aku juga tidak
mengetahui apa yang tidak kuketahui.”
Dion :”Lalu
bagaimana dengan cerita tentang tragedi Diary Rio?”
Ketua :”maaf
lupakan saja”
Dion :”Hey ketua
kau tau tidak aku punya lagu bagus kupikir ketua akan suka.”
Ketua langsung
paham maksudku, ia langsung memakai headphone yang selalu menempel di lehernya
itu.
Saat Hpku terhubung
tanpa basa basi langsung kuputar lagunya dengan volume maxsimal.
Ketua menepuk tangannya
dan mengangguk kecil.
Ketua :”baiklah
sekarang sudah aman, terima kasih kau sudah mau mengikuti aturanku. Kau pasti
ingin memberikan jawabmu tentang pembicaraan kita kemarin itu kan? Tentang apakah
kau mau bekerjasama denganku demi menghindari takdir kematian kita? Tepukkan tangan
sekali untuk ‘iya’ dan tepuk dua kali untuk ‘tidak’
Ketua :”benarkah
kau ingin menjawab ajakanku kemarin?”
Aku menepukkan
tangan sekali
Ketua :”jadi...apakah
kau setuju? Hanya mengingatkan jika kau setuju, kau akan terlibat langsung
dengan kasusku juga, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu 100% jadi apakah kau
tetap ingin bekerjasama denganku?”
Kutepukkan tangan
sekali
Lebih baik mati
dengan perlawanan dari pada mati tanpa mengetahui apa - apa
ISTRI MUDAKU MAFIA
kalo seru saya supor
kalo enda seru saya like