Ada satu hal yang tidak diketahui para wartawan infotainment dari sang selebriti Elang Samudra Ginting bahwa Samudra sudah menikah. Tapi siapa sangka, sebagai salah satu pria paling digilai di penjuru tanah air, Samudra mendapatkan surat cerai dari sang istri. karena mereka telah hidup terpisah selama tiga tahun.
Sejak menjauh dari sang suami, hidup Lembar Putih Ayunda berubah sepenuhnya. Ia mendapatkan pekerjaan baru, teman-teman baru, dan kehidupan baru. Namun ketika Samudra menemuinya untuk menyelesaikan perceraian mereka, ada sesuatu yang ternyata tak pernah berubah dari Samudra, Samudra tetap menjadi satu-satunya pria yang bisa mengisi hidupnya.
Kesepakatan baru pun dibuat, mereka akan tetap bersama selama sekejap sampai urusan itu selesai, sebelum menyadari bahwa hasrat mereka sungguh tak bisa terbendung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter - 11
Samudra ingin Ayunda mengalah, menuruti rencananya untuk tetap berusaha menyelesaikan masalah. Namun sayangnya Samudra justru menyerang kelemahan Ayunda dengan menghina galeri Ayunda, padahal Samudra tahu hal itu justru membuat Ayunda sangat marah. Ayunda telah telah begitu berbeda dari yang dulu, ia kini lebih mengutamakan kepentingannya sendiri dari pada kepentingan Samudra.
Samudra mencoba untuk mengalihkan pandangan dari rok mini warna merah muda cerah yang di kenakan oleh Ayunda.
Sial, Samudra memikirkan hal itu lagi. Ia memikirkan isi dalam rok mini tersebut dan posisi tubuh Ayunda dan betapa semua itu terasa begitu pas. Betapa semua itu membuat Samudra ingin menarik Ayunda ke pelukannya dan menjilatnya.
Sesaat kemudian tubuh Ayunda maju ke depan, jarinya menunjuk ke udara di setiap lontaran kata-katanya. “Kau ingin mengakhiri hubungan denganku?”
“Yah, asal kau tahu, Samudra. Aku juga ingin mengakhirinya denganmu. Aku ingin hidupku bukan milik orang lain tapi milikku sendiri. Bahwa satu-satunya aturan yang kubuat adalah menuruti kehendakku. Bahwa masa laluku hanya tinggallah masa lalu. Aku tidak membutuhkanmu, aku tidak menginginkanmu, dan aku tidak menyukaimu."
Ya Tuhan, Ayunda begitu menggairahkan. Menguji kesabarannya dan membuatnya panas. “Itu saja?”
Samudra tidak perlu menunggu kata-kata Ayunda untuk mengetahui jawaban untuk pertanyaan itu.
"Aku muak melihat wajahmu terpampang di setiap surat kabar dan koran, yang membuatku berpikir, 'Wah, itu suamiku dan pacar barunya! Pasangan yang menarik bukan?' Aku benci menjadi satu-satunya orang yang tahu kalau kau diam-diam ingin menikah dengan rekan sesama aktris, namun kau tidak bisa melakukan itu karena kau masih menikah denganku!"
Ayunda berapi-api. Pipi memerah saat meluapkan kekesalannya pada Samudra. Matanya memancarkan sebuah tantangan di wajahnya.
Samudra tahu ia seharusnya mengabaikannya semua yang dituduhkan kepadanya, tapi sialnya ia tidak bisa menahan diri.
Dorongan untuk menyerang balik muncul secara tiba-tiba dan tak terbendung di dalam dirinya. “Siapa nama pria itu? Djiwa? Na-di Dji-wa, benar itu namanya?"
“Apa aku salah menyebut namanya, Ayunda?” Samudra mendekati Ayunda, memelankan suaranya dengan nada kasar yang mengejek. “Kau baru sadar kalau si bodoh itu tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan?”
“Apakah dia juga memanjakanmu, Baby.”
Ucapan itu memicu amarah Ayunda, matanya membelalak terkejut, marah, dan geram sementara tangannya mengayun untuk menampar Samudra. “Dasar bajing—”
Samudra menangkap pergelangan tangan Ayunda yang hanya berjarak satu inci dari wajahnya, dan menahan tangan satunya sebelum Ayunda terpikir untuk melayangkannya. Ayunda yang dulu begitu sangat sopan, yang dulu bisa mengendalikan diri. Sekarang benar-benar marah hingga tidak bisa bersembunyi di balik ekspresi tidak acuh. Benar-benar marah hingga mampu menyerang Samudra dengan tangannya sendiri.
“Ah-ah,” tukas Samudra, sembari memegang erat lengan Ayunda di kedua sisi tubuh Ayunda dan ia mendorongnya ke dinding. “Memukul itu tidak baik.”
Ayunda benar-benar marah, lebih dari sekadar memulai pertarungan di antara mereka berdua.
Ayunda berontak satu kali, menyentak pegangan Samudra dengan sekuat tenaganya. Matanya menyusuri dari mulut Samudra ke dadanya, lebih turun, kemudian kembali lagi. Ayunda bernapas cepat hingga menarik kain tipis baju ketatnya dalam setiap tarikan.
Puncak payu*ara Ayunda mengeras dan yang ada di pikiran Samudra hanyalah bagaimana rasanya mencecap itu di lidahnya.
“Lepaskan aku,” bisik Ayunda.
Samudra melonggarkan genggaman jemarinya, dan mengusapkan ibu jarinya di titik denyut yang begitu lembut di pergelangan tangan Ayunda.
Samudra menginginkan Ayunda, namun Ayunda mengatakan agar melepaskannya. “Apakah itu maumu?”
Mata Ayunda menelusuri mata Samudra. Pupil matanya melebar dan menjauh. Mengungkapkan lebih banyak hal dari pada apa yang diketahuinya, Samudra yakin begitu. Semua kemarahan itu mereda, memperlihat kan pergulatan emosi di dalam hati.
“Aku tidak tahu,” jawab Ayunda.
Samudra tak yakin dengan kata-katanya terucap dari mulut Ayunda.
“Pembohong,” geram Samudra. Jika Ayunda mengiyakan, maka Samudra akan pergi. Ia akan meninggalkan ruangan itu dan membuang pikiran tentang rok mini yangndi kenakan Ayunda.
Namun Ayunda tidak mengiyakan.
Denyut nadi Ayunda berdetak panik bersama pikirannya yang kacau. Ini gila, benar-benar bodoh. Ia mengamati setiap gerakan Samudra selama dua hari ini. Beban hasrat yang semakin tumbuh di dalam rongga dadanya, namun Ayunda melawannya. Ia mencoba fokus kepada apa yang sedang mereka kerjakan, karena apa yang sedang mereka lakukan akan merampungkan perceraian mereka. Namun sekarang… ketegangan yang mempengaruhi konflik di antara mereka telah semakin nyata.
“Samudra, apa-apaan ini? Apa yang kita lakukan?”
Jemari di pergelangan tangan Ayunda meluncur berputar hingga menangkup jemari Ayunda Perlahan Samudra menarik tangannya ke atas, mengunci tangan mereka yang bertautan di sisi kepalanya yang menempel ke dinding. Mata gelap menjelajahi tubuh dan lekuk Ayunda. Memunculkan getaran di antara tubuh mereka yang penuh hasrat.
“Mengalahlah. Demi sesuatu yang kita berdua inginkan.” Samudra memberi isyarat akan menyentuhnya, tapi ia tidak melakukannya.
Semakin sukses dalam berkarya
Mungkin kehilangan Galen adalah cara membuatmu menjadi dewasa