Buku ke-2 dari The Ragen.
Baca dulu The Ragen : Escape From Zombie Apocalypse
Hari-hari setelah kemenangan pasukan Venus atas Demon membawa harapan baru bagi umat manusia. Para Ragen dan MoRag melemah, memberi kesempatan bagi Army untuk membasmi mereka dengan lebih mudah. Beberapa wilayah berhasil disterilkan dan kembali layak huni. Pangkalan Venus terus menyiarkan pesan ke seluruh negeri, menawarkan perlindungan bagi para penyintas.
Namun, di balik kemenangan itu, ada pihak-pihak yang diam-diam memanfaatkan situasi. Mereka memburu serum MoRag peninggalan Demon demi keuntungan, menjualnya kepada negara-negara tertentu untuk menumbangkan saingan mereka. Salah satu target utama mereka adalah UK, negeri yang menyimpan banyak harta berharga dari era sebelum perang nuklir.
Akankah Leo dan kawan-kawannya kembali ke tanah air mereka untuk menyelamatkan rakyatnya? Mampukah mereka mempertahankan negara itu dari kehancuran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aria Monteza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Secret Creature
Sore itu, angin sepoi-sepoi berhembus lembut di atas bukit, membawa aroma manis dari bunga-bunga yang bermekaran di sekitar taman. Matahari yang mulai condong ke barat menciptakan cahaya keemasan yang memantul di permukaan danau di bawah sana, memberikan pemandangan yang begitu indah dan menenangkan.
Leo menggenggam tangan Luna dengan erat saat mereka berjalan menyusuri jalan setapak berbatu menuju tengah taman. Tempat ini adalah bagian dari masa kecil mereka, tempat di mana mereka dulu sering bermain, tertawa, dan berbagi mimpi tentang masa depan. Kini, mereka kembali ke sini, bukan sebagai dua anak kecil yang lari dari pelajaran, melainkan sebagai sepasang suami istri yang ingin menghabiskan waktu bersama.
“Kau ingat tempat ini?” Leo bertanya sambil melirik ke arah Luna yang tampak terpesona oleh pemandangan di depannya.
“Tentu saja aku ingat,” jawab Luna dengan senyum yang merekah di wajahnya. “Kita selalu datang ke sini setiap kali ingin kabur dari pelajaran membosankan.”
Leo tertawa kecil. “Dan selalu berakhir dengan kita dikejar oleh para penjaga istana.”
Luna ikut tertawa, mengingat kenangan itu. “Aku bahkan masih ingat saat kau hampir jatuh ke danau karena mencoba memetik bunga untukku.”
Leo menggelengkan kepala dengan ekspresi pasrah. “Dan kau justru tertawa saat aku hampir tenggelam.”
“Aku panik!” Luna membela diri sambil terkikik. “Tapi, waktu itu wajahmu benar-benar lucu.”
Leo menghela napas pura-pura kesal, tapi kemudian tersenyum hangat. “Jadi, aku membawamu ke sini bukan hanya untuk mengenang kenakalan kita dulu.” Ia berhenti berjalan, menatap Luna dengan lembut. “Aku ingin kita kembali menikmati waktu seperti dulu, tanpa beban dan tanpa protokol kerajaan.”
Luna menatap mata suaminya dengan penuh kehangatan. Ia bisa merasakan ketulusan dalam kata-kata Leo. “Terima kasih sudah membawaku ke sini,” ucapnya pelan. “Aku benar-benar merindukan momen seperti ini.”
Leo tersenyum sebelum menarik Luna ke dalam pelukannya. “Aku tahu, Luna.” Ia mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. “Aku juga merindukannya.”
Mereka kemudian duduk di bangku kayu yang menghadap langsung ke danau. Angin sejuk berhembus, membuat helaian rambut Luna menari lembut. Leo memperhatikan Luna dengan saksama, menyadari betapa istrinya benar-benar menikmati momen ini.
“Kau tahu, aku pernah berpikir kita tidak akan bisa kembali ke sini lagi,” ujar Luna tiba-tiba.
Leo menoleh dengan alis sedikit mengernyit. “Kenapa?”
Luna tersenyum tipis. “Karena kehidupan kita berubah begitu drastis. Setelah semua yang terjadi, aku merasa tempat ini hanya akan menjadi kenangan.”
Leo menggenggam tangan Luna dengan erat. “Tidak ada yang bisa menggantikan kenangan kita, Luna. Tapi, kita juga bisa menciptakan kenangan baru, mulai dari sekarang.”
Luna menatap Leo dengan mata berbinar. “Kau benar. Selama kita bersama, kita bisa menciptakan kenangan indah lainnya.”
Leo tersenyum, lalu tanpa ragu mengecup kening Luna sekali lagi. “Itulah yang selalu kuinginkan.”
Mereka kembali menikmati suasana dengan tenang, membiarkan momen itu menghangatkan hati mereka. Hari itu menjadi hari yang penuh kebahagiaan, seakan mengembalikan mereka ke masa kecil. Namun kali ini, sebagai sepasang suami istri yang saling menjaga dan menyayangi.
Setelah beberapa saat menikmati pemandangan, Leo berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Luna. “Ayo, kita jalan-jalan lebih jauh. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”
Luna menggenggam tangan Leo dan berdiri. “Apa itu?” tanyanya penasaran.
Leo tersenyum misterius. “Kau akan tahu sendiri.”
Mereka berjalan menyusuri taman yang penuh dengan bunga warna-warni. Burung-burung kecil berkicau merdu, menciptakan suasana yang begitu damai. Tak lama, mereka tiba di sebuah sudut taman yang agak tersembunyi, di mana sebuah pohon besar tumbuh dengan gagahnya. Di bawah pohon itu, terdapat ayunan kayu yang tampak sudah lama ada di sana.
“Ayunan ini...” Luna menatapnya dengan penuh nostalgia. “Aku ingat! Kita dulu sering duduk di sini setelah lelah bermain.”
Leo mengangguk. “Aku menemukannya kembali dan meminta para pelayan untuk merawatnya. Sekarang, ini menjadi tempat favoritku setiap kali aku butuh ketenangan.”
Luna tersenyum, hatinya hangat mendengar itu. Dengan lembut, Leo membantu Luna duduk di ayunan, lalu mendorongnya pelan. Luna tertawa kecil saat angin menerpa wajahnya.
“Terima kasih, Leo. Kau benar-benar membuatku bahagia hari ini.”
Leo menatapnya penuh kasih. “Aku hanya ingin kau selalu bahagia, Luna.”
Dalam kebersamaan itu, mereka merasakan kasih sayang yang semakin tumbuh di antara mereka. Tidak perlu kata-kata lebih, karena dalam keheningan, hati mereka sudah berbicara satu sama lain.
***
Kabut tebal menggantung rendah di atas kawah yang gelap gulita, menyelimuti reruntuhan sebuah bangunan besar yang dulu pernah berdiri megah. Bangunan itu kini hanyalah sisa-sisa pabrik terbengkalai, dengan sebagian besar strukturnya runtuh akibat ledakan dahsyat. Hanya beberapa pilar beton yang masih berdiri, menjadi saksi bisu dari kehancuran yang pernah melanda tempat ini. Aroma logam terbakar dan udara lembap bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang semakin menyesakkan.
Di antara bayangan yang berkabut, beberapa pria berseragam khusus bergerak hati-hati memasuki area tersebut. Lampu senter di tangan mereka menembus kegelapan, menciptakan pancaran cahaya yang samar-samar menyapu puing-puing berserakan. Langkah kaki mereka menggema, mengisi kesunyian yang mencekam. Sesekali, suara serangga malam terdengar di kejauhan, menambah kesan bahwa tempat ini telah lama ditinggalkan dan dilupakan.
"Pastikan kalian memeriksa setiap sudut," suara tegas pemimpin mereka, pria bertubuh tegap dengan wajah tersembunyi di balik masker pelindung, memecah kesunyian. "Sampel virus Ragen mungkin masih ada di sini. Aku tidak ingin ada satu pun yang terlewat."
Beberapa anak buahnya segera berpencar, menyisir area yang penuh dengan reruntuhan dan peralatan laboratorium yang hancur. Di tengah kehancuran, jejak sejarah kelam tempat ini masih terasa. Bangku-bangku operasi berkarat, ceceran cairan beku yang menempel di lantai, dan sisa-sisa peralatan medis yang tak lagi berfungsi, semua mengisyaratkan bahwa tempat ini dulunya adalah pusat eksperimen mengerikan.
Viktor berjalan menuju pusat laboratorium yang terletak di bagian terdalam bangunan. Edgar mengikutinya dengan langkah berat, matanya menyapu setiap sudut dengan waspada. Lampu senternya sesekali bergetar saat melewati reruntuhan, memperlihatkan siluet-siluet menakutkan yang seakan mengintai dari kegelapan.
"Ini sia-sia," gumam Edgar, suaranya terdengar sedikit frustasi. "Militer Namrej sudah menghancurkan semuanya. Tidak mungkin ada yang tersisa di sini."
Viktor tetap melangkah maju tanpa menghiraukan keraguan rekannya. "Demon tidak sebodoh itu. Aku yakin dia menyimpan sesuatu di tempat yang lebih tersembunyi. Kita hanya perlu menemukannya."
Mereka terus menyusuri lorong-lorong sempit yang sebagian tertutup reruntuhan. Udara di dalam semakin dingin, menciptakan sensasi tak menyenangkan yang menjalar hingga ke tulang. Setiap langkah terasa seperti memasuki dunia yang tak seharusnya ada. Bau busuk dan rasa logam di udara semakin menusuk hidung, menandakan adanya zat-zat berbahaya yang masih mengendap di tempat ini.
Lampu senter mereka tiba-tiba memantulkan sesuatu, sebuah pintu baja besar yang nyaris tertutup oleh puing-puing. Permukaannya berkarat, tetapi masih tampak kokoh.
"Ini dia..." bisik Viktor penuh keyakinan.
Dengan susah payah, mereka berdua menyingkirkan puing-puing yang menghalangi. Salah satu anak buah mereka mendekat untuk membantu membuka pintu yang tampak kokoh dan terkunci rapat. Dengan bunyi decitan yang menyeramkan, pintu itu akhirnya terbuka, mengungkap sebuah ruangan tersembunyi yang seolah tak tersentuh oleh kehancuran di luar sana.
Di dalamnya, suasana lebih gelap dan hampa. Cahaya redup dari beberapa layar monitor tua masih berkedip, menunjukkan bahwa beberapa sistem masih berfungsi meski sudah bertahun-tahun ditinggalkan. Bunyi dengungan halus terdengar samar, seolah-olah mesin-mesin di tempat ini belum benar-benar mati. Namun, yang paling mencengangkan adalah sebuah tabung kaca besar yang berdiri di tengah ruangan.
Cairan kehijauan berpendar samar di dalam tabung itu, menampilkan sosok mengerikan yang tampak mengapung di dalamnya. Makhluk itu berbentuk humanoid, dengan kulit pucat kebiruan dan pembuluh darah kehitaman menjalar di seluruh tubuhnya. Tubuhnya kurus tetapi terlihat kuat, dengan kuku panjang yang tajam dan rahang yang tampak tidak normal. Mata tertutup rapat, seakan sedang tidur panjang atau mungkin... mati.
Edgar melangkah mundur dengan napas tertahan. "Astaga... Apa ini...?"
Viktor tersenyum tipis, matanya berbinar penuh kepuasan. "Ini lebih dari sekadar sampel virus. Ini adalah senjata. Dan sekarang, kita memilikinya."
Tiba-tiba, monitor di belakang mereka berkedip cepat, seolah merespons kehadiran mereka. Sebuah peringatan dalam bahasa yang tidak mereka mengerti muncul di layar, diiringi suara mekanis yang terdengar seperti bisikan halus.
Di kejauhan, terdengar suara gemuruh samar, seolah sesuatu mulai bergerak di dalam kegelapan...
lalu ada kota² dan desa² nya. dan di setiap kota/desa dilindungi tembok. aku kepikiran ini pas baca yg bagian evakuasi raja ke zona utara.
mungkin kalo di lihat dari udara. UK di novelmu penampakannya mirip punggung kura². dg garis² nya sebagai benteng tiap kota/desa.
coba donk thor. next update bikinin peta UK kalo dilihat dari udara
anaknya selena cewek
pas gede, mereka berjodoh.
fix, leo jadi besan dg mantan pacarnya😁
bisa kembali muncul ketika leo akhirnya bertemu lagi dg selena