Aila. Seorang gadis muda yatim piatu ... Yang harus menghadapi dilema dengan dua pilihan sulit dalam hidupnya.
Aila di hadapkan dengan sebuah perjodohan dengan CEO muda kaya raya, Fakhri ... Putra sahabat karib Almarhumah Ibunya. Namun sebuah rintangan besar ada di depan Aila, jika Ia memilih Fakhri, lantaran sudah ada sosok Naira yang telah menempati lebih dulu ruang di hati Fakhri.
Sementara di sisi lain ada Ardan, seorang sahabat yang diam-diam menaruh rasa pada Aila.
Siapa kiranya yang akan dipilih Aila sebagai jodohnya?
Siapa yang akan dijadikan Aila sebagai pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VirentaNita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Goyah
Detik kemudian Aila terdiam dengan sorot mata berkaca-kaca. Tak dapat dipungkirinya jika perkataan Ardan telah sukses menggoyahkan hatinya.
Namun disisi lain, Aila tak ingin mengkhianati janjinya pada Erna. Tentu saja karena Erna selalu mengungkit kebaikannya pada Aila di masalalu, yang membuat Aila sungkan untuk sekedar menolak.
"Ai ...."
Ardan memanggil nama Aila pelan. Membuat gadis itu mendongak. Memperlihatkan kaca-kaca yang telah menghiasi kedua bola matanya.
Aila menatap Ardan dengan pandangan sendu. Sedetik kemudian air matanya menetes jatuh.
"Maaf ... Aku sama sekali tak bermaksud untuk membuatmu bersedih atau pun berkecil hati ...."
Sekeping hati milik Ardan ikut terluka, melihat air mata yang mengalir membasahi pipi Aila. Digenggamnya kemudian tangan Aila lembut. Mencoba menangkan kegundahan hati Aila.
Detik kemudian Aila menarik tangannya dari genggaman tangan Ardan, lalu mengusap pelan bekas lelehan air mata di pipinya. Sejujurnya Aila takut jika keteguhan hatinya akan benar-benar goyah.
"Aku mengatakan hal ini hanya untuk membuatmu sadar Aila ... Kamu tidak harus melanjutkan rencana pernikahan ini,"
"Jika hatimu merasa keberatan, apalagi terluka ... Karena jika kamu meneruskan rencana pernikahan ini ... Tentunya ada luka yang jauh lebih besar lagi akan menantimu kelak, saat kamu telah sah menjadi istri Mas Fakhri!"
"Ingatlah karena sebab apa Kamu menikah dengan Fakhri ... Untuk Tante Erna bukan?"
"Bukan karena kamu mencintai Mas Fakhri,"
"Semua ini terjadi diluar keinginanmu,"
" ... Lalu haruskah Kamu mempertahankan rencana pernikahan konyol ini sekarang ... Bahkan disaat kamu tahu betapa Mas Fakhri sangat mencintai Naira,"
"Di hati Fakhri hanya ada Naira ... Jangan terus korbankan dirimu Ai ... Aku bahkan tak rela melihatmu menderita seperti ini karna keegoisan mereka!"
"Dan Tante Erna ... Dia memang telah banyak berjasa dalam hidupmu ... Namun sebandingkah dengan apa yang dimintanya sekarang ini?"
"Kamu akan mengorbankan seumur hidupmu Ai, bukan hanya untuk sesaat. Ingat itu!"
Aila menggigit bibir bagian bawahnya, menahan dirinya untuk tidak kembali menagis. Sekali lagi ... Hatinya membenarkan jika yang dikatakan Ardan adalah hal yang benar.
Haruskah Ia meneruskan rencana pernikahan ini?
Sebuah pernikahan yang sebenarnya diluar keinginannya.
Jika diteruskan pun ... Pastilah hanya akan dijalani dengan separuh hati ... Dan tentunya akan ada hati lain yang terluka.
Namun untuk sekedar menolak, Aila pun tak mampu. Lantaran yang mengiba padanya adalah seseorang yang telah menjadi penyelamat hidupnya.
Penyelamat yang datang ketika Ia benar-benar membutuhkan bantuan seseorang ... Dan kini, orang yang dulu mengulurkan tangan padanya, berbalik meminta bantuan.
Lantas bagaimana caranya Ia menolak?
Dan untuk menerima ... Bagaikan sebuah pengorbanan yang teramat besar.
Sanggupkah Ia berkorban seumur hidup?
Pikiran buruk seketika mulai membayang di pelupuk mata Aila.
"Ku mohon Aila ... Pikirkanlah perkataanku ini dengan baik ... Pikirkanlah kebahagiaanmu sendiri mulai sekarang!" imbuh Ardan dengan nada tegas.
Batin Aila semakin tak karuan. Ucapan Ardan mampu memberikan pengaruh yang besar pada pemikirannya.
Ia yang semula mencoba untuk ikhlas dan menerima keadaan. Kini mulai dilanda bimbang.
Hatinya perlahan rapuh!
Mulai goyah!
Cukup lama ... Aila hanya berdiam diri tanpa membuka suara. Hanya mendengar apa yang Ardan ucapkan dengan perasaan bimbang tak karuan.
Menimang keputusan apa yang akan diambilnya.
Bertahan ... Atau pergi!
'Ting'
Hingga sebuah pesan yang masuk ke layar gawainya, berhasil membuat perhatian Aila teralihkan.
Benda pipih yang semula tersimpan rapi di sakunya itu berkedip pelan beberapa kali, menandakan tak hanya satu pesan yang masuk ke dalam phonselnya. Perlahan Aila meraih benda layar datar itu.
Sebuah nomor yang tertera di layar phonsel cukup membuat dahinya mengernyit heran.
Nomor tak dikenal!
"Siapa Ai?"
Aila mendongak sekilas pada Ardan kemudian mengedikkan bahunya. Hingga sesaat kemudian kembali menatap layar gawainya.
Membuka deretan pesan yang baru masuk ke dalam phonselnya.
(Jangan tersenyum dulu Ai!)
Aila tersenyum getir setelah membaca isi pesan pertama. Entah mengapa hatinya berkata jika Naira adalah si pengirim pesan.
Wanita itu ... Dia masih juga belum berhenti mengganggunya setelah kejadian memalukan tadi.
Membuat Aila lagi-lagi memikirkan ucapan Ardan barusan. Naira memang tak akan berhenti dan mungkin akan jauh lebih parah ketika Aila telah menikah dengan Fakhri nanti.
(Akan ku balas apa yang terjadi padaku hari ini!)
(Tunggu saja! Kamu akan menyesal karena telah berurusan denganku!)
(Jangan kamu kira Aku akan tinggal diam saja Aila, tunggu saja pembalasan dariku!)
Aila kembali mengantongi phonsel miliknya sembari menghembuskan nafas kasar.
Deretan pesan yang masuk ke phonselnya hanya membuatnya merasa pening. Jelas sekali jika nomor itu adalah milik Naira.
Entah dari mana dan bagaimana caranya wanita itu mendapatkan nomor Aila.
"Dari Naira?" tebak Ardan. Melihat gelagat tak beres Aila setelah membaca pesan.
*-*-*
"Mas Fakhri ... Disini!"
Fakhri yang baru turun dari mobilnya menoleh pada Ardan yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Kamu masih di sini?" tanya Fakhri. Heran.
"Hemmm ... Aku baru saja mengantar Aila tadi ...." jawab Ardan. Tanpa ragu. Ia sama sekali tak peduli dengan apa yang akan kakak sepupunya itu pikirkan nanti.
"Apa kalian cukup dekat?"
Pertanyaan Fakhri seketika membuat Ardan menatapnya intens.
"Apa Mas Fakhri mulai menyukainya?"
Bukannya menjawab pertanyaan Fakhri, Ardan justru balik bertanya. Memastikan bagaimana perasaan Fakhri saat ini terhadap Aila.
Hening!
Melihat Fakhri hanya diam tanpa mampu menjawab dengan raut muka dipenuhi perasaan bersalah. Sudah cukup menjadi jawaban bagi Ardan untuk segala pertanyaannya.
"Mengapa Mas Fakhri bersedia menikahinya jika Mas Fakhri tidak menyukainya?"
"Mas Fakhri tidak bermaksud menjadikan Aila sebagai mesin pencetak anak bukan?"
"Ardan!" tegur Fakhri. Memotong kalimat Ardan. Merasa jika ucapan Ardan telah melampaui batas. Keterlaluan.
"Pikirkanlah juga perasaan Aila, Mas!"
"Setidaknya cobalah untuk mengerti dan memahaminya jika Mas Fakhri belum mampu membagi hati,"
"Bersikaplah adil pada Aila dan Naira jika Mas Fakhri benar-benar akan menikahinya kelak!"
Fakhri menghela nafas kasar, lalu melonggarkan dasi yang melilit ketat di lehernya. Seolah hal itu dapat membuatnya lega karena beban masalah yang di tanggungnya.
**Hai readers jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote kalian ya ... Terima kasih.
Salam hangat peluk dari jauh dari Author.
Dan sekali lagi maaf untuk ke tidak nyamanannya ya ... karena alur dan jalan cerita Aila, Naira, Ardan dan Fakhri yang berubah.
Percayalah ini pun juga tidak mudah bagi Author ... Merubah total cerita yang sudah jalan 24 episode? Jangan ditanya lagi ... Author pun sempat ingin menyerah pada awalnya.
Tapi ya balik lagi ... Bismillah ... Dan akhirnya telah terselesaikan juga naskah novel ini.
Maaf untuk readers yang kecewa, tapi Author pun juga terpaksa melakukannya.
Ampuni Author ya man teman**.
seru pas diawal aja cerita dipologami, ini kan ganti cerita masak cuma dikit doank episodenya...
uda lama nggu akhirnya cm gini doank
Udh q boom like juga,
Jangan lupa mampir novelku yang lain
Love revenge, Obsesi
Tinggalin jejak juga 👍👍
Nuhun 🙏
mampir juga donk ke crt aku..
WHEN KAMA MEET SUTRA
aq tgg ya ka 🤗
ngk sabar nungguin kelanjutann kisah fahri dan aila