Sejak pertemuan pertama kita duniaku kembali berwarna rasanya memandang mu dari kejauhan sudah menjadi candu bagiku
Hingga pada akhirnya kau pergi tanpa tanda menghilang bagai debu dan malapetaka kembali masuk ke dalam hidupku
Setelah semuanya berhasil mengubahku takdir mempertemukan kita kembali
Hydrangea arella dapatkah kita memulai awal baru berama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulac ryu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap yang berlebihan
🌱Happy reading guys😁
.
.
"Help me please?" bisik gio kepada kedua sahabatnya
Yang membuat keduanya saling menatap kompak kemudian beralih menatap gio sambil menjawab "no, thank you" tegas keduanya
'Sial, awas saja kalian nanti ' runtuk gio dalam hati
Belum sempat gio mengumpat pada kedua sahabatnya ini langkah seseorang yang terbakar amarah itu tidak cukup memberinya waktu
"Emm mau ngopi bang?" tanya gio santai menyambut kedatangan abangnya
"Buka hp sekarang!!" perintah bastian dengan tatapan tajamnya
Gio masih ingin menanggapinya dengan santai dengan menunjuk dirinya sendiri
Memastikan perintah kakaknya tersebut memang ditujukan padanya akan tetapi yang ditanya tidak berniat merespon baik hal tersebut
Membuat gio menyerah kini jarinya mulai meraih benda pipih yang ia simpan didalam tas
Kedua bola matanya hampir melompat mendapati bahwa bastian mencoba menghubunginya berulang kali
'11 missed call, Gorila?!' pekik gio tidak percaya
'tidak biasa-biasanya' tatapan mata gio beralih kembali menatap bastian
"Oh oke, jadi gini bang dari pagi hp sengaja aku silent--" kalimat gio terhenti karena bastian kembali memberinya pertanyaan
"Telinga itu apa hanya pajangan?" ucap bastian penuh penekanan sambil menunjuk
Membuat beberapa orang yang berlalu lalang disekitar mereka kini menatap penasaran dengan situasi yang sedang terjadi
Terlebih seseorang yang sedang dilanda amarah ini adalah KATING sekaligus Presiden Mahasiswa yang amat mereka kagumi
(khususnya untuk kaum hawa yaa yes🙃)
"Tahan sob" ucap seseorang yang berdiri tepat di samping bastian layaknya seorang bodyguard
Gio terkekeh "hai joy, hebat kau sanggup bertahan--" melirik bastian dengan tajam
"Berteman dengan go-ri-la satu itu?" mengangkat salah satu sudut bibirnya
Mendengar itu joy berdehem mencoba mencairkan suasana sambil menepuk pundak bastian yang masih terlihat tegang
Bastian menatap bingung kearah joy kini ia menyadari bahwa sedari tadi dirinya tidak datang ke cafe bintang seorang diri
Karena sudah hampir 1 jam konsentrasinya terpecah ingin segera menemukan adiknya dan membawanya pergi dari tempat ini
Tepatnya sesaat setelah perkelahian diantara dua mahasiswa dari kampus yang berbeda
Seseorang dari masa lalu yang harusnya tidak akan menginjakkan kakinya lagi di indonesia telah kembali dan berada disekitar mereka
Membuat bastian tidak mampu berfikir lurus "ikut aku pulang sekarang" ucap bastian
Bastian yang panik langsung menarik tangan gio untuk menjauh dari tempat itu menuju parkiran
meninggalkan dua pria yang kebingungan melihat hal itu terjadi dan memberi tugas kepada satu pria lain untuk menjelaskan semuanya
Gio hanya diam mengikuti kemana abangnya akan membawanya pergi tanpa rasa penasaran sedikitpun
Karena ia sudah menebak pasti hanya rumah yang akan mereka tuju
Tapi ternyata motor yang mereka kendarai tidak menuju ke rumah melainkan ke Airport yang membuat gio menatap bingung
"Tunggu disini" perintah bastian
"Akan aku pesankan tiket terlebih dahulu" menoleh kerah gio memastikan adiknya mengikuti arahannya
"Hei apa yang terjadi? something wrong with grandma or grandpa?" tanya gio mulai khawatir
"Everything its gonna be fine, hanya saja mulai hari ini kamu akan tinggal di aussie bersama mereka"
"Wh**att? jangan suka mengatur hidupku karena jelas abang tidak punya hak" tegas gio
"Keputusan ini dibuat--" kalimat bastian terhenti ia mencoba menjelaskan situasi yang selalu menjadi beban terberatnya
"Sayaaang" seketika membuat keduanya menoleh ke asal suara yang memperlihatkan bunda lidya melebarkan kedua tangannya untuk memeluk gio
"Bunda" ucap gio menautkan keningnya
Bunda lidya mengusap punggung putranya berharap kalimat yang akan ia ucapkan dapat diterima oleh gio
"sayaaang bunda mohon yaa? gio harus mau tinggal bersama grandma dan grandpa di aussie" air mata bunda lidya lolos begitu saja yang kini membasahi kemeja yang gio kenakan
Gio terlihat bingung dengan situasi yang terasa tiba-tiba, tidak seperti biasanya, terlihat berlebihan dan begitu jelas jika ada sesuatu yang disembunyikan darinya
Gio membalas pelukan yang bunda lidya berikan kepadanya mencoba menenangkan bundanya terlebih dahulu
Setelah itu barulah ia berencana akan mencari tahu kebenaran apa yang mereka sembunyikan
'Membahasnya dengan kepala dingin akan lebih mudah menyelesaikan sebuah masalah' pikir gio
.
Terdengar suara dering
Dilihatnya incoming call joy "meraka sudah aku beri tahu, sekarang kamu ada dimana?"
"Bandara" jawab bastian
"Baiklah tunggu kedatangan kami disana" ucapnya sebelum terdengar bunyi "ding" tanda sambungan telpon telah terputus
🌼🌼SETENGAH JAM BERLALU 🌼🌼
Mereka terlihat datang bersama dengan raut wajah yang tidak dapat disembunyikan antara khawatir dan sedih yang begitu dominan
Kini ketiga pengacau terlihat duduk berjejer, menunggu jam keberangkatan gio sesekali febri dan brian melirik jam kemudian menghembuskan nafasnya berat.
Pikir mereka ini akan sulit karena memang sejak dulu mereka tidak terpisahkan tapi keputusan ini diambil untuk kebaikan gio, mana mungkin brian dan febri berani menentangnya
Terlebih meraka tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada gio bila ingatan itu kembali padanya yang sudah pasti itu akan sulit bagi gio untuk menerima kenyataan pahit itu.
Bahkan rencana awal mereka untuk menargetkan kampus YX yang diubah begitu saja oleh gio, tetap keduanya ikuti hanya untuk tetap bersama tapi siapa sangka semua ini terjadi membuat rencana awal mereka gagal begitu saja
"Apa kau akan melupakanku, jika kita tidak bertemu karena kau tinggal lama di Aussie?" tanya febri yang sudah menahan perasaannya sedari tadi
Membuat gio dan brian menatap heran kearah febri 'ada apa dengannya? kenapa tiba-tiba bersikap sentimentil' gumam gio dalam hati
"Benar karena kau membahasnya aku jadi kepikiran hal itu" kali ini brian mengucapkannya dengan wajah yang tertunduk
"Ada apa dengan kalian ini? anggap saja aku sedang pergi bertamasya ke sana karena aku pasti akan kembali
Dan mungkin nanti saat aku kembali kalian akan sibuk dengan pekerjaan, kekasih kalian atau malahan dengan keluarga kecil kalian" jawab gio enteng mencoba menenangkan kedua sahabatnya itu
"Kau ini menganggap kami teman atau tidak?" ucap brian dan febri hampir bersamaan
"Oh ya ampun, baiklah aku akan usahakan setiap liburan pulang kesini" merangkul kedua sahabatnya yang terlihat hampir menangis
.
Suka terharu kalau lihat pertemanan antar cowok 😊👍