NovelToon NovelToon
Balada Cinta Sang Penari

Balada Cinta Sang Penari

Status: tamat
Genre:Romantis / Petualangan / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: nath_e

Sari adalah jurnalis muda yang ditugaskan untuk meliput sintren, sebuah tarian unik perpaduan seni budaya dan mistis di daerah pesisir Indramayu. Tak disangka liputannya membawa Sari dan kedua sahabatnya pada sebuah misteri baru.

Berawal dari mimpi dan buku tua misterius yang datang tiba-tiba pada Sari, ia dan kedua sahabatnya memulai petualangan misteri. Mereka yang berani membaca buku tua itu akan diteror dengan hantu penari bertopeng.

Apa yang sebenarnya terjadi dan siapa hantu penari itu?

Apakah Sari dan kedua sahabatnya dapat memecahkan misteri dan melawan rasa takut mereka?

Ikuti terus kisahnya hingga akhir,

How dare you to read that book?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nath_e, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Perjalanan Sari dan tim berlanjut menyusuri ruas jalan tol Trans Jawa menuju kota Cirebon. Bagas telah memperkirakan waktu tempuh yang akan dilewati timnya.

Dalam kondisi normal perjalanan melalui tol Trans Jawa akan memakan waktu kurang lebih tiga jam perjalanan dengan jarak tempuh hanya 235 km. Ini lebih menghemat waktu jika dibandingkan dengan melalui jalan darat biasa yang akan menempuh waktu perjalanan sampai lima jam.

Perjalanan panjang nan melelahkan melalui jalur tol akhirnya sampai juga di kota Cirebon. Agak sedikit terlambat satu jam dari perkiraan Bagas karena diselingi istirahat sejenak dalam rest area.

Sari yang memilih tidur selama perjalanan perlahan membuka matanya. Matanya menangkap papan bertuliskan Selamat Datang di Kota Cirebon. Ia menegakkan tubuhnya dan mulai memperhatikan jalan.

" Putri tidur dah bangun rupanya," sindir Doni

" Dah nyampe ya, cepet juga ya daripada pake jalur biasa." kata Sari mengabaikan sindiran Doni

" Cepet lah, orang kamu juga tidur terus di jalan." kata Doni lagi

" Sar, rumah tantemu yang mana nih...kita dah mo masuk ke kota lho ?" tanya Bagas

Sari masih belum bersuara dan melihat terus ke depan, ia sedang memperhatikan perubahan kota Cirebon yang sudah lama ia tinggalkan.

" Bentar aku juga agak lupa ni...banyak yang berubah disini." sahutnya

Setelah berada di perempatan jalan Sari melihat salah satu mall yang terkenal di daerah Jawa Barat yang digunakan Sari sebagai patokan.

" Nah itu dia jalannya, abis ini belok kanan pak...abis jembatan kecil rumah besar depan kuburan naaah itu dia tempatnya." kata Sari menunjukkan jalan

" Haah...serius lu Sar, depan kuburan ? Yaelah ni horor Mulu siiih... mimpi apa gue ikut tim ini," keluh Doni

" Hush...diem aja deh, rumahnya aman kok kan kuburannya diseberang." kata Sari berusaha menenangkan Doni

Sari mengambil ponsel nya dan segera menghubungi Tante Kurnia,

" Assalamualaikum...Tante, Sari dah nyampe niih...udah di depan bukain gerbangnya ya."

" Oke Tante, makasih,"

Tak lama seorang pria paruh baya keluar dari rumah besar bercat putih yang memiliki pintu pagar besi besar dengan nuansa gold. Pria itu membukakan pagar besi dibantu seorang anak perempuan. Sari memutuskan untuk turun dan menyapa mereka, disusul Doni dan Bagas.

" Assalamualaikum...Om, hai Nisa..." sapa Sari pada kedua nya

" Waalaikumusaalam...masyaallah Sari, Alhamdulillah akhirnya pulang juga kesini," sahut pria paruh baya yang bernama Bambang Prasetya, adik ipar Mom Adeline.

" Iya om, maaf baru sempat kemari...oya om kenalin ini teman-teman Sari dari Semarang." kata Sari seraya mencium tangan Om Bambang

" Saya Bagas, om..."

" Doni, om..."

Om Bambang tersenyum sambil membalas jabat tangan mereka berdua. Pak Adit menyusul setelah mobil yang ditumpanginya masuk ke dalam pelataran rumah.

" Nah yang itu, namanya Pak Adit." kata Sari sambil menunjukkan tangannya kea arah Pak Adit

" Selamat malam pak, maaf ini kami mengganggu waktu istirahatnya...saya Adit." sapa Pak Adit dengan ramah

" Saya Bambang...nda lah, kami senang malah kedatangan tamu dari jauh apalagi temen-temennya Sari." jawab Om Bambang

" Yuk masuk, dah ditungguin Tante mu di dalam." ajak Om Bambang pada Sari dan yang lainnya

Sari dan yang lainnya mengikuti Om Bambang masuk ke dalam rumah. Kediaman milik Tante Kurnia sebenarnya rumah peninggalan mendiang kakek Sari. Rumah itu terdiri dari satu rumah induk dan dua rumah pendamping.

Dulunya tempat ini digunakan oleh kakek Sari untuk menjamu keluarga dikarenakan banyaknya anggota keluarga yang dimiliki. Mom Adeline sendiri adalah anak ke delapan dari sebelas bersaudara.

Doni terkesima dengan luasnya bangunan rumah peninggalan kakek Sari, semuanya bergaya arsitektur kuno khas daerah Pasundan. Belum lagi ada sebuah pendopo yang terletak ditengah ketiga bangunan rumah.

" Sar....ni rumah kayak Keraton aja segala ditengah pake pendopo lagi." bisik Doni pada Sari

Sari hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya. Lain halnya dengan Bagas yang asyik memotret tiap sudut ruangan yang unik. Kakek Sari pecinta barang seni jadi disetiap sudut ruangan selalu saja ada barang seni bernilai tinggi yang dipajang dengan cantik.

Pak Adit dan asistennya pun dibuat takjub dengan keasrian rumah. Hawa dingin yang dirasakan karena udara malam semakin terasa dingin di dalam rumah karena sirkulasi udara yang tercipta dengan baik.

" Kita duduk santai di sini saja ya, itu tante mu dah bikinin teh hangat buat kalian biar enak perutnya...atau ada yang mau kopi ?" tanya Om Bambang

" Saya boleh minta kopi aja om, tapi jangan yang hitam kopi susu aja yang legit biar manis kaya saya." pinta Doni

Mendengar permintaan Doni spontan Om Bambang tertawa,

" Oh yaa...boleh kok, saya suka ni tipe nak Doni terus terang." kata Om Bambang

Sari dan Bagas hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, memaklumi tingkah sahabat mereka yang konyolnya luar biasa. Ahmad dana Rara yang duduk disebelah Doni pun hanya bisa menahan tawa.

Jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Sari dan tim beserta Pak Adit masih bersenda gurau di ruang tengah ditemani Tante Kurnia dan Om Bambang.

Terdengar suara mobil berhenti di pelataran rumah. Seseorang dengan tubuh tinggi besar bermata teduh, memasuki ruangan. Ia tersenyum pada semua tamu dan beralih menatap Sari. Merasa ada yang memperhatikan Sari pun menoleh ke arah orang tersebut dan tersenyum dengan sedikit terpaksa,

" Mang Aa..."

1
Tini Nurhenti
seruuuuu bgt gk ngebisenin
Tini Nurhenti
Dibaca lgi berulang2 kali ttp gk bosen,asli nih nvel epik bgt.💪💪💪👍
Tini Nurhenti
aku lek wong cirebon asli /Grin//Grin/
Romi Tama
sari..nurut..buat kebaikan kamu
Romi Tama
cerita nya seruuu
Abdurrachman Anton
sampe sini dah ada 3 curios karakter ; 1. yg anter buku yg kata mbak pur guanter putih tinggi, 2. yg papasan dilift bilang kitavpastibketemu lg sari, 3.yg memperhatikan dr jauh dan bilang akhirnya ketemu.. keren2
KadalKocak
👍👍👍
KadalKocak
ada apa dengan anu 🤭🤭
KadalKocak
kalo buka jasa ghost hunter ntar malah saingan sama Sadewa dong 😁😁
pelukis_senja: 🤣🤣iya yaa...dl nda kepikiran
total 1 replies
KadalKocak
koreksi dikit thor..harus nya dieu..bukan kieu..kalo dieu tu artinya sini/kesini..kalo kieu tu artinya begini..contoh : jadi kieu mang..(jadi gini mang)..gitu thor
KadalKocak: sipp..kalem aja thor.. ane sekarang lagi mantau dulu disini..pinisirin kisah2 awal sebelum el zero dkk..kalo di pf sebelah (ozzif) nama akun ane jimi labrador..tapi foto akun nya sama kok..kucing item melet 😁😁
total 2 replies
KadalKocak
sama kaya nyonya meneer dong 😁😁
pelukis_senja: satu angkatan
total 1 replies
Rommy Wasini Khumaidi
Lumayan
Rommy Wasini Khumaidi
Biasa
Miftakul Ulum
nahan mau Boker 🤣
Miftakul Ulum
lanjut donk collab nya 😊
Miftakul Ulum
karena ada mas al anaknya dina aku like terus+ aku subscribe kak 😇
Miftakul Ulum
loh ini alarick suaminya dina bukan ya?
Suharnani
Sari iki tipe wong ngeyel
Suharnani
Dari tadi ngpain aja. punya ilmu bukan buat jaga"dan waspada
Suharnani
pretttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!