NovelToon NovelToon
Sistem Misi Polisi

Sistem Misi Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.

Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Mengumpulkan bukti

Setelah hari itu, Nathan melakukan beberapa hal untuk persiapan operasi penyamarannya.

Ia merapikan kemeja, menyesuaikan penampilan, serta menyiapkan identitas baru agar bisa berbaur sempurna di lingkungan sekolah.

​"Kamu yakin, Nat?" tanya Niko yang berdiri di dekat pintu sembari memperhatikan persiapan temannya itu.

​Nathan yang sudah memakai pakaian rapi tersenyum percaya diri. "Tentu saja. Pak Martin juga mendukungku."

​"Baiklah kalau begitu, semoga berhasil. Jika butuh bantuan, jangan sungkan telepon aku," ujar Niko menyerahkan dukungan penuhnya.

​Nathan mengangguk mengerti. Dengan bantuan jaringan dan wewenang Komisaris Martin, Nathan mendapatkan akses resmi untuk masuk ke sekolah Sintia dengan menyamar sebagai seorang guru honorer pengganti.

​"Aku sudah siap," suara datar tiba-tiba terdengar dari sudut ruangan.

​Nathan dan Niko menoleh.

Lisa berdiri di sana mengenakan seragam SMA lengkap, rok abu-abu, kemeja putih, dan kacamata tebal yang agak miring.

Rambutnya diikat asal-asalan, memberikan kesan canggung sebagai seorang gadis penyendiri yang mudah diintimidasi.

​Nathan hanya menggelengkan kepala melihat betapa cepat wanita itu menyesuaikan penampilannya.

​"Kapan kita akan pergi?" tanya Lisa datar.

​"Sebentar lagi," jawab Nathan singkat.

​Jam 7 pagi pada hari Senin.

​Suasana di SMA tempat Sintia bersekolah tampak ramai oleh murid-murid yang berkumpul di lapangan sebelum bel masuk dibunyikan.

Kasak-kusuk suara bisikan mulai terdengar di antara barisan siswa.

​"Kalian dengar tidak? Katanya hari ini ada guru dan murid baru."

​"Aku dengar. Bisa bersamaan begitu ya?"

​Tidak lama kemudian, Kepala Sekolah berdiri di atas panggung pengumuman untuk memperkenalkan guru dan murid baru tersebut.

Begitu melihat sosok yang berdiri di samping Kepala Sekolah, para siswa terutama siswi-siswi tampak membelalak kaget.

​"Wah, gurunya muda dan tampan! Tidak seperti guru-guru lain di sini."

​"Wajahnya agak mirip orang yang pernah kulihat di berita tidak sih?"

​"Ah, masa sih? Tapi ganteng banget!"

​Nathan hanya tersenyum ramah ke arah barisan siswa.

Ia memperkenalkan dirinya dengan nama samaran.

"Selamat pagi semuanya. Saya Riko, guru sementara kalian untuk beberapa waktu ke depan. Semoga kita bisa akur ya."

​Beberapa siswi di barisan depan langsung berseru dengan nada menggodanya.

​"Iya, Pak! Pasti mau akur dong, kan Pak gurunya good looking, wkwk!"

​"Apaan sih, kegatelan deh. Tapi aku juga mau akur sih, hehe."

​Di barisan belakang, empat orang murid yang merupakan komplotan perundung Sintia menyaksikan pengumuman itu.

Mereka tersenyum sinis melihat sambutan heboh para siswi.

Namun, begitu pandangan mereka beralih ke sosok Lisa yang berdiri pasif di sebelah Pak Riko, mata mereka berbinar liar.

​"Murid baru, ya?" bisik pimpinan geng perundung itu dengan senyum meremehkan.

​Sesuai rencana, Nathan menempatkan Lisa di kelas yang sama dengan empat perundung tersebut.

Tujuannya adalah menjadikan Lisa sebagai umpan agar para pelaku melancarkan aksi mereka kembali, sementara Nathan bertindak dari balik layar.

​Untuk mengumpulkan bukti yang tidak bisa dibantah di pengadilan kelak, Nathan secara diam-diam telah memasang kamera tersembunyi berukuran kecil di berbagai sudut sekolah, mulai dari atap gedung, laboratorium tua, gudang belakang, hingga area lorong yang sepi.

​Namun, ada satu hal yang tidak diduga oleh Nathan sejak awal: respon dan kepribadian asli dari Lisa.

​Dalam waktu beberapa pekan berjalan, komplotan perundung itu mulai melancarkan aksi kejam mereka kepada Lisa.

Mereka memojokkannya di atap gedung, menyiramnya dengan air keruh, mengurungnya di kamar mandi, hingga melakukan kekerasan fisik.

Lisa sengaja tidak melawan dan berpura-pura menjadi murid lemah yang berani menerima intimidasi mereka.

​Tetapi, bukannya merasa takut, menangis, atau trauma, Lisa justru menikmati setiap pukulan, dorongan, dan rasa sakit fisik yang dihantamkan kepadanya.

​Lisa adalah seorang masokis gila dengan kelainan jiwa yang sangat dalam.

​Kondisi psikologis menyimpang ini terbentuk dari masa kecilnya yang sangat kelam.

Lisa tumbuh di bawah asuhan kedua orang tua yang sangat kasar.

Sejak kecil, ia rutin dipukuli, disiksa, dan dikurung di ruangan gelap tanpa alasan yang jelas.

Dalam proses bertahap, otak anak-anak Lisa mengalami trauma ekstrem hingga memelintir persepsi jiwanya: rasa sakit fisik menjadi satu-satunya bentuk sensasi yang membuatnya merasa "hidup" dan terhubung dengan dunia.

​Puncaknya terjadi ketika Lisa duduk di bangku SMP.

Ketika rasa bosan dan kejenuhannya terhadap perlakuan orang tuanya mencapai puncak, Lisa meracuni makanan kedua orang tuanya dengan bahan kimia berbahaya, menyiksa mereka hingga tewas, lalu membakar rumah mereka untuk menghilangkan seluruh jejak tindak kejahatannya.

Sejak hari itu, ia hidup tanpa norma, tanpa empati, dan memiliki ketagihan gelap terhadap rasa sakit fisik.

​Suatu sore di dalam laboratorium komputer yang sepi, Nathan sedang memindahkan data dari kamera tersembunyi ke dalam laptopnya.

Pintu ruangan terbuka pelan, dan Lisa masuk dengan seragam yang agak kotor serta sudut bibir yang berdarah.

​Nathan menghentikan ketukan jarinya di papan ketik, menatap memar di wajah Lisa dengan dahi berkerut. "Mereka melakukannya lagi?"

​Lisa melangkah pelan, lalu duduk di atas meja tepat di sebelah Nathan.

Bukannya meringis kesakitan, matanya di balik kacamata tebal justru berbinar redup dengan pupil yang melebar.

​"Rasa sakitnya... sungguh luar biasa, Pak Guru," ucap Lisa dengan suara rendah yang tenang namun menyiratkan kegilaan.

Ia mengusap darah di sudut bibirnya dengan jari telunjuk, lalu menjilat darahnya sendiri tanpa ragu.

"Tamparan anak laki-laki tadi siang... rasanya sangat hangat. Sudah lama aku tidak merasakan hantaman yang begitu bertenaga."

​Nathan menatapnya dengan bulu kuduk meremang.

Meski sudah biasa berurusan dengan berbagai jenis penjahat berbahaya di kepolisian, ketenangan gila dari wanita di depannya ini selalu berhasil membuatnya merinding ngeri.

​"Lisa, ingat posisi kita. Kita di sini untuk mengumpulkan bukti resmi penangkapan mereka, bukan untuk menuruti kelainan anehmu itu," tegur Nathan datar, mencoba menutupi rasa ngerinya.

​Lisa tertawa kecil, sebuah tawa pendek yang hampa dan dingin. "Tenang saja, Nathan. Aku menjalankan tugasku dengan sangat sempurna, bukan? Kamera-kamera kecilmu itu pasti sudah merekam seluruh wajah panik dan kepalan tangan mereka."

​Lisa mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap layar monitor laptop Nathan yang sedang menampilkan rekaman aksi perundungan tadi siang di atap sekolah.

​"Lihat mereka," lanjut Lisa dengan nada bicara yang halus namun berbahaya.

"Anak-anak itu berpikir mereka adalah pemangsa yang berkuasa di sekolah ini. Padahal mereka hanya serangga bodoh yang sedang menyuapkan kenikmatan ke mulutku. Saat waktunya tiba nanti... aku ingin melihat wajah-wajah sombong itu hancur saat sadar bahwa seluruh pukulan mereka hanyalah permainan bagi kita."

​Nathan menarik napas panjang, mengalihkan pandangannya kembali ke layar monitor dan menggelengkan kepala. "Wanita ini benar-benar tidak waras," batin Nathan.

​Kendati demikian, rekaman video di dalam penyimpanan laptopnya kini sudah hampir lengkap.

Bukti tindakan kekerasan, pengancaman, dan pemerasan yang dilakukan oleh keempat perundung tersebut tersimpan utuh dan jelas.

Nathan hanya tinggal menunggu momen yang paling tepat untuk menutup perangkap ini dan menyeret mereka semua ke hadapan hukum.

1
Kaisar surgawi
sorry ini gw skip , karna apa ? sistemnya cuman memberikan uang, tidak kemampuan
Maul: gapapa kak. terima kasih sudah baca /Pray/
total 1 replies
Dragonovic
up👍👍👍
Dragonovic
up👍
Jonatan Revan
novel yang sangat baguss
Maul: terima kasih banyak atas ulasannya. yuhuh🍜/Determined/
total 1 replies
Jonatan Revan
saran yah thor bab nya bisa di kasih panjang lagi gak terlalu pendek
Maul: di usahakan ya hehe/Smile/
total 1 replies
Maul
🍝
Maul
🍜
Maul
/Coffee//Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
🍜/Coffee/
Maul
🍝🥘
Maul
🍔🍹
Maul
/Rice/🍜
Maul
/Coffee//Watermalon/
Maul
/Cake/
Maul
/Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
𝙃𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙛𝙞𝙠𝙨𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖. 𝙨𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖
Maul
...
Maul
𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!