NovelToon NovelToon
Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ammi Pooja

Dalam hidupku tak pernah menyangka bahwa dalam pernikahanku akan mengalami hal semacam ini.

Seandainya godaan itu datang dari wanita lain, mungkin saja aku tak akan segila ini. Tapi justru godaan itu datang dari wanita yang seharusnya aku hormati sebagai ibu dari istriku.

Aku hanyalah lelaki normal, lelaki biasa yang bisa saja khilaf dalam bertindak. Apalagi jika dihadapkan dengan godaan nyata setiap hari, godaan yang mampu mengikis kesetiaanku, godaan yang mampu menjegal keimananku.

Aku, Adarga Handanu ... lelaki biasa yang sedang berjuang keluar dari jeratan nafsu sang ibu mertua. Berhasilkan aku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 11 Mendadak Romantis

POV Danu

Sabtu Minggu ini Arini di rumah saja, kata dia ingin menghabiskan waktu bersamaku. Entahlah, sejak kapan ia berubah mendadak romantis. Y. Untuk perubahan satu itu justru aku sangat suka.

Ada satu hal yang masih sering tak kumengerti. Ia sering bilang, "Mas, jaga hatimu untukku, ya." Setiap hendak tidur dan pagi hari ketika kukecup dahinya sebelum berangkat kerja, ia ucapkan kata-kata itu.

Kata-kata yang Arini ucapkan menyiratkan makna bahwa ia memintaku untuk setia pada hati yang telah terpatri. Kata-kata itulah yang kini menjadi kekuatan sugesti terhebat dalam diriku.

Pradugaku mulai bermain, sepertinya Arini sudah mulai mencium gelagat tidak baik dari ibunya. Kuharap begitu, agar sesegera mungkin Arini bisa mengambil sikap.

Siang itu, di depan televisi Arini bergelayut manja di bahuku. Tak ia pedulikan ibunya yang sedari tadi mondar-mandir dan terbatuk-batuk. Kulihat dengan jelas sudut netra Bu Hera memandang penuh arti ke kami.

Aku coba melirik Arini, tapi ia begitu cuek dan asyik menonton drama korea kesukaannya. Sikap Arini begitu tenang, tak sedikit pun ia terusik oleh langkah kasar ibunya yang justru tampak gelisah.

"Dek, Ibu kenapa?"

"Hmm ...." jawabnya dengan mengedikkan bahu tanpa mengalihkan perhatian dari layar datar.

"Coba kamu tanya, Dek. Siapa tahu Ibu lagi butuh bantuanmu tapi nggak enak ngomongnya."

"Nanti aja, Mas. Lagi seru, nih adegannya."

Aku kembali membisu. Membiarkan ia menikmati kesenangannya adalah salah satu cara membuat ia bahagia. Arini, wanita yang tak banyak bicara dan begitu tenang pembawaannya.

Arini begitu pandai memanajemen emosi, selama pernikahan belum pernah aku dengar teriakan yang memekakkan telinga keluar dari mulut. Sikapnya yang begitu tenang membuatku sangat merasa nyaman berada di dekatnya.

Prang!!!

Kudengar suara benda dapur jatuh membuatku terkejut. Ingin segera kuhampiri suara untuk memastikan benda apa yang jatuh. Namun, niat itu urung karena tangan Arini menarikku untuk duduk kembali.

"Kamu dan Ibu kenapa, sih, Dek? Lagi ada masalah?" Kucoba menyelidik, berharap kudapatkan sebuah jawaban yang jujur.

"Nggak ada, Mas. Aku hanya pengen menikmati hari liburku aja, nggak pengen mikiri apapun."

"Terus Ibu kenapa? Kok kayaknya marah gitu."

"Mungkin lagi suntuk pengen jalan-jalan." Masih dengan sikap santai Arini menjawab.

Kembali aku terdiam. Ada banyak tanya dalam benak, apa yang sebenarnya sedang terjadi antara Arini dengan ibunya. Hubungan ibu dan anak yang aneh.

"Dek, Mas mau ke belakang dulu, ya. Panggilan alam, nih."

"Panggilan alam apa panggilan setan?"

Aku kernyitkan dahi, mencoba memahami kalimat yang baru saja meluncur dari bibir tipis itu. Tak seperti biasanya ia bersikap mencibir.

"Maksudnya, Dek?"

"Lupakan. Ya, sudah sana kalau mau ke belakang. Jangan lama-lama."

"Iya, Dek. Emangnya Mas mau tidur di ...." Belum sampai selesai bicara bola mata Arini melebar menatap tajam, membuatku garuk-garuk kepala karena tak mengerti sikapnya.

Kutinggalkan Arini yang tetiba berubah mood. Wanita memang aneh, kadang baik dan pengen dimanja, terkadang dingin dan kata-katanya menusuk hati. Tak se-simple hati pria sepertiku.

Baru saja keluar dari kamar mandi, langkahku dihadang oleh makhluk cantik tapi menakutkan. Ibu mertua yang kini menjadi momok bagiku dan terus saja datang menghantui kehidupan hingga alam pikirku.

"Danu, bisa nggak kalau kalian nggak usah umbar kemesraan di depanku?" katanya dengan nada sengit.

"Memangnya kenapa, Bu? Arini istri aku, nggak ada salahnya dia bermanja denganku."

"Tapi kamu juga harus mikir donk perasaan Ibu," sungutnya seolah tak rela melihat kemesraanku dengan Arini.

"Perasaan yang mana, Bu?" Aku masih pura-pura tak mengerti, karena sebenarnya bisa kutangkap sorot kecemburuan di sinar netranya.

"Hish! Kamu ini kenapa tidak peka juga." Wanita kesepian itu mulai merajuk dan menjejak lantai.

"Ibu mau juga dimanja?"

Dengan senyum malu-malu ... aiiih ... bukan malu-malu beneran dia, hanya akting. Dia tersenyum dan mengangguk, jemarinya saling mengait dan kerling mata nakal ia mainkan.

Dasar, wanita jarang dibelai! Bikin eneg aja ulahnya. Kalau tak ingat dia ibu mertuaku, mungkin sudah kucaci maki. Eh, belum tentu juga nding. Jiwa lelaki ini tak bisa dibohongi jika melihat yang bahenol dan bikin air liur menetes, hahaha ....

"Danu, kapan manjain Ibu?" Masih dengan kerling mata nakal, jemarinya mulai menyentuh lembut lenganku.

"Ibu beneran pengen dimanja?"

"Iya, Danu. Masa kamu nggak ngerti-ngerti juga."

"Aku punya ide, Bu."

"Apa?" Binar kegembiraan mulai menghias sorot mata nakal itu.

"Tapi nggak yakin Ibu bakalan suka." Kutekuk wajahku berpura-pura pesimis.

"Katakan saja, apapun kalau dengan kamu pasti Ibu suka."

"Ibu yakin?" Ia mengangguk cepat, wajahnya semakin berseri.

"Udah, apa ide kamu? Mau ngajakin ibu ke hotel? Atau liburan ke luar kota dan menghabiskan waktu di villa?"

"Bukan."

"Terus?" Wanita kesepian itu mendesak dan tak sabar mendengar ideku.

"Ideku tuh ... gimana kalau ...." Sengaja aku buat lama agar dia makin penasaran, aku sendiri juga menahan tawa melihat tingkahnya yang sudah persis kucing ingin kawin.

"Kamu ini, kalau ngomong yang jelas bisa nggak?" Nada bicaranya sudah mulai sewot.

"Ibu juga yang aneh, kalau mau dimanja, ya Ibu carilah suami! Bukan malah godain menantu," omelku balik sembari melepas gamitan tangan wanita yang sudah putus urat malunya itu.

"Lama-lama aku bukannya tergoda tapi eneg lihat sikap mertua sepertimu!" Akhirnya kata-kata itu meluncur juga tanpa bisa kutahan.

"Kurang ajar kamu, Danu. Nggak ada hormatnya dengan orang tua."

Jujur, aku ingin tertawa mendengar ucapannya. Bagaimana aku bisa menghormati wanita yang penuh nafsu, tak pernah memakai logika apalagi hati untuk berpikir.

Wanita yang hanya mengedepankan nafsu semata demi kesenangan diri. Wanita yang tega menghancurkan biduk rumah tangganya, meninggalkan anak yang harusnya ia sayangi.

Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ibuku merawat kami penuh kasih sayang. Perhatian besar yang ia curahkan begitu terpatri dalam sanubari anak-anaknya. Ibuku wanita yang jauh berbeda dengan Bu Hera, bahkan Arini saja sangat menyayangi ibuku daripada ibunya sendiri.

"Baiklah, Danu. Kamu rupanya ingin berperang denganku. Kita lihat saja siapa yang akan menang."

"Ini kehidupan nyata, Bu. Jadi, nggak usah main drama."

"Lihat saja apa yang akan aku lakukan hari ini," ucapnya penuh ancam, ia segera berlalu dari hadapanku.

Dengan langkah tenang, aku kembali ke ruang keluarga. Kudapati Arini yang sedang telepon, ia terkejut melihat aku sudah ada di dekatnya. Dengan buru-buru ia mengakhiri pembicaraan.

"Siapa, Dek?"

"Teman," jawabnya pendek, kemudian dia asyik dengan chat di aplikasi berlogo telepon hijau.

Kubiarkan ia dengan aktivitas jemarinya. Kuraih remote TV kemudian memilih chanel yang menayangkan acara memancing di lautan luas. Lebih menghibur ketimbang drama.

Baru saja dalam hitungan menit aku menonton acara kesukaanku itu, muncul kembali wanita yang tadi memintaku untuk menghormatinya. Jadi ingin tertawa lagi kalau ingat ucapan wanita aneh itu.

"Arini, Ibu mau bicara." Tiba-tiba wanita itu sudah ada di depan kami, menghalangi televisi dari pandangan.

"Bicara apa, Bu?" jawab Arini masih dengan begitu santai, berbeda dengan wajah Bu Hera yang menahan kesal.

"Kamu lihat ini! Biar kamu tahu kelakuan suamimu!" Wanita itu menyerahkan gawai yang memperlihatkan sebuah video.

Ya, Tuhan ... itu video waktu aku marah-marah ke dia. Bagaimana ini? Hatiku mulai dilanda kekhawatiran, takut jika Arini lebih percaya ibunya. Aku belum siap diusir dari rumah ini.

Arini, please jangan percaya.

 

1
Surati
bagus
Cis Siu
yey
Sri Wahyuni
👍👍👍👍🌹🌹🌹💪💪💪😘😘😘
Soraya
kmu hrus jujur sm istri danu klo km gak mau rumah tangga kmu berantakan
Soraya
mampir thor
Ibuk Kumaiyah
Luar biasa
Nur Adam
smgt untuk krya mu thoor
Kistinnisa nisa
Danu kapan terbukanya sama arini kl disimpen sendiri terbuka dong kan jadi bikin sakit hati sendiri kl bener arini selingkuh kl ga bener waduh ngamuk ga tuh arini
Kistinnisa nisa
ngakak aku thor kenapa ga dari kemaren2 aja tuh ibu mertua nyium danu wkwkwkwkwk tersadar karena bibir ibu mertua
Atmita Gajiwi
😁😆😍
linay
ngakak aku. 😂😂🤣
linay
si danu mulut sm otaknya perlu di servis... 😅
rika mayanti
auto sadar lngsung ya nu,,takut disosor...Oalah nek2,,,msh z nyari kesempatan..punya mertua gitu lngsung kena sawan mantu cucu ny..
rika mayanti
Arini kok Yo goblok men to Yo. Danu ayo tegas....
MACA
semoga iman dan iminnya mas danu kuaattt💪
MACA
astogeh...ini ibu kandung rasa pelakor
Halis Imuh
jgn sampai Danu tergoda aplg sielingkah sm wNit aular itu thor aku ga relaaa
Ra_ca
Baru datang, ingin ku baca terus, mak
Ra_ca
Karya kak Ammi. otw maraton baca 😍😍
Vanny Kaunang
lucunya Danu hahahahaha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!