Zhang Chen, seorang pemuda yang hidup dengan ketidak adilan oleh langit. tanpa sengaja ia terjatuh ke dimensi lain dan di pertemukan dengan seorang dewa yang nantinya akan menjadi gurunya.
dengan tekad yang kuat menjadi seorang pendekar yang berpegang teguh untuk melindungi orang orang yang ia sayangi dan menciptakan kedamaian
dengan tubuh istimewa yang tiada dua di alam semesta dan pelayan setianya yang merupakan raja agung dewa naga azure bersama para pasukan akan membawanya ke puncak dunia persilatan.
dan pada saat melakukan pengembaraan tanpa sengaja Zhang Chen bertemu dengan seorang wanita cantik nan anggun yang nantinya akan menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kang_gabut07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saudara baru
setelah peperangan terjadi di ibukota kekaisaran Ming yang di menangkan oleh aliansi yang di bentuk dari sekte-sekte aliran putih netral dan prajurit kekaisaran Ming, kini keadaan menjadi lebih stabil banyak warga desa maupun kota kota yang terdampak terlihat mulai menjalankan aktifitas seperti biasa.
sementara itu sekte-sekte aliran putih memfokuskan diri untuk memulihkan kondisi karna setelah tragedi peperangan banyak anggota sekte yang gugur dalam perang, mereka juga memperketat penjagaan agar sesuatu yang buruk tidak terjadi.
kembali pada Zhang chen yang kini tengah membuat api unggun untuk memangang daging hewan buas hasil buruannya dan beristirahat duduk bersandar di bawah pohon, wajah tampan yang di terpa gelapnya malam membuat bulan dan bintang bersinar semakin terang.
sambil menunggu daging panggang nya matang Zhang Chen mengambil seruling dan memainkannya, suara indah nan merdu dari seruling neraka mengisi suasana sunyi malam itu, sesaat kemudian Zhang Chen merasakan kehadiran 3 orang tengah berjalan menghampirinya, 1 pria paruh baya berwajah ramah dengan rambut terurai dan janggut putih panjang yang dikepang dengan tingkat kultifasi berada di tahap kaisar bumi tingkat akhir, dan 2 orang remaja yang berumur sekitar 20 tahunan dengan tingkat kultifasi berada di tahap raja bumi tingkat menengah.
Zhang Chen hanya diam karna ia tidak merasakan niat buruk dari ke 3 orang itu, Zhang Chen langsung menghentikan permainan serulingnya karna mencium aroma daging panggang yang mengguncang perutnya.
Zhang Chen kemudian mengambil daging pangangnya dan memotongnya menjadi 4 bagian dan memakannya.
salah satu dari ketiga orang itu kemudian menyapanya, walaupun Zhang Chen terlihat tidak memiliki tingkatan kultifasi dan berpakaian compang camping layaknya seorang pengemis, namun pria paruh baya itu berbicara dengan ramah layaknya orang biasa pada umumnya.
''permisi anak muda, boleh kah kami bergabung denganmu'' ucap pria paruh baya itu dengan ramah.
Zhang Chen hanya mengangguk dan menepuk tanah di samping tempatnya duduk karna mulutnya di sibukkan untuk mengunyah makanan
pria paruh baya itu kemudian duduk di sebelah Zhang Chen sambil memandang Zhang Chen yang tengah sibuk mengunyah makanan, dan di ikuti kedua pemuda itu duduk di samping kanan pria paruh baya itu.
ketiga orang itu hanya diam menelan ludah saat menatap Zhang Chen yang sedang makan dengan lahapnya, Zhang Chen yang merasakan tatapan mereka langsung berhenti makan dan memandang mereka bertiga secara bergantian, ketika melihat Zhang Chen berhenti makan dan memandang mereka, ketiga orang itu buru buru mengalihkan pandangannya ke tempat lain, Zhang Chen yang melihat tingkah ketiga orang itu hanya menggelengkan kepalanya pelan.
''kenapa kalian tidak mengambil daging panggang itu, aku sudah menyiapkannya untuk kalian makan'' ucap Zhang Chen sambil menunjuk daging yang masih terpanggang.
ketiga orang itu terkejut ketika mendengar ucapan Zhang Chen yang telah menyiapkan makanan untuk mereka makan, karna dari tadi mereka datang Zhang Chen tengah sibuk mengunyah makanannya sendiri.
''trimakasih anak muda, tapi kami sudah makan, bukankah begitu murid murid ku?'' ucap pria paruh baya itu sambil menoleh ke arah murid muridnya,
saat pandangannya tertuju kepada murid muridnya ternyata kedua muridnya itu tengah makan dengan lahap, sehingga membuatnya malu karena perkataannya sendiri.
''sudahlah paman, tidak perlu sungkan aku memang menyiapkan itu untuk kita makan'' ucap Zhang Chen sambil melanjutkan makannya.
pria paruh baya itu hanya mengangguk malu karna murid muridnya yang tidak sepemikiran dengannya, kemudian pria itu mengambil daging panggang dan mulai memakannya dengan lahap.
setelah selesai makan mereka berbincang bincang dan memperkenalkan diri.
''anak muda sebelumnya terimakasih atas makanannya, perkenalkan namaku Huo lie dan mereka berdua adalah murid-muridku, kami sedang menjalankan misi, karna misi telah selesai kami berniat untuk kembali ke sekte'' ucap pria paruh baya itu sambil menatap muridnya untuk memperkenalkan diri. dan di balas anggukan dari muridnya.
''perkenalkan namaku Xin fan dan dia adalah adikku Xin fai, kami hanya berbeda beberapa menit sebelum Xin fai lahir'' ucapnya sambil menangkupkan kedua tangannya.
Zhang Chen hanya menganggukkan kepalanya dan memperkenalkan diri.
''Namaku Zhang chen, aku hanya seorang pengemis yang tidak menetap'' ucap Zhang Chen sambil mengelap serulingnya.
mata ketiga orang itu tertuju pada seruling yang di pegang Zhang Chen, karna sebelumnya mereka mendengar suara nada seruling yang indah nan merdu terdengar namun ketika mereka mencoba mendatangi tempat suara seruling itu tiba tiba suara itu menghilang.
''nak Chen apakah seruling itu milikmu dan apakah sebelum kami kemari kau memainkannya'' ucap Huo lie pada Zhang Chen.
''ya seruling ini memang milikku apakah suaranya terdengar buruk?'' ucap Zhang Chen yang masih sibuk mengelap serulingnya.
''bukan seperti itu, suara yang terdengar sangatlah indah, bahkan baru kali ini aku mendengar suara seruling seindah ini'' ucap Huo lie.
''ya itu benar'' ucap Xin fan dan Xin fai bersamaan.
''ha ha terimakasih'' ucap Zhang Chen sambil tertawa kecil.
lalu mereka berbincang hingga larut malam, Zhang Chen Xin fan dan Xin fai walaupun baru bertemu beberapa saat yang lalu, namun mereka seperti sudah saling kenal lama, layaknya saudara yang terpisahkan dan baru di pertemukan.
hari semakin larut kemudian memutuskan untuk bermeditasi secara diam diam dan mempelajari jurus jurus seruling neraka di dalam pikirannya.
Huo lie Xin fan dan Xin fai memutuskan untuk bermeditasi dan memulihkan tenaga untuk perjalanannya besok.
saat akhir perbincangan Zhang Chen mendapat informasi tentang peperangan yang terjadi di ibukota kekaisaran Ming secara lengkap dengan sebab dan akibat, mendengar itu Zhang Chen menjadi sedikit lega karna peperangan di menangkan oleh aliansi yang terbentuk dari sekte-sekte aliran putih netral dan pasukan kekaisaran, namun ia juga tau jika itu semua bersifat sementara, karna akan ada badai setelah ketenangan.
kini Zhang Chen menghentikan meditasi nya karna sinar mentari pagi mulai menerpa wajahnya, kemudian Zhang Chen berpamitan kepada paman Huo lie, Xin fan dan Xin fai, walaupun tujuan mereka sama menuju kekaisaran Ming tetapi Zhang Chen lebih memilih untuk melakukan perjalanan sendiri.
''paman lie, saudara fan, dan saudara fai saya pamit terlebih dahulu, semoga kedepannya kita bisa bertemu kembali'' ucap Zhang Chen sambil menangkupkan kedua tangannya.
''nak Chen, kau pemuda yang baik hati, semoga langit melindungi mu dari hal hal buruk, dan tentu kita dapat bertemu kembali, jika ada waktu mampirlah ke sekte pedang surgawi, paman adalah salah satu tetua di sekte itu''
''saudara Chen walaupun kita baru bertemu dan belum terlalu mengenal satu sama lain, tapi aku sangat yakin jika kau orang baik sampai kapanpun kita adalah saudara'' ucap Xin fan menimpali perkataan paman Huo lie dan di ikuti anggukan dari Xin fai.
Zhang Chen hanya mengangguk dan tersenyum senang, karna sebelumnya ia tidak memiliki saudara, dan kini Zhang Chen memilliki sebuah alasan pada dirinya untuk menjadi lebih kuat.
setelah berpamitan Zhang Chen langsung berbalik melangkah pergi sambil melambaikan tangannya, dan melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.