Semua orang tau bila Jessica sangat membenci musim dingin, terlebih-lebih ketika salju turun. Jika bagi orang lain salju adalah sebuah keajaiban, bagi Jessica salju adalah petaka. Jessica pernah kehilangan segalanya ketika salju turun. Ibunya meninggal di bawah rintik salju. Dan kekasihnya menghianatinya ketika musim dingin tiba.
Dan sejak itulah ia sangat membenci musim dingin. Karena musim dingin sangat identik dengan salju.
-
Hay Kak..
Jangan lupa tinggalkan like komentnya ya 🤗🤗🤗 bantu novel ini lebih maju dan berkembang🙏🙏🙏. Tinggalkan vote dan rate juga. Jangan lupa tambahkan ke daftar favorit biar gak ketinggalan bab barunya.
Dukung terus karya Author Lusica Jung 2. Di usahakan sehari up dua bab...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Begitu Istimewa
Butiran-butiran putih lembut kembali berjatuhan membentuk gumpalan. Kota yang semula ramai kini nampak lengang. Jalanan. Taman, kebun, halaman, atap rumah, semua tertutup salju. Dingin, itulah yang Jessica rasakan ketika menginjakkan kakinya di halaman rumah sakit.
Setelah di rawat selama dua hari di rumah sakit. Akhirnya hari ini Jessica di ijinkan untuk pulang. Sayangnya Ara tidak bisa ikut menjemput adik kesayangannya itu.
Ia harus ikut suaminya ke luar negeri untuk menghadiri acara penting. Hanya Ken dan kedua sahabatnya yang menjemputnya di rumah sakit.
Salju turun perlahan-lahan. Mendarat lembut di atas tanah kecoklatan. Menutupi seluruh kota dengan warna putih polos. Musim dingin, salju terlihat dimana-mana. Gadis itu mendesah berat. Kenapa harus turun salju lagi? Pikir Jessica.
Bukan lagi rahasia jika seorang Jessica sangatlah membenci salju. Dia sangat membenci musim dingin. Karena salju dan musim dingin bisa membunuhnya untuk yang kesekian kalinya.
Berkali-kali dia merasakan kematian ketika musim dingin datang. Bukan kematian dalam arti yang sebenarnya, tapi kematian dalam arti lain.
"Kalian yakin akan naik taxi saja?" sekali lagi Jessica bertanya dan menatap kedua sahabatnya.
"Tentu saja yakin. Berapa kali lagi kau akan bertanya dengan pertanyaan yang sama, Nona William? Sudahlah, cepat masuk, udaranya sangat dingin. Kami tau kau sangat membenci salju, jadi jangan terlalu memaksakan diri."
"Baiklah, kami duluan. Kalian hati-hati, ya." Jessica memeluk kedua sahabatnya itu secara bersamaan kemudian masuk ke dalam mobilnya yang di kemudikan oleh Ken.
Ken menginjak pedal gasnya dan mobilnya menderu pelan, dan melaju perlahan meninggalkan area rumah sakit. Jalanan agak licin karena tertutup salju.
Putih. Satu kata untuk mendeskripsikan keadaan kota Seoul saat ini. Bulan Desember apalagi menjelang natal, bulan yang rutin untuk salju menyambangi negara berjuluk negeri Ginseng tersebut.
Jalan tertutupi salju. Taman-taman juga akan penuh dengan tumpukan salju. Tak jarang, banyak anak kecil atau bahkan para remaja yang bermain lempar bola salju hungga berlomba untuk membuat boneka salju. Canda tawa melebur menjadi satu bersama dengan butiran-butiran lembut salju yang jatuh dari angkasa.
Sesekali Ken menoleh. Menatap gadis yang duduk di sampingnya. Sedari tadi Jessica terus diam dan tidak mengatakan apapun, dia hanya terus menghela napas. "Kau baik-baik saja?" tanya Ken memastikan.
"Buruk. Aku sangat menyesalkan salju yang sedang turun. Lihatlah jalanan dan semua pohon-pohon yang mengeras itu,dan karena salju aku tidak bisa melihat kuncup bunga bermekaran. Bukankah itu sangat menyebalkan!!"
Ken mendesah berat. "Cobalah untuk bersahabat dengan musim dingin. Aku tau musim dingin meninggalkan luka dan kenangan pahit di hatimu. Tapi sampai kapan kau akan membenci musim dingin? Lagipula musim dingin tidaklah seburuk apa yang kau pikirkan selama ini." Tutur Ken panjang lebar.
"Memang mudah mengatakannya, Ken. Tapi kau tidak tau apa yang aku rasakan dan aku alami ketika musim dingin datang. Aku kehilangan di musim dingin, dan rasanya itu sangatlah menyakitkan."
"Aku memahami betul bagaimana perasaanmu, Sica!! Dan aku sangat mengerti apa yang kau rasakan. Karena aku juga memiliki kenangan menyakitkan di musim dingin. Tapi aku tidak sepertimu, kau begitu mendendam sementara aku tidak."
Sontak Jessica menoleh dan menatap Ken yang juga menatap padanya. "Jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku tidak nyaman, Nona." Ujar Ken melihat tatapan Jessica.
"Aku hanya merasa sedikit penasaran saja."
"Tentang apa?"
"Kehidupan pribadimu. Tapi kau tenang saja, aku masih sadar dengan batasanku. Aku akan tidur sebentar. Setelah tiba di rumah bangunkan aku."
"Hn."
.
.
Setelah berkendara kurang dari satu jam. Akhirnya mereka tiba di rumah. Waktu perjalanan kali ini lebih panjang dari biasanya karena sebagian jalanan yang tertutup salju. Jessica segera turun dari mobilnya begitu pula dengan Ken. Gadis itu merasa sangat kedinginan.
Setibanya di dalam rumah. Ken melihat Jessica yang sedang duduk di depan perapian. Pemuda itu menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. Melangkahkan kakinya secara perlahan dan berjalan menghampiri Jessica.
"Kau sudah merasa lebih hangat?" tegur Ken yang entah sejak kapan sudah ada di samping Jessica.
"Hm, lumayan." Jawabnya.
"Jess," panggil Ken. Sontak Jessica menoleh. Pemuda itu menggeleng. "Tidak jadi, aku masuk dulu." Ken menepuk kepala Jessica dan pergi begitu saja.
Jessica terpaku. Ia mengangkat sebelah tangannya yang kemudian Jessica arahkan pada kepalanya dan tersenyum tipis. "Dasar pemuda itu. Bagaimana bisa dia selalu menyentuh kepalaku? Apa dia tidak tau jika hatiku hampir saja meledak." Tutur Jessica dengan wajah bersemu merah.
Jessica sering kali merasa aneh dengan apa yang dia rasakan akhir-akhir ini. Entah itu ketika sedang bersama Ken, ketika menatap matanya atau ketika melihat senyum di bibirnya. Jessica tidak tau, sejak kapan pemuda itu menjadi begitu istimewa di hatinya.
"Nona, ini teh Anda." Seorang pelayan datang membawakan teh hangat untuk Jessica.
"Tolong buatkan juga untuk, Ken." Pinta Jessica yang kemudian di balas anggukan oleh pelayan tersebut.
"Baik, Nona."
.
.
Ketukan pada pintu sedikit menyita perhatian Ken dari ponsel pintarnya. Pemuda itu lantas menoleh dan mendapati Jessica menghampirinya sambil membawa secangkir teh yang masih mengepul.
"Aku meminta bibi membuatkan teh hangat untukmu. Udara hari ini sangat dingin, cepat minum selagi masih hangat. Dan satu lagi, pakai pakaian dengan benar. Kau bisa sakit jika memakai pakaian lengan terbuka di tengah cuaca ekstrem seperti ini."
"Jangan cemas, aku baik-baik saja." Ujar Ken menyela ucapan Jessica.
Untuk sesaat kebersamaan mereka hanya di isi keheningan. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Jessica maupun Ken. Keduanya sama-sama diam dalam kebisuan. Sesekali Jessica menatap pemuda di sampingnya.
"Ken, kapan kau akan kembali ke China?" tanya Jessica memecah keheningan.
Ken menoleh, membuat matanya bersirobok dengan mata hazel Jessica. "Mungkin setelah tahun baru." Jawabnya tanpa mengakhiri kontak matanya.
"Secepat itu? Emm, maksudku kenapa harus secepat itu? Bukankah kau dan, Hans Oppa sudah lama tidak berjumpa? Pasti kalian masih saling merindukan." Jessica merutuki ucapan bodohnya.
"Ada seseorang yang menungguku di China. Untuk itu aku harus pulang secepatnya." Jawab Ken dan membuat mimik wajah Jessica berubah sendu.
"Ahh, pasti kekasihmu ya?" Jeseica membuang muka ke arah lain. Kemana saja, asalkan jangan mata Ken.
"Bukan, tapi Ibuku." Jawab Ken cepat.
"Ibumu?" Ken mengangguk. "Oh, aku pikir kekasihmu." Jessica menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Entah kenapa dia merasa begitu lega saat tau jika orang yang menunggu Ken adalah ibunya. Dan apakah salah bila ia berharap jika Ken masih belum memiliki kekasih?
"Minum teh mu, aku akan keluar sekarang. Aku mau membantu bibi menyiapkan makan malam dulu." Jessica bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Ken sendiri di kamarnya.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu, Jess."
-
Bersambung.
lanjut De🥰🥰😙😙kebahagiaan Ken dan Sica....semangaatttt