NovelToon NovelToon
PENGANTIN TANPA PENGANTIN

PENGANTIN TANPA PENGANTIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:105.5k
Nilai: 5
Nama Author: Opie

Desa Kalijati merupakan tempat yang nyaman dan tenteram untuk ditinggali. Hanum dan ibunya yang merupakan seorang penata rias tinggal di desa tersebut bersama keluarga Bima dan yang lainnya.

Tapi rasanya desa itu menjadi tidak lagi nyaman saat seorang perempuan bernama Bu Ambar mendatangi desa di tengah malam.

Entah apa kepentingan perempuan itu hingga mengejutkan para penjaga ronda dan membangunkan Marni dari tidur lelapnya.

Belum lagi keganjilan yang terus terjadi sejak perempuan itu mendatangi desa. Kematian Bu Tejo yang mendadak dan mayatnya yang hilang, Hanum yang merias pengantin tanpa pengantin, hingga menyerang ke alam gaib.

Belum sampai disitu, kejadian mistis dan misterius lainnya terus bermunculan.

Ikuti Hanum dan Bima untuk mengetahui segala kejadian mistis dan misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Opie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEBELAS (AKU MILIKMU)

Hanum kembali dari dapur setelah mencuci tangannya, ia sama sekali tak menatap Bima sekalipun. Hatinya masih kesal dengan kelakuan dua gadis dari desa Kalibening itu. Mereka menyebalkan.

Namun memang sifat dasar manusia, Hanum menumpahkan rasa kesalnya pada Bima. Padahal bukan salah Bima jika gadis-gadis itu bersikap genit padanya. Hanum harus mengakui bahwa wajah tampan Bima memang semenarik itu, belum lagi tinggi badannya yang mencapai 1,8 meter membuat para perempuan mengidamkannya.

Meskipun terlahir di desa dan Bima tak pernah ke gym, tubuhnya terbentuk karena sering membantu ayahnya ke ladang atau memotong kayu bakar setelah ia beranjak dewasa. Kulitnya yang coklat karena sering berjemur menambah pesonanya.

Bima memang terlahir dengan ketampanan yang alami, semua orang memujinya. Wajah dengan rahang yang tegas, mata yang bersinar dan rambut lebat yang hitam. Maka tak heran jika kedua gadis tadi langsung jatuh cinta padanya.

Bagi Hanum yang telah tinggal bersamanya selama sepuluh tahun mungkin Bima biasa saja karena setiap hari bertemu dan tak ada keistimewaan yang berarti. Tapi sekarang, saat orang lain menatapnya dengan genit ia baru menyadari pesona dari pacarnya.

Ada rasa bangga yang disusul rasa sesal karena telah mendiamkan Bima, ini benar-benar bukan kesalahannya dan diluar kendali mereka. Hanum sadar betul yang harus ia kendalikan adalah perasaannya.

“Bim….” Hanum memanggil Bima yang masih mengunyah.

“Bentar lagi kita ngobrolnya ya…. Biar enak.” Jawab Bima mengangkat piringnya yang hanya tinggal sesuap dengan senyuman yang menghipnotis.

“Ok.” Hanum mengerti.

Karena Bima sudah memberi isyarat bahwa ia tak akan menambah porsi kedua, Hanum mulai merapikan meja tamu seperti biasanya. Ia mengangkat semua makanan serta piring dan gelas yang tak terpakai agar meja kembali rapi. Kecuali empat gelas yang selalu tersedia di atas meja dengan satu teko bening.

Bima yang sudah selesai mencuci tangannya bertemu dengan Hanum yang merapikan piring terakhir ke dapur.

“Kita ngobrol di teras ya.” Ajak Bima pada Hanum yang dijawab dengan anggukan.

Mereka berjalan beriringan menuju teras, namun langkah Hanum tiba-tiba berhenti. Ia teringat dengan ibunya. Langkahnya berbelok menuju kamar ibunya dan sedikit menyingkap tirai untuk mengintip keadaan ibunya.

“Gimana?” Tanya Bima saat Hanum menutup kembali tirai kamar ibunya.

“….” Hanum menggeleng.

Mereka berdua kembali berjalan menuju ke teras dan duduk di atas kursi rotan panjang usang peninggalan nenek Hanum. Keduanya duduk bersebelahan menghadap ke halaman dan jalanan di depan rumah.

“Aku minta maaf ya.” Ucap Hanum langsung pada inti obrolan yang ingin ia sampaikan kepada Bima.

“….” Bima memalingkan wajahnya dari jalanan ke wajah Hanum dan tersenyum.

Hanum yang juga menatap wajah Bima mengerutkan dahinya, ia merasa Bima tak memberikan jawaban yang diinginkannya.

“Kok senyum doang. Lebar lagi.” Kata Hanum cemberut.

“Karena aku bahagia.” Bima mencubit pipi Hanum yang lentur.

“Bahagia bikin aku kesel?” Hanum masih cemberut dan bertambah ketus.

“Bahagia karena dicemburuin kamu. Aku seneng kalau kamu kesel cewek-cewek godain aku.”

“Ya kesel lah. Coba balik posisinya.” Hanum mengangkat alisnya juga menaikkan nada suaranya.

“Kalau posisinya dibalik aku nggak akan kesel….” Bima menggantung kalimatnya.

“Terus….”

“Aku langsung hajar cowok yang deketin kamu lah.”

Bima terkekeh dengan tinju di tangannya. Dan itu membuat kupu-kupu di perut Hanum kembali berterbangan meski wajahnya tampak masam dan marah.

“Udah dong… nggak usah ngambek lagi.” Rayu Bima dengan menyatukan tangannya di depan dada.

“Yaudah iya. Awas aja kalau berani lirik perempuan lain.”

“Nggak akan….” Bima meyakinkan “aku milikmu, sampai nanti… sampai mati” sambung Bima yang berbisik di telinga Hanum yang membuatnya tersipu.

Bima meraih tangan Hanum yang membuatnya mendelik. Lagi. Hanum malah melepas genggaman tangan Bima, ia beringsut menjauhi pacarnya itu dengan wajah yang kini menjadi tegang.

“Kenapa? Takut aku cium lagi?” Tanya Bima yang tertawa malu.

“Jangan bercandaan kayak gitu Bim ah. Nggak lucu tau” kata Hanum “kamu nggak tau apa… kalau sekarang kita sentuhan aku selalu kena aliran listrik.” Tambah Hanum.

Bima malah tertawa menanggapi komentar Hanum. Apa Hanum juga tidak tahu bahwa butuh nyali besar dan sedikit kekhilafan untuk bisa bersentuhan dengan gadis pujaannya itu.

“Yaudah iya… nanti lagi aku bakalan izin dulu kalau mau sentuh kamu. Tapi inget ya, empat tahun lagi aku udah bebas ngapa-ngapain kamu.” Ungkap Bima.

“Aku sih butuhnya bukti bukan cuma janji.”

“Aku pasti nepatin janji aku Num. Ini janji aku dari lama, aku kan udah pernah bilang kalau aku suka sama kamu udah dari lama.”

Hanum hanya tersenyum menanggapi ocehan lelaki di depannya ini, kini ia benar-benar sudah dewasa. Bukan lagi Bima kecil yang sering dilihatnya dulu. Ia mencoba meyakinkan diri untuk mempercayai semua perkataan kekasihnya untuk saat ini.

Siang itu mereka kembali tenggelam dalam obrolan. Kini keduanya lebih banyak membahas tentang ‘mereka’. Kuliah dan hal lainnya hanya menjadi bumbu obrolan. Hanum dan Bima benar-benar sedang dilanda asmara.

Kumandang adzan duhur menghentikan obrolan Bima dan Hanum. Bima pergi ke musholla dan dan Hanum kembali ke dalam rumah untuk solat. Hanum menuju kamar mandi untuk berwudhu dan kembali ke kamarnya.

Setelah selesai solat, Hanum kembali menengok keadaan ibunya dengan mengintip di balik tirai. Tak ada perubahan. Ibunya masih tertidur dengan tenang dengan selimut coklat muda yang membungkus tubuhnya.

Teras kini menjadi tujuan Hanum untuk menunggu Bima kembali, karena tadi ia pamit untuk kembali menemaninya. Tak sampai lima menit, sosok yang ditunggunya sudah kembali. Ia membawa minuman dingin dan beberapa ciki untuk menemani perbincangan siang mereka sambil menunggu ibu Hanum bangun.

“Jajan dari warung Bu Tejo.” Tanya Hanum yang melihat jinjingan di tangan Bima.

“Iya nih. Nanyain ibu kamu juga tadi.”

“Cuekin aja.”

“Iya…”

Mereka menikmati jajanan yang dibawa Bima, juga angin lembut yang membelai-belai wajah dan rambut keduanya. Bima merapikan rambut sebahu Hanum yang berterbangan manja di wajahnya. Ia menyelipkan helaian itu di kuping gadis kesayangannya.

“Deuh…. Yang lagi asyik pacaran.” Ungkap Mang Asep yang datang tanpa pemberitahuan.

Bima dan Hanum terkejut dan mereka menegang sesaat seperti tertangkap sedang mencuri sesuatu.

“Mang Asep datangnya nggak ketahuan kayak….” Bima tak menyelesaikan kalimatnya saat melihat wajah Hanum. Ia takut gadis itu ketakutan.

“Kayak setan….” Malah Mang Asep yang melanjutkan kalimat Bima yang mengundang tatapan tajam dari Bima “Neng Hanum nggak jajan?” Tanya Mang Asep tak peduli dengan tatapan Bima.

“Besok aja lagi, hari ini Hanum udah makan. Lagi jajan juga.” Hanum mengacungkan ciki yang ada di tangannya.

“Yaudah Mang Asep jalan lagi ya.”

Mang Asep mendorong gerobaknya menjauh dari halaman Hanum. Ia sudah siap untuk melayani pelanggannya yang sedang menunggu.

1
Saya Sayekti
maaf Thor aku g kuat bacanya .aku mundu.aku kucur jantung ku udah dingin
Saya Sayekti
udah mulai serem nya.td msh penasaran
Saitama Fans
ngeri ceritanya
Saitama Fans
??????
Siti Arbainah
Itu cara bu Ambar ya biar bu Marni mau nerima twarannya
Nur Hasanah
Luar biasa,aku suka sama ceritanya
Shefia Tamara
bagus
Elvisuke
tamat kah ??
aoleng marang alloh
lama bgt g up
Yeyet Suryati
wah gimana kelanjutannya thorrr GK up nich dah lama bangetss
Yumna Faida
kapan lanjut thor, penisirin aq x. ceritanya bagus. moga sukses dan sehat sll
Nenden Solehah
lanjut lagi thor semangat up nya
Santhy Liem
kapall oleng,komandan....
Santhy Liem
lanjut thorr
Yeyet Suryati
up donk authorr
opie evani aprilia: Hallo. Selamat membaca chapter baru 🌻
total 1 replies
aoleng marang alloh
d tggu up x
opie evani aprilia: Selamat membaca chapter baru 🌻
total 1 replies
Yeyet Suryati
ikh kirain lanjut eh malah pengumuman kpn lanjut ..tamatin AZ biar yg baca GK bete nunggu
opie evani aprilia: Dimohon kesabarannya ya kak. Terimakasih sudah support terus 🤍🤍🤍❤️❤️❤️
total 1 replies
Ai Emy Ningrum
sabar menanti tante Hanum kembali 😌😌😌 aku ga ada pengalaman kyk km thor..mo resign ya resign ajah dulu mah hehehe ..
opie evani aprilia: Iya kak. Maunya gitu. Hehehe
Tapi malah numpuk tugasnya ...
Semoga segera berlalu
Terimakasih sudah support terus ❤️❤️❤️🤍🤍🤍
total 1 replies
Ai Emy Ningrum
betul itu..yg lalu biarlah berlalu ..hidup hrus brrjln terus...
Yeyet Suryati
up donkkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!