"Kita putus saja, gue gak nyangka lo segendut itu, gue kira lo cuma montok saja. Sorry, gue gak suka sama cewek gendut." Begitulah isi pesan yang dikirim oleh Allan kepada Aline, setelah pertemuan pertama mereka.
Sejak saat itu, Aline bersumpah akan kurus dan melakukan diet ketat. Ia bertekad pas masuk SMA nanti, berat badannya sudah harus ideal.
Hem, entah jodoh atau kesialan, Aline malah satu SMA dengan Allan. Dan yang bikin ia makin spot jantung, mereka sekelas dengan posisi duduk berdekatan dengan si mantan nyebelin itu.
Apakah Aline dan Allan akan CLBK atau malah menjadi musuh bubuyutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evhae Naffae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal Patah Hati
Mantan Nyebelin
Bagian 11 : Gagal Patah Hati
Hari ini aku sudah kembali ke sekolah dan Bang Aldi yang nganterin.
"Jangan terlalu capek ya, Line! Jangan sampai kambuh lagi penyakitnya! Nanti pulang sekolah Faiz yang jemput lo," ucap Bang Aldi ketika aku salim padanya sebelum turun dari mobil.
"Iya, Bang," jawabku pelan.
Mobil Bang Aldi berlalu dari depan sekolah, aku langsung melangkah melewati pintu gerbang.
"Aduh, sahabatku sayang, akhirnya masuk sekolah juga. Gue kangen lo," ujar Amelia sambil memelukku dan cepika-cepiki.
"Iya, gue juga kangen lo, Mel," jawabku sambil melepaskan pelukan darinya lalu meletakkan tas di atas meja.
"Banyak yang mau gue ceritain ama lo, Line. Gue kesepian gak ada lo," ujarnya sambil menarik tanganku menuju kantin. Kami akan sarapan pagi bersama.
"Apaan, Mel?" todongku tak sabar.
"Kak Raka, Line. Selama lo gak ada, die dekat sama Kak Viona. Mereka kayak pacaran deh," bisik Amelia.
"Oh, ya?" Suasana hatiku langsung berubah suram.
"Iya, kemarin gue liat mereka mesra gitu waktu di perpus. Terus, kemarin malam juga mereka nyantai berdua di cafe. Kayaknya mereka lagi PDKT deh, atau mungkin udah jadian," bisik Amelia lagi dengan bersemangat.
"Ya ampun, hati gue patah, Mel." Aku makin tak bersemangat sambil menghela napas panjang. Kutopang kepala yang mendadak terasa puyeng.
"Sorry, Line, gue gak maksud jadi kompor. Cuma, gue gak mau aja lo diduain ama Kak Raka."
Aku terdiam, semua aduan Amelia membuat hati ingin menangis. Namun, apalah dayaku yang bukan siapa-siapanya Kak Raka, aku gak bisa berbuat apa-apa. Hubunganku dengannya hanyalah sebuah hubungan tanpa status.
"Line, sorry ya pagi-pagi dah buat lo sedih." Amelia terlihat merasa bersalah.
Aku masih diam sambil memainkan saja soto ayam di atas meja, mendadak selera makanku hilang.
Taklama kemudian, ada yang memasuki kantin yaitu Kak Raka dan teman-temannya. Ia melempar senyum saat melihatku. Aku hanya menggigit bibir sambil menundukkan wajah.
Taklama setelah itu, Kak Viona juga memasuki kantin dan langsung bergabung bersama Kak Raka dan teman-temannya. Mereka memang terlihat intim. Ya Tuhan, aku benaran patah hati ini.
Kudorong mangkok soto ayam yang belum kumakan sedikit pun itu, lalu beranjak meninggalkan kantin. Amelia mengejarku dari belakang. Namun, saat melewati taman, ada Allan yang lagi berduaan dengan Kak Sinta. Makin kupercepat langkah menuju kelas, suasana hati semakin tak baik saja.
Sepanjang jam pelajaran, pikiran tak dapat diajak fokus, aku selalu teringat Kak Raka. Aku gak mau dia dekat dengan cewek lain, aku cemburu, huhuuu .... Aku menangis dalam hati. Masalah Si Allan juga, aku gak suka liat dia bersama cewek lain di depanku. Aku gak cemburu, hanya tak senang saja kalau dia berbahagia di depanku.
Jam istirahat tiba, aku dan Amelia langsung menuju kantin. Tapi kali kantin yang berbeda dengan yang tadi pagi. Semoga saja gak ketemu cowok-cowok tadi pagi soalnya aku lagi lapar. Kantin yang ini memang tak terlalu ramai soalnya terletak paling ujung. Namun, siomaynya memang paling mantap. Aku habis dua porsi, balas dendam tak sarapan pagi. Aku tersenyum senang, hanya Amelia yang melongo.
"Ya ampun, Line, lapar amat ya?" ledeknya.
Aku nyengir dan berujar, "Kan, gak sarapan, hehe."
Setelah membayar ke ibu kantin, kami langsung melenggang pergi dan kebetulan berpapasan dengan Allan di koridor. Dia tersenyum tipis pada kami, tapi tak menyapa seperti biasanya. Baguslah, aku malas dekat-dekat dengannya lagi. Kami kembali ke kelas.
"Line, apaan tuh?" Amelia menunjuk bingkisan di atas mejaku.
Aku menautkan alis, milik siapa ini? Aku meraihnya ragu-ragu.
"Untuk Aline .... " Aku membaca tulisan pada kertasnya. Aku langsung teringat Kak Raka dan berharap ini darinya.
"Buka, Line! Apa ya isinya, gue penasaran .... " Amelia terlihat bersemangat.
Aku tersenyum dalam hati dan membuka bingkisan itu pelan.
"Wowww, sebuah kotak musik .... " Amelia tersenyum girang..
"Dari siapa, ya?" Aku celingukan. Masa iya dari Kak Raka? Kenapa dia gak ngasih langsung aja? Lagian hari ini dia belum ada nyamperin gue, padahal tadi malam bilang kangen. Kayaknya dia cuma cowok gombal. Aku merengut.
"Line, kok lo gak senang sih dapat hadiah gini?"
Aku mengehela napas. "Gimana juga mau senang, wong gak tahu juga pengirimnya."
Tiba-tiba, ada sebuah pesan masuk ke ponselku.
[Udah diterima hadiahnya, Line? Salam kenal, ya.] Aku memutar bola mata membaca pesan dari nomor tak dikenal itu.
Ah, ya sudah, terserah saja ini dari siapa. Langsung kusimpan saja ke dalam tas, sebab bel masuk telah berbunyi.
*******
"Line!" Kak Raka berdiri di hadapanku saat aku dan melewati parkiran.
"Eh, Kak Raka." Aku sedikit kaget.
"Kak Raka anterin pulang, yuk!" ajaknya sambil meraih tanganku.
Amelia melirikku dan memberikan kode 'jangan' padaku. Namun, rasa kangen padanya membuatku gak bisa nolak.
Aku tersenyum senang pada Kak Raka, tapi Amelia malah menarikku sedikit menjauh dari cowok berkulit putih itu.
"Line, gak ingat apa yang tadi pagi?" bisik Amelia.
"Ah, gak apa juga. Gue kangen dia," balasku sambil berbisik juga.
"Gila lo, ya!" bisik Amelia lagi.
"Emang iya," jawabku sambil nyengir kemudian mendekat pada Kak Raka yang terlihat mengerutkan dahi melihat pembicaraan rahasiaku bersama Amelia.
"Yuk, Kak!" Kugandeng tangan Kak Raka dan melambaikan tangan pada Amelia.
Aku masuk ke mobil Kak Raka. Ia langsung menstarter mobilnya, lalu tancap gas. Aku menundukkan kepala ketika melewati pintu gerbang. Ada Siluman es batu di situ, jangan sampai ia melihatku.
"Kenapa, Line?" Kak Raka melirikku sambil tersenyum.
"Hehee ... Gak apa-apa," jawabku sambil nyengir.
"Yang di depan tadi itu, yang sering antar jemput lo, kan?" tanyanya sambil melirikku lagi.
Aku memutar bola mata lalu pura-pura mengeluarkan ponsel. Lalu mengajaknya berselpi. Yeah, Kak Raka emang tampan banget. Akhirnya bisa foto berdua dia juga. Aku tersenyum senang sambil mengamati foto itu.
"Entar kirim ke Kak Raka ya fotonya!"
Aku mengacungkan jempol.
"Eh, mau langsung pulang atau mau jalan dulu?" tanya Kak Raka sambil mengedipkan sebelah matanya.
Aku menerima sinyal yang diberikan cowok bermata sipit itu, ini kali pertamanya kami jalan bareng maka tak akan kusia-siakan kesempatan ini.
"Terserah Kak Raka deh .... "
"Hmmm, serius?"
"Iya. Ayo deh!" Aku mengangguk dan menepis jauh-jauh bayangan kemarahan Kak Andine dan Bang Aldi kalo aku pulang nanti. Terserah deh, ya penting sekarang aku senang-senang dulu sama Kak Raka.
"Ke mall aja, ya! Kita makan dan abis itu nonton, mau?"
Aku mengangguk lagi dan menurut saja akan ide Kak Raka. Rasanya sudah tak sabar menghabiskan hari bersamanya. Makan bersama dan nonton berdua. Duh, aku jadi senyum-senyum sendiri dan melupakan kekesalan tadi pagi dan aku tak akan mengungkit masalah Kak Viona. Sekarang Kak Raka sedang bersamaku, maka dia milikku.
Bersambung ....