NovelToon NovelToon
LUCEM

LUCEM

Status: tamat
Genre:Fantasi / Supernatural / Spiritual / Cintamanis / Time Travel / Identitas Tersembunyi / Cinta Murni / Barat / Tamat
Popularitas:102.8k
Nilai: 5
Nama Author: imazarius

Hidup bukanlah koridor lurus dan mudah yang kita jalani dengan bebas dan tanpa hambatan, tetapi labirin lorong-lorong, di mana kita harus menemukan jalan kita. tersesat dan bingung, berhenti, dari waktu ke waktu, di jalan buntu dan kemudian kembali berlari.


Sebuah pintu selalu terbuka di depan kita; Ini mungkin bukan yang kita bayangkan, tapi... itulah pintu kita. Lucem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imazarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter II

Di luar, di tengah hujan yang mulai mengguyur deras, terdengar ringkik kuda. Kemudian terdengar suara kaki berlari. Dan sebuah suara dari kegelapan berkata, “Apakah ada dukun atau orang sakti di sana!?”

Aku beradu pandang dengan Marbella dengan bingung. “Tidak?” Jawabku, jenis 'tidak' yang berarti “kenapa kamu bertanya?”

"Bagaimana dengan penyihir?" kata suara itu.

“Tidak, tidak ada penyihir,” jawabku lagi.

“Baik.” Ada jeda lagi yang dipenuhi hujan.

“Oke, vampir?”kata suara itu lagi.

“Ini malam yang basah, tentu vampir tidak ingin terbang dalam cuaca seperti ini, bukan? Ada vampir di sana?” nadanya memastikan.

“Tidak!” Jawabku sekali lagi.

“Ya ampun,” gumam Marbella, dan mulai merangkak ke bawah kursi menuju ruang pengintai dilantai.

“Itu melegakan,” kata suara itu lagi. Sedetik berlalu dan sebilah pedang menyelinap diantara dua daun pintu yang tak terkunci dan didorong, dan suara itu berkata, “Uang dan hidupmu. Ini kesepakatan dua-untuk-satu, paham?”

"Uang ada di kotak di lantai atas," terdengar suara Marbella dari lantai.

Pria berperawakan sedang itu melihat sekeliling ruangan yang redup dengan nyala lilin yang bergoyang tertiup angin.

“Siapa yang berbicara?” Dia bertanya.

“Emm... Aku.” Sahutku cepat.

“Aku tidak melihat bibirmu bergerak, Nak!”

“Uang ada di lantai atas. Tapi jika aku jadi kau, aku tidak akan– ”

"Hah, aku hanya berharap kau tidak akan melakukannya," potong perampok itu.

Wajah bertopengnya menghilang dan mulai menapaki anak tangga. Aku mengambil bambu berlubang yang tergeletak di kursi. Itu jenis seruling dengan batang bambu yang bewarna gading.

"Mainkan! "Perampokan dengan kekerasan", Mars.” kata Marbella dengan pelan.

"Tidak bisakah kita memberinya uang?" Sahutku dengan sunggingan senyum.

“Uang adalah untuk diberikan kepada kita," kata Marbella dengan tegas.

Di lantai atas, terdengar suara seperti sesuatu yang diseret ke bawah. Marbella memukul lantai dengan tangannya, memandangiku dengan perintah. Aku dengan patuh mengambil seruling dan memainkan beberapa nada.

Sekarang ada sejumlah suara dari lantai atas. Ada derit, bunyi gedebuk, semacam suara decitan dan kemudian teriakan-teriakan singkat pria perampok itu.

Saat ada keheningan dari lantai atas, ku turunkan seruling ke sisi paha kanan dan menarik napas perlahan. Marbella naik kembali dan duduk di kursi, menjulurkan kepalanya memandang ke lantai atas. “Pria yang malang,” ujarnya.

“Apa kau ingin melihatnya Marbi?” Tawarku.

“Baik. Majulah, aku ingin mengekor dibelakangmu saja. Tapi hati-hati, ya? Kita tidak ingin ada yang panik, bukan?” Marbella mulai menempeli punggungku dan tangannya meraih lenganku.

Perampok itu muncul kembali dalam cahaya yang temaram. Dia berjalan sangat lambat dan hati-hati, kakinya tampak tidak baik-baik saja dengan banyak bekas gigitan dan cakaran, dan itu juga terlihat disebagian besar badan dan wajahnya yang kini tidak ditutupi topeng lagi, puluhan binatang pengerat itu bergerak pelan di dalam celana dan baju perampok itu. Bau amis darahnya menyeruak menyerbu hidungku. Dan dia diam-diam merintih.

“Ah, lihat dia!” Seru Marbella dengan riang.

Pria perampok itu tersentak kaget mendapati kami. “Kau! Penyihir busuk.” Suaranya bergetar.

“Apa paman perampok sudah bertemu peliharaan kami?” Tanya Marbella dengan wajah yang dibuat polos.

Perampok itu mengangguk sangat lambat. Lalu matanya menyipit. “Kau seorang penyihir?” Dia bergumam.

Marbella memutar matanya “Apakah Paman mengatakan sesuatu?” Marbella bertanya dengan mengangkat dagunya.

Wajah pria itu menjadi kosong dan tertunduk.

“Ah, cepat belajar, aku suka itu dari perampok,” ujar Marbella.

“Apa rencanamu selanjutnya, Paman?” Marbella mengalihkan pandangannya ke tangga.

“Kabur,” jawab perampok itu dengan suara serak.

Marbella menjulurkan kepalanya melongok ke jendela. “Bagaimana menurutmu?” dia berkata. “Paman perampok ini memiliki dua kuda yang menarik keretanya, mungkin ada beberapa barang berharga di tas dan keretanya... bisa jadi, oh, seribu Sickle atau lebih.” Marbella menebak dengan wajah berbinar dan melompat kecil diatas kakinya.

“Ingin memeriksanya?” Tanya Marbella.

Aku kembali memandangi raut pria yang masih meringis memegangi tungkai kakinya itu. Pria itu mendengus kasar.

"Itu mencuri, Marbi," ujarku.

“Seperti itu tidak dapat dikatakan mencuri, Mars.” jawab Marbella ringan.

“Ini... menemukan, pengemudinya kabur, jadi seperti… penyelamatan. Marbella berjalan seolah berpikir. Hei, itu benar, kita bisa menyerahkannya sebagai hadiah. Itu lebih baik. Warga desa juga akan berpihak. Bolehkah kita?”

“Orang-orang akan mengajukan terlalu banyak pertanyaan,” ujarku dengan mengedikkan bahu.

"Jika begitu mari kita biarkan saja, cukup satu orang yang meneriaki kita pencuri, itu juga kalau dia mampu untuk berteriak," senyum licik menghiasi wajah Marbella.

“Bukankah jauh lebih baik jika kita menerimanya, eh? Kami bukan pencuri, OK!!” Suara Marbella meninggi memandangi paman perampok yang terlihat jengah.

“Ayolah kita lupakan saja ide itu Marbi," ucapku.

“Kalau begitu, mari kita curi kuda perampok itu," Marbella masih berusaha bernegosiasi seolah malam tidak akan selesai dengan baik kecuali kami mencuri sesuatu. 'Mencuri dari pencuri, begitulah'

"Kita tidak bisa membiarkan paman ini tinggal di sini sepanjang malam," ucapku mengingatkan.

"Dia benar!” Sahut paman perampok itu dengan mendesak. “Aku tidak bisa tinggal di sini sepanjang malam!”

Marbella menghela nafas, dan menjulurkan kepalanya ke luar jendela lagi. “Oke,” katanya.

“Ini kemurahan hati untukmu, perampok. Mulailah berdiri diam sambil menatap lurus ke depan sana, dan jangan mencoba trik apa pun karena jika kau melakukannya, aku

hanya perlu mengucapkan kata- ”

“Jangan mengucapkan sepatah kata pun!” Mohon perampok itu lebih mendesak lagi.

“Baiklah, kau benar-benar cepat paham. Dan kami akan mengambil salah satu kudamu sebagai hukuman dan kau dapat memiliki satu kuda dan keretanya. Cukup adil?” Marbella kembali terlihat luar biasa dengan kata-katanya.

“Apa pun yang kamu katakan!” Jawab paman perampok itu, lalu terlihat dia memikirkan hal lain dan menambahkan dengan tergesa-gesa, “Tapi tolong jangan ucapkan kata sihir apapun padaku!" Dengan pandangan matanya terus menatap lurus ke depan dari tempatnya berdiri.

Marbella berjalan mendahului menuruni tangga dengan paman perampok dan aku mengekori langkahnya menuju kereta kuda. Marbella bargerak memisahkan seekor kuda putih, dan dia juga mengambil sebilah pedang dari dalam kereta. Lalu berbalik menuntun kuda dan kereta membelakangi kami.

“Baiklah, waktunya pergi sekarang, dan kau harus berjanji untuk tidak akan menginjakkan kaki di sini atau mengingat kejadian dan tempat ini lagi, kata-kataku dapat mengejarmu sampai sejauh apapun, Janji?”

“Kalian dapat memegang kata-kataku sebagai pencuri,” ucap perampok itu, perlahan-lahan menurunkan tangan kesisi tubuhnya, menunggu.

“Baik. Kami pasti bisa mempercayai itu,” seraya tangan Marbella mengayun pelan dan aku membalas dengan anggukan kecil.

Pria itu merasa celana dan bajunya meringan saat tikus-tikus itu keluar dan berlari pergi. Dia menunggu sebentar, lalu berbalik, membungkuk dan berlalu, menghilang dalam pekat malam dan suara hujan.

Begitulah kakakku Marbella yang luar biasa mengakhiri kisah perampokan tanpa memakan hari. Selanjutnya, apa yang ditulis wali kota kali ini untuk kami.

1
Dhina ♑
Assalamu'alaikum, selamat malam 😊😊
Ehh selamat pagi 😊😊
ᭃᴊ͠ɪᴠᷧᴀᷣɴᷧ〄 ᬽ: momyyy ini aku rara, akun aku hilanggg
total 1 replies
Karya Sujana
belum masuk
boooom
Ney Maniez
ohhh penyihir tooo...
penyihir brsaudara
Ney Maniez
masih nyimak
Ney Maniez
aku mampir,,, tinggalkn jejak
Erarefo Alfin Artharizki
kerenn
Erarefo Alfin Artharizki
halo bqng blu, aku mampir bertahap ya
༄⃞⃟⚡𝐏ᥱ𝗍іr 𝐀zᥲᑲ 𝐈ᥒძ᥆sіᥲr 😘
ini jiso nya bukan jiso member Black Pink kan? hhhe
༄⃞⃟⚡𝐏ᥱ𝗍іr 𝐀zᥲᑲ 𝐈ᥒძ᥆sіᥲr 😘: sebuah unsur bukan periodik tapi ketidak sengajaan
total 2 replies
༄⃞⃟⚡𝐏ᥱ𝗍іr 𝐀zᥲᑲ 𝐈ᥒძ᥆sіᥲr 😘
Marbella pintar banget ya, aku jadi pengen diskusi sama dia deh
༄⃞⃟⚡𝐏ᥱ𝗍іr 𝐀zᥲᑲ 𝐈ᥒძ᥆sіᥲr 😘
aku salut blu, tulisanmu panjang dan rapi. Pertahankan!
༄⃞⃟⚡𝐏ᥱ𝗍іr 𝐀zᥲᑲ 𝐈ᥒძ᥆sіᥲr 😘
ini bacaan yang berat, perlu fokus...

aqua mana aqua
Zhilla Senja
Seiring waktu teman toxic mu akan tumbang karena seleksi alam.. dan kamu harus bisa mempertahankan teman sejatimu
Zhilla Senja
karya ini sangat bagus.. untuk para pembaca kalian wajib membaca cerita ini serruuuu
Zhilla Senja
baru baca cerita ini dan langsung ketagihan
ALADIN
cerita yang bagus banyak ilmu yang bisa kita petik dari ceritanya awal nya aza udah.... 👍👍👍semangat lanjut...
𝐀⃝🥀Weny
🤦membuat ku merinding jika berimajinasi ribuan tikus da. di depan mat😱🏃🏃🏃
🇮🇩⭕Nony kinoy❃hiat🇵🇸
maaf thor, di bagian akhir, nony sedikit bingung, dia yang sulit membuka mata, kok seketika baru sadar dan bisa melihat saat ini benar terjadi perang, begitu nony sulit fahami, atau nony yg memang gang nyambung yah thor, tolong di jelasin😀🙏
🇮🇩⭕Nony kinoy❃hiat🇵🇸: typo ku berkarat🤦
total 3 replies
𝐙⃝🦜 Nurma
mampirr
✿⃝⭕🌼Ohti
kok aku merasa kalimat tanya kurang tepat, tempatnya.
🐧ig.@ρтуᴄᴀʟᴀᴍ🔥✔️
ya elah moon, sweet banget dah kalimatnya🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!