Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Setelah Kematian
Amelia menatap kedua tangannya cukup lama sampai anak perempuan di depannya kembali menggoyangkan bahunya.
"Eve?" panggil anak itu pelan sambil memiringkan kepala. "Kamu dengar aku?"
"Hah?" Amelia berkedip.
Suara yang keluar membuat tenggorokannya terasa tercekat. Dia langsung menutup mulut dengan kedua tangan. Suara tadi jelas bukan suaranya. Tidak ada serak khas perempuan dewasa yang ia kenal, yang terdengar sekarang adalah suara seorang anak perempuan.
Amelia menurunkan tangannya perlahan.
"Ciapa Epe?" tanyanya dengan suara yang bahkan membuat dirinya sendiri merasa asing.
Anak perempuan itu semakin bingung. "Kamu."
"Aku?"
"Iya," jawab anak itu.
Amelia menatapnya beberapa detik. Kemudian dia menoleh ke kiri dan kanan, seolah berharap seseorang akan muncul dan mengatakan bahwa semua ini hanyalah sebuah lelucon. Anak-anak lain di ruangan itu mulai memperhatikan mereka. Beberapa hanya melirik sebentar sebelum kembali melakukan kegiatan masing-masing, tetapi dua anak laki-laki di sudut ruangan bahkan mulai berbisik-bisik.
"Eve aneh," salah satu dari mereka berkata pelan.
"Dia jatuh dari tangga kemarin," sahut anak lainnya. "Mungkin kepalanya rusak."
Amelia mendengar semuanya, suara anak itu cukup keras untuk telinganya yang sedikit sensitif. Dia mengangkat tangan kecil itu dan menyentuh bagian belakang kepalanya. Tidak ada benjolan yang terasa, hanya rambut lembut yang sangat halus. Ketika jarinya bergerak ke pelipis, dia menemukan sebuah luka kecil yang sudah mengering.
Amelia menarik napas.
'Oke, gue harus tenang.' pikirnya dalam hati.
Dia tahu kebingungan setelah Trauma kepala memang bisa menyebabkan disorientasi dan kehilangan ingatan. Namun tidak ada penjelasan medis yang masuk akal untuk situasinya sekarang. Tubuhnya menyusut, rambutnya berubah warna, suaranya berubah.
Dan yang paling tidak masuk akal, seharusnya dia sudah mati. Amelia masih ingat dengan jelas rasa panas di dadanya. Peluru menembus tubuhnya. Dia bahkan sempat merasakan tubuhnya kehilangan kekuatan sebelum jatuh ke lantai.
Sebagai dokter forensik, dia tahu apa yang terjadi setelah itu. Jika peluru mengenai jantung atau pembuluh besar, seseorang bisa kehilangan kesadaran dengan cepat. Jika tidak, tetap ada kemungkinan kematian akibat perdarahan hebat. Yang jelas, dia tidak mungkin bangun kembali sebagai anak kecil.
"Apa acu Cudah mati?" gumam Amelia.
Anak perempuan di depannya mengerutkan kening. "Eve bilang apa?"
"Tidak apa-apa." Amelia mengusap wajahnya.
Dia tidak akan menyimpulkan sesuatu sebelum mendapatkan informasi yang cukup, itu aturan paling dasar dalam pekerjaannya, jangan membuat kesimpulan berdasarkan asumsi. Dia menarik napas dalam-dalam lalu memandang anak perempuan di depannya.
"kamu Ciapa?"
Anak itu terdiam.
"Namamu ciapa?" Amelia mengulangi pertanyaannya dengan lebih pelan.
"Lily." anak perempuan itu mengerutkan keningnya, ia tampak ragu menjawab pertanyaan itu.
"Lily," ulang Amelia.
"Dan namaku Epe?"
Lily mengangguk perlahan.
Amelia memijat pelipisnya. "Belapa umulku?"
"Em-empat."
"Empat.." Amelia hampir tertawa.
'Empat tahun, Bagus. Mati sebagai perempuan dewasa, lalu bangun sebagai balita berusia empat tahun. Benar-benar akhir hidup yang sangat masuk akal,' pikirnya.
Amelia menatap sekeliling lagi. Kali ini dia memerhatikan ruangan itu dengan lebih teliti. Tempat ini jelas bukan rumah sakit. Tidak ada alat medis, tidak ada monitor, tidak ada bau antiseptik. Hanya kasur tipis, lemari kayu tua, beberapa pakaian yang digantung di paku dinding, dan anak-anak yang tampaknya tinggal di sini.
'Panti asuhan?' dalam hati Amelia.
Dia menunduk melihat pakaiannya sendiri. Sebuah gaun sederhana berwarna kusam dengan beberapa bagian yang sudah dijahit ulang. Ukurannya pas untuk tubuh kecil ini, tetapi kainnya terasa kasar di kulit.
"Lily." Amelia memegang ujung lengan bajunya.
"Iya?" lily menjawab dengan suara pelan.
"Ini di mana?"
Pertanyaan itu membuat Lily semakin bingung.
"Panti."
"Panti apa?"
Lily menyebut sebuah nama, Amelia tidak mengenalinya.
Dia mengulanginya dalam hati beberapa kali, tetapi tidak ada satu pun ingatan yang muncul. Nama tempat itu terasa asing.
"Cekalang tahun belapa?"
"Kenapa kamu tanya begitu?" Lily menatapnya seperti baru saja ditanya sesuatu yang sangat bodoh.
"Jawab caja." Amelia menatap lily dengan tajam.
"Dua belas tiga puluh."
"Dua belac tiga puluh apa?" Amelia mengernyit.
Lily tertawa kecil. "Tahun dua belas tiga puluh."
"Pasti eve tidak mengerti ya." lanjut Lily, lalu ia tertawa kecil melihat anak kecil yang beberapa tahun di bawahnya itu.
"Selibu dua latus tiga puluh?"
Lily mengangguk.
Amelia perlahan menarik napas. Otaknya yang terbiasa menganalisis sebab-akibat mendadak kehilangan semua kemampuan untuk bekerja secara normal.
'Seribu dua ratus tiga puluh? seharusnya sekarang itu tahun 2026' pikirnya dalam hati.
Dia ingin mengatakan bahwa Lily sedang bercanda, tetapi wajah anak itu terlalu polos. Anak-anak lain juga tidak menunjukkan reaksi aneh. Tidak ada seorang pun yang tertawa karena lelucon.
Amelia menutup wajah dengan kedua tangan.
"Gue mati benelan," gumamnya lagi.
Lily menatapnya bingung. "Apa?"
"Tidak apa-apa." Amelia menurunkan tangannya.
'Setidaknya gue harus berpikir jernih, oke ayo kita susun kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan pertama, gue ngalamin gangguan kesadaran akibat trauma. Kemungkinan kedua, gue lagi mimpii. Kemungkinan ketiga.... gue transmigrasi. Tapi, gak mungkin yakali tiba-tiba aja jadi kayak cerita novel kan?'
Amelia langsung menolak kemungkinan ketiga. Tidak masuk akal. Tetapi kemudian dia melihat tangannya lagi, Jari-jarinya sangat kecil, lalu dia mencubit pipinya sendiri.
"Cakit," gumamnya.
Lily buru-buru memegang tangannya. "Jangan dicubit!"
Amelia mengusap pipinya, kalau mimpi, seharusnya tidak sesakit ini. Dia memandang Lily dengan tatapan kosong.
"Lily."
"Iya?"
"Ada cermin?"
"Di sana." Lily menunjuk ke sudut ruangan.
Amelia langsung turun dari kasur. Bahkan kakinya terlalu pendek untuk menyentuh lantai dengan sekali gerak. Dia hampir kehilangan keseimbangan ketika mencoba berdiri. Tubuhnya terasa ringan dan asing. Langkah pertama yang biasanya mudah dilakukan sekarang membuatnya harus berhati-hati.
"Eve, kamu mau apa?" Lily mengikuti di belakang.
"Celmin, " jawab Amelia singkat
"Buat apa?"
"Memactikan acu macih punya wajah."
Lily mengerutkan kening, tetapi tidak bertanya lagi. Cermin yang dimaksud ternyata hanyalah potongan kaca yang dipasang pada papan kayu. Permukaannya penuh noda dan retakan, tetapi masih cukup jelas untuk memperlihatkan pantulan.
Amelia berhenti di depannya.
Rambut putih sebahu jatuh berantakan di sekitar wajah kecilnya. Warnanya bukan putih keabu-abuan seperti rambut orang tua, melainkan putih pucat dengan sedikit semburat kebiruan ketika terkena cahaya matahari. Kulitnya pucat, nyaris tanpa warna, sementara sepasang mata merah tua menatap lurus ke arahnya.
Tangannya perlahan terangkat dan menyentuh pipi sendiri, anak di dalam cermin melakukan hal yang sama.
Amelia menggeser wajah ke kiri, pantulan itu ikut bergerak. Dia mendekat sampai wajahnya hampir menyentuh permukaan kaca. Jarinya berpindah ke bawah mata, kemudian menyusuri hidung dan pipi, seolah sedang memeriksa seseorang yang baru pertama kali dilihatnya.
"...Actaga, " gumamya.
Amelia mundur satu langkah. Kakinya hampir tersandung ujung kasur, membuatnya buru-buru berpegangan pada papan tempat cermin terpasang. Dia masih menatap pantulannya beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangan. Wajah asing itu tidak akan memberinya jawaban apa pun.
'Untuk tau sebenarnya apa yang terjadi, gue harus mastiin ini ada di mana.' Pandangannya kemudian berhenti pada jendela.
Jendela itu sedikit rendah sangat rendah bahkan dia bisa menjangkau kacanya dengan mudah. Cahaya matahari masuk melalui kaca yang buram. Dari sana dia bisa melihat halaman kecil dengan rumput yang tidak terawat dan beberapa pakaian anak-anak yang dijemur di tali. Tidak ada gedung tinggi, tidak ada mobil, tidak ada suara mesin dari jalan raya. Amelia menempelkan telapak tangannya pada kaca jendela.
"Ini di mana cebenalna?"
"Elarion." Lily yang berdiri di belakangnya tampak berpikir sebentar, seolah pertanyaan Amelia terlalu mudah untuk dipahami kenapa sampai harus ditanyakan.
"...Apa?" Tangan Amelia yang sejak tadi menempel di kaca langsung berhenti.
"Elarion," ulang Lily. "Kita di Elarion."
Amelia perlahan menoleh, dia tahu nama itu. Amelia mengerutkan kening, mencoba mengingat dari mana dia pernah mendengar nama tempat tersebut. Beberapa detik kemudian, sebuah ingatan samar muncul di kepalanya. Dia pernah membaca nama itu. Bukan sekali saja, tapi berkali kali, dia sangat menyukai novel itu, bahkan masuk top 3 novel favorit nya sepanjang masa. Elarion adalah nama sebuah kerajaan dalam novel fantasi berjudul The Rose and Crown.
"Kamu bilang Elalion?" Amelia menatap Lily.
"Iya."
"Kelajaan Elalion?"
"Iya. Memangnya kenapa?" Lily mengangguk polos.
"Tidak apa-apa." Amelia kembali menghadap jendela, dadanya terasa sedikit sesak.
'Tidak mungkin. Tidak masuk akal, mungkin hanya kebetulan.. tapi melihat penampilan ku.. dan orang orang disini juga keliatan aneh.. '
Nama seperti Elarion juga bukan sesuatu yang mustahil muncul di tempat lain. Amelia sudah membaca cukup banyak novel fantasi untuk tahu bahwa nama-nama semacam itu sering kali terdengar mirip satu sama lain.
Dia tidak akan langsung mengambil kesimpulan hanya karena satu nama. Karena, Itu bukan cara berpikirnya.
Lily tampaknya tidak terlalu peduli. Dia kembali duduk di kasurnya dan mulai memainkan ujung selimut.
Untuk saat ini Eve memutuskan tidak akan membuat teori aneh sebelum memiliki bukti. Amelia mengalihkan pandangan dari jendela dan kembali memperhatikan ruangan. Kalau begitu, masalah yang lebih penting adalah mencari tahu siapa dirinya sekarang.
"Lily." panggil Amelia
"Hm?"
"Epe biacana tinggal di cini?" tanyanya.
"Iya."
"cudah lama?" tanyanya lagi.
"Dari bayi." Lily mengangguk
"Bayi?" Amelia mengerutkan keningnya.
"Iya. Kata pengurus, Eve ditemukan di depan panti waktu masih bayi."
Amelia terdiam.
'Ditemukan di depan panti?Yang berarti anak ini tidak punya keluarga, namanya Eve? tapi kemungkinan itu cuma panggilan doang,' Pikirnya.
Namun sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari lorong. Lily langsung menoleh ke pintu. Amelia ikut melihat ke arah yang sama. Seorang perempuan paruh baya masuk sambil membawa nampan makanan.
"Eve, kamu sudah bangun?"
Amelia tidak langsung menjawab. Perempuan itu mendekat dan menyentuh dahinya, terasa asing. Ia tidak pernah mendapat perhatian seperti ini.
"Demammu sudah turun. Syukurlah."
"Demam?" tanya nya.
"Iya. Kamu jatuh dari tangga kemarin dan sempat tidak sadarkan diri."
Amelia mengingat luka kecil di pelipisnya.
'Jadi tubuh ini memang baru saja mengalami kecelakaan.'
Dia menatap perempuan itu.
"Belapa lama acu tidak sadar?" Amelia menatap perempuan itu lekat-lekat.
"Semalaman."
Perempuan itu tertawa kecil, entah kenapa Eve yang dia kenal sedikit terasa berbeda dari biasanya, kemudian menaruh nampan di atas meja.
"Ayo makan dulu."
Amelia melihat makanan yang disediakan, rasanya dia seperti ingin melempar makanan itu, tampilannya sangat tidak menggugah selera.
"Apa aku halus maam ini?"