Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 2
“Pak lurah, sebagai pimpinan desa Sampean harus bisa menjadi penengah. Pertanian desa kita sudah terlalu lama dikuasai mereka yang mengandalkan warisan turun-temurun, tapi nihil dalam pengalaman. Jika terus dibiarkan begini, anak-cucu kita hanya akan kebagian cerita tentang makmurnya desa, tak lagi bisa menikmati hasil bumi kita.” Sambil berkaca-kaca petani tua menyampaikan aspirasi, beberapa orang langsung mengangguk setuju.
Pak lurah telah menjabat lebih dari sepuluh tahun lamanya, menelan ludah kasar. Dapuk kepemimpinannya juga didapat hasil turun temurun dari sang bapak.
Laki-laki dengan peci hitam, perut buncit dan kumis tipis itu berdiri ragu, menoleh sekilas pada Anne yang masih tetap tenang di tempatnya.
“Pripun iki, Nduk ketua. Penduduk desa sepertinya—”
“Biar saya yang berbicara pada mereka,” sergah Anne.
Ia kemudian maju selangkah, sorot mata tajam menyapu wajah-wajah kepanasan berakhir pada pemuda memakai caping dengan wajah tertutup kain hitam.
“Beri saya waktu satu minggu untuk menyelesaikan masalah ini, jika gagal—”
“Apa ibu ketua benar-benar mau membuat kami kelaparan?! Padi-padi kami tentu sudah mati semua kalau menunggu selama itu!” Salah seorang penduduk kembali memotong, dadanya sampai naik turun menahan hawa panas kian menyengat kepala.
Anne berjalan lebih mendekat, menyatu dengan kerumunan warga yang seketika menyingkir memberi jalan. Senyum manis terbit di sudut bibirnya saat pandangannya beradu dengan mata elang pemuda terus berusaha memprovokasi penduduk desa.
Tangan lembut meski sering membantu mengangkat karung-karung goni menepuk pelan pundak petani paling tua, intonasi bicaranya tetap tenang.
“Pak de, Aku ini bukan turunannya Bandung Bondowoso yang bisa mewujudkan keinginan orang yang dicintainya hanya dalam satu malam. Butuh waktu untuk bisa mengetahui sampai mencari solusi perihal menguningnya daun-daun padi kita.” Di usapnya pundak terdapat bekas gagang cangkul, manik tegas berbulu lentik alami menatap satu persatu wajah lelah penduduk desa.
“Kalian semua tak perlu risau, aku pasti bertanggung jawab, tak kan gentar apalagi lari dari masalah ini. Yang perlu kalian lakukan hanya menunggu sejenak, sampai aku dan para aparat desa mengetahui penyebab utamanya. Jika nanti ditemukan hama di pertanian kita, aku akan memberikan bantuan pestisida. Tapi …,” Anne menjeda ucapannya, suara terdengar mendayu, namun penuh perhitungan itu, mengunci langkah pemuda diam-diam ingin menjauh dari kerumunan.
“Tapi, jika masalah ini timbul akibat kelalaian kalian dalam menggunakan pestisida atau bahkan ada perbuatan curang di dalamnya, aku tak segan-segan menarik hak penggarapan ladang serta sawah, dan memberi hukuman setimpal sebagaimana perbuatan yang telah dilakukan.”
Ia semakin mendekat, menghampiri pria muda sejak awal berbicara lantang dengan raut menantang. Air muka semula tenang mengeras seketika, sorot mata tajam, menusuk tepat di netra bergetar si pria muda.
“Bersiap-siaplah menimbun sandang pangan untuk anak istrimu, mana tau aku menepati janjiku, menarik hak penggarapan sawah sepetak mu,” lirihnya seraya meninggalkan kerumunan yang kembali mulai berkasak-kusuk.
Sementara itu pemuda sedari tadi bersembunyi di balik caping dan kain hitam, membuka topengnya, duduk bersandar pada pohon besar persimpangan jalan. Begitu Anne merangsek dalam kerumunan, ia gegas menjauh, meninggalkan halaman balai desa.
Dahinya mengernyit menghalau panas menyengat kulit, caping lebar digunakan untuk kipasan. Dari bibir sedikit memble terbit senyum tipis, membayangkan wajah ayu dengan sorot mata tegas, gestur anggun tak di buat-buat, membuatnya nyaris mabuk kepayang.
Argono seorang pemuda pendatang di desa Lembah Bukit. Kecakapannya lewat tutur kata dan wajah tampan menawan, selalu menarik perhatian penduduk desa, meski Argono sering menyembunyikan diri di balik kain hitam dan caping lebar, namun suara khas bariton dan pembawaannya yang misterius memudahkan penduduk mengenalinya.
“Dia benar-benar cantik jika di lihat dari dekat. Pantas saja bune dan mak’de tak mengizinkan aku berlama-lama menatapnya,” gumamnya sambil meraih ranting kering, mematahkan dengan jari, pikiran terus melayang hingga tak sadar sebuah dokar telah berhenti di depannya.
“Kowe arep dadi wong gendeng, Le? Guya-guyu turut pinggir dalan,” seru kusir dokar, seorang pria Jawa berwajah tua, kumis tebal bertengger di atas bibir hitamnya. (kamu mau jadi orang gila, Le? Cengengesan di pinggir jalan)
Argono mendengus kesal, telapak penuh ranting kering ia usapkan pada batang kayu pohon beringin tua, lalu berganti mengusap celana hitam berbahan kain sebelum loncat ke atas dokar, mengambil botol air minum terselip di belakang bangku kusir.
“Ndak ngenak-ngenak’i wong menghayal ae, Mak de iki.” Ia lalu meneguk habis air dalam botol plastik, mengusap mulut dengan punggung tangan seraya menyandarkan kepala di tiang penyangga atap dokar. “Pancen tak akoni, gadis itu ayu alami, sayang—”
(mengganggu orang menghayal saja, pakde ini)
(Memang aku akui, gadis itu cantik alami, sayang)
“Ojo silau sama wajah ayu, Le. Eling tujuan awal kita datang ke desa ini,” sergah si kusir tua, wajah bengisnya menatap lurus jalanan berkerikil tajam. “Kowe harus bisa merebut hakmu yang sudah diambil perempuan itu dan ibunya.”
Argono menegakkan punggung, matanya berkilat, sudut bibir tersungging tipis. “Kalau kita bisa dapat keduanya, kenapa harus satu-satu. Mak’de sendiri ‘kan yang bilang, asal kita punya uang, tubuh wanita manapun bisa kita rasakan.”
Si pria tua tertawa pelan, dalam hati merasa bangga sebab bocah sedari kecil ia didik tumbuh menjadi pribadi yang diinginkannya, dan sebentar lagi akan membawanya pada tujuan utama—merebut kembali kekuasaan.
Di tempat yang berbeda, raungan pickup yang di kendarai Anne membelah jalanan desa, asap hitam mengepul, menyapa kawanan sapi yang menarik gerobak pengangkut hasil panenan. Berjejer di pinggir jalan, menunggu jatah timbang muatan.
Gadis berparas ayu itu menyapa sekilas para petani rata-rata pemilik kebun tembakau dan kopi, komoditas yang juga Anne tekuni selain padi. Tangan lentik tak terdapat kapalan meski sering membantu pekerjaan berat, mengambil satu genggam biji kopi baru selesai di timbang, menimang sejenak di telapak tangan seraya menghirup aroma alami nya.
“Panenan siapa biji kopi ini, Ran?” tanya nya pada Rani—putri tunggal Dasim, yang ikut bekerja di lapak milik keluarga Van Beek, bertugas menjadi juru timbang di sela-sela menyelesaikan sekolah jenjang SMA.
“Milik pakde memakai baju batik itu,” tunjuk Rani pada lelaki tua berjalan tergopoh-gopoh menghampiri pemilik lapak.
Anne menoleh cepat, senyum ramah terulas di wajah ayunya. “Teng kebon tasek katah tunggale mboten, Pakde niki kopine?” (Di ladang masih banyak lainnya tidak, Pakde ini biji kopinya)
“Masih ada beberapa pohon, Nduk ayu, belum mateng sempurna mau di panen,” jawab si petani.
Anne mengangguk, tangan masih menggenggam biji kopi sesekali dihirupnya. “Nanti kalau sudah siap panen, jemur yang kering, saya jualkan ke kota. Iki kualitas unggulan, bisa laku mahal kalo ketemu juragan kaya pas pasaran kliwon.”
Ia kemudian menoleh ke arah Rani, memberi perintah sembari berjalan meninggalkan lapak miliknya, kopi di tangan telah di kembalikan ke karungnya. “Tambahkan lima perak untuk 1 kati kopi milik, Pakde ini, Ran.”
“Baik, Mbak.” Gadis tak banyak bicara itu kembali menghitung uang telah disiapkan untuk petani kopi.
Wajah si petani sumringah seketika, sampai tak sadar sang juragan muda telah pergi dari tempatnya.
“Lah dalah, durung kober matur suwun wes ngilang ndoro ayu ne,” ucapnya, tangan penuh keriput mengusap wajah lelah yang langsung hilang begitu mendengar gemerincing uang logam dalam kantong kain perca yang diulurkan Rani. (Aduh, belum sempat bilang terima kasih sudah menghilang juragan cantik nya)
“Dari dulu genduk ayu opo pernah mau menunggu tiap kali habis memberi sedekah. Pasti langsung pergi,” sahut petani lain.
“Podo persis sama ibune,” timpal yang lainnya.
Sementara itu di belakang lapak tempat mobil pickup warisan sang papa terparkir, Anne baru saja akan membuka pintu kemudi saat punggungnya di lempar pentil jambu biji.
“Mobil butut mu itu sudah waktu nya masuk rongsokan, ditimbang campur besi tua sekalian pemiliknya,” seru suara berat pemuda berkulit pucat.
Bersambung
1 kati kurang lebih 600 gram
Di tahun ini satuan kilogram sudah ada dan umum, tapi di desa sebagian masih menggunakan kati, terlebih desa-desa terpencil. (Mohon koreksi jika kurang tepat, Author hanya mengandalkan riset google🙏)
Le \= Tole→panggilan untuk anak laki-laki.
Nduk \= genduk→panggilan untuk anak perempuan.
Mak’de \= Pakde
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria