Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Abi dan Umi dengan raut wajah penuh keseganan segera mempersilahkan rombongan besar itu untuk masuk dan duduk di ruang tamu mereka yang sempit.
Senyum sumringah Umi Mina tak mampu menyembunyikan binar kesetanan akan hadiah materi yang sudah membayang di pelupuk matanya.
"Di mana calon pengantinnya?" tanya Kyai Ali ramah, memecah keheningan seraya menatap sekeliling ruangan mencari keberadaan Puja.
Umi Mina tersenyum canggung lalu menggelengkan kepalanya pelan, memberi kode tajam pada suaminya.
Mengerti maksud sang istri, Abi berdiri dengan langkah terburu-buru menuju pintu kamar Puja.
Ia mengetuk pintu kayu itu beberapa kali. Ketukan kali ini tidak berisikan amarah, melainkan nada permohonan yang berat.
"Nduk, jangan mempermalukan Abi..." bisik Abi dari luar pintu, suaranya sarat akan tekanan.
"Aku nggak mau menikah, Abi..." sahut Puja dari balik pintu, suaranya parau dan habis terkuras oleh tangis.
"Nduk, buka pintunya. Kasihan tamu-tamu di luar," panggil Abi lagi, mencoba mengetuk hati putrinya.
Di dalam kamar, Puja menarik napas panjang. Dengan jemari yang bergetar, Puja menghapus air matanya yang tersisa di pipi.
Ia sadar, mengurung diri hanya akan menunda siksaan ini.
Dengan kepasrahan yang menyakitkan, ia memutar kunci dan membuka pintu.
Abi yang melihat pintunya terbuka segera meraih lengan Puja, mengusap bahunya sejenak sebelum mengajaknya keluar kamar menuju ruang tamu.
Langkah kaki Puja terasa seberat timah. Setiap incinya dipenuhi rasa tidak rela.
Sepanjang jalan menuju ruang tamu, Puja terus menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Ia enggan mendongak, sama sekali tidak mau memandang wajah calon suaminya—pria yang dalam sekejap mata telah menghancurkan seluruh impian, cita-cita, dan masa depan yang sudah ia susun rapi.
Di ruang tamu yang semakin terasa menyesakkan, Kyai Ali mulai membuka suara.
Suaranya tenang namun berwibawa, memecahkan keheningan seraya memperkenalkan siapa sosok Ustadz Jeffry di lingkungan pesantren dan keluarganya—seorang putra mahkota pesantren yang dihormati, santun, dan dikenal akan kedalaman ilmunya.
Usai memaparkan sosok putranya, Kyai Ali menatap Jeffry yang duduk di sampingnya.
Dengan nada tegas penuh harapan, Kyai Ali meminta Jeffry menyegerakan pernikahan ini dengan anak sahabatnya.
Atas dasar bakti dan kepatuhan penuh kepada sang ayah, Jeffry menerima keputusan tersebut meski ia belum pernah mengenal sosok calon istrinya sama sekali.
Bagi Jeffry, ridho sang ayah adalah jalan utamanya.
"Sekarang Jeffry sudah siap, Abah," ucap Jeffry datar namun mantap, menyerahkan bulat-bulat garis takdirnya pada titah orang tua.
"Bagus, bagus..." sahut Kyai Ali dengan anggukan puas dan senyum mengembang.
"Kalau begitu, ayo kita laksanakan akad nikah ini!"
Puja mencengkeram erat tangannya saat mendengar jawaban Jeffry.
Buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah, kekecewaan, dan rasa sesak yang menghimpit dadanya hingga sulit bernapas.
Kepasrahan pria itu terasa seperti vonis mati bagi seluruh impian dan cita-cita yang baru saja ia genggam beberapa jam lalu.
Penghulu merapikan lembaran berkas di hadapannya, lalu memberi isyarat kepada Abi dan Jeffry untuk saling berjabat tangan.
Udara di dalam ruang tamu yang sederhana itu seketika terasa hening membeku.
Semua mata tertuju pada kedua pria yang kini memegang erat telapak tangan satu sama lain.
Abi menarik napas panjang, menahan getar di suaranya sebelum akhirnya mengucapkan kalimat sakral itu:
"Ananda Jeffry bin Ali, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Puja binti Ahmad, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas dibayar tunai."
Tanpa jeda, dengan suara yang tegas, mantap, dan tanpa keraguan sedikit pun, Jeffry menjawab:
"Saya terima nikah dan kawinnya Puja binti Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Penghulu.
"Sah! Sah!" sahut para saksi dan tamu yang hadir secara serempak.
Suara ketukan dan doa "Alhamdulillah" bergema memenuhi ruangan.
Di sudut meja, Puja semakin menundukkan kepalanya, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes basah jatuh ke pangkuannya.
Di detik itulah, seluruh lembaran mimpinya resmi tertutup, digantikan oleh ikatan pernikahan yang tak pernah ia harapkan.
"Puja, ayo cium tangan suamimu," ucap Abi lembut, mencoba memecah kekakuan yang menggantung di udara.
Puja masih menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Di pelupuk matanya yang kabur oleh sisa air mata, ia melihat sebuah jemari tangan yang bersih dan putih terulur di hadapannya.
Tanpa berani mendongak menatap sosok pemiliknya, Puja menyalami dan mencium punggung tangan itu pasrah.
"Alhamdulillah..." bisik para tamu serentak, mengiringi momen sakral yang menandai peralihan garis hidup Puja.
Jeffry merapikan posisi duduknya, lalu berdehem pelan seraya menatap ayahnya dan Abi secara bergantian.
"Abah, Abi... malam ini Jeffry akan langsung membawa Puja, istri saya, ke rumah pondok."
Mendengar hal itu, Umi Mina yang sejak tadi tak sabar langsung menyela tanpa rasa malu, menagih janji yang menjadi alasan utamanya mendesak pernikahan ini.
"Anu... Kyai, bagaimana dengan janji hadiah yang kemarin sempat dibicarakan?"
Kyai Ali tertawa terkeh-keh, tidak merasa tersinggung sedikit pun.
"Aduh, iya... saya hampir lupa," ujurnya ramah seraya memberi isyarat kepada salah satu rombongannya.
Tak lama kemudian, sebuah amplop tebal berisi uang tunai dan berkas kepemilikan sebidang tanah sawah diserahkan kepada Abi untuk dikelola.
Senyum Umi Mina mengembang lebar memamerkan kepuasannya, sementara Puja hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat—menyadari betapa harga dirinya dan masa depannya baru saja ditukar dengan sebidang tanah dan seikat rupiah.
Setelah selesai acara pernikahan, Puja masuk ke dalam mobil suaminya.
Sementara rombongan lain ada di mobil bersama Kyai Ali.
Suasana di dalam mobil terasa begitu hening, canggung, dan sarat akan tekanan emosional yang menghimpit.
Tidak ada musik, tidak ada sapaan hangat, hanya deru mesin yang samar-samar mengisi rongga udara yang dingin.
Puja masuk ke dalam mobil Jeffry tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ia melipat tangannya di dada, lalu membuang pandangan jauh-jauh ke luar jendela.
Matanya menatap lekat jalanan malam yang perlahan semakin menjauhi rumah, kampung halaman, dan seluruh masa lalu yang baru saja dirampas darinya.
Di dalam dadanya, Puja menyimpan amarah yang membara, kekecewaan yang remuk, dan kebencian mendalam kepada pria di sampingnya.
Bagi Puja, Jeffry bukan sekadar suami yang dijodohkan, melainkan sosok asing yang telah dengan mudah menghancurkan masa depan dan memadamkan mimpinya untuk menjadi seorang psikolog.
Sementara itu, Jeffry tetap fokus mengemudikan mobil dengan tenang.
Kedua tangannya menggenggam kemudi secara stabil, menatap lurus ke arah jalan raya yang gelap.
Wajahnya tetap datar dan dingin, tak memancarkan emosi apa pun atas badai kekecewaan yang tengah membakar perempuan yang kini resmi menjadi istrinya.