NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

BAB 3

TEMPAT BERLINDUNG

Cairan infus menetes perlahan, tetapi tangan Lani tetap sedingin malam ketika ia meninggalkan vila.

"Jadi, ceritanya lo demam karena kehujanan?"

Wiwid berdiri di samping ranjang rumah sakit dengan kedua tangan terlipat. Kacamata berbingkai hitam bertengger di atas kepalanya. Kamera masih tergantung di leher, tanda ia datang langsung dari Studio Widuri begitu menerima lokasi yang dikirim Lani.

Lani menarik selimut lebih tinggi. "Memangnya aku kelihatan sehat?"

"Lo kelihatan kayak orang yang habis dikejar setan, bukan kehujanan."

Lani tersenyum tipis. Otot lehernya langsung terasa nyeri.

Dokter Rina sudah memeriksa memar di pergelangan, lecet ringan di bahu, demam, serta tubuhnya yang kekurangan cairan. Lani mengatakan ia terpeleset di kamar mandi. Dokter itu menatapnya cukup lama, seolah tahu ada bagian cerita yang sengaja dibuang, tetapi tidak memaksa.

Ia hanya meminta Lani menjalani observasi selama dua hari di rumah sakit swasta Jakarta Selatan itu.

"Gunawan tahu lo di sini?" tanya Wiwid.

"Dia tahu aku di rumah sakit."

"Tahu kenapa?"

"Wiwid."

"Nah, nada itu." Wiwid menarik kursi dan duduk. "Kalau lo sudah panggil nama lengkap gue dengan suara begitu, artinya ada masalah besar dan lo nggak mau cerita."

Lani memandang selang bening yang menempel di punggung tangannya.

Ia ingin bercerita. Ingin menunjukkan pergelangan yang masih menyimpan bekas jari Rey, lalu meminta Wiwid memaki sampai seluruh rasa kotor di tubuhnya hilang. Namun ia mengenal sahabatnya. Wiwid akan datang ke Menteng, mendobrak pintu, dan mungkin memukul Rey dengan tripod.

Gunawan akan tahu. Foto itu bisa tersebar. Semua akan membesar sebelum Lani sempat berpikir.

"Aku cuma sedang capek," katanya.

Wiwid mendecakkan lidah. "Jawaban paling menyebalkan sedunia."

Namun ia tidak bertanya lagi. Ia melepas kamera, mengambil kapas basah, lalu menyeka sisa perekat bekas pemeriksaan dari lengan Lani.

"Tidur," ujarnya. "Gue jaga di sini sampai malam. Kalau ada yang datang dari rumah itu, biar ketemu gue dulu."

Sederhana, kasar, dan tepat mengenai tempat yang membuat dada Lani sesak.

Untuk pertama kalinya sejak semalam, Lani memejamkan mata tanpa takut seseorang akan mengunci pintu.

***

Wulan datang setelah Magrib dengan kotak bubur ayam yang dibungkus kain agar tetap hangat.

Kerudungnya sedikit miring. Ada bekas tepung di lengan gamis, dan napasnya terengah seperti ia harus berlari dari halte menuju lobi rumah sakit.

"Maaf baru bisa datang," katanya. "Aku harus masak untuk Bapak, Ibu, Dimas, sama Dika dulu."

Wiwid mengambil kotak makanan dari tangannya. "Lo datang jenguk orang sakit atau buka katering? Berat banget."

"Ada bubur buat kalian juga."

"Nah, ini baru sahabat berguna."

Wulan tertawa kecil, lalu memegang tangan Lani yang tidak dipasangi infus. "Kamu bikin kami takut. Tadi siang masih sempat balas pesan, malamnya masuk rumah sakit."

"Cuma demam. Besok juga pulang."

"Dua hari observasi," potong Wiwid. "Dan dia masih bohong."

Lani melotot.

"Aku nggak bilang bohong soal apa," balas Wiwid santai.

Wulan tidak ikut mendesak. Ia membuka bubur, mengaduknya agar uap panas keluar, lalu menyodorkan sendok kepada Lani.

"Makan dulu. Cerita belakangan kalau kamu siap."

Kalimat itu membuat pertahanan Lani justru runtuh sedikit.

Ia tidak menceritakan Rey. Namun malam itu, di antara bunyi monitor dan aroma bubur ayam, Lani membuka luka yang jauh lebih lama.

Ia bercerita tentang operasi lambung Papa Lie beberapa tahun lalu. Tentang uang muka yang tidak sanggup dikumpulkan keluarganya. Tentang Leo, kekasihnya selama delapan tahun, yang menemani di rumah sakit dan membayar separuh biaya awal.

"Waktu itu aku pikir dia akan jadi keluargaku," ujar Lani.

"Lalu mamanya datang," kata Wiwid dengan wajah masam.

Lani mengangguk.

Tante Lanny berdiri di koridor rumah sakit dengan tas bermerek di lengan. Suaranya cukup keras untuk didengar keluarga pasien lain.

`Anakku bukan sopir dan perawat gratis keluargamu. Hari ini operasi bapakmu, besok utang kokonya, nanti apa lagi? Penyakit keluarga kalian jangan ikut dibawa ke rumah kami.`

Leo berdiri di samping ibunya. Diam.

Lani tidak menangis saat itu. Ia mengembalikan sisa uang Leo melalui transfer selama beberapa bulan, lalu memutuskan hubungan mereka tanpa meminta laki-laki itu memilih.

"Syukurlah aku tidak jadi masuk Keluarga Ang," katanya. "Kalau delapan tahun saja tidak membuat Leo berani bicara, pernikahan juga tidak akan mengubahnya."

Wulan menggenggam tangannya lebih erat. "Tapi setelah itu kamu menerima Ko Gunawan."

"Dia membayar seluruh utang keluargaku."

"Dan meminta hidupmu sebagai gantinya," sahut Wiwid.

Lani menatap bubur yang mulai dingin. "Aku tahu perjanjiannya sejak awal. Dengan uang itu, Papa dan Mama punya rumah di perumahan. Kedua kokoku berhenti dikejar penagih. Aku menyimpan dua kartu, satu untuk orang tuaku dan satu atas namaku sendiri. Setidaknya kalau semua ini selesai, aku tidak pulang dengan tangan kosong."

"Lo selalu bicara seolah tubuh dan hati lo barang paling murah dalam transaksi itu," kata Wiwid. "Padahal bukan."

Lani tidak mampu menjawab.

Wulan menunduk. Ujung kerudungnya sudah kusut karena diremas. "Kadang perempuan memang memilih yang sama-sama menyakitkan. Tinggal mencari mana yang membuat anak dan orang tua kita tetap bisa makan."

Wiwid langsung menoleh. "Dimas bikin masalah lagi?"

"Nggak ada." Jawaban Wulan terlalu cepat. "Dia cuma sering pulang malam. Katanya proyek kantor banyak."

"Uang belanja cukup?"

Wulan tersenyum, tetapi matanya tidak. "Cukup."

Lani dan Wiwid saling pandang. Mereka mengenal senyum itu.

Kali ini mereka tidak membongkar kebohongannya. Belum.

***

Setelah keluar dari rumah sakit, Lani tinggal di apartemen Wiwid selama hampir satu minggu.

Pagi hari ia membantu memilih foto di sudut Studio Widuri. Siang hari Wiwid memotret model untuk katalog pakaian dan produk kecantikan. Malamnya mereka makan nasi bungkus sambil mendengar Wulan mengeluh melalui panggilan video tentang cucian yang tidak pernah habis.

Bekas jari di pergelangan Lani perlahan memudar.

Rasa takutnya tidak.

Pada hari ulang tahun Wulan, Lani mengirim sejumlah uang dengan keterangan `buat beli kue`. Saat Wulan memprotes di grup WhatsApp, Lani hanya membalas foto dua kartu belanja.

`Aku sudah beli ini dari bulan lalu. Kalau kamu menolak, aku kasih Wiwid.`

`Jangan gue. Gue maunya lensa,` balas Wiwid.

Wulan akhirnya datang sore itu. Begitu Lani menyelipkan kedua kartu ke dalam tasnya, matanya langsung merah.

"Aku belum bisa balas apa-apa," bisiknya.

"Kamu sudah bawa bubur waktu aku sakit. Impas."

"Nilainya beda jauh."

"Persahabatan kita bukan nota belanja, Wulan."

Wiwid merangkul keduanya dari belakang. "Kalau mau nangis, cepat. Lima menit lagi gue ada klien. Jangan bikin studio gue banjir."

Wulan tertawa di sela air mata. Lani ikut tersenyum.

Mereka bertiga tidak bisa menyelesaikan hidup satu sama lain. Namun untuk beberapa menit, beban itu bisa dibagi hingga tidak menghancurkan satu orang sendirian.

***

Seminggu setelah malam hujan, Lani kembali ke vila Menteng.

Rumah itu terlalu sunyi. Kotak P3K sudah tidak ada, karpet putih telah dibersihkan, dan tidak ada jejak darah di lantai. Seolah malam itu hanya hidup di kulit Lani.

Ia baru meletakkan tas di meja dapur ketika ponselnya berdering.

"Ko?"

Suara Gunawan terdengar letih. "Kamu sudah pulang?"

"Baru saja. Ko di kantor?"

"Iya." Ada jeda panjang. "Mei, kalau Rey menghubungimu, langsung kabari saya."

Jari Lani membeku di atas meja.

"Kenapa dia menghubungiku?"

"Pagi setelah kamu masuk rumah sakit, saya memarahinya. Saya bilang akan mengirimnya kembali ke luar negeri supaya dia belajar disiplin." Gunawan menarik napas berat. "Dia menendang kursi, lalu bilang kalau saya selalu menganggapnya pengganggu, seharusnya dulu saya tidak usah melahirkannya."

Lani menatap kursi kosong di ujung meja makan.

"Setelah itu?"

"Dia pergi. Tidak membawa sopir, tidak mengambil kartu tambahan. Sudah satu minggu, Mei. Rey belum pulang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!