Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Pertama di Dunia Baru
Sisa-sisa malam perlahan tersapu oleh sinar dari cahaya matahari pagi.
Yang mulai mengintip di antara celah-celah gedung pencakar langit ibu kota.
Menembus kabut tipis yang menyelimuti jalanan aspal basah.
Di sudut gang sempit tempat warung kecil itu terdengar Suara bising kendaraan bermotor mulai menggantikan keheningan malam yang pekat.
Deru knalpot angkutan umum bersahutan dengan klakson kendaraan.
Membangunkan denyut kehidupan kota yang bergerak tanpa kenal lelah.
Andra membuka matanya perlahan di atas balai bambu sederhana.
Tanpa kasur pegas empuk buatan Jerman.
Tanpa selimut tebal berbalut bulu angsa yang biasa melindunginya.
Hanya beralaskan jaket kain usang miliknya sendiri.
Udara pagi yang dingin menyapa permukaan kulit wajahnya.
Namun ada ketenangan asing yang meresap ke dalam dadanya.
Jauh berbeda dari tekanan berat yang biasa ia rasakan di lantai 50 menara megah.
Di dekat meja racik warung yang bersahaja.
Kirana sudah tampak sibuk bergerak lincah.
Menyalakan kompor gas kecil berukuran satu tungku.
Merebus air di dalam panci aluminium legendaris.
Untuk persiapan seduhan kopi hitam pekat bagi para pelanggan pagi.
Tangannya bergerak terampil menata stoples kerupuk.
Mengenakan apron katun bermotif kotak-kotak yang sama seperti semalam.
Serta jilbab instan sederhana yang membingkai wajah lelahnya.
Andra bangkit dari balai bambu tempatnya tidur.
Merenggangkan otot-otot tubuhnya yang sedikit kaku karena udara malam.
Lalu melangkah mendekati area warung dengan langkah pasti.
"Pagi, Kirana,"
sapanya ramah dengan suara bariton yang tenang.
Kirana mendongak dari kesibukannya menyeduh air.
Tersenyum lebar menyambut kehadiran pria asing tersebut.
Menampakkan guratan lelah di matanya yang berbinar tulus.
"Pagi juga, Mas."
"Wah, rajin banget pagi-pagi udah bangun."
"Tidurmu nyenyak semalam di balai bambu?"
"Nggak masuk angin kan cuma pakai jaket tipis begitu?"
Pertanyaan sederhana itu kembali menyentuh sisi batin Andra yang paling dalam.
Selama bertahun-tahun hidup di lingkaran elit korporasi.
Tidak ada satu pun orang yang peduli apakah ia bisa tidur dengan nyenyak.
Semua orang di dunianya yang dulu hanya memikirkan angka dan keuntungan.
Tapi di tempat kumuh ini.
Seorang wanita penjaga warung kecil menunjukkan ketulusan yang luar biasa.
"Puji Tuhan, nyenyak sekali, Kir."
Jawab Andra dengan senyuman tipis yang tulus.
"Jauh lebih tenang daripada kamarku yang dulu."
Kirana tertawa kecil mengira itu hanya candaan ringan.
"Ah, Mas bisa aja bercandanya."
"Mana ada orang lebih suka tidur di balai bambu daripada kasur empuk."
"Oh iya, kalau mau cuci muka, air keran ada di sebelah sana ya."
Andra mengangguk pelan penuh terima kasih.
Ia melangkah ke arah keran air di sudut tembok.
Memercikkan air dingin ke wajahnya.
Merasakan kesegaran yang membersihkan sisa penat di kepala.
Di dalam hatinya, ia bersyukur takdir membawanya ke tempat ini.
Bukan ke sel penjara dingin akibat rekayasa pamannya.
Bukan pula ke tangan musuh-musuhnya yang ingin menghancurkan hidupnya.
Melainkan ke sebuah tempat sederhana yang memberinya ruang bernapas.
Sambil merapikan kursi-kursi plastik yang berserakan.
Andra kembali mendekati meja racik tempat Kirana meracik pesanan.
"Kir..." panggil Andra serius.
Sambil membantu menata wadah sendok dan garpu.
"Boleh aku terus bantu-bantu di sini?"
"Aku nggak butuh bayaran besar."
"Cukup tempat tinggal di balai itu dan makan seadanya setiap hari."
Kirana menghentikan aktivitasnya sejenak.
Menatap lurus ke dalam mata pria di hadapannya itu.
Mencari keraguan, kebohongan, atau niat terselubung di balik tatapannya.
Namun ia hanya menemukan tekad yang bulat dan kejujuran mutlak.
Di tengah kerasnya ibu kota tempat orang saling sikut demi uang.
Permintaan tulus seperti itu adalah pemandangan paling langka.
"Beneran serius mau kerja di sini, Mas?"
Tanya Kirana memastikan sekali lagi.
"Pekerjaannya capek, panas, berdebu, dan penghasilannya kecil."
Andra mengangguk mantap tanpa sedikit pun keraguan di wajahnya.
"Aku siap belajar semuanya dari nol, Kir."
Senyuman hangat terukir di wajah Kirana,
Memberi tanda dimulainya lembaran hidup baru bagi sang mantan miliarder.
Dan pada saat malam nya tiba,.
Udara dingin ibu kota menusuk hingga ke balik jaket usang yang dikenakan Andra.
Namun obrolan kecil di samping warung itu membuat suasana terasa sedikit hangat.
"Iya, suami saya lagi cari tambahan di luar," ucap Kirana melanjutkan kalimatnya sembari merapikan sisa kardus basah.
"Jadi saya bantu beresin warung peninggalan bapak sebelum pulang ke kontrakan."
Mendengar kata "suami" meluncur dari bibir Kirana, ada secercah rasa asing yang tiba-tiba bergeming di dada Andra.
Sebuah ironi kecil yang menggelitik batinnya.
Ia sendiri sedang menyamar menjadi pria miskin tanpa tujuan hidup.
Sementara wanita di depannya ini sedang berjuang menanti suaminya pulang bekerja.
"Kalau begitu, biar ku bantu merapikan bangku-bangku ini sekalian,"
kata Andra tanpa ragu.
Ia langsung melangkah maju.
Tangannya yang terbiasa memegang dokumen penting perusahaan kini sigap mengangkat kursi-kursi plastik.
Menumpuknya dengan rapi di dekat meja utama.
Kirana sempat tertegun sejenak.
Berdiri mematung sambil menatap punggung pria asing berjaket usang itu.
Yang bekerja dengan cekatan membantunya.
Di tengah dinginnya malam ibu kota yang menusuk tulang.
Dan himpitan hidup yang sering kali terasa menyesakkan dada.
Uluran tangan sederhana dari seorang pengembara malam tanpa identitas itu.
Mendadak terasa begitu hangat.
Memberikan secercah cahaya harapan di tempat yang paling redup.
"Makasih banyak ya, Mas," ucap Kirana lirih dengan nada tulus.
"Jarang-jarang ada orang mau bantu begini malam-malam."
Andra menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis.
"Sama-sama, Kir. Anggap saja sekalian menghabiskan waktu luangku."
Setelah semua kursi dan meja selesai dibereskan, suasana di sekitar warung menjadi jauh lebih lengang.
Hanya tersisa cahaya lampu jalanan yang berpendar redup di atas aspal basah.
Kirana menyeka peluh di dahinya menggunakan ujung jilbab.
Ia kemudian menoleh ke arah Andra yang berdiri tegap di sampingnya.
"Ngomong-ngomong,
Mas beneran tidak punya tempat tinggal untuk malam ini?"
tanya Kirana dengan nada cemas.
"Kawasan sini lumayan rawan kalau malam, apalagi buat orang asing."
Andra menggeleng pelan.
Tatapan matanya menerawang menatap jalanan gang yang gelap.
"Aku sudah kehilangan segalanya, Kir."
"Rumahku, pekerjaanku, dan semua orang yang kuanggap keluarga."
"Malam ini, aku benar-benar tidak tahu harus melangkah ke mana."
Mendengar kejujuran yang terdengar begitu pilu itu, hati Kirana tergerak.
Sebagai seseorang yang juga sering diuji oleh kerasnya hidup, ia tahu persis rasanya berada di titik terbawah.
"Kalau Mas tidak keberatan..."
Kirana menunjuk ke arah samping bangunan warung yang agak menjorok ke dalam.
"Di sebelah sana ada balai bambu kecil."
"Biasanya bapak dulu suka pakai buat istirahat kalau kemalaman jaga warung."
"Memang tidak ada kasur empuk, tapi setidaknya aman dari angin malam."
Andra mengikuti arah telunjuk Kirana.
Sebuah balai bambu sederhana berukuran satu setengah meter tampak di balik bayangan dinding.
Jauh dari kata layak jika disandingkan dengan gaya hidupnya dulu.
Namun saat ini, tempat itu terasa seperti istana keselamatan baginya.
"Terima kasih, Kirana," ujar Andra tulus.
"Bantuanmu malam ini sangat berarti."
"Sama-sama, Mas.
Sesama manusia memang harus saling tolong," balas Kirana ramah.
"Ya sudah, karena warung sudah beres, saya harus buru-buru pulang ke kontrakan."
"Takut suami saya sudah selesai kerja dan nunggu di rumah."
"Hati-hati ya, Mas. Semoga besok keadaan bisa jadi lebih baik."
"Iya, silakan hati-hati di jalan," jawab Andra.
Kirana lantas melangkah pergi meninggalkan area warung.
Bayangannya perlahan menghilang di ujung gang yang gelap.
Menyisakan Andra seorang diri dalam keheningan malam.