Ethan Spencer Eko Argantara menolak keras perjodohan sepihak yang diatur keluarganya setibanya dia pulang dari New York. Baginya, menikahi gadis pilihan orang tua adalah hal konyol. Sialnya, sebuah insiden di department store mempertemukannya dengan Nayla Syakila Atmaja, gadis angkuh yang sukses memicu emosinya dalam pertengkaran dramatis, yang ternyata adalah sang calon tunangan.
Namun, rasa kesal Ethan berubah menjadi simpati ketika dia tahu Nayla menjadi target dari mantan tunangannya. Ethan membuang rasa gengsinya lalu melindungi Nayla
Di bawah satu atap dengan Nayla sebagai pasangan suami istri, Ethan siap melakukan apa saja demi melindungi miliknya.siapa pun yang berani menyentuh Nayla, harus berhadapan dengan dia.
"Tugasku adalah menjagamu, tapi obsesiku adalah memilikimu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Baku hantam dramatis seperti musuh bebuyutan.
Element world Dept Store, Jakarta pusat.
"Jangan lupa setelah ini beli gaun pesta juga, dan jangan mempermalukan Abang ya."
"Iya, bang. Sudah ya, aku tutup teleponnya."
Klik. Gadis berusia dua puluh empat tahun itu menggembungkan pipi kesal. Baru saja dia berada di bagian etalase sepatu pusat perbelanjaan ini, dan terpaksa harus membeli sepatu hak tinggi. Setelah itu dia masih harus mencari gaun. Yang paling membuat Nayla kesal, dia harus mengenakan semua itu untuk makan malam nanti bersama calon mertuanya.
Dasar Denis Atmaja, menyebalkan sekali!
"Abangku benar-benar tidak punya rasa kasihan padaku. Suka sekali menyiksa adiknya yang cantik ini?" Nathan yang sedang mencoba sepatu kets berwarna putih terkekeh geli. Dia melirik sahabatnya yang duduk di bangku kecil sambil menatap malas sepatu hak tinggi berwarna hitam yang baru saja dipilihnya.
"Kamu akan terlihat cantik kalau memakai sepatu hak tinggi. Masa kamu mau pakai sepatu kets saat makan malam dengan calon mertuamu? Aduh, aku tak bisa membayangkannya kalau kamu pakai gaun cantik seksi tapi sepatunya pakai sepatu kets."
"Heh mulutmu jerapah pendek! Ingin ku jepit pakai ikat rambutku ya?"
"Enggak, maaf... Ups!" Nathan langsung bungkam setelah terpingkal-pingkal sambil menutup mulutnya menahan tawa.
Penampilan sahabatnya itu lebih mirip penjual koran yang berkeliling naik sepeda, daripada wanita anggun dan rapi. Rambut Nayla dikuncir dan disembunyikan di balik topi, mengenakan kaos hitam yang kebesaran, celana jeans panjang, ditambah jaket hoodie merah muda yang selalu dia pakai tanpa pernah merasa bosan, sampai warnanya pudar.
"Aku benci melihat sepatu ini. Kenapa kamu malah beli sepatu kets? Sengaja membuatku iri ya?"
"Mbak, tolong carikan pasangan sepatu ini. Kalau sudah tolong dibungkus, kami ambil dua-duanya."
"Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar."
"Aku malas beli sepatu itu, alergi memakainya. Bang Denis benar-benar menyebalkan." Nayla merengut kesal. Dia malah diabaikan, dan hanya mendapati sahabatnya tersenyum sambil memperhatikan penampilannya.
"Kamu itu harus dandan juga. Setelah ini kita ke salon supaya kamu terlihat rapi dan cantik. Aduh, kamu ini mirip anak bebek yang baru saja kecebur selokan."
"Heh Nathan, kenapa kamu ikut menyebalkan seperti Kakakku?"
"Hahaha, dengar ya Nona Nayla... kamu itu berantakan sekali. Lihat saja wajahmu, tak ada bedak atau riasan sedikitpun. Kalau kamu begini terus, mana ada pria yang mau mendekat? Nanti calon suamimu malah kabur dan jijik melihatmu."
"Cih, terserah saja! Aku juga sebenarnya tak ingin menikah. Abangku saja yang memaksa dan sibuk menjodoh-jodohkan aku."
Nathan menggeleng-gelengkan kepala. Tak lama kemudian seorang pramuniaga datang membawa sepasang sepatu hak tinggi untuk Nayla. Tanpa berpikir panjang, gadis itu langsung melempar sepatu itu dengan kesal.
Pluuk....
"Aku benci sepatu ini!" Benda high heels hitam itu melayang entah ke mana, dan Nayla sama sekali tak peduli. Yang penting sepatu yang menyebalkan itu sudah menjauh darinya.
Pletuk pletak!!
"Adow kepalaku! Apa nih?!"
"Astaga, Pak Ethan! Apa Bapak tidak apa-apa? Siapa orang gila yang melemparkan sepatu ke sini? Aduh!" Hariyanto panik melihat Ethan kaget dan mengusap kepalanya.
Ethan Spencer Eko Argantara atau yang dipanggil Ethan mengusap kepalanya yang terasa sangat sakit dan berdenyut nyeri. Ujung sepatu hak tinggi yang runcing menghantam keras bagian belakang kepalanya, dia meringis sambil melihat horor ke segala arah.
"Apa?! Jadi yang kena kepalaku tadi sepatu?!"
Ethan terkejut luar biasa sambil terus mengusap kepalanya yang nyeri. Seketika wajahnya memerah padam menahan amarah saat melihat sepatu hitam hak tinggi itu diambil oleh sekretaris Hariyanto.
"Aish, siapa yang seenaknya melempar sepatu di sini dan tepat mengenai kepala bang Ethan? Benar-benar kurang ajar! Harus dilaporkan ke polisi!" seru Marcus sambil celingukan mencari pelakunya.
"Liat aja aku becek mukanya nanti!" Ethan pun ikut kesal memikirkan siapa orang yang begitu tak tahu sopan santun.
"Bang.. pelakunya ada di sana!" Nathan yang baru saja berteriak kaget dan belum sempat memarahi temannya yang melempar barang yang belum dibayar, langsung menutup mulutnya dengan panik.
Dia baru sadar pasangan sepatu itu masih ada di tangannya, dan dia pasti akan disangka pelakunya. Seorang pria berpakaian rapi menunjuk ke arahnya.
"Aduh... habislah aku. Nayla, sepatumu itu menghantam kepala pria yang di sana!" bisik Nathan dengan tubuh gemetar saat rombongan pria itu mendekat.
Nayla menggigit bibir ketakutan, lalu segera berdiri dan bersembunyi di belakang pramuniaga yang juga masih terpaku kaget.
"Hei, bocah, Kamu kira di sini ini lapangan bola? Melempar sepatu sampai kena kepala orang!" bentak Marcus duluan kepada pria yang lebih pendek darinya.
Nathan masih menggeleng ketakutan sambil gemetar. "Bu~... bukan saya, Pak. Sungguh bukan saya yang melakukannya."
"Kalau bukan kau, lalu siapa? Kau tahu kan ini pusat perbelanjaan berkelas, bukan lapangan sepak bola?" makin tajam Marcus memarahinya.
"Tapi sungguh bukan saya yang melempar tadi... hiks sumpah."
"Apa?! Mau alasan apa kamu, dasar bocah tidak tahu aturan!" Ethan yang masih mengusap kepalanya yang berdenyut ikut maju dan menggeleng kesal.
"Kalau bukan kamu, lalu kenapa kamu yang pegang pasangan sepatunya? Lalu nggak ngaku? Dasar tidak tahu sopan santun!"
"Maaf... saya yang sebenarnya melempar sepatu tadi. Tuan-tuan, saya minta maaf sebesar-besarnya. Saya benar-benar tidak sengaja." Nayla tak tega melihat sahabatnya di marahi karena ulahnya.
"Apa?!" Marcus menoleh kaget, begitu juga Ethan yang meremas tangannya—rasanya ingin sekali membalas, namun tangan kirinya sibuk mengusap bagian belakang kepala yang mulai terasa bengkak.
"Nayla? Kok bisa kamu!?!" seru Marcus dengan nada frustrasi. Tak disangka dia bertemu gadis ini di sini, apalagi dalam situasi seperti ini.
"Hei bocil kematian! Kamu sadar tidak apa yang kamu lakukan tadi? Benar-benar tidak tahu sopan santun! Kamu nggak tau apa kalau perbuatanmu itu membahayakan orang lain?"
"Saya minta maaf, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja... hiks, maafkan saya sekali lagi." Nayla membungkuk berkali-kali ke arah Ethan.
Matanya sudah berkaca-kaca, belum pernah dia merasa setakut ini menghadapi orang asing. Wajah pria itu yang merah padam terlihat jauh lebih mengerikan daripada saat bang Denis sedang marah besar.
"Cih, enak saja bilang maaf begitu saja. Sekarang kamu harus bertanggung jawab! Tidak semudah itu sekadar minta maaf, dasar bocah gila!"
"Bang Ethan, dia tidak sengaja... sudahlah, jangan dimarahi terus."
"Diam, Marcus! Ini urusanku dengan bocah ini! Kepalaku sakit, dia harus tanggung jawab!" Ethan masih murka berapi-api.
Marcus yang tadi mencoba menengahi langsung mundur ketakutan, lalu melirik pak Hariyanto yang ada di sampingnya.
"Pak Ethan, apakah Bapak terluka? Sebaiknya kita obati dulu, atau langsung ke dokter saja."
"Benar bang, kita ke dokter saja. Kepala Kamu harus segera diperiksa." Pak Hariyanto ikut mencoba melerai pertengkaran itu. Dia menoleh ke sekeliling, tempat itu kini makin ramai karena suara murka atasannya menarik perhatian pengunjung lain.