Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.
Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.
Awalnya hanya kontrak.
Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hubungan yang berakhir
Plak!
Satu tamparan keras hadir dari Aurelia dan menyebabkan kepala Adriant tertoleh kesamping. Tubuh Aurelia bergetar dengan dada yang sangat terasa sesak. Ia menatap Adriant yang kini diam seraya menatapnya.
Adriant mematung seakan tidak percaya apa yang telah dilakukan Aurelia baru saja. Dada pria itu terlihat bergemuruh, otaknya seakan berpikir keras apakah ini nyata atau khayalan semata.
Keheningan tercipta. Air mata Aurelia jatuh membasahi pipinya, ia masih duduk tak berdaya di lantai, lalu matanya menangkap sosok wanita yang baru saja keluar dari kamar Adriant setelah mengenakan pakaian.
Aurelia memalingkan wajahnya, ia tidak sudi menatap wanita itu sedetikpun. Tubuh wanita itu melewati mereka dan bergerak keluar dari ruangan.
Sesaat setelah suara pintu terdengar tertutup. Aurelia mengusap air matanya kasar lalu beranjak berdiri. Matanya menatap tajam ke arah Adriant yang juga ikut berdiri.
"Kenapa?" Aurelia tersenyum getir.
"Kaget karena aku nampar kamu?" Ia menjatuhkan tasnya ke lantai. Kakinya mulai berjalan ke arah sofa meski dengan lutut yang masih bergetar lalu menatap sofa yang basah itu dengan ekspresi jijik.
Kakinya berjalan memutari sofa lalu berhenti di hadapan Adriant seraya menyilangkan kedua tangannya.
"Aku kesini buat minta kepastian lagi." Aurelia terdiam sesaat, menghela napas berat, lalu melangkah lagi mendekati Adriant.
"Tapi aku sudah mengetahui jawabannya." Aurelia tertawa kecil dengan jemari yang mulai menyisir rambutnya ke belakang.
Adriant maju satu langkah, ia bersiap membuka mulut namun jari telunjuk Aurelia jatuh di bibirnya, ia menghentikan Adriant yang akan berbicara.
"Dari dulu kamu yang selalu banyak bicara...." Aurelia menurunkan jari telunjuknya.
"Kamu yang selalu banyak tingkah, bahkan sampai saat ini." Ucap Aurelia seraya menaikkan dagunya.
Matanya beralih menatap langit-langit ruangan dengan berkaca-kaca. Kakinya melangkah perlahan menuju pot bunga dan mengambilnya. Ia menghirup aroma bunga itu lalu kembali menatap Adriant.
"Aku bukan menangis karena kamu yang berkali-kali menyakiti aku..." Aurelia tertawa hambar dengan mata yang menatap bunga itu.
"Aku cuma kecewa sama diri aku sendiri, kenapa jadi perempuan bodoh yang mau sama pria seperti kamu!"
Prang!
Suaranya menggema dalam ruangan hingga pecahan pot bunga itu berhamburan di lantai. Aurelia melipat bibirnya ke dalam dan kembali mengeluarkan air mata.
Ia meraup wajahnya kasar.
Rahang Adriant terlihat mengeras, pria itu mulai melangkah mendekati Aurelia.
"Jangan mendekat!" Suara Aurelia naik dua oktaf, tangannya menahan tubuh Adriant.
"Sayang, kamu cuma lagi capek."
"Aku tahu kamu nggak sengaja ngomong kayak gitu. Gak masalah sayang." Tangan Adriant berusaha meraih tubuh Aurelia kedalam pelukannya.
Namun Aurelia menghempaskan tangan Adriant kasar dan mendorong tubuhnya hingga mundur ke belakang.
"Aku ngomong dengan sadar, Adriant." Napas Aurelia memburu dengan kedua tangan yang terkepal erat.
"Selama ini aku nggak pernah tahu apa arti kasih sayang. Aku nggak tahu apa itu cinta...."
"Yang aku tahu.... Aku cuma selalu mengalah dan memaklumi semua sifat kamu." Aurelia memukuli dada Adriant kencang.
Adriant menggelengkan kepalanya kecil. "Aku minta maaf sayang." Dia meraih tubuh Aurelia dan mengelus surainya lembut.
Plak!
Tamparan Aurelia kembali mendarat lagi di pipi Adriant. Tapi rautnya tidak terlihat merasa bersalah, Aurelia justru tersenyum tipis.
Kepalanya sedikit berpaling akibat tamparan Aurelia. Namun, pria itu tidak langsung bereaksi. Beberapa detik berlalu begitu saja, seolah pikirannya masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.
"Kamu nggak pernah lakuin itu sebelumnya." Adriant hanya berdiam diri.
Sesaat kemudian Aurelia kembali tertawa kecil.
"Kenapa? Kamu kaget?" Bahkan Aurelia tidak menyangka hal itu akan ia lakukan, itu terjadi begitu saja sebagai luapan emosi yang selama ini ia pendam. Sekarang, Aurelia tidak ingin mengalah untuk yang kesekian kali.
Adriant tidak akan diam begitu saja, ia akan berusaha membujuk Aurelia lagi. "Aku sudah meminta maaf." Ekspresi wajahnya seolah menunjukkan kalau ia benar-benar mengakui kesalahannya.
"Berapa kali?" Potong Aurelia dengan cepat.
"Berapa kali kamu meminta maaf dan terus mengulanginya?" Jari telunjuknya melayang tepat di wajah Adriant.
Adriant menunjukkan raut penyesalan, ia maju satu langkah dan berusaha menggapai tangan Aurelia yang terus menghindar. "Aku benar-benar minta maaf kali ini." ucapnya pelan.
Aurelia menatap Adriant, wanita itu terdiam untuk sesaat. Matanya memperhatikan setiap gerakan kecil yang di lakukan Adriant padanya. Selama ini, dirinya hanya tertipu oleh kata-kata dan sentuhan manis Adriant. Ia tidak pernah menyadari bahwa dirinya telah di perbudak oleh cinta pria di hadapannya.
"Aku memaafkanmu." Ucap Aurelia datar, tubuhnya masih berdiri diam dan membiarkan Adriant menyentuh tangannya.
Adriant tersenyum lebar sembari mencium punggung tangan Aurelia berulangkali. Lalu beralih akan memeluk wanita itu. Namun, Aurelia lebih dulu mundur dan menahan tubuh Adriant.
"Tapi bukan berarti aku setuju untuk melanjutkan hubungan ini."
Keheningan tercipta begitu saja. Adriant tidak memberikan reaksi apapun. Pria itu terlihat beku tanpa suara. Sesaat kemudian, ia maju selangkah dan menatap Aurelia lekat.
"Kamu serius mengucapkannya kalimat itu?" Adriant lebih tidak menyangka lagi ketika mendengar ucapan Aurelia. Baginya, Aurelia adalah perempuan polos yang selalu memakai kesalahannya. Ia terlalu penyabar, sayang sekali jika Adriant harus kehilangan wanita seperti itu.
Aurel tersenyum tipis, "tentu saja. Kenapa tidak?" Wanita itu mengangkat dagunya. Kedua tangannya menahan dada Adriant agar tidak mendekat ke arahnya.
Adriant menggelengkan kepalanya kecil. Ia tertawa hambar lalu mundur selangkah, tubuhnya bergerak tak karuan, sesekali tangannya meraup wajahnya dengan kasar.
"Kamu yakin?" Tanya Adriant untuk meyakinkan dirinya sendiri. Sangat tidak mungkin seorang Aurelia mengucapkan kalimat itu.
"IYA." Aurelia berteriak dengan kedua tangan yang terkepal erat.
"AKU MEMUTUSKAN HUBUNGAN INI." Sesaat, Aurelia menghentikan kalimatnya. Wanita itu menatap Adriant dengan napas yang memburu.
"SEKARANG. TANPA ADA KERAGUAN LAGI."
Adriant terdiam untuk sesaat. Namun tawa lepas keluar dari mulut baru saja.
"Kamu pikir kamu wanita pintar?" Tatapan penuh permohonan kini berubah dingin. Adriant menatap Aurelia dengan mata yang menyala menahan amarah.
"Kamu pikir aku akan mempertahankan wanita angkuh sepertimu?" Adriant mengeraskan rahangnya hingga urat-urat lehernya begitu kentara.
"Kamu adalah wanita membosankan yang mau saja aku bodohi." Ucap Adriant tanpa berpikir panjang. Ia tidak mau harga dirinya di injak oleh Aurelia. Tidak ada lagi rayuan dan perlakuan lembut yang akan dia tunjukan sekarang.
Aurelia terdiam, ia mendengar dengan jelas semua ucapan yang keluar dari mulut Adriant tanpa berniat menyela. Ia ingin tahu, perasaan Adriant selama ini padanya.
"Wanita yang pura-pura jual mahal." Adriant melanjutkan ucapan lagi.
"Apa kamu pikir selama ini aku mencintaimu?" Sorot mata Adriant tajam. Pandangan mereka beradu dalam suasana yang begitu dingin.
Adriant meludah ke samping. "Aku hanya mengasihani dirimu..." ia berkacak pinggang, kemejanya yang terbuka bergerak tertiup angin.
"Wanita malang yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang siapapun."
Aurelia masih diam. Tapi kalimat-kalimat yang baru saja ia dengar mampu membuat dadanya seakan di hantam gelombang bertubi-tubi. Matanya menatap Adriant dengan berkaca-kaca. Pikirannya mulai dipenuhi oleh banyak kalimat menyakitkan.
Adriant memandang remeh Aurelia. "Apa kamu terkejut?" tubuhnya mundur ke belakang lalu duduk di sofa tanpa menoleh sedikitpun.
Tubuh Aurelia lemas seketika. Ia kemudian tertawa kecil.
"Wanita malang yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang siapapun." Ia mengulangi kalimat yang di ucapkan Adriant barusan dengan suara tercekat. Pandangan matanya kosong tapi pikiran sudah jauh berkelana.
"Terimakasih Adriant." Matanya beralih menatap Adriant datar seraya melonggarkan kepalan tangannya.
"Karena kamu sudah mau aku repotkan." Air mata itu jatuh tanpa diminta. Telapak tangannya buru-buru menghapusnya dengan kasar.
"Kamu sudah membuat aku merasa di sayangi dan cintai..." Ia menggantung kalimatnya. Suara itu semakin terdengar lemah.
".... meskipun itu hanya pura-pura." Ia tidak bisa lagi menahan air mata yang jatuh semakin deras. Tangannya beralih meremat dadanya yang semakin sesak, seolah ia lupa cara bernapas yang benar.
Adriant hanya terdiam dengan tubuh yang bersandar di sofa seraya memperhatikan setiap Aurelia.
Aurelia mengangkat wajahnya dan menatap seisi ruangan. Sorot matanya berhenti pada sebuah foto yang menempel di dinding. Kakinya berjalan perlahan, ia berhenti tepat dihadapan foto itu. Jemarinya bergerak meraba gambar dirinya yang sedang tertawa lepas bersama Adriant di pinggir pantai.
Ia menghentikan jemarinya sesaat. Beralih memegang bingkai foto itu dengan erat. Ia terdiam beberapa detik lalu melemparnya sembarang arah hingga serpihan kaca berserakan di lantai.
Aurel tersenyum getir lalu berbalik menghadap Adriant lagi. Kakinya perlahan bergerak dan berhenti untuk berjongkok dan mengambil tasnya. Ia menenteng tas itu lalu bergerak mengambil cincin di jari manisnya.
Matanya menatap cincin itu seolah sedang berputar kenangan indah yang pernah ia lewati selama ini. Namun, ia tersadar akan kenyataan dan melempar cincin itu tepat di tubuh Adriant.
"Kita akhiri hubungan ini sekarang."
Aurelia menatap Adriant yang menangkap cincin itu.
"Selamat bersenang-senang dengan wanita murahan yang selama ini kamu sembunyikan."
Aurelia menahan napas dan menghembuskannya perlahan. Kemudian, menatap tepat pada bola mata Adriant yang juga menatapnya.
"Aku akan segera melupakan kenangan bersama pria bajingan sepertimu."
Adriant menggeram.
Tapi sebelum ia sempat beranjak, Aurelia lebih dulu berjalan dan keluar dari sana.