Seratus tahun silam, seorang pendekar mengguncang langit lalu lenyap meninggalkan pesan legendaris.
Kini, Yuse Yattama yang bercita-cita jadi pendekar menemukan buku misterius Janma Manunggal. Tanpa sadar ia menyerahkannya kepada Cindy Gulla dari Kerajaan Paripurna, dan hal itu menjadi awal petualangan besar.
Bersama Yamaika Brisa, mereka harus menghadapi kekuatan langit dan rahasia kuno yang bangkit kembali. Akankah Yuse mampu mengikuti jejak sang legenda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. S. Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deklarasi puncak gunung
Suatu sore yang hangat, keheningan di pinggiran desa TIBA TIBA PECAH.
SREK... TAK! TAK! TAK!
Itu adalah derap langkah yang tergesa-gesa namun penuh energi. Seorang bocah laki-laki berusia sebelas tahun berlari membelah kerumunan warga. Wajahnya yang polos tampak begitu riang, sama sekali tidak peduli pada pandangan heran orang-orang yang menoleh ke arahnya.
Tujuannya hanya satu: hutan di kaki gunung.
Napasnya mulai memburu dan terengah-engah, namun ia terus memacu kakinya menanjak ke atas. Keringat bercucuran membasahi baju lusuhnya, menetes melewati pipi yang memerah karena kelelahan. Namun langkahnya tak pernah melambat sedikit pun. Semangat yang membakar dadanya jauh lebih kuat daripada rasa lelah yang menyerang seluruh tubuhnya.
Begitu sampai di puncak bukit yang menghadap langsung ke hamparan dunia luar, ia berhenti. Menghirup udara segar sebanyak-banyaknya, mengisi paru-parunya yang terasa panas. Sambil mendongak menatap langit jingga sore itu, ia berteriak sekuat tenaga.
“Namaku Yuse Yattama! Aku akan menjadi ksatria nomor satu di dunia!”
Suaranya menggema memantul di antara pepohonan dan tebing, terbawa angin seolah sampai ke telinga langit. Teriakan itu bukanlah sekadar bualan anak kecil. Sepanjang sore ini, bayangan kejadian tadi siang terus menari-nari di kepalanya. Di pusat kota Kerajaan Palipurna, Yuse melihatnya dengan mata kepala sendiri—sosok yang membuatnya terkesima sampai tak bisa berpaling.
Itu adalah Jenderal Aloska, ksatria terkuat nomor satu di kerajaan.
Badannya kekar tegap bagai batu karang, mengenakan zirah besi yang berkilau keemasan diterpa sinar matahari. Di medan perang, namanya sudah menjadi legenda hidup yang ditakuti semua musuh, dijuluki sebagai “Sanca Maut”. Tatapan matanya tajam, gerakannya penuh wibawa, membuat siapa saja yang melihatnya merasa kecil namun kagum seketika.
Kehadiran sang jenderal telah menyalakan api besar di dalam jiwa kecil Yuse.
Wajar saja kalau anak seusianya punya mimpi besar. Tapi berbeda dengan teman-temannya yang mimpi mudah luntur berganti hari, Yuse lain daripada yang lain. Sore itu, di puncak bukit yang sunyi, dengan tekad yang kokoh dan senyum polos yang mengembang lebar di wajahnya, Yuse Yattama baru saja mengunci takdirnya sendiri.
Terang perlahan berubah menjadi malam. Angin berembus kencang, membuat Yuse memeluk tubuhnya sendiri.
“Dingin…” gumamnya.
Dia nggak mau sakit lagi. Jadi tanpa banyak pikir, Yuse berbalik dan berlari pulang.
Sesampainya di rumah, langkahnya terhenti.
Di depan pintu, ada seorang tamu. Seorang wanita asing duduk bersama ibunya, Cyena.
Yuse langsung masuk tanpa ragu.
“Ibu! Aku pulang!” serunya.
Cyena menoleh, wajahnya langsung melunak. Dia membuka kedua tangan.
“Akhirnya pulang. Ke mana aja kamu? Baju kamu kotor semua!”
Sambil bicara, Cyena mengacak pelan rambut Yuse yang berantakan.
Yuse nyengir lebar.
“Tadi aku ketemu Jenderal Aloska, Bu! Keren banget dia!”
Cyena tertawa kecil mendengar itu.
“Sudah-sudah, sana mandi dulu. Nanti cerita sambil makan.”
Yuse mengangguk semangat. Dia terlalu keburu senang buat nanya siapa wanita di samping ibunya.
Setelah mandi dan ganti baju bersih, dia dipanggil lagi ke ruang tengah.
“Nah, sini Yuse,” kata Cyena sambil menepuk tempat di sampingnya.
“Ini Bibi Liana. Mulai sekarang panggil dia Bibi ya.”
Yuse menatap wanita itu bingung. Wajahnya masih muda, palingan 22 tahun. Cantik, rambutnya panjang diikat kuda.
‘Kenapa harus aku panggil bibi?’ batinnya.
Dia menoleh ke ibunya, alisnya naik.
“Bu... kenapa dia harus aku panggil bibi?”
Cyena mencondongkan tubuh dan berbisik pelan di telinga Yuse.
“Dia seumuran sama Ibu.”
“MASA?!”
Yuse hampir teriak. Matanya membulat kaget.
‘Ibu kan udah kepala tiga. Tapi Bibi Liana kelihatan kayak kakak kakak sekolah!’
Sebelum Yuse bisa berkomentar lagi, Cyena sudah melanjutkan dengan bangga.
“Bibi Liana itu hebat loh. Dia pendekar wanita nomor satu di desa ini. Pernah ngusir bandit sendirian tanpa bantuan siapa-siapa.”
Mata Yuse langsung berbinar.
‘Pendekar wanita nomor satu?!’
Tanpa mikir panjang, dia langsung berlutut di depan Liana.
“Bibi! Ajarin aku jadi kuat! Jadikan aku murid Bibi!”
Liana tersentak kaget. Dia melirik Cyena cepat.
“Cyena, jangan bilang hal aneh ke anak ini!”
Cyena hanya tersenyum lirih, menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berbinar geli melihat semangat anaknya.
Yuse nggak peduli. Dia masih menatap Liana dengan mata berapi-api, tangannya menggenggam erat ujung baju Liana.
“### Tolong, Bibi! Aku mau jadi ksatria nomor satu! Ajarin aku!”
Liana belum sempat menjawab. Tiba-tiba Cyena berdiri dan menepuk pelan pundak Yuse.
“Sudah, Yuse. Sana makan dulu. Nanti keburu dingin.”
Wajah Yuse langsung cemberut. Tapi matanya tetap nggak lepas dari Liana.
“Aku nggak mau pergi sebelum Bibi Liana jawab!”
Cyena menghela napas pelan, tapi sudut bibirnya ketarik senyum.
“Nanti Ibu marah loh. Cepat makan.”
Yuse menggerutu pelan, pipinya menggelembung. Tapi akhirnya dia menyerah dan berjalan pelan ke dapur, kepalanya tertunduk.
Meski begitu, wajah polosnya yang penuh kecewa itu malah bikin Cyena tertawa kecil.
Liana memperhatikan semua itu, lalu bertanya pelan.
“Dia kenapa tiba-tiba kayak gini?”
Cyena duduk kembali di samping Liana, suaranya lembut.
“Dari umur tujuh tahun dia udah suka main pedang kayu. Entah kenapa. Mungkin kebawa ayahnya…”
“Begitu ya,” gumam Liana pelan, matanya melirik ke arah dapur.
Nggak lama, suara Yuse terdengar dari dapur.
“Mama! Aku udah habis makannya!”
Dia berlari kembali ke ruang tengah, matanya berbinar lagi.
“Bibi! Bibi! Jadi mau kan jadi guruku?”
Dia tersenyum lebar, penuh harap.
Liana menghela napas. Dia berjongkok supaya sejajar dengan mata Yuse.
“Yuse… sebenarnya kenapa kamu mau jadi pendekar nomor satu?”
Yuse terdiam. Alisnya mengerut bingung.
“Haaa…?”
Liana melanjutkan dengan sabar.
“Kamu mau jadi raja? Mau jadi prajurit buat melindungi negara? Atau ada alasan lain?”
Yuse menggaruk kepalanya.
“Ng… nggak kepikiran sampai situ, Bib.”
Jawaban polos itu bikin Liana terdiam sesaat. Dia kaget sekaligus bingung.
Anak ini mau jadi pendekar, tapi nggak tahu alasannya?
Liana menatap dalam-dalam mata Yuse. Di sana cuma ada satu hal: harapan yang murni, tanpa tipu-tipu.
Akhirnya dia menghela napas pelan.
“Baiklah… kalau begitu kamu ikut Bibi ke padepokan. Tapi ingat, kamu bakal jauh dari ibumu.”
Mendengar itu, Yuse langsung menoleh ke ibunya.
Cyena hanya tersenyum lembut, mengangguk pelan. Seolah berkata, _“Ibu dukung kamu.”_
Yuse berdiri tegak, dadanya membusung.
“Aku mau! Aku bakal tetap jadi pendekar! Apapun alasannya, aku bakal jadi pendekar!”
Suara semangatnya menggema di ruangan kecil itu.
Untuk pertama kalinya, langkah Yuse menuju mimpinya dimulai.