NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Tidak Berniat Baik, Tapi Jantungku Berdegup Kencang

Ia menatapku lebih lama dari yang seharusnya.

Bukan tatapan biasa—bukan pandangan seorang anak laki-laki yang baru pertama kali melihat seorang gadis. Tatapannya terasa tajam, seolah sedang memeriksa dan mencocokkan satu per satu informasi yang tersimpan di dalam ingatannya. Persis seperti seorang detektif yang baru saja menemukan petunjuk penting yang selama ini dicari-cari.

Maka, aku memutuskan untuk bersikap sebaliknya. Aku tersenyum—senyum yang terlihat biasa saja, manis, dan terkesan ramah. Persis seperti yang diharapkan dari seorang gadis SMP yang polos dan tidak tahu apa-apa.

“Halo,” sapaku, sengaja membuat nada suaraku terdengar sedikit lebih tinggi dan ceria. “Kamu terlihat asing di sini. Apakah kamu murid pindahan?”

Ia mengedipkan mata beberapa kali, seolah sedang mempertimbangkan jawabannya. Setelah hening sejenak, ia menjawab, “Benar. Aku pindahan dari Surabaya.”

Bohong.

Di kehidupan sebelumnya, ia bukanlah murid pindahan. Ia sudah tinggal di Jakarta sejak lahir. Namun, ia selalu menjaga jarak dan lebih sering menjadi sosok yang tidak terlalu terlihat, bagaikan bayangan di balik keramaian. Aku tidak tahu alasan pastinya, tapi aku yakin ada maksud tersembunyi di balik kebohongannya itu.

“Wah, dari Surabaya? Itu cukup jauh, ya,” sahutku sambil mengangguk-angguk, berpura-pura antusias. “Perkenalkan, namaku Nayla. Aku di kelas 1C. Kalau boleh tahu, siapa namamu?”

“Rasya.” Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragam. Gerakannya terlihat santai, namun sorot matanya tetap waspada, tidak pernah benar-benar lengah. “Aku di kelas 1A.”

“Wah, berarti kamu masuk kelas unggulan, ya?” Aku menepuk pundaknya dengan ringan—tindakan yang cukup berani mengingat kami baru saja berkenalan. “Semangat ya sekolahnya. Kalau nanti butuh teman atau bantuan apa pun, kamu bisa cari aku.”

Tanpa menunggu jawaban darinya, aku langsung berbalik badan dan melangkah menuju arah kelasku. Namun, aku bisa merasakan pandangannya masih tertuju padaku, terasa menyengat di punggungku.

Di dalam hati, aku tersenyum kecil.

Rasya, ya? Di kehidupan sebelumnya, nama panggilannya adalah Aldo. Entah apa alasannya mengubah nama itu sekarang. Tidak masalah. Lambat laun, aku pasti akan menemukan jawabannya.

---

Satu Jam Kemudian…

Upacara pengibaran bendera pun selesai. Kami berbaris rapi dan berjalan menuju kelas masing-masing.

Kelas 1C terletak di lantai dua gedung, persis di seberang tangga yang menuju ke kelas 1A. Posisi yang cukup strategis jika aku ingin mengamati keadaan di sana kapan saja.

Aku duduk di bangku ketiga dari depan, tepat di samping jendela. Di sebelahku, ada seorang gadis dengan poni tebal dan kacamata bundar yang sedang asyik menggambar di atas buku tulisnya. Ia tampak sangat fokus hingga tidak menyadari kehadiranku di sampingnya.

“Hai,” sapaku memecah keheningan.

Ia mengangkat wajah dengan terkejut. Matanya tampak membesar di balik lensa kacamatanya. “Eh, hai… maaf, kamu siapa ya?”

“Aku Nayla. Kita satu kelas, dan kebetulan duduk bersebelahan, lho,” jelasku ramah.

“Oalah, begitu. Maaf ya, tadi aku kurang memperhatikan. Namaku Sasha,” jawabnya sambil tersenyum canggung.

“Senang berkenalan denganmu, Sasha.” Aku mengulurkan tangan kananku. Sasha menerimanya dengan gerakan yang sedikit ragu.

Sasha… Aku masih mengingatnya dengan jelas. Di kehidupan sebelumnya, ia hanyalah sosok yang tidak terlalu menonjol—anak pendiam yang lebih sering menyendiri di sudut kelas, jarang bergaul, dan hampir tidak pernah diajak bicara oleh siapa pun. Termasuk oleh diriku sendiri saat itu.

Namun, kini aku mengetahui satu hal penting yang tidak kusadari dulu: Sasha adalah salah satu orang yang paling setia yang pernah ada. Di masa laluku, ketika aku difitnah habis-habisan dan semua orang membuangku seolah aku adalah sampah, justru Sasha satu-satunya yang tidak berpaling. Ia bahkan sempat mengirimkan surat kepadaku saat aku mendekam di penjara. Surat itu singkat, hanya berisi dua kalimat sederhana:

“Aku percaya padamu. Aku tahu kau tidak bersalah.”

Saat itu, kata-kata itu hampir membuatku menangis. Namun, di kehidupan sebelumnya, aku terlalu gengsi dan sombong hingga tidak sempat membalas suratnya.

“Kita pasti akan menjadi teman yang baik, Sasha,” ucapku tiba-tiba dengan nada yang tulus.

Sasha mengedipkan matanya beberapa kali, tampak bingung. “Eh? Maksudnya bagaimana?”

“Aku hanya punya firasat begitu saja,” jawabku sambil tersenyum misterius. “Kamu orangnya terlihat menyenangkan.”

Wajah Sasha memerah karena tersipu. “A-aku ini orangnya biasa saja kok…”

“Justru itu yang membuatnya istimewa,” balasku lembut.

Sebelum Sasha sempat menjawab, bel tanda masuk berbunyi nyaring. Seorang guru dengan kumis tebal melangkah masuk ke dalam kelas—ia adalah Pak Rahmat, guru mata pelajaran Matematika yang terkenal sangat tegas dan disegani oleh seluruh siswa.

“Selamat pagi, anak-anak!” sapa Pak Rahmat dengan suara lantang.

“Selamat pagi, Pak Rahmat!” jawab kami serempak.

“Baiklah, sebelum kita mulai pelajaran hari ini, perhatikan pengumuman ini dulu.” Ia berbalik menghadap papan tulis. “Minggu depan akan diadakan ulangan harian. Siapa pun yang nilainya di bawah tujuh puluh, wajib mengikuti perbaikan nilai.”

Aku menghela napas pelan. Matematika… Di kehidupan sebelumnya, aku cukup menguasai pelajaran ini. Namun, setelah tidak memegang rumus-rumus hitungan selama lima belas tahun terakhir, apakah ingatanku masih sama tajamnya?

Tapi aku tidak merasa terlalu khawatir. Aku memiliki senjata terkuat yang tidak dimiliki siswa lain: ingatan lengkap dari kehidupan masa laluku.

Aku tahu persis apa yang akan terjadi di masa depan. Aku tahu siapa yang akan jatuh cinta pada siapa, siapa yang akan menusuk temannya dari belakang, siapa yang kelak akan menjadi orang sukses, dan yang paling penting—siapa saja orang yang harus aku hindari sejauh mungkin.

Seperti Vania.

Vania akan masuk ke sekolah ini minggu depan sebagai murid pindahan dari Bandung. Ia memiliki rambut sebahu, mata yang agak sipit, dan senyum yang terlihat sangat manis. Semua orang pasti akan menyukainya, termasuk diriku sendiri di kehidupan sebelumnya.

Namun, di balik penampilan yang menawan itu, Vania memiliki sifat yang sangat berbahaya. Ia bagaikan ular berbisa yang menyamar sebagai sahabat baik.

Pertemuan pertama kami di masa lalu terasa begitu biasa: ia meminjam pulpenku, lalu mengembalikannya dengan ucapan terima kasih yang terdengar tulus. Sejak saat itu, kami mulai berteman, semakin akrab, bahkan pernah menjadi pasangan duet dalam lomba menyanyi antarkelas dan berhasil meraih juara.

Namun, di balik keakraban itu, tersimpan rasa iri yang semakin membesar di hati Vania. Ia iri melihat keluargaku yang hidup berkecukupan, iri mendengar orang-orang memuji kecantikanku, dan iri karena aku sering mendapatkan perhatian dari banyak orang.

Ketika kami tumbuh dewasa, rasa iri itu berubah menjadi kebencian. Ia justru menikah dengan mantan kekasihku—atau lebih tepatnya, mantan suamiku—Andre. Lalu, keduanya bersekongkol untuk menjatuhkan namaku hingga aku hancur.

Andre… Pria yang dulu berjanji akan selalu melindungiku dan setia selamanya, justru menjadi orang yang paling kejam menusukku dari belakang.

“Nayla? Kamu kenapa? Sedang menangis?” tanya Sasha tiba-tiba memecah lamunanku.

Aku tersentak kaget. Secara refleks, tanganku bergerak menyentuh pipi, dan ternyata kulitnya terasa basah.

Ah, ternyata air mataku menetes tanpa kusadari.

“Tidak, tidak apa-apa,” jawabku cepat sambil mengusapnya dengan kasar. “Hanya ada debu yang masuk ke mata saja.”

Sasha menatapku dengan pandangan yang tidak sepenuhnya percaya, namun ia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut.

Untunglah ia mengerti.

---

Jam Istirahat

Kantin SMP Negeri 7 Jakarta memiliki ukuran yang cukup luas, dilengkapi meja panjang dari kayu dan bangku plastik berwarna-warni. Di udara tercium bau khas perpaduan antara mi goreng yang sedang dimasak, sate usus yang dibakar, serta kesegaran es teh manis—aroma yang begitu sederhana namun terasa sangat akrab di ingatanku.

Aku membeli satu porsi mi goreng dan segelas es jeruk, lalu mulai memandangi sekeliling mencari tempat duduk. Di sudut ruangan, tepat di dekat tiang listrik, mataku menangkap sosok yang sedang aku cari.

Rasya.

Ia duduk sendirian di bangku paling ujung, dengan sebuah buku bacaan bersampul biru tipis di tangannya. Tidak ada teman yang duduk di dekatnya. Sesekali matanya melirik ke arah keramaian di sekitarnya, namun raut wajahnya tetap datar dan dingin. Seolah ia bukan bagian dari keramaian itu, melainkan hanya pengamat yang sedang mencatat setiap gerak-gerik orang lain.

Aku pun melangkah mendekatinya.

“Halo, bolehkah aku duduk di sini?” tanyaku sopan.

Ia mengangkat wajah, menatapku sejenak dalam diam, lalu menjawab singkat, “Boleh.”

Aku duduk tepat di hadapannya, lalu meletakkan makanan dan minumanku di atas meja. “Kamu sendirian saja? Kenapa tidak duduk bersama teman-teman sekelasmu?”

“Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa,” jawabnya singkat sambil kembali menunduk membaca bukunya.

“Berarti kamu tipe orang yang lebih suka menyendiri, ya?”

“Ya.”

“Tapi di Surabaya, pasti kamu punya banyak teman, kan?” tanyaku lagi dengan nada santai, seolah hanya ingin berbasa-basi, padahal sedang berusaha menggali kebenaran.

Ia tidak menjawab sepatah kata pun. Tangannya yang memegang buku tetap diam tidak bergerak, namun aku bisa melihat rahangnya mengeras sedikit.

Benar, ini adalah titik yang sensitif baginya.

“Maaf ya kalau aku terlalu banyak bertanya,” ucapku sambil tersenyum tipis. “Aku hanya merasa sedikit penasaran saja. Entah kenapa… aku merasa seolah pernah melihatmu sebelumnya, di suatu tempat.”

Kalimat terakhir itu aku ucapkan dengan tenang, namun terasa seperti melempar sebuah bom waktu di antara kami.

Dua detik berlalu. Lima detik.

Ia perlahan menutup bukunya, lalu menatapku tepat di mata dengan pandangan yang dalam dan tajam. “Kamu merasa pernah melihatku?”

“Rasanya agak aneh, bukan?” Aku mulai menyendok mi dan memakannya dengan tenang. “Seperti perasaan déjà vu. Tapi jangan khawatir, aku bukan orang aneh yang suka menguntit orang lain.”

Ia tidak tertawa mendengar leluconku. Sebaliknya, sudut bibirnya sedikit terangkat—bukan membentuk senyum yang ramah, melainkan ekspresi yang terdengar seperti sedang mengejek.

“Atau bisa jadi… kamu memang benar-benar pernah melihatku,” ucapnya pelan namun jelas. “Hanya saja, itu terjadi di kehidupan yang lain.”

Tanganku yang sedang mengunyah makanan berhenti seketika.

Sial.

Ia tahu. Ia sadar bahwa aku pun memiliki ingatan dari masa lalu. Ia sengaja memancing pembicaraan ini, bahkan berani mengungkapkannya secara samar agar aku menyadarinya.

“Kamu ini orang yang aneh,” kataku akhirnya, berusaha tetap tenang.

“Kamu juga sama,” balasnya cepat.

Selama beberapa detik, kami hanya saling bertatapan. Di tengah hiruk-pikuk kantin yang riuh dengan tawa dan obrolan siswa, serta bau masakan yang menyelimuti ruangan—terasa seolah ada lapisan tembok tak kasat mata yang memisahkan kami dari dunia luar.

“Baiklah,” kataku sambil menghela napas panjang dan meletakkan sendok. “Aku tidak akan berputar-putar lagi. Kamu juga terlahir kembali, bukan?”

Suasana kembali hening sejenak.

“Ya.”

Hanya satu kata, namun terasa sekuat ledakan yang mengguncang seluruh kesadaranku.

“Sejak kapan kamu sadar?” tanyaku segera.

“Sejak aku membuka mata di rumah sakit, tepat lima belas tahun yang lalu.” Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Tubuh ini baru saja lahir saat itu. Aku menangis bukan karena merasa bahagia, tapi justru karena ingatan yang menyakitkan itu langsung kembali seketika. Semuanya aku ingat dengan sangat jelas.”

Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungku yang mulai berpacu.

“Kalau begitu… apakah kamu tahu tentang diriku?”

“Aku tahu.”

“Tentang Vania?”

“Aku tahu.”

“Dan Andre?”

Saat nama itu disebut, sorot matanya berubah menjadi jauh lebih dingin dan tajam dari sebelumnya. “Tentang dia, aku paling tahu banyak halnya.”

Aku menelan ludah dengan susah payah. “Lalu… siapa kamu sebenarnya di kehidupan sebelumnya? Kenapa selama ini aku tidak pernah melihat atau mengenalmu sama sekali?”

Ia menundukkan kepala, lalu membuka kembali bukunya seolah ingin menghindari pertanyaanku. “Itu bukan hal yang penting untuk dibahas.”

“Tentu saja itu penting!” seruku pelan namun tegas.

“Aku bukan sosok yang cukup berharga untuk kau ingat, Nayla,” ucapnya sambil berdiri, mengambil buku dan botol minumannya. “Tapi ada satu hal yang harus kau ingat: jangan pernah percaya kepada siapa pun. Termasuk aku.”

Ia berbalik badan dan mulai melangkah pergi.

“Tunggu sebentar!” panggilku.

Namun, ia tidak berhenti atau menoleh sedikit pun.

Aku hanya bisa duduk termenung, dengan mi goreng yang mulai terasa dingin dan es jeruk yang sudah meleleh, sementara jantungku berdebar kencang dengan perasaan yang campur aduk.

Jadi, ia juga terlahir kembali. Ia mengetahui seluruh kejadian yang akan terjadi. Namun, mengapa ia tidak pernah muncul dalam kehidupanku di masa lalu? Siapa sebenarnya sosoknya?

Dan yang paling membuatku bingung—mengapa, di saat yang tidak tepat dan di tempat yang tidak seharusnya, jantungku justru berdebar kencang setiap kali pandangan kami bertemu?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!