Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.
"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."
MENANTU IBU 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Tidak Ada Kesempatan Kedua
Sebagai menantu yang baik, Tya menyambut kedatangan Hilman dengan bertanya kabar dan mencium tangan penuh takzim. Lama tak berjumpa ada yang berbeda dari penampilan bapak mertuanya itu. Tak menyangka dirinya mendapat usapan di kepala dan lemparan senyum yang tak selaras dengan ekspresi wajah—suram dan lesu.
"Diaz ke kantor?"
"Iya, Ayah."
"Kalau Ibu ada, kan?"
"Ada, Yah. Sebentar aku panggilkan Ibu dulu." Tya memang diperintahkan oleh Suri untuk lebih dulu menyambut pria paruh baya yang kini dianggap tamu. Tak mau menyambut langsung. Karena yang namanya Hilman Kavian sudah berstatus mantan.
"Biar Ayah ke dalam." Hilman merasa keberatan hanya berdiri tertahan di ruang tamu. Ia bukan tamu. Menurut egonya, ia masih bagian dari penghuni rumah ini karena dirinya yang membangun meski sertifikat hak milik sudah diserahkan atas nama Granada Suri. Setiap istrinya diberi hak rumah.
"Duduknya di ruang tamu aja."
Bukan Tya yang menjawab. Tetapi Suri yang muncul dengan tampilan mengenakan jilbab. Untuk beberapa detik, Hilman menatap tanpa kedip pada sang istri pertama yang tampak semakin cantik dan menyejukkan pandangan. Ah, rasanya ingin menghambur memeluk istrinya yang sabar dan tak banyak menuntut itu.
"Hm, aku buatkan minum dulu. Ayah mau minum apa?" Tya merasakan hawa yang berubah tak nyaman begitu menatap sorot tajam ibu mertua di balik ekspresinya yang tenang.
"Kopi gula aren aja, Tya."
"Baik, Ayah."
"Biar Mbak Tuti aja yang bawanya. Tya lanjutin packing barang-barang yang tadi aja sekalian kasih nama ya, sayang."
"Iya, Bu." Tya tentu setuju dengan perintah sang ibu mertua. Tujuan menawarkan minuman juga sebetulnya adalah alasan untuk meninggalkan ruang tamu dengan cara baik. ayah mertua pastinya ingin bicara empat mata.
Dua insan yang dulunya adalah sepasang suami istri itu masih sama-sama berdiri, saling melempar tatapan dengan sorot berbeda makna. Yang satu menyiratkan rindu, yang satu lagi menyiratkan malas bertemu.
"Sepulang umrah, kau makin cantik, Suri."
"To the point aja, ada apa Abang ke sini? Aku baru pulang umrah kemarin, masih capek." Suri lebih dulu duduk di sofa tunggal. Duduk dengan punggung tegak dengan dagu mendongak. Bukan hanya kepercayaan diri yang ditampilkan, tetapi juga karisma.
"Abang masih suamimu ..." Hilman sengaja tidak langsung mengungkit gugatan cerai Suri. Berharap kelembutan sikapnya menjadi awal baik untuk menyentuh hati Suri agar mau rujuk kembali.
"Kita udah cerai, Bang. Abang jangan lupa itu. Pengadilan udah ketok palu. Tinggal nunggu akta cerai terbit. Tidak ada lagi yang meski kita bahas. Semua kesalahanmu udah tertulis dan terekam, suaraku udah diwakili pengacara. Tidak ada kesempatan kedua!"
Hilman mengatupkan bibir. Suri memang seorang wanita yang tegas dalam menentukan sikap, dalam membuat keputusan. Seorang wanita cerdas dan bertangan dingin dalam mengelola bisnis. Teman diskusi yang selalu memberikan solusi. Berbeda dengan Selly yang tak mau ambil pusing urusan bisnis. Istri keduanya punya keahlian lain, yaitu permainan ranjang yang membuatnya mabuk kepayang. Cintya istri ketiga, tentunya daun muda yang bukan hanya cantik tetapi juga semanis madu saat direguk. Bisnis yang besar berbanding lurus dengan tingkat stres yang tinggi. Maka bagi Hilman, pelepasan stres terbaik adalah bercinta dengan beda-beda wanita. Bukan 'jajan' tetapi memajang banyak istri.
Namun, prinsipnya itu mulai diragukan setelah Hilman menandatangani surat cerai. Ada ruang hampa yang menganga. Malah kehilangan gairah bercinta. Itu karena terlepasnya istri pertama.
"Kau mau minta apa, permaisuriku? Akan ku kabulkan asal kita kembali bersama. Kehadiranmu sangat berarti buat ku."
Mual. Itu yang dirasakan Suri sekarang. Bukan isi perut yang ingin dimuntahkan. Akan tetapi kata-kata kasar dan makian yang ingin dimuntahkan dari mulut, sudah menyesak di tenggorokan.
Laki-laki egois, penipu, pengkhianat, pembohong.
Tidak. Suri memilih menelan kembali tumpukan kata bercampur emosi itu. Tetap mempertahankan sikap tenang meski dada bergemuruh marah. Istighfar berulang dalam hati mampu meredam api emosi.
"Aku tidak butuh apa-apa. Aku sangat bersyukur dan bahagia punya Diaz dan Tya, dan lepas dari poligami."
Tak perlu membanggakan dan menyombongkan tentang harta. Bisnisnya dan bisnis sang putra sudah lebih dari cukup untuk dipakai keliling dunia. Namun, Suri adalah wanita yang tak haus validasi. Tak seperti Selly yang setiap belanja dan rekreasi akan dipajang di story.
"Pikirkan ulang, Bu."
"Aku sudah cukup berpikir, Pak Hilman. Hanya Diaz alasan aku bertahan sampai menunggu haknya diberikan. Saran aku, mending didik Boby dan Leony biar jadi anak berguna."
Hilman diam. Helaan napasnya berembus berat. Sama sekali tidak marah saat menyinggung anak-anak Selly yang memang belum tampak bakat menjadi pewaris bisnis.
***
Tya sedang larut menerima telepon dari Diaz yang sebelumnya diberi kabar jika ada Ayah Hilman di rumah. Ia menjawab kekhawatiran sang suami dengan kalimat menenangkan jika di rumah sama sekali tidak ada keributan. Ruang tamu tetap tenang.
"Aku akan suruh Pak Ajat waspada di teras. Prepare aja kalau-kalau Ayah ngamuk karena tidak terima sama keputusan Ibu. Soalnya di dalam rumah kan cewek semua."
"Boleh deh kalau Abey khawatir."
"Ayang posisinya di mana?"
"Deket tangga. Ditemenin Cumi and Luna. Aku juga posisi waspada kok."
Sambungan telepon dengan Diaz berakhir setelah Diaz berucap akan menghubungi Ajat sang sekuriti. Tya memaklumi kecemasan sang suami. Tetapi ia pun bersikap waspada dengan memasang telinga meski sama sekali tidak mendengar percakapan yang sedang berlangsung. Memang tujuannya buat mau menguping. Hanya khawatir terjadi perang mulut dalam tensi tinggi.
Akhirnya, kekhawatiran Tya tidak terbukti setelah mendengar Suri memanggil namanya. Bergegas meninggalkan dua anabul yang rebahan di sisi kakinya. Malah kemudian mengikuti langkahnya setelah menggeliat.
"Ayah Diaz mau pulang, Tya."
Hm ...panggilannya jadi beda ya, Bu.
Tya menghampiri bapak mertua yang ibarat tanaman kurang disiram air—layu kekuningan. Ikut mengantar sampai teras. Ibu mertuanya tentu saja tidak ikut. Langsung pergi meninggalkan ruang tamu.
"Ayah nyetir sendiri atau ada sopir?" tanya Tya setelah mencium tangan Hilman. Pertanyaannya bukan sekadar basa-basi. Itu karena ia tak melihat adanya orang lain selain Ajat yang terperanjat bangun dari duduknya di teras lalu pergi ke arah pos jaga.
"Sama Yandi. Ke mana ya dia?" Hilman menyapukan pandangan ke sekitar pekarangan yang asri dan nyaman tetapi harus ditinggalkan. Ia bukan lagi tuan rumah.
Yang dicari tak lama datang dari arah samping kiri karena Hilman meneleponnya. Kemungkinan habis dari kamar mandi yang biasa digunakan sekurti dan sopir.
"Ayah pergi dulu, Tya."
"Sehat selalu ya, Ayah," sahut Tya setelah mencium tangan sang bapak mertua.
Kalau gini liatnya kasian. Tapi kalau ingat kelakuan Ayah Hilman, ih pengen dicubit ginjalnya. Kemaruk.
Tya menatap langkah lesu Hilman yang berjalan dengan kepala menunduk. Tak sampai menunggu mobil keluar dari pintu gerbang yang sudah dibuka, ia memutar badan menuju pintu. Menutup pintu dengan rapat.
"Ibu, baik-baik saja, kan?" Tya duduk di hadapan Ibu Suri yang tengah memangku Luna si kucing abu. Tangan mengusap-usap tetapi tatapan tampak kosong.
Suri mengerjap. Lantas bibirnya menyunggingkan senyum manis penuh kelembutan. "I'm okay, Tya. Ibu lagi berpikir sambil melamun. Soal bom. Baiknya dilempar kapan ya? Udah nggak sabar lihat si Selly dan anak-anaknya syok."