Lima tahun menikah, Stella merasa hidupnya sempurna bersama Abbas, suami yang penyayang. Kehadiran Annisa—yang diperkenalkan Abbas sebagai adik sepupu yatim piatu—bahkan disambut Stella dengan tangan terbuka layaknya adik kandung sendiri.
Namun, fatamorgana itu hancur saat Stella menemukan slip reservasi hotel di saku jas Abbas. Bukan sekadar perjalanan bisnis, slip itu mencantumkan paket Honeymoon Suite untuk Mr. Abbas & Mrs. Annisa.
Kebenaran pahit terungkap: adik sepupu yang datang ternyata adalah istri siri suaminya selama setahun terakhir. Terjebak dalam pengkhianatan di bawah atap yang sama, Stella harus memilih: bertahan demi janji suci yang telah ternoda, atau pergi demi harga diri saat Annisa mulai menuntut pengakuan sah sebagai istri kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
...Abbas merangkul bahu Stella dengan protektif, menuntunnya keluar dari kamar dengan senyum yang tampak begitu tulus....
...Seolah-olah ketegangan di meja makan tadi hanyalah angin lalu yang sudah ia jinakkan dengan kata-kata manisnya....
...Di lantai bawah, Annisa masih berdiri mematung di dekat meja makan....
...Matanya yang bulat menatap lurus ke arah pasangan suami istri yang turun bersama itu....
..."Nisa," panggil Stella dengan nada yang sudah jauh lebih tenang, meski sisa-sisa ketegasan masih tertinggal di suaranya....
..."Mulai hari ini kamu tinggal di sini. Mas Abbas sudah bicara, dan aku menghargai niatnya membantumu."...
...Annisa mengangguk pelan, kepalanya tertunduk sopan....
..."Terima kasih banyak, Mbak Stella. Saya benar-benar minta maaf atas kelancangan saya tadi."...
..."Sudahlah, yang penting jangan diulangi," sahut Stella pendek....
...Ia kemudian menunjuk ke arah lorong di dekat area dapur....
..."Kamar kamu ada di sana, di kamar belakang. Dekat dengan area cuci. Kamarnya sudah bersih, kamu bisa taruh barang-barangmu di sana sekarang."...
...Mendengar kata "kamar belakang", raut wajah Annisa sempat berubah sesaat. Kamar itu biasanya digunakan untuk asisten rumah tangga atau gudang kecil, jauh dari kemewahan kamar utama di lantai atas....
...Annisa mencengkram erat kedua tangannya di balik lipatan gamisnya....
...Kuku-kukunya memutih karena tekanan emosi yang ia tahan sekuat tenaga....
...Ia merasa terhina ditempatkan di sana, namun sedetik kemudian, ia mengangkat wajahnya dan berpura-pura tersenyum sangat manis, seolah ia sangat bersyukur....
..."Terima kasih, Mbak. Di mana saja asalkan bisa berteduh, Annisa sudah sangat senang," ucapnya dengan suara bergetar yang dibuat-buat agar terdengar haru....
...Stella mengangguk puas, merasa otoritasnya sebagai nyonya rumah kembali tegak....
...Ia berbalik sebentar ke dapur untuk mengambil tas kerja Abbas yang tertinggal....
...Di saat Stella membelakangi mereka, Abbas memanfaatkan celah sempit itu....
...Ia menatap Annisa dengan sorot mata penuh arti yang hanya dimengerti oleh mereka berdua....
...Dengan gerakan sangat cepat dan rahasia, Abbas mengedipkan sebelah matanya ke arah Annisa—sebuah isyarat penenang bahwa posisi Annisa aman dan ia akan segera mengatur segalanya....
...Annisa yang melihat kedipan itu langsung mengendurkan cengkraman tangannya....
...Senyum palsunya kini berubah menjadi senyum rahasia yang penuh kemenangan....
...Ia tahu, di rumah ini, dialah pemegang kendali hati Abbas yang sesungguhnya, meski harus memulai dari kamar belakang....
..."Ayo, Nisa. Kita berangkat sekarang supaya tidak terjebak macet," ajak Abbas sambil meraih kunci mobilnya di atas meja....
...Annisa mengangguk patuh. Ia melangkah mendekati Stella, lalu meraih tangan kakak sepupu "gadungan"-nya itu untuk berpamitan....
..."Annisa berangkat dulu ya, Mbak Stella. Terima kasih sekali lagi sudah mau menampung Annisa di sini."...
...Stella hanya mengangguk kaku. Sebelum mereka benar-benar melangkah keluar, Abbas menarik tubuh Stella ke dalam pelukannya....
...Ia mengecup dahi istrinya dengan lembut, sebuah gestur yang biasanya selalu berhasil membuat Stella merasa dicintai seutuhnya....
..."Aku berangkat ya, Sayang. Jangan terlalu lelah di rumah," bisik Abbas manis....
...Namun, sebelum pelukan itu terlepas, Stella menahan lengan suaminya....
...Matanya menatap Abbas dengan tajam dan penuh penekanan....
..."Mas, satu hal lagi. Soal Annisa, jadikan dia OB saja, jangan sekretaris. Dia harus belajar dari bawah, apalagi dia hanya lulusan SMA. Jangan sampai staf lain curiga kalau kamu pilih kasih."...
...Abbas tertegun sejenak. Rahangnya mengeras, namun ia segera menguasai ekspresinya....
...Dengan senyum terpaksa, ia menganggukkan kepala....
..."Iya, Sayang. Aku atur nanti di kantor. Kamu tenang saja, ya?"...
...Setelah berpamitan, Abbas dan Annisa masuk ke dalam mobil....
...Begitu gerbang rumah mewah itu tertutup dan mobil mulai melaju menjauh dari pandangan Stella, suasana di dalam kabin mobil langsung berubah drastis....
...Keheningan yang dingin menyelimuti mereka selama beberapa saat, sampai akhirnya Annisa meledak....
..."Gila! Mas, aku tidak mau di kamar itu!" seru Annisa sambil memukul dashboard mobil dengan kesal....
...Wajahnya yang tadi tampak polos kini memerah karena amarah yang meluap-luap....
..."Kamar belakang itu sempit, panas, dan dekat tempat cuci! Aku ini istri kamu, Mas! Aku mau di kamar utama, bukan diperlakukan seperti pembantu di rumah itu!"...
...Abbas menghela napas panjang, sebelah tangannya tetap memegang kemudi sementara tangan lainnya mencoba meraih jemari Annisa untuk menenangkannya....
..."Sabar, Nisa. Ini hanya sementara. Kamu dengar sendiri kan tadi? Stella mulai curiga. Dia bahkan mengancam akan melapor pada Papanya. Kita harus main cantik kalau tidak mau semuanya hancur sekarang," ucap Abbas dengan suara rendah....
..."Tapi dia mau aku jadi OB, Mas! OB! Kamu tega melihat istri kamu sendiri mengepel lantai kantor kamu?" Annisa menoleh dengan mata berkaca-kaca, kali ini bukan pura-pura, tapi benar-benar merasa terhina....
..."Aku kan juga istri kamu, Mas. Aku punya hak yang sama dengan dia!"...
...Abbas terdiam, sorot matanya menatap lurus ke jalanan Jakarta yang mulai padat....
...Ia terjepit di antara dominasi keluarga Stella dan ambisinya untuk memiliki Annisa seutuhnya....
..."Percaya sama aku, Nisa. Aku akan cari cara. Untuk sekarang, ikuti saja dulu permainannya. Aku tidak akan membiarkanmu jadi OB selamanya," gumam Abbas, meski ia sendiri tidak tahu seberapa lama ia bisa menyembunyikan bangkai yang mulai tercium baunya ini....
..."Janji ya, Mas. Jangan OB. Aku malu kalau harus pegang sapu di depan karyawan kamu. Janji?" rengek Annisa lagi, suaranya kini melunak, berubah menjadi manja yang menggoda....
...Ia menatap Abbas dengan tatapan menuntut, seolah mengingatkan pria itu pada janji-janji manis yang diucapkan saat pernikahan siri mereka setahun lalu....
...Abbas menghela napas panjang, matanya melirik spion tengah untuk memastikan tidak ada kendaraan yang terlalu dekat sebelum ia memberikan perhatiannya pada Annisa....
...Ia menganggukkan kepalanya pelan, sebuah komitmen yang ia buat demi meredam amarah istri mudanya....
..."Iya, Nisa. Aku janji. Aku akan cari celah supaya kamu tetap di divisi administrasi atau asisten pribadiku saja. Stella tidak akan tahu apa yang terjadi di dalam kantorku setiap jamnya," ucap Abbas dengan nada meyakinkan....
...Mendengar jawaban itu, mendung di wajah Annisa seketika sirna....
...Senyum kemenangannya kembali merekah. Tanpa memedulikan risiko jika ada orang yang melihat dari kaca mobil, Annisa mencondongkan tubuhnya dan mencium pipi suaminya dengan mesra....
..."Terima kasih, Mas. Aku tahu kamu nggak akan tega membiarkan istri kesayanganmu ini susah," bisik Annisa sambil menyandarkan kepalanya di bahu Abbas, menikmati aroma parfum maskulin suaminya yang kini terasa seperti milik pribadinya sendiri....
...Abbas hanya tersenyum tipis, meski di dalam benaknya, ia mulai memutar otak lebih keras lagi agar pernikahan rahasianya tidak terbongkar....
...Mobil mewah itu berhenti tepat di lobi utama gedung perkantoran yang megah....
...Dengan sikap yang seolah-olah menunjukkan kewibawaan seorang atasan yang protektif terhadap saudaranya, Abbas turun dan membukakan pintu untuk Annisa....
...Tindakan itu tak pelak mengundang perhatian. Di lobi yang mulai ramai, para karyawan yang baru tiba tampak saling lirik....
...Banyak karyawan yang berbisik pelan, bertanya-tanya siapa gadis muda yang datang bersama sang CEO, bahkan hingga dibukakan pintu segala....
..."Siapa itu? Saudara Pak Abbas?" bisik salah satu staf di balik meja resepsionis....
..."Mungkin, tapi kok Pak Abbas perhatian sekali ya?" sahut yang lain....
...Annisa berjalan dengan kepala sedikit tegak, menikmati tatapan-tatapan itu, meski ia tahu statusnya di sini masih menjadi rahasia....
...Abbas segera melangkah menuju ruangannya dan memanggil Vira, manajer operasional yang dikenal tegas dan teliti....
..."Vira, ke ruangan saya sekarang," perintah Abbas singkat melalui interkom....
...Tak lama, Vira masuk dengan membawa beberapa berkas....
...Matanya sempat melirik Annisa yang duduk di sofa ruang kerja Abbas sebelum beralih pada bosnya....
..."Vira, perkenalkan, ini Annisa. Dia sepupu jauh saya yang baru datang dari kampung," ucap Abbas dengan nada formal yang dibuat-buat....
..."Dia ingin belajar bekerja di sini."...
...Vira mengangguk profesional. "Baik, Pak. Di bagian mana saya harus menempatkannya? Kebetulan ada posisi admin yang kosong."...
...Abbas sempat ragu. Ia teringat ciuman di pipi dan rengekan Annisa di mobil tadi, namun bayangan ancaman Stella tentang ayahnya jauh lebih mengerikan saat ini....
...Ia harus terlihat patuh pada istrinya, setidaknya untuk beberapa hari pertama....
..."Untuk sementara, tempatkan dia di bagian OB (Office Boy/Girl)," ujar Abbas dingin, menghindari tatapan tajam Annisa yang seketika berubah tegang....
..."Biarkan dia belajar disiplin dan mengenal lingkungan kantor dari dasar dulu."...
...Annisa tersentak. Cengkeraman tangannya pada tas ranselnya menguat....
...Matanya menatap Abbas dengan kilat kemarahan yang tertahan, namun Abbas sengaja membuang muka....
...Vira menganggukkan kepalanya tanpa banyak tanya....
..."Baik, Pak. Saya akan urus seragam dan pembagian tugasnya sekarang juga. Mari, Annisa, ikut saya ke area servis."...
...Annisa berdiri dengan kaku. Saat berjalan melewati Abbas, ia sempat mendesis pelan yang hanya bisa didengar oleh suaminya itu....
..."Mas, kamu tega," bisiknya penuh kekecewaan sebelum terpaksa mengekor di belakang Vira menuju nasib yang sangat ia benci....