Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin
Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.
Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.
Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.
Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.
Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Pukul 8 pagi, rumah Menteng itu terlalu sepi.
Nadine duduk di meja makan, perut 7 bulan nggak bisa bikin dia nyaman di kursi manapun. Di depannya ada laptop Hendra yang masih kebuka.
Email dari Liana kemarin malam jadi satu-satunya alasan dia berani buka laptop itu.
“Jaga kehamilanmu, Nadine. Yang lain biar aku yang urus.”
Tapi Nadine nggak bisa diem.
Kalau dia diem, anaknya lahir di tengah kebohongan.
Hendra nggak pulang semalaman. Katanya ada urusan dengan pengacara.
Nadine tahu itu bohong. Dia lihat notifikasi Gojek jam 2 pagi: Hendra diantar ke hotel Dharmawangsa.
Dia tarik napas. Jarinya mulai klik folder demi folder.
Folder “Proyek Afrika”
Isinya bukan laporan amal.
Yang ada: draft email palsu atas nama Yuli, file transfer 5.000 USD dari PT. Menteng Kapital, dan skrip percakapan telepon.
Satu file audio berjudul “Plan_B_Liana”.
Nadine pencet play.
“Kalau donor ragu, sebarin bukti transfer itu. Bilang Yuli udah terima suap. Liana pasti panik. Dia punya titik lemah: anak-anak.”
Itu suara Hendra. Dingin. Terencana.
Nadine menutup mulutnya.
Dia ingat waktu Hendra bilang, “Aku kirim uang buat bantu Yuli, biar dia tenang kerja.”
Ternyata itu jebakan.
Di folder lain ada file PDF: “Surat Pengunduran Diri Liana - Versi Final”.
Itu surat yang kemarin Liana kasih di penjara. Hendra udah edit, tambahin kalimat: “Saya mengakui kelalaian dalam pengawasan dana.”
Nadine ngerti sekarang.
Hendra mau pakai surat itu kalau meeting kemarin gagal. Buat nunjukin ke donor kalau Liana sendiri yang ngaku bersalah.
Tangannya gemetar.
Bukan karena hamil. Tapi karena marah.
Jam 10 pagi, pintu terbuka.
Hendra masuk, jasnya kusut, matanya merah.
“Nad, laptop itu punya gue. Tutup.”
Nadine nggak gerak.
“Jadi bener, Hendra. Kau pakai nama Yuli. Kau edit surat Liana. Kau bohong ke aku.”
Hendra duduk di seberang. Dia capek pura-pura.
“Iya. Aku bohong. Tapi semua itu buat kita, Nad.”
“Buat kita?” Nadine hampir ketawa.
“Anak kita belum lahir, Hendra. Dan kau udah nyeret dia ke kasus korupsi.”
Hendra menunduk.
“Kau nggak ngerti. Liana itu ancaman. Kalau dia menang, semua kerjaanku 10 tahun terakhir hancur. Perusahaan gue, nama gue, semuanya.”
“Terus? Kau mau hancurin orang lain biar kau selamat?”
Hendra diem.
Dia nggak punya jawaban.
Nadine dorong laptop ke arahnya.
“Gue udah kirim semua file ini ke pengacara gue. Dan ke Liana.”
Muka Hendra berubah.
“Kau gila? Itu bukti yang bisa masukin gue lagi ke penjara!”
“Iya,” kata Nadine pelan.
“Tapi itu juga bukti yang bisa selamatkan 2.000 ibu di Chad. Pilih, Hendra. Kau mau selamat sendiri, atau kau mau anak kita punya ayah yang nggak malu dia sebut namanya?”
Hendra berdiri. Dia mau marah, tapi nggak bisa.
Di depan dia bukan Liana.
Di depan dia istrinya yang hamil 7 bulan, yang selama ini percaya dia orang baik.
Dia keluar tanpa kata.
Pintu dibanting pelan, nggak berani terlalu keras takut bikin Nadine kaget.
Nadine pegang perutnya.
Bayi itu gerak pelan, kayak ngasih tahu dia nggak sendirian.
Dia buka HP. Ketik pesan ke Liana:
“Semua dokumen sudah aku kirim. Aku nggak tahu. Tapi sekarang aku tahu. Maaf.”
Liana balas 2 menit kemudian:
“Terima kasih, Nadine. Jaga bayinya. Sisanya biar hukum yang kerja.”
Siang itu, pengacara Nadine masuk ke Kejaksaan Tinggi.
File dari laptop Hendra jadi bukti baru: percakapan, transfer, draft pemalsuan dokumen.
Status Hendra berubah.
Dari tahanan kota jadi tahanan lagi.
Kali ini nggak ada penangguhan. Hakim bilang, “Risiko melarikan diri tinggi.”
Di hotel Dharmawangsa, Hendra baca berita itu di HP.
Dia nggak marah. Dia cuma duduk di pinggir tempat tidur, kosong.
Dia kalah.
Bukan karena Liana lebih kuat.
Tapi karena orang yang paling dia lindungi, akhirnya milih berhenti melindungi dia.
Malamnya, Nadine kirim foto USG ke grup kecil yang cuma ada dia, Liana, dan Rara.
Captionnya singkat:
“Dia laki-laki. Namanya akan aku kasih kalau dia lahir selamat. Terima kasih sudah ngasih aku keberanian.”
Liana lihat foto itu lama.
Dia nggak bales pakai kata.
Dia cuma kirim emoji tangan memegang tangan.
Bersambung..