"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 42
Terlihat Bara seperti seseorang yang sedang ingin buru-buru bergegas keluar dari ruangannya. Di waktu jam pulang kantor saat ini, ia ingin segera bertemu dengan Anya untuk membantunya mencari tempat tinggal.
"Astaga ..." ucap Bara ketika lupa mengambil ponsel yang ia letakkan diatas meja kerja. Ia harus kembali mengambil setelah dirinya sudah berada di depan pintu keluar ruang kerja.
"Aku harus segera membantu Anya menemukan tempat tinggal!" kata Bara, merasa tidak sabar ingin segera bertemu Anya.
Ceklek! (suara pintu ruang kerja yang dibuka Bara)
Ketika sudah keluar dari ruang kerja Bara, ia bertemu dengan Kenan yang sedang membawa beberapa berkas yang harus ditanda tangani oleh Bara.
"Hm? ..."
"Bara, kamu mau kemana? Ini tumpukkan berkas yang harus kamu selesaikan hari ini!" kata Kenan, ketika melihat Bara dengan ekspresinya yang sudah sangat kentara jika ia pasti tidak perduli soal pekerjaan.
Bara terdiam memandang Kenan dengan banyaknya berkas yang ia bawah. Dengan wajah datar dan perasaan tidak bersalahnya sama sekali Bara hanya mengatakan.
"Besok saja. Ini sudah waktunya jam pulang, kamu bisa meletakkannya diatas meja kerjaku," ucap Bara datar, langsung pergi meninggalkan Kenan begitu saja yang masih kesulitan membawa banyak dokumen perusahaan.
"Aish ... anak itu. Selalu begini," gerutu Kenan pelan, ketika sudah ditinggal pergi oleh Bara yang sangat santai.
Ketika sudah merasa jauh dari Kenan, Bara menoleh kebelakang untuk memastikan tidak ada yang melihat. Ia mempercepat langkahnya ketika sedang melewati lorong perusahaan untuk menemui Anya.
•••
Disebuah ruangan khusus untuk para karyawan kebersihan berganti pakaian. Terlihat beberapa orang-orang sudah keluar usai mengganti pakaiannya dan pulang karena jam kerja mereka baru saja selesai.
Anya yang juga baru saja mengganti pakaiannya kembali menjadi hitam putih pemberian dari Bara, berdiri di depan lokernya.
"Huh ... akhirnya selesai juga," kata Anya pelan seraya membuang nafas pendeknya. Anya terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu sekarang.
"Aku tidak bisa tetap tinggal di rumah Bara, aku harus mencari tempat tinggal sendiri ... karena aku sudah bekerja, mungkin sekarang aku bisa untuk menyewa kontrakan kecil di daerah ini."
Anya ingin segera pergi mencari tempat tinggal, ia merasa tidak enak jika harus merepotkan Bara lagi. Sukur-sukur, sekarang ia sudah di tolong Bara untuk masuk kedalam perusahaan dan bekerja disini. Bagi Anya itu sudah cukup.
"Sebentar, apakah ada barangku yang tertinggal ... ah! Kurasa tidak ada, semuanya beres~" ucap Anya sedikit bernada karena merasa senang, ketika merasa sudah tidak ada barang-barangnya yang tertinggal di loker.
Anya menjadi orang terakhir yang keluar dari ruang ganti karyawan kebersihan itu, ketika melangkah berjalan keluar, langkahnya terhenti tepat di perbatasan pintu karena merasa kaget.
"Astaga! ... pak Bara?" kata Anya, matanya terkejut ketika melihat Bara yang sekarang berada berdiri di depannya.
Anya merasa bingung sekarang setelah melihat kenapa Bara berada di tempat seperti ini. Tempat yang seharusnya hanya di kunjungi oleh para karyawan kebersihan seperti Anya.
"Kenapa kamu disini? ..." kata Anya menatap heran wajah Bara yang juga sama bingungnya.
"Ah, aku tahu! ... pasti kamu lupa jalan keluar gedung, ya?" tuduh Anya, ketika melihat ekspresi Bara yang juga kebingungan, di tambah Anya tahu kalau Bara mempunyai sifat pelupa.
"Ekhm!" kata Bara pelan, berusaha menormalkan ekspresinya dan membenarkan sikap berdiri dengan kembali memasukan kedua tangannya di saku celana.
"Tidak. Aku hanya tidak sengaja lewat sini."
Mendengar perkataan Bara, membuat Anya menjadi bingung. Menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan telunjuk walau tidak merasa gatal.
"Sekarang 'kan sudah waktunya jam pulang kantor, kenapa bapak belum pulang?" tanya Anya lagi, merasa bingung dan semakin aneh melihat tingkah Bara yang berada di hadapannya.
"Hmm, itu ..." kata Bara menggantungkan kalimatnya, mencari-cari sebuah alasan kenapa dirinya bisa berada disini. Bara membuang pandangannya agar tidak terus melihat Anya.
"Hm?" kata Anya pelan, namun semakin memperhatikan Bara yang terlihat kebingungan menjawab pertanyaan Anya.
"Itu ..."
"Huh ... aku ingin membantu mencari tempat tinggal untuk mu. Kamu pasti ingin menyewa atau mencari kontrakan semacamnya kan?" tanya Bara, ketika dirinya membuang nafas pendek seraya menunduk karena merasa semakin bingung.
"Hm? Darimana kamu tahu aku ingin melakukan itu?" tanya balik Anya, semakin merasa ikut bingung karena perkataan Bara barusan.
"Sudahlah ... jangan berpikir macam-macam. Ayok berangkat!" ajak Bara seenaknya, berbalik badan langsung melangkah pergi meninggalkan Anya.
Sedangkan Anya, masih berusaha mencerna apa maksud dari perbuatan Bara yang selalu bersikap baik kepadanya. Pria ini benar-benar membuat Anya bingung.
"Kenapa masih diam? Ayok, jalan."
Bara menghentikan langkahnya, ketika menyadari bahwa Anya belum juga beranjak dari tempatnya berdiri. Anya terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ba-baik pak!" sahut Anya pelan, dengan perasaannya yang ragu ketika berjalan mengekor dibelakang Bara.
"Kenapa dia selalu bersikap seperti ini? Aku jadi merasa semakin tidak enak jika begini," ucap Anya didalam hatinya. Ketika sedang berjalan dekat dibelakang Bara.
Saat Anya sedang berjalan bersama Bara, perasaannya kembali terulang. Ketika banyaknya sepasang mata yang terus memperhatikan mereka berdua, sama seperti awal Anya pertama masuk kedalam perusahaan.
Seketika mereka seperti menjadi pusat perhatian dari orang-orang yang berpapasan memberi salam kepada Bara atau karyawan yang melihatnya dari kejauhan saat jam pulang seperti sekarang.
"Selamat sore pak Bara."
"Sore."
Anya terus menunduk ketika sedang mengekor dibelakang Bara, dan hal itu menjadi Bara sering menoleh kearah Anya yang terlihat cemas. Ia merasa tidak nyaman ketika menjadi pusat perhatian.
Setibanya mereka di depan pintu masuk lobby utama, kedua satpam yang bertugas menjaga pintu, membungkuk ketika Bara dan Anya melewati dan keluar perusahaan.
Bruuk!
Tiba-tiba saja Anya seperti menabrak sesuatu yang besar, namun terasa empuk. Tanpa Anya sadar ternyata ia baru saja menabrak punggung Bara karena berhenti mendadak.
"Aw~" kata Anya, sedikit merasa sakit dan kaget karena kejadian yang tiba-tiba membuatnya harus memegang keningnya sendiri.
Bara berbalik badan. Pandangan mereka bertemu dengan ekspresi datar dan dingin Bara yang sama sekali tidak merasa bersalah.
"Kenapa berhenti tiba-tiba sih?" gerutu Anya, sedikit merasakan emosi yang coba ia tahan di dadanya.
Bara melihat disekelilingnya yang sudah tidak ada orang, karena mereka sekarang berada di depan halaman gedung perusahaan.
"Huh ..." Bara membuang nafas pendek sebelum kembali melihat Anya yang masih mengusap kening.
"Siapa suruh lihat kebawah terus."
Melihat rasa tidak bersalahnya Bara, semakin membuat Anya merasa kesal. Alis Anya sedikit terangkat melihat respon Bara, dengan pipi yang sedikit menggelembung.
"Tapi kan—"
Belum sempat Anya menyelesaikan kalimatnya, Bara langsung pergi begitu saja meninggalkan Anya dengan kedua tangannya yang masih masuk kedalam saku celana.
"Sebaiknya cepat, hari sudah mulai gelap," kata Bara sambil terus berjalan meninggalkan Anya tanpa menoleh.