Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberi tropi kecil untuk Kai
Suasana di atas panggung mendadak terasa begitu sunyi. Padahal beberapa detik lalu tepuk tangan masih menggema memenuhi area festival. Namun sekarang… entah kenapa udara di sekitar mereka terasa begitu menyesakkan.
Alena membeku di tempatnya. Wajah wanita itu perlahan memucat, sementara tangannya yang menggenggam pundak Kai mulai terasa dingin dan gemetar.
Kael Ardion.
Nama yang selama delapan tahun selalu berusaha ia lupakan… kini berdiri tepat di depannya.
Sementara di sisi lain, Kael juga tidak bergerak sedikit pun.Tatapannya terkunci penuh tidak percaya pada sosok wanita di hadapannya.
Rambut itu. Sorot mata sendu yang dulu meminta pertanggung jawaban. Bahkan cara Alena menunduk saat gugup… semuanya masih sama seperti delapan tahun lalu.
“Alena…” gumamnya lirih.
Napas pria itu mulai terasa berat. Selama bertahun-tahun ia mencari wanita itu ke berbagai tempat, namun tidak pernah menemukannya.
Dan hari ini, takdir justru mempertemukan mereka kembali di atas panggung festival kecil yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Kai yang berdiri di tengah mereka mulai terlihat bingung. Matanya bergantian menatap pria di depannya lalu wajah ibunya yang tiba-tiba pucat.
“Ma…” bisiknya pelan sambil menarik tangan Alena sedikit. “Mama kenal Om itu?”
Deg.
Pertanyaan polos itu membuat dada Alena menyesak. Bagaimana ia harus menjelaskan?
Bahwa pria yang berdiri di depan mereka bukan orang asing sepenuhnya.
Bahwa dari satu malam yang berusaha ia kubur dalam ingatan, lahirlah anak yang kini berdiri di sampingnya.
Namun belum sempat wanita itu menjawab, salah satu panitia buru-buru tersenyum canggung mencoba mencairkan suasana.
“Baik! Mari kita lanjutkan penyerahan hadiah untuk peserta favorit anak!”
Seketika tepuk tangan kembali terdengar, meski tidak mampu mengusir ketegangan di antara mereka.
Kael akhirnya dipaksa melangkah mendekat membawa trofi kecil di tangannya. Dan semakin dekat jarak itu…semakin jelas wajah Kai terlihat di matanya.
Langkah Kael sempat terhenti. Sorot mata anak itu terasa begitu akrab. Semakin lama ia memperhatikan, semakin sulit baginya mengabaikan kemiripan yang perlahan mulai terlihat jelas.
Sementara Kai justru tersenyum polos sambil menerima trofi itu dengan kedua tangannya.
“Makasih Om.”
Kael tidak langsung menjawab.Tatapannya masih terus tertahan pada wajah anak itu. Dan tanpa sadar… pikirannya mulai menghitung sendiri.
Delapan tahun. Angka itu kembali terngiang di kepalanya. Usia Kai, waktu menghilangnya Alena, lalu potongan-potongan yang selama ini terpisah mulai tersusun menjadi satu kemungkinan yang membuat jantungnya berdebar tidak menentu.
Namun sebelum pria itu sempat berkata apa pun, Alena buru-buru menarik tangan Kai perlahan.
“Kita turun ya Sayang,” ucapnya cepat dengan suara yang sedikit bergetar.
Kai terlihat bingung. “Tapi Ma—”
“Ayo.”
Kali ini Alena benar-benar panik. Wanita itu langsung mengajak Kai turun dari panggung seolah ingin segera menjauh dari tempat itu.
Sementara Senna, Anne, dan Rina yang melihat dari bawah panggung mulai ikut tegang. Mereka tahu. Tatapan Kael tadi bukan tatapan biasa.
Dan itu membuat ketakutan terbesar mereka perlahan terasa nyata.
“Kita pulang sekarang,” bisik Alena cepat saat sudah turun dari panggung.
“Lena…” Anne mencoba menahan pelan.
Namun Alena menggeleng kecil. Tatapannya terlihat benar-benar kacau.
Sementara di atas panggung, Kael masih berdiri diam sambil memperhatikan punggung wanita itu menjauh bersama Kai.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kael merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan.
Takut.
Bukan takut kehilangan kekuasaan ataupun kehilangan harta. Tapi takut kehilangan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang selama ini menghantuinya.
Dan tepat di saat itu— sebuah kartu peserta kecil terjatuh dari tangan Kai tanpa disadari. Kael langsung menunduk mengambilnya. Tatapannya perlahan membaca tulisan di sana.
Nama peserta: Kailan Alvero.
Nama wali: Alena.
Jantung Kael menghantam keras.
Tatapannya kembali berpindah dari kartu peserta itu menuju sosok Kai yang sedang tertawa bersama empat wanita yang membesarkannya.
Lalu tiba-tiba muncul pertanyaan yang selama ini tidak pernah berani ia pikirkan.
Bagaimana jika anak itu adalah darah dagingnya sendiri?
Bersambung ...
Maaf ya dikit bgt soalnya mau keluar🙏🙏🙏🙏