NovelToon NovelToon
KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: maulidiyahdiyah

Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.

Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...

Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis Rosaria

Aku melangkah memasuki kampus Maldiv’s International University, aku hanya mahasiswa biasa disini, tak ada keinginan didalam diriku untuk menjadi most wanted atau  bandit kampus apalah itu, tidak ada gunanya juga. Identitasku sebagai putra tunggal keluarga Pradiptaitu tidak banyak yang tahu hanya karena marga keluarga ibuku yang ada dibelakang, dan pada akhirnya aku dikenal sebagai putra bungsu keluarga Bumantara, namun memang lebih baik mereka tak mengetahuinya.

Menit berikutnya aku telah sampa di kelas, hari ini aku hanya ada kelas selama dua jam, jenuh karena harus mendengarkan teman sekelas melakukan presentasi, apa di jurusan bussiness memng sangat membosankan. Haih, aku menghela nafas gusar, aku ini Kaisar yang dijuluki dengan julukan ‘The Mover is Like a Dark Horse’ oleh papa yang artinya ‘Si Penggerak Layaknya Kuda Hitam’ melihat julukan itu sepertinya papa menaruh banyak harapan kepadaku. Kulirik ponsel berlogo apel tak sempurna itu diatas meja, ada tiga notifikasi yang datang dari salah satu sahabatku di kampus ini yaitu Kenny.

‘KENNY IN CHAT ROOM’

Kenny : kai

Kenny : aku hari ini tidak ada kelas tapi aku datang ke kampus karena tiga puluh menit lagi rapat bem akan dimulai

Kenny : aku harap kamu datang

Aku ; tidak janji

Bukan sebab apa aku tidak berjanji, pada dasarnya aku mengikuti organisasi BEM atau ‘Badan Eksekutif Mahasiswa’ itu atas paksaan dari Kenny selaku ketua umum organisasi tersebut. Aku menghela nafas pasrah, aku menanggalkan jaketku kembali yang saat berangkat tadi ke kenakan, akhirnya kelas membosankan ini selesai. Kemudian aku keluar kelas menuju ruangan BEM, kesal pastinya. Why? Aku menjadi mahasiswa kura-kura alias kuliah rapat-kuliah rapat, kalau kata pamanku itu membosankan.

Tatkala aku berada di koridor kampus, tak sengaja sepasang mataku menangkap sosok gadis di acara beberapa waktu yang lalu, aku dan dia mengalami kontak mata yang cukup lama, sebelum akhirnya ia memutus kontak mata dengan memutar bola matanya malas.

“Permisi”. Ucapku secara tiba-tiba yang mampu membuat gadis itu terhenti dari langkahnya, namun itu berada diluar kendaliku, menyebalkan sekali mulut ini.

“Ada perlu apa?”. Tanyanya lugas, aku tahu dari caranya berbicara dan berekspresi sudah jelas bahwa dia enggan untuk diganggu. Aku berpikir sebentar, apa mungkin aku harus berlagak layaknya pria play boy yang sering kulihat, sebab biasanya sahabatku seperti itu. Aku dibuat frustasi setengah mati, bagaimana tidak?, aku sudah terlanjur menghentikan langkahnya. “Cepat”. Tukasnya.

Aih, ini semua karena mulut yang kurang bisa diajak bekerja sama, aku menyugar rambutku kebelakang saat sudah mulai menemukan ide.

“Nama kamu siapa?”. Spontan aku mengeluarkan pertanyaan yang bisa menurunkan martabatku, dia mengernyit sebab pertanyaanku.

“Hei kuberitahu ya, kalau memang tidak pernah menggoda wanita, jangan tebar pesona tidak jelas seperti itu”. Ucapnya diringi helaan nafas diakhir, aku tahu tampangnya saja sudah terlihat kalau dia sedang lelah. “Beginner”. Imbuhnya singkat sebelum akhirnya ia melanjutkan langkahnya lagi. Tidak habis pikir seorang Kaisar Pradipta dikatakan pemula oleh seorang gadis, aku saja dibuat melongo mendengarnya.

“Mulut sialan”. Umpatku, namun menurutku dia menarik.

***

‘CKLEK’

Aku membuka pintu ruangan BEM yang berwarna hitam itu, seluruh atensi beralih menatapku, sudah kutebak kalau Kenny akan mengomeliku.

“Do you know, how many minutes late it is?”. Tanya Kenny dengan nada mengintimidasi, melihatnya rasanya ingin kupukul dengan kayu, lagi-lagi saat rapat aku selalu mendapatkan omelan dari pria keturunan Swiss ini.

“Who knows”. Timpalku seraya menggidikkan bahu, semua anggota bem tahu meski aku dihukum apapun oleh Kenny aku tidak peduli. Kemudian aku duduk di kursi divisiku, Kenny sangat mengenal dirikusehingga aku dijadikan anggota bem divisi cyber, aku mengabaikan Kenny yang mulai jengah menatapku, tampaknya ia menunggu aku mengucapkan sepatah atupun dua patah kata lagi.

“Are you okay?”. Tanya Yhovi pria berasal dari Bali ini yang juga sahabatku. “Hm”. Singkatku.

Selama rapat berlangsung rasa bosan mulai melanda diriku, berkali-kali aku mengganti posisi dudukku hingga aku mengeluarkan akal jahilku, kurogoh saku celana yang terdapat kardus rokok, tatkala kubuka, aih ternyata tinggal tersisa satu batang, pada akhirnya aku tetap merokok.

“Kaisar put out your cigarette!”. Perintah seorang yang mampu membuatku tertoleh, beraninya dia memerintahku dengan nada tinggi, selama ini tidak ada yang berani melarang ataupun melawanku kecuali ketiga sahabatku.

“Her?”. Aku menatap Kenny dengan mengangkat sebelah alisku bermaksud untuk bertanya.

“Dia maba kampus kita”. Sahut Yhovi, Kenny terlihat sangat malas menjawab pertanyaanku. Aku terkekeh sebentar sebelum akhirnya melanjutkan menghisap segulung nikotin yang candu. Yah, lagi-lagi aku mengabaikan semuanya, aku berkutat pada pikiraku sendiri sampai aku melupakan sesuatu pada gadis maba tadi, tahu dari mana dia namaku?, apa mungkin Kenny?, apa dia penggemar fanatikku?, bertubi-tubi kemungkinan bermunculan. Tapi sedahlah lain waktu saja aku bertanya padanya. Akhirnya rapat bem sudah usai dengan beberapa tugas yang mulai Kenny bebankan lagi, seluruh anggota bem beranjak dari duduknya dengan merapikan masing-masing barang mereka.

“Maba”. Panggilku pada gadis maba tadi, tak disangka responnya hanya mengangkat dagunya, kuakui dia cukup berani melawanku.

“Siapa kamu?”. Tanyaku secara lugas tanpa banyak kalimat pembuka. “Kau akan tahu sendiri”. Jawab maba tadi, selebihnya ia langsung melenggang pergi. Aku berdecih singkat, aku bertanya pada diriku sendiri mengapa dalam satu hari ini aku bertemu dengan dua gadis menyebalkan meski aku sendiri juga menyebalkan.

“Kai, kenapa hari ini kamu sangat menyebalkan?”. Tanya Kenny seraya merangkul pundakku meski aku lebih tinggi darinya tiga senti meter. Kali ini Kenny sedang dalam mode lagak kerennya, dia sangat pandai menempatkan karakteristik dan ekspresi, apa dia mengingat tadi bagaimana tampang tegas yang menyabalkan memarahiku.

“Siapa nama maba tadi?”. Tanyaku kepada Yhovi, tapi dia hanya menggidikkan bahu menandakan kalau ia tidak tahu.

“Arianne Rosaria”. Sahut Kenny, jelas aku berkerut bingung, seingat ku nama Rosaria tidak akan disematkan lagi pada gadis mana pun dari keluarga Rosaria, lalu siapa Arianne ini?.

“Tidak perlu dipikirkan Kai, dia hanya seorang gadis toxic”. Sahut Yhovi, kalau seorang I Gusti Houtama Yhovi yang mengatakan aku akan mempercayainya.

***

Hari ini adalah hari di mana aku akan berlatih menembak lagi bersama Coach Smith Si Penembak Jitu dari ARMY United States America yang telah mengundurkan diri lima tahun yang lalu, beragam macam senjata, hampir semuanya sudah kucoba kecuali satu yaitu senjata biologi yang tersimpan di laboratorium rahasia mansion. Sulit untukku mendeskripsikan suasana dan bangunan mansion Pradipta yang terdiri dari satu bangunan utama dan tiga bangunan lainnya, yang mana bangunan utama itulah tempat tinggalku, dan bangunan disebelah kiri bangunan utama itu asrama untuk anak buah keluarga pradipta dari kalangan wanita, sebaliknya bangunan di sebelah kanan bangunan utama itu adalah asrama untuk anak buah keluarga Pradipta dari kalangan pria, serta yang terakhir adalah camp pelatihan yang ada dibelakang bangunan utama.

Aku tengah menyusuri camp pelatihan untuk menemui seseorang. “Dark Horse”. Panggilan itu sangat tidak asing bagiku, siapa lagi jika bukan Coach Smith Si Pelatih sniper.

“Oh sir, you came”. Ucapku menyapa Coach Smith.

“You’re joking, of course i’m coming, i’m your coach”. Timpal Coach Smith, lama aku berbincang dengan Coach Smith, tiba-tiba seorang gadis datang dari arah belakang Coach Smith, kemudian ia menepuk pundak coach Smith.

“Kapan mulai berlatihnya?”.Tanya gadis itu, aku terkejut bukan main mengetahui siapa gadis itu, ternyata dia Arianne Rosaria. Sejak kapan di camp pelatihan ada dia, detik berikutnya Arianne melirikku sekilas sebelum ia mengatakan sesuatu yang membuatku bingung.

“Dark Horse, ini partner barumu dari Slandia..”. Belum usai Coach Smith berkata, aku sudah menyekatnya. “I know”. Sekatku. Coach Smith berkerut kemudian beralih menatap Arianne, tak disangka Arianne hanya menggidikkan bahu.

“Dia anak Terry”. Imbuh Coach Smith, aku mengangguk merasa paham.

“Buang-buang waktu”. Arianne memutar bola mata malas, tak lama ia melenggang pergi, aku menatap punggung gadis itu sampai lenyap dari pandanganku.

“Even thought he is an illegimate child”. Sontak aku membelalakkan mata, kejutan apa lagi ini. Padahal keluarga itu sudah hancur ditangan papa, tidak ada nama Rosaria berkeliaran sampai hari ini aku menemukan Arianne.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!