Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamasya : 10
“Bu bidan, main yuk ….”
Intan memejamkan mata, menarik napas guna menyetok rasa sabar. Orangnya memang belum terlihat, tetapi suaranya sudah mampu menaikan tekanan darah.
Sang asisten masuk lebih dulu ke dalam puskesmas, dia adalah perisai, pelindung juragan muda dari lemparan benda-benda melayang.
Anggara menyusul setelah orang kepercayaannya bertahan sekian menit di dalam sana. Kedua tangan menentang paper bag besar.
“Wahai rakyatku, hari ini ada pesta kecil-kecilan. Kalian kuundang, harap sadar diri jika pulang dilarang minta antar.”
Irda dan rekannya yang masuk shift pagi, membekap mulut mereka menahan tawa, menatap nelangsa sekaligus lucu wajah memerah bidan Intan Rasyid.
“Assalamualaikum bu bidan.” Paper bag diletakkan diatas meja, ia melangkah mendekati si wanita yang menatap dengan sorot seperti ujung mata pisau.
“Sebentar lagi masuk jam makan siang, ayo kita makan masakan dari restoran Nusantara. Beberapa waktu lalu kan aku pernah mengatakan ingin mengajakmu kesana. Anggap saja ini percobaan mencicipi, takutnya kau tak suka. Tapi kujamin ketagihan, sebab aku sendiri yang memaksa si Rubah mengolah, dengan iming-iming menjauhkan dia dari suaminya untuk waktu tiga hari kedepan.”
“Kau bangga berhasil membuat hubungan suami istri renggang?” pertanyaan lebih ke sindiran.
Namun ditanggapi sebaliknya. Anggara menepuk dada terbusung. “Oh jelas. Aku ini serba bisa! Menyatukan orang – pintar, membuat sepasang suami istri bertengkar, lebih jago lagi.”
Intan tak lagi diam, melengos pergi. Dia memilih menghadapi, entah apa penyebabnya, cuma ingin mengikuti kata hati. “Dengan cara apa kau memisahkan mereka?”
“Bila seseorang menginginkan pasangannya naik pitam, aku pura-pura jadi selingkuhan si wanita, kadang tak jarang pasang badan seolah-olah menyukai pria, membuat kekasih mereka ilfil.” Alisnya naik turun, senyumnya penuh rasa bangga.
“Terus?”
Anggara menepuk-nepuk dadanya, ia sumringah seolah tengah berada ditempat paling disukainya. “Aku juga handal dalam mengetes rasa penasaran pasangan orang lain, membuat mereka uring-uringan seperti cacing tersengat listrik, sehingga yang tadinya merasa tak ada rasa, baru menyadari jika ada cinta diantara mereka.”
“Lalu hadiah apa yang kau terima sebagai imbalan?”
“Kalau itu banyak, dan harus sesuatu wah. Barang branded, paket vip liburan ke luar negeri,” akunya tidak malu sama sekali.
“Kalau kau mau sama aku, hidupmu bakalan terjamin. Mau liburan kemana tinggal bilang, nanti kucari pelanggan yang mau memakai jasaku _”
“Kau bukan lagi ada kurang-kurangnya, tapi memang sudah gila.” Intan mau melengos pergi.
Anggara menarik ujung hijab sang bidan. “Tak boleh menolak rezeki. Paling tidak hargai usahaku mengumbar janji sampai satu jam lamanya barulah sepupuku setuju masak khusus buatmu. Ayo makan!”
“Aku tak_”
“Aku tak menerima penolakan!”
“Arwah! Sudah siap belum?!” teriaknya menggelegar. Melepaskan tarikan pada kerudung Intan.
Tadi sewaktu Anggara dan Intan berdebat, diam-diam Sarwanto keluar dari dalam puskesmas.
“Sudah, Juragan muda!” teriak sang asisten seraya mengintip lewat jendela bagian samping puskesmas.
“Kalian berdua juga ikut. Terlebih dahulu bilang ke pasien, kalau mau mengeluh sakit harap tunda sebentar. Ayo!” Anggara memimpin jalan.
Irda dan temannya berlari ke ruangan pasien, cuma ada dua orang dirawat di sana. Sekarang pun sudah sepi, akan ramai lagi setelah jam istirahat.
Paper bag pun sudah dibawa Sarwanto, ternyata dia minta bantuan pak satpam puskesmas dan bibi tukang bersih-bersih.
Intan mengikuti, berjalan di belakang pria berpakaian seperti di rumahnya sendiri – celana kolor selutut, sandal jepit, kaos berkerah. Terlihat sederhana, tapi harganya bila ditotalkan lebih dari dua puluh juta rupiah.
‘Apa pakaian dia hasil dari malaki para pelanggannya?’
Bu bidan mulai penasaran, batinnya bertanya-tanya, dan kinerja otak berusaha menerka.
Intan melek fashion, bisa membedakan barang branded sama kw super premium. Yang dikenakan Anggara bukan tiruan, tetapi asli.
Ketiga wanita yang satu bidan, dan duanya lagi perawat – sama-sama terkejut melihat halaman belakang puskesmas disulap seperti tenda tamasya.
Rumput ditimpa tikar plastik, atasnya ada belasan kotak makanan. Atap terbuat dari terpal biru – diikat tali rafia yang disangkutkan pada dahan pohon mangga dan tiang jemuran baju. Kipas angin turbo berputar kencang, kabelnya keluar dari ventilasi atas jendela puskesmas. Alat penanak nasi masih menyala.
"Eheum … eheum. Apa tak ada satupun orang yang ingin memuji hasil imajinasiku ini?”
Perawat bersanggul sederhana, sangat berusaha menampilkan ekspresi terkagum-kagum. Dia menunduk sedikit lalu melontarkan kalimat diinginkan sang tuan.
“Baru kali ini saya merasa spesial, diajak tamasya berlatar belakang tembok berlumut, cat dinding mengelupas, beralas tikar sampingnya rumput Jepang yang biasanya tempat favorit Entok bertai. Terima kasih, juragan muda.”
Irda menimpali, bingung mau berkata apa, mengedip-ngedipkan mata mencari ilham. “Saya sangat terkesan, juragan. Semoga keinginan terbesar anda segera terwujud. Saya siap membantu mengaminkan.”
Gaya Anggara bak tuan muda – jemari menyisir rambut, lalu mengusap dagu. Dia melirik ke Intan, tapi sayang diabaikan. Sama sekali tidak jadi soal, sudah sangat terbiasa. “Ayo kita nikmati rezeki berlebihan ini.”
'Hasil dari malak dia bilang rezeki? Semoga aku tak sakit perut setelah mencicipi.’ Intan membuka flat shoes nya, lalu duduk berseberangan dengan Anggara yang bersila.
Irda baru saja duduk, rambut baru di smoothing dua hari lalu, dan belum boleh keramas – terbang seperti dikibarkan angin topan.
“Juragan muda, bisa tak nyala kipasnya dikecilkan?” pintanya sungguh-sungguh.
“Tak bisa! Jangan karena kau merasa dirugikan, tapi lainnya menikmati sebab kegerahan, lantas meminta orang lain mengalah. Sungguh itu bukan sifat terpuji,” ia tidak mengabulkan keinginan sang perawat yang menatap nelangsa.
Diam-diam Intan mengulum senyum, tapi tidak mau menatap pemuda tengah membuka tutup kotak makanan berwarna transparan terbuat dari bahan plastik.
“Jus semangkanya datang!” Sarwanto membawa satu ceret aluminium, dan dibelakangnya ada sang bibi menjinjing keranjang anyaman berisi gelas, potongan buah Mangga hasil minta tetangga, disuruh Anggra Pangestu.
Enam orang sudah siap menyantap hidangan lezat, air liur mereka hampir menetes memandangi menu terlihat menggugah selera, membuat perut berbunyi.
Sepupunya Anggara adalah seorang chef handal. Telah memenangkan banyak penghargaan, ahli mengolah masakan Nusantara.
“Bu bidan, kau mau yang mana dulu?” ia menawari.
Intan bingung mau memilih – Kepiting saus Padang kelihatan sangat lezat, ikan bakar Gurame pun wangi sangat, Satu ekor Ayam kampung dimasak bumbu rujak, seperti memanggil meminta dicicipi, Udang dan Cumi gorengnya menarik mata.
“Aku ambil sendiri,” putusnya, lalu mencuci tangan didalam kobokan mangkuk plastik.
Irda dan temannya mengikuti, sang bibi pun mulai menawarkan mengambilkan nasi putih hangat di dalam magic com.
Piring mereka sudah berisi nasi, satu persatu mulai mengambil lauk disukai.
Sarwanto juga mengambilkan satu porsi untuk pak satpam yang berjaga, tidak bisa ikut tamasya di belakang puskesmas.
Intan melongo, menatap piring kaca kembang-kembang berisi satu ekor Kepiting, tujuh ekor Udang, dan belasan kerang dimasak saus tiram, disodorkan ke arahnya.
“Tolong, aku suka makannya, tapi malas membuka cangkangnya."
.
.
Bersambung.
siap2 tu di marah ayah tua
Ayah tua...,, hajar saja dulu si Nuha noga2 itu,, babak belur dulu baru minta penjelasan 🤭
semoga retensi Kaka d bab 40, 80, 120 terbaik semuanya .. Aamiin.
Hanya orang yang mqkn otaknya jauh lebih parah dari anggora kewarasannya kalo baca ceritamu harus lompat2 bab. Lha wong setiap bab mu d tunggu kayak lagi nunggu cuan dari paksu😅,, sangat begitu d nantikan🤣.
Deg deg AQ nunggu sidang ini,, semuanya akan terkuak dengan begitu jelas dan gamblang....,, akan banyak hati yang sedih,, kecewa...,, tapi ini yang terbaik...