Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.
Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.
Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk sang Ratu Kegela
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : Topeng Sang Sampah dan Pertemuan Pertama
Sinar matahari pagi yang pucat menembus celah-celah atap Perpustakaan Terlarang yang rusak, menyinari debu-debu yang menari di udara. Wang Tian terbangun dari meditasinya dengan perasaan yang sangat asing. Tubuhnya terasa ringan, seolah-olah beban ribuan ton yang selama ini menekan pundaknya telah diangkat oleh tangan-tangan gaib. Ia menatap telapak tangannya; kulitnya kini tampak lebih bersih, dengan urat-urat biru yang samar-samar memancarkan cahaya abu-abu jika ia memusatkan pikirannya.
Namun, Wang Tian tahu bahwa ia tidak boleh menunjukkan perubahan ini. Di dunia kultivasi yang kejam, menonjol tanpa perlindungan yang kuat adalah undangan terbuka bagi maut. Ia segera bangkit, menyembunyikan gulungan Sutra Kaisar Sembilan Unsur ke dalam ruang rahasia di bawah papan lantai yang longgar, lalu mengenakan kembali jubah abu-abunya yang compang-camping dan berlumuran noda hitam bekas pembersihan sumsum semalam.
Ia mengambil sapu lidi tua yang sudah mulai botol dan mulai menyapu lantai dengan gerakan yang sengaja dibuat lamban dan lesu. Ia harus tetap menjadi "Wang Tian sang sampah" di mata dunia.
Baru saja ia menyelesaikan satu sudut ruangan, pintu kayu perpustakaan yang sudah rapuh itu ditendang terbuka dengan keras. BRAK!
"Heh, sampah! Masih bernapas rupanya kamu setelah dipermalukan habis-habisan kemarin?" sebuah suara melengking penuh ejekan menggema di ruangan sunyi itu.
Wang Tian tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Itu adalah Li Chen, murid luar Sekte Awan Putih yang terkenal karena sifat kasarnya. Li Chen memiliki bakat elemen Logam yang lumayan, berada di Ranah Pembersihan Tubuh Tingkat 4. Di belakangnya, dua pengikut setianya tertawa terbahak-bahak, menatap Wang Tian seolah-olah ia adalah serangga menjijikkan yang layak diinjak.
Wang Tian segera menundukkan kepalanya, membiarkan rambutnya yang berantakan menutupi sorot matanya yang kini setajam elang. "M-maaf, Kakak Senior Li. Saya hanya sedang menjalankan tugas yang diberikan Penatua," jawab Wang Tian dengan suara yang sengaja dibuat bergetar, memberikan kesan ketakutan yang mendalam.
Dalam hati, Wang Tian terkejut. Dengan indra barunya yang diperkuat oleh Pusaran Primordial, ia bisa "melihat" aliran Qi di dalam tubuh Li Chen. Aliran itu tampak kasar, tidak murni, dan penuh dengan celah di bagian punggung bawah. Dulu, Li Chen adalah gunung yang tak tergapai baginya. Sekarang? Li Chen hanyalah seekor semut yang mencoba menantang badai.
"Tugas? Tugasmu adalah melayaniku, bukan membuang waktu di gudang buku busuk ini!" Li Chen melangkah maju, lalu dengan sengaja meludahi sepatu Wang Tian. "Dengar, hari ini aku sedang dalam suasana hati yang buruk karena gagal mendapatkan Pil Penguat Tulang. Karena kamu tidak berguna bagi sekte, setidaknya jadilah berguna bagiku."
Li Chen melemparkan sebuah botol giok kosong yang mendarat tepat di depan kaki Wang Tian. "Pergi ke Lembah Hijau sekarang juga. Cari tiga helai Rumput Roh Api. Jika sebelum matahari terbenam kamu belum membawanya ke asramaku, aku akan memastikan kedua kakimu patah sehingga kamu hanya bisa merangkak selamanya."
Lembah Hijau adalah area di perbatasan sekte yang dipenuhi oleh binatang buas tingkat rendah. Bagi seorang murid pelayan tanpa kultivasi, mengirim mereka ke sana sama saja dengan hukuman mati.
"Tapi Kakak Senior... di sana banyak binatang buas," rintih Wang Tian, masih mempertahankan aktingnya.
"Itu urusanmu! Mati atau hidup, aku tidak peduli. Pergi!" Li Chen menendang tumpukan buku di dekatnya hingga berhamburan, lalu melenggang pergi bersama kawan-kawannya sambil tertawa puas.
Setelah langkah kaki mereka menghilang, Wang Tian berdiri tegak. Ekspresi ketakutannya menguap, digantikan oleh kedinginan yang membeku. Ia memungut botol giok itu. Matanya berkilat. Lembah Hijau bukanlah hukuman baginya; itu adalah kesempatan emas. Di sana, ia bisa menguji kekuatannya tanpa pengawasan para tetua sekte yang membosankan.
Wang Tian berangkat meninggalkan sekte melalui jalan setapak belakang yang jarang dilalui. Sepanjang perjalanan, ia mencoba melakukan eksperimen kecil. Menurut Sutra Kaisar, ia tidak perlu duduk diam untuk menyerap energi. Dengan setiap langkah yang ia ambil, pori-pori kulitnya secara otomatis menghisap energi elemen dari udara—terutama elemen Kayu dari pepohonan dan elemen Tanah dari pijakannya.
Sesampainya di pinggiran Lembah Hijau, udara terasa lebih berat dan penuh dengan aroma tanaman obat. Wang Tian tidak langsung mencari rumput roh. Ia mencari tempat yang sunyi di balik air terjun kecil untuk menguji satu hal: Manifestasi Elemen.
Ia memusatkan pikirannya pada elemen Api dan Logam di dalam pusaran abu-abu Dantiannya. "Gabungkan..." gumamnya rendah.
Tiba-tiba, telapak tangan kanannya membara dengan api merah yang sangat panas, sementara tangan kirinya perlahan berubah warna menjadi abu-abu metalik yang berkilau—sekeras baja. Ia mencoba membenturkan keduanya.
Cisssss!
Uap panas mengepul hebat. Bukannya saling memadamkan, energi itu justru menciptakan sebuah tekanan yang mengerikan. Wang Tian melayangkan pukulan ke sebuah batu besar setinggi manusia di depannya.
BOOM!
Batu itu tidak hanya hancur, tetapi juga meleleh di bagian tengahnya akibat panas yang luar biasa. Wang Tian terengah-engah, merasakan sebagian energinya terkuras. "Luar biasa... meskipun aku baru di Tingkat 1, kekuatan gabungan ini setara dengan serangan penuh seseorang di Ranah Pemurnian Qi."
Namun, Wang Tian menyadari kekurangannya. Ia tidak memiliki teknik bertarung yang terstruktur. Serangannya hanya mengandalkan kekuatan murni yang kasar. Saat ia sedang merenung, indra tajamnya tiba-tiba menangkap sesuatu.
Dari arah utara, terdengar suara dentingan pedang yang beradu dengan auman binatang buas yang sangat keras. Ada juga aroma harum yang sangat lembut, seperti bunga melati yang mekar di tengah salju.
"Seseorang sedang bertarung," batin Wang Tian. Ia segera bergerak dengan cepat, melompat di antara dahan pohon dengan kelincahan yang baru ia miliki.
Di sebuah tanah lapang dekat tebing, Wang Tian melihat pemandangan yang memukau sekaligus berbahaya. Seorang gadis remaja dengan jubah putih bersulam perak sedang terkepung. Rambut hitamnya yang panjang tergerai kacau, dan wajahnya yang cantik luar biasa tampak pucat karena kelelahan. Di bahu jubahnya, terukir lambang Sekte Angin Timur.
Gadis itu adalah Lin Xuelan, putri jenius dari salah satu dari 4 Sekte Penguasa Arah Angin. Ia sedang berhadapan dengan seekor Harimau Angin yang dikelilingi oleh pusaran udara tajam—binatang buas yang setara dengan puncak Ranah Pemurnian Qi.
"Sekte Angin Timur? Apa yang dilakukan bangsawan sepertinya di tempat terpencil ini?" Wang Tian mengamati dari balik rimbunnya dedaunan.
Lin Xuelan mengayunkan pedang tipisnya, menciptakan bilah-bilah angin untuk menahan serangan harimau itu, namun luka di lengan kirinya membuatnya melambat. Harimau itu melompat, cakarnya yang bertenaga angin siap merobek leher gadis itu.
Wang Tian tahu ini adalah saat yang krusial. Jika ia membantu, rahasianya terancam. Tapi jika ia diam saja, gadis itu akan mati, dan ia akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hubungan dengan faksi penguasa arah angin.
"Persetan dengan rahasia," gumam Wang Tian. Ia memungut sebuah batu tajam, melapisi batu itu dengan elemen Logam dan Petir kecil yang baru saja ia coba picu dari pusarannya.
Wush!
Batu itu melesat seperti peluru perak, menghantam mata harimau tepat saat binatang itu akan menerkam Lin Xuelan. Harimau itu melolong kesakitan, terhempas ke samping.
Lin Xuelan menoleh dengan kaget, mencari asal serangan itu. Namun, yang ia lihat hanyalah bayangan seorang pemuda dengan pakaian pelayan yang melompat turun dari pohon dengan aura yang sangat aneh—sesuatu yang terasa seperti awal dari penciptaan dunia.
Pertemuan takdir di Lembah Hijau ini baru saja dimulai.
Statistik Bab 3:
Fokus: Wang Tian (Penyamaran dan Uji Coba Kekuatan).
Lokasi: Perpustakaan Terlarang & Lembah Hijau.
Perkembangan: Wang Tian mencapai Ranah Pembersihan Tubuh Tingkat 1 (Sempurna).
Karakter Baru: Lin Xuelan (Sekte Angin Timur).
Elemen yang Digunakan: Api, Logam, Tanah, Kayu, dan sedikit percikan Petir.
jalur kultivasi lebih panjang,adegan baku hantam,,,,tar kita bikin dia berdarah