Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.
Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.
Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 2
"Mbak, kita sudah sampai."
Ucapan sopir taksi menyadarkan Zeya dari lamunannya. Ia tersentak pelan, seperti baru kembali ke tubuhnya sendiri. Dengan perasaan ragu, ia membuka pintu mobil dan melangkah turun. Kakinya terasa lemas saat menyentuh aspal. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak tak karuan.
"Terima kasih, Pak. Ini uangnya." Zeya menyodorkan uang kepada sopir taksi dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Terima kasih, Mbak."
"Sama-sama, Pak. Hati-hati di jalan."
Setelah mobil itu pergi, Zeya segera merogoh tasnya dan mengambil ponsel. Tangannya bergerak cepat menekan nomor Cika. Deringnya terdengar lama sekali sebelum akhirnya tersambung.
"Gue udah ada di depan," ucap Zeya begitu panggilan terhubung.
"Gue ke sana sekarang."
Panggilan terputus. Zeya berdiri di depan rumah sakit dengan perasaan semakin kacau. Kakinya tak bisa diam, mondar-mandir tanpa arah. Beberapa orang yang lewat sempat menoleh karena tingkahnya yang gelisah, tapi Zeya tak peduli. Kepalanya dipenuhi pikiran buruk yang terus berdatangan.
Beberapa menit kemudian, Zeya melihat Cika keluar dari rumah sakit dengan pakaian yang terlihat kusut dan wajah yang sangat lelah. Rambutnya berantakan, matanya sembab.
Alih-alih merasa tenang karena melihat sahabatnya baik-baik saja, perasaan Zeya justru semakin tidak enak.
"Cika, lo ngapain di sini? Lo nggak apa-apa kan? Terus ngapain lo di sini?"
Pertanyaan bertubi-tubi itu tak dijawab. Cika malah langsung memeluknya erat. Tubuhnya bergetar. Isakan tangisnya terdengar jelas di telinga Zeya.
"Cika… lo kenapa nangis? Lo ada masalah? Cerita, Cik. Jangan kayak gini, lo bikin gue takut tau."
Perlahan Zeya melepaskan pelukan itu. Ia meneliti tubuh Cika, memastikan tak ada luka. Tidak ada darah, tidak ada perban. Hanya wajah sembab, rambut berantakan, dan tatapan kosong yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari sahabatnya itu. Untuk pertama kalinya, ia melihat Cika dengan penampilan sekacau ini.
Entah kenapa, air mata Zeya ikut mengalir.
"Cika, ada apa? Lo jangan bikin gue panik. Sebenarnya ada apa?"
Nada suaranya meninggi tanpa sengaja. Rasa takut membuatnya tak lagi bisa mengontrol emosi. Namun bukannya menjelaskan, Cika justru menangis semakin keras.
"Mama… Zeya… Ma…ma…"
Mendengar kata itu, tubuh Zeya langsung menegang. Seolah seluruh darahnya berhenti mengalir.
"Mama… Mama kenapa, Cika? Lo kangen sama Mama? Dia ada di rumah. Ngapain lo ngajakin gue ke sini?"
Zeya mencoba menarik tangan Cika, hendak melangkah pergi. Tapi Cika tak bergeming. Tubuhnya gemetar hebat, tangisnya tak berhenti.
Cika hanya menggeleng lemah.
Gerakan kecil itu cukup membuat hati Zeya semakin bergetar. Ia mulai mengerti arah pembicaraan ini, tapi ia menolaknya sekuat tenaga.
"Mama baik-baik aja. Mama kemarin masih nelepon gue… walaupun nggak gue angkat. Mama pasti di rumah nunggu gue. Iya… Mama pasti lagi panik nyariin gue yang nggak balik dari tadi malam."
Kata-katanya keluar cepat, seperti mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Cika, gue harus pulang. Mama di rumah lagi nungguin gue karena nggak pulang kerumah semalam. Iya, pasti Mama marah makanya nggak ngangkat telepon gue dari tadi."
Tangannya kembali sibuk mencari ponsel di dalam tas. Jari-jarinya gemetar, bahkan untuk sekadar membuka ritsleting saja terasa sulit.
"Zeya, stop."
Cika meraih kedua tangan Zeya, menghentikan gerakannya.
"Dengerin gue. Mama ada di dalam. Dia lagi sakit, kena serangan jantung waktu dengar kalau Papa meninggal dalam kebakaran di gudang perusahaan. Sekarang jenazah Papa harus kita urus."
Kalimat itu seperti petir yang menyambar tanpa peringatan.
Zeya terdiam. Wajahnya memucat. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang mencekiknya.
"Nggak… ini nggak mungkin. Ini bohong. Bilang kalau semua ini bohong, Cika."
Suaranya bergetar hebat. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. Otaknya menolak mencerna informasi itu.
"Zeya, tenang. Lo harus kuat demi orang tua lo. Ingat, mereka cuma punya lo sekarang. Gue di sini bakal bantuin urus pemakaman Papa."
Cika menggenggam tangan Zeya erat, mencoba menyalurkan kekuatan yang bahkan ia sendiri hampir tak punya.
"Cika, bilang ke gue kalau ini semua bohong. Cika, ayo bilang."
Zeya tak lagi bisa mengontrol emosinya. Ia berteriak keras di depan rumah sakit, suaranya pecah oleh tangis dan penolakan. Dunia di sekelilingnya terasa berputar, suara orang-orang, bunyi ambulans, semuanya terdengar samar.
Hatinya hancur dalam satu waktu. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa dunianya runtuh.
Zeya dan Cika berdiri di depan ruang operasi, tempat Mama Zeya menerima tindakan medis. Lampu merah di atas pintu masih menyala. Sudah hampir satu jam lebih mereka menunggu dengan perasaan cemas yang tak terucap. Waktu terasa berjalan lambat, setiap detik seperti sengaja mempermainkan perasaan mereka.
Begitu pintu ruang operasi terbuka dan dokter yang menangani ibu Zeya keluar, keduanya langsung menegakkan badan.
Dengan panik, Zeya dan Cika menghampiri dokter yang terlihat sangat lelah. Masker yang menutupi wajahnya tak bisa menyembunyikan sorot mata penuh kelelahan.
"Dok, gimana keadaan Mama kami? Dia baik-baik saja kan?" tanya Zeya dengan suara gemetar. Wajahnya pucat, begitu juga Cika yang sejak tadi tak berhenti berdoa dalam diam, berharap keajaiban terjadi.
Dokter menghela napas panjang. Ada keraguan dan rasa berat di raut wajahnya sebelum akhirnya ia berbicara.
"Ibu Anda mengalami serangan jantung mendadak akibat syok berat. Tim medis sudah melakukan tindakan darurat, tapi kondisi jantung beliau tidak merespons. Kami turut berduka cita."
Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam kepala mereka.
Tubuh Zeya dan Cika mendadak membeku. Kaki mereka seolah berubah seperti jeli, tak mampu lagi menopang tubuh sendiri.
Cika berusaha tetap berdiri, tangannya meraih dinding rumah sakit untuk menahan diri agar tidak jatuh. Napasnya memburu. Sementara Zeya sudah luruh di lantai, tatapannya kosong, seolah tak benar-benar mendengar apa yang baru saja disampaikan.
Dokter yang melihat kondisi mereka hanya bisa menunduk sebentar, lalu pergi dengan langkah pelan, memberi ruang bagi dua gadis itu untuk mencerna kenyataan.
"Gue harus kuat… demi Zeya, demi Mama dan Papa. Kalau gue terpuruk sekarang, siapa yang akan nguatinin Zeya?"
Batin Cika berusaha tegar, meski dadanya terasa sesak. Ia mendongakkan kepala, mencoba menahan air mata yang terus mendesak keluar.
Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Cika melangkah dan memeluk Zeya. Tubuh sahabatnya itu terasa lemas dan dingin. Zeya hanya diam seperti patung, dengan tatapan kosong yang menakutkan.
"Zeya, gue nggak akan bilang lo harus kuat. Tapi untuk hari ini aja… tolong, demi Mama dan Papa, kita harus kuat buat nganter mereka ke peristirahatan terakhir mereka."
Suara Cika bergetar saat membelai rambut Zeya, mencoba menenangkan, padahal dirinya sendiri juga sedang hancur.
Tak ada respons dari Zeya. Gadis itu tetap diam. Bahkan matanya hampir tak berkedip, membuat Cika semakin panik.
"Zeya… hei, Zeya."
Cika menepuk pelan pipi Zeya, mencoba menyadarkannya. Namun tetap tak ada reaksi.
"Zeya, Cika…"
Suara seorang gadis terdengar mendekat, diikuti kedua orang tuanya. Mereka berlari kecil menghampiri. Melihat kehadiran gadis itu membuat perasaan Cika sedikit lega, perlahan pertahanan Cika yang sejak tadi ia paksa untuk tetap tegar akhirnya runtuh.
Tangisnya pecah.
Cika melepaskan pelukannya dari Zeya, melangkah mundur, membiarkan gadis yang baru datang itu mengambil alih dan memeluk Zeya yang masih terduduk lemas di lantai koridor rumah sakit.
Cika memilih duduk di kursi rumah sakit yang ada disana, untuk menenangkan dirinya sendiri, sebelum mengurus pemakaman orang tuanya, karena jika harus mengandalkan Zeya itu tidak mungkin melihat kondisinya yang bahkan sepertinya tidak mampu untuk mengurus dirinya sendiri saat ini.
Pundak Cika ditepuk lembut oleh seorang wanita tua yang datang bersama gadis tadi. Sentuhan itu pelan, membuat Cika menoleh. Wanita itu adalah ibu Dewangga. Di sampingnya berdiri suaminya, sementara gadis yang lebih dulu memanggil mereka adalah Linda, adik Dewangga sekaligus sahabat mereka sejak bangku SMP.
Wajah orang tua mereka terlihat cemas. Mata mereka memandang Zeya yang masih terduduk lemas dalam pelukan Linda, tatapan matanya tetap kosong memandang lantai dingin rumah sakit.
"Aku nggak apa-apa kok, Tante," ucap Cika pelan.
Ia melepaskan tangan wanita tua itu dari pundaknya dengan hati-hati. Matanya kembali tertuju pada Zeya yang masih diam tanpa ekspresi, seperti kehilangan kesadaran akan sekelilingnya.
"Lebih baik Tante temanin Zeya. Dia yang paling butuh Tante saat ini."
Suara Cika berusaha stabil, meski serak karena tangis. Ia berdiri tegak, menghapus sisa air matanya dengan punggung tangan, lalu menghirup napas dalam-dalam seolah sedang mengumpulkan kembali potongan kekuatannya yang berserakan.
"Saya harus pergi urus jasad Mama sama Papa. Saya titip Zeya, Tante. Linda, tolong jagain dia."
Kalimat itu terdengar berat. Dadanya sesak tapi dia tetap memaksakan dirinya tetap tenang.
Sebelum Cika sempat melangkah pergi, suara pria tua, ayah Linda, menghentikan langkahnya.
"Saya ikut temanin kamu. Kita urus sama-sama."
Cika menoleh. Untuk sesaat, matanya kembali memerah. mengangguk sebagai jawaban.
"Terima kasih, Om."
"Sudah seharusnya."
Sementara itu, ibu Dewangga perlahan mendekati Zeya. Tubuh gadis itu masih kaku, tatapannya kosong menembus lantai rumah sakit. Dunia seolah berhenti hanya untuknya.
Cika menatap sahabatnya sekali lagi sebelum benar-benar melangkah pergi. Dalam hatinya, ia berjanji, apa pun yang terjadi, ia akan tetap berdiri, setidaknya sampai Zeya mampu berdiri sendiri.