Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
*****
"Hati-hati, Nona. " kepala pelayan menatap takut takut pada Aruna yang hendak keluar dari dalam mobil. Kini mereka sudah tiba di kediaman Pranawijaya setelah perdebatan kecil dengan dokter yang mengurus Aruna selama di rumah sakit, dokter pria itu melarang Aruna untuk pulang mengingat benturan keras di kepala Aruna cukup keras.
Namun dengan semua sikap keras kepala dan tak ingin dibantah, Aruna tetap kekeuh dengan permintaannya, ia ingin segera pulang.
"Selamat datang kembali, Nona Sekar. " ada puluhan pelayan berjejer menyambut kepulangan Aruna dari rumah sakit.
Aruna menatap satu persatu pelayan tersebut penuh selidik, "Calista bukan Sekar. Aku ingin namaku dipanggil Calista mulai dari sekarang, nama Sekar itu anggap saja sudah tiada disini. "
Setelah mengatakan itu Aruna melenggang pergi dengan diikuti kepala pelayan dibelakangnya, para pelayan lain terkejut mendengar perintahkan Nona muda mereka.
Yang lebih mengejutkan, aura Nona muda mereka terasa berbeda dari biasanya. Kali ini dingin, tenang, namun mengandung tekanan yang membuat siapa pun enggan menatapnya terlalu lama.
Tidak ada lagi suara teriakan memekakkan telinga atau amukan brutal dengan lemparan benda yang membuat mansion hancur lebur dibuatnya. Kali ini- Nona mudanya ini terlihat benar-benar tenang dan juga mematikan.....
Langkah Aruna- tidak, Calista- mantap menyusuri lorong utama mansion besar itu. Setiap sudut terasa asing sekaligus akrab, seolah tubuh ini mengingat sesuatu yang tidak ia miliki. Dinding marmer berwarna gading, lampu gantung kristal yang menjuntai anggun, dan aroma khas rumah bangsawan yang terlalu bersih untuk disebut hangat.
Kepala pelayan terus berjalan di belakangnya dengan jarak aman. "N-nona... kamar Anda sudah kami siapkan seperti biasa," ucapnya ragu, jelas masih belum terbiasa dengan perubahan mendadak itu.
Dengan ingatan samar yang muncul di benaknya, Calista melangkah mantap menuju kamar si pemilik tubuh yang terletak di lantai empat.
Ceklek!
'Lumayan. ' batinnya melihat seisi kamar Sekar yang terlihat normal, dindingnya berwarna krem pucat dengan aksen emas tipis di sudut-sudutnya. Tidak berlebihan, tidak pula kekanak-kanakan seperti sifat manjanya itu. Tirai tebal berwarna biru tua menutup jendela besar, menyisakan cahaya redup yang membuat kamar itu terasa dingin dan sunyi. Sebuah tempat tidur king size terletak di tengah ruangan, rapi tanpa satu pun kerutan, seolah pemiliknya jarang benar-benar beristirahat di sana.
Calista melangkah masuk, pandangannya menyapu setiap detail dengan tenang. Lemari besar dari kayu gelap berdiri di sisi kiri, meja rias dengan cermin tinggi di sisi kanan. Di atasnya, berjajar perhiasan mahal yang tertata rapi-namun tak satu pun terasa "hidup". Semuanya seperti pajangan, indah tapi dingin.
"Keluar," ucap Calista singkat tanpa menoleh.
Kepala pelayan tersentak. "N-nona?"
"Aku ingin sendiri."
Nada suaranya datar, tapi tidak memberi ruang untuk dibantah. Kepala pelayan itu segera menunduk dan melangkah mundur. "Baik, Nona... ah, Nona Calista." Pintu pun tertutup perlahan, menyisakan keheningan yang pekat.
Keheningan akhirnya menyapa Calista, ia melangkah menuju kasur yang terlihat begitu dingin, menduduki dirinya sejenak sebelum akhirnya ia bangkit dan melangkah menuju kamar mandi.
Ia butuh menyegarkan diri setelah semua hal tak masuk akal dialaminya hari ini.
Calista menutup pintu kamar mandi pelan, bunyinya nyaris tak terdengar di tengah keheningan kamar. Lampu menyala otomatis, menampilkan ruangan luas berlapis marmer putih dengan aksen perak yang dingin. Cermin besar membentang di atas wastafel, memantulkan wajahnya yang masih terlihat asing setiap kali ia menatapnya terlalu lama.
Ia memutar keran, membiarkan air dingin mengalir deras. Jemarinya menyentuh permukaan wastafel, lalu ia menunduk, membasuh wajahnya berulang kali. Air dingin itu menyentuh kulitnya, sedikit demi sedikit mengikis sisa pusing dan rasa tak nyata yang sejak tadi menempel di kepalanya.
"Aku benci rambut panjang. " Calista bergumam pelan saat matanya kembali menatap pantulan cermin di depannya.
Ia membuka laci di bawah wastafel, mengambil sebuah gunting stainless yang tersimpan rapi di dalamnya. Tanpa pikir panjang, ia......
Sret....
Sret....
Sret.....
Rambut panjang alami sang pemilik tubuh terpangkas sedikit tak rapi dan hanya menyisakan hingga atas bahu sempit itu. Calista menatap puas atas perbuatannya, inilah dirinya. Aruna Maheswari walau jiwanya terperangkap di dalam tubuh seorang wanita yang memiliki sifat tempramen dan manja.
"Selesai, waktunya berendam untuk menghilangkan sisa sisa beban yang menempuk di dalam otak. " Calista membuang gunting tersebut ke dalam tong sampah samping pintu.
Menyalakan air ke dalam bath up dan memasuki tubuhnya di sana dengan perlahan.
Kruyuk~
Asik menikmati berendam dengan aroma bunga mawar yang menyeruak, perutnya tiba-tiba saja berbunyi dengan nyaring.
".....Lapar, " gumamnya singkat.
Ia bangkit dari dalam bath up, ia berjalan keluar dari kamar mandi menuju ruangan khusus yang menyimpan segala macam pakaian mahal, perhiasan dan sepatu mewah milik Sekar. Calista memutuskan untuk memakai celana hitam panjang dan kemeja putih serta high heels hitam.
Ini adalah gaya andalannya sehari-hari di kehidupannya sebagai Aruna.
Bahkan di dalam kediamannya sekalipun.
Dengan gaya sederhana namun tegas, Calista melangkah keluar dari ruang ganti. Rambut barunya yang sebahu masih sedikit lembap, tergerai alami tanpa tatanan rumit. Potongan itu membuat garis wajahnya semakin jelas- dingin, tenang, dan berjarak.
Ia berhenti sejenak di depan cermin besar di ujung ruangan. Pantulan sosok di hadapannya tampak asing, bahkan terlalu berbeda jika dibandingkan dengan Sekar Pranawijaya yang dikenal semua orang.
Celana hitam panjang membalut kakinya dengan pas, kemeja putih polos itu dikancing rapi hingga leher. High heels hitam menambah kesan dominan pada setiap inci tubuhnya. Tidak ada perhiasan mencolok. Tidak ada sentuhan manja.
Hanya ketegasan.
"Cukup," gumamnya pelan.
Ini bukan penampilan seorang nona manja keluarga konglomerat. Ini adalah tampilan Aruna Maheswari-wanita yang terbiasa berdiri sendiri, bekerja, dan mengendalikan hidupnya tanpa bergantung pada siapa pun.
Calista melangkah keluar kamar, pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi halus namun tegas. Lorong lantai empat kembali sunyi, namun kali ini setiap langkah sepatunya menggema pelan, menciptakan irama yang membuat para pelayan di kejauhan menegakkan tubuh tanpa sadar.
Beberapa pelayan yang berpapasan dengannya buru-buru menunduk.
"Nona Calista," sapa mereka serempak, suara mereka penuh kehati-hatian.
Calista hanya mengangguk singkat, langkahnya tak melambat sedikit pun.
Ia menuruni tangga utama menuju ruang makan kecil yang biasa digunakan anggota keluarga saat tak ingin jamuan besar. Lampu gantung menyala lembut, meja makan panjang sudah tertata rapi, seolah mansion ini selalu siap melayani meski tuannya jarang benar-benar hadir.
Begitu Calista duduk, seorang pelayan wanita segera mendekat.
"Nona, apakah Anda ingin makan sekarang?"
"Iya," jawab Calista tenang. "Makanan ringan dulu. Sup hangat dan teh tanpa gula."
Nada suaranya datar, tidak tinggi, tidak pula rendah-namun mengandung wibawa yang tak bisa diabaikan.
"Baik, Nona."
Saat pelayan itu berlalu, Calista menyandarkan punggung ke kursi. Pandangannya menyapu ruangan besar itu perlahan.
Rumah ini terlalu sunyi untuk ukuran keluarga.
Terlalu megah untuk disebut tempat pulang.
"Nona Calista. Tuan Damar sebentar lagi akan pulang dari kantor, apakah anda tidak mempersiapkan diri untuk menyambut kepulangannya? " kepala pelayan datang dengan nampan berisikan makanan yang dimintai Calista.
Calista seketika menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyentuh sendok, Calista tertawa sinis- menertawai nasib sialnya.
"Bagaimana bisa aku sampai lupa bahwa Nona muda tempramen dan manja ini sudah memiliki seorang suami, dan itu bahkan bukan hanya satu melainkan ada dua sekaligus. "
******
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭