NovelToon NovelToon
Aku Berharga Saat Ku Jatuh

Aku Berharga Saat Ku Jatuh

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu / Menjadi Pengusaha / Tamat
Popularitas:61.5k
Nilai: 5
Nama Author: Arias Binerkah

Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.

Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.

Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.

Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..

Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2.

Ibunya terdiam. “Bunda juga tidak pernah membayangkan ini.”

Air mata sudah tidak lagi bisa dibendung oleh Aurely. Ibunya mendekati dan memeluknya.. “Tidak hanya kamu yang sedih dan kecewa dengan keadaan ini. Ayah kamu lebih terpukul Rel...”

“Bun.. Kevin sepertinya meninggalkan aku Bun... “ tangis Aurely pun pecah di dalam pelukan Ibunya..

Ibunya mengelus rambut Aurely perlahan, seperti saat ia masih kecil dan menangis karena hal-hal sepele.

“Kalau dia pergi di saat kamu jatuh,” ucap sang ibu lembut namun tegas, “berarti dia memang tidak pantas berdiri di sampingmu.”

Aurely tidak menjawab. Dadanya terasa sesak. Ia ingin membantah, ingin berkata bahwa Kevin berbeda, bahwa semua ini hanya salah paham. Namun kenyataannya terlalu jelas terlihat untuk ditutupi.

Malam itu, Aurely mengemas sisa hidup lamanya ke dalam dua koper besar. Ia memilih dengan berat hati.. mana yang bisa dibawa, mana yang harus ditinggalkan. Banyak barang yang dulu terasa penting kini hanya menjadi beban. Beberapa ia lipat, beberapa ia tinggalkan begitu saja di lemari.

Pagi hari datang terasa begitu cepat. Sebuah mobil sewaan berhenti di depan rumah yang sebentar lagi bukan milik mereka lagi.

Kedua mata Aurely berkaca kaca.. Ia berdiri memandang bangunan besar itu untuk yang terakhir kalinya. Rumah yang dulu penuh pesta ulang tahun, tawa, dan keyakinan bahwa hidupnya akan selalu indah dan mudah.

“Ayo, Rel, kasihan Pak Sopir kalau harus menunggu lagi .. perjalanan kita lama..” panggil ayahnya pelan.

Perjalanan menuju desa terasa panjang dan melelahkan bagi Aurely. Gedung-gedung tinggi perlahan menghilang, berganti sawah luas, pohon pohon lebat, perkebunan sayur.. polowijo... Jalan berkelok kelok, naik turun... dan rumah-rumah sederhana.

Aurely menatap keluar jendela tanpa bicara. Setiap kilometer terasa seperti menjauhkannya dari dirinya yang dulu.

Setelah mobil menempuh perjalanan sepuluh jam lebih... mobil berhenti, Aurely turun dengan ragu.

Rumah kayu tua berdiri di hadapannya. Catnya mengelupas, halaman dipenuhi rumput liar dan ada beberapa pohon buah yang lebat daunnya. Bagi Aurely, udara terasa asing.. terlalu sunyi, terlalu jujur. Tidak ada suara klakson, tidak ada musik kafe, tidak ada sorot lampu terang benderang.. Hanya angin dan suara serangga.

“Ini… rumah kakek dulu,” kata ayahnya, seolah meminta maaf.

Aurely menelan ludah.

“Ini tempat aku harus tinggal?” suaranya hampir tidak terdengar.

Hari-hari pertama di desa terasa seperti hukuman. Aurely jarang keluar kamar. Tidak ada sinyal stabil, tidak ada teman, tidak ada cermin besar tempat ia biasa mengagumi dirinya.

Penduduk desa sesekali melirik penasaran. Bukan dengan rasa iri seperti di kampus, melainkan dengan rasa ingin tahu yang polos.

“Anak dari kota ya?” tanya seorang ibu sambil tersenyum ramah.

“Anak Pak Baskoro? Cucu almarhum Mbah Siswo?” tanya seorang ibu yang lain..

Aurely hanya mengangguk kaku.

Suatu pagi, ibunya memintanya ikut ke pasar desa. “Ayo Rel hari ini Legi.. hari pasaran..” ucap ibunya sambil tersenyum, “Pasar pasti ramai kalau hari pasaran, banyak orang jualan.. Bunda mau belanja dan beli jajan pasar.”

Aurely menghela napas panjang, enggan, tapi akhirnya ikut.

Di sana, ia melihat ayahnya membantu mengangkat karung, berkeringat, dan tersenyum pada orang-orang yang bahkan baru dikenalnya.

Untuk pertama kalinya, Aurely melihat ayahnya bukan sebagai pengusaha besar. Melainkan sebagai pria yang sedang berusaha bangkit.

Sore itu, Aurely duduk di beranda rumah kayu. Ia menatap langit desa yang jingga. Tidak ada lampu kota yang menutupi bintang. Untuk pertama kalinya sejak semua runtuh, ia merasa lelah dengan cara yang berbeda...bukan lelah karena malu, tapi lelah karena bertahan.

Air mata menetes pelan.

“Bun, kenapa Ayah bekerja sebagai kuli? Memalukan.” Ucap Aurely saat Ibunya datang mendekatinya..

Ibunya duduk di samping Aurely, ikut memandang langit senja yang mulai gelap.

Ibunya tidak langsung menjawab. Tangannya meraih jemari Aurely, menggenggamnya lembut namun hangat.

“Rel,” ucapnya pelan, “yang memalukan itu bukan bekerja. Yang memalukan itu jika menyerah.”

Aurely mengernyit. “Tapi Ayah dulu..”

“Dulu Ayahmu berdiri di gedung tinggi,” potong ibunya lembut. “Sekarang Ayahmu berdiri di tanah. Tapi nilainya tidak berkurang sedikit pun.”

Aurely terdiam. Kata-kata itu terasa asing, hampir menyebalkan. Sejak kapan ukuran harga diri berubah seperti ini?

“Kamu tahu kenapa Ayah tidak mengeluh?” lanjut ibunya. “Karena Ayah masih punya kamu anak satu satunya dan aku isterinya...”

“Tapi kan bisa cari pekerjaan lainnya bukan kuli.” Ucap Aurely lagi air mata masih jatuh satu persatu di pipi mulusnya.

“Uang buat modal Ayah sudah tak punya. Sawah Kakek dulu sudah dijual untuk modal usaha di Ibukota.. Masih beruntung ada rumah ini dan Ayah masih punya tenaga.” Ucap lirih Ibunya, “Kita harus bersyukur Rel.. Ayah tidak sakit karena ujian yang berat ini.. kita masih punya kesempatan..”

Aurely menunduk. Untuk pertama kalinya, rasa malu itu bercampur dengan sesuatu yang lain.. rasa bersalah.

Malam itu, ia terbangun dari tidurnya oleh suara batuk dari ruang tengah. Pelan-pelan, Aurely mengintip dari balik pintu kamar. Ia melihat ayahnya duduk di kursi kayu, mengurut bahunya sendiri. Wajah lelah itu tampak jauh lebih tua dari usianya.

“Ayah?” panggil Aurely ragu.

Pak Baskoro menoleh, sedikit terkejut. “Kamu belum tidur?”

Aurely mendekat perlahan. “Bahu Ayah sakit?”

Ayahnya tersenyum tipis. “Biasa. Belum terbiasa kerja fisik lagi.”

Kata lagi itu membuat Aurely terdiam. Lagi.. berarti ayahnya pernah berada di titik ini sebelumnya, jauh sebelum ia lahir, sebelum kemewahan itu ada.

“Ayah nggak malu?” tanya Aurely lirih, nyaris berbisik. Ia mendekat dan memijit bahu Ayahnya.

Pak Baskoro menoleh dan menatapnya lama. “Ayah malu kalau kamu harus melihat Ayah menyerah.”

Jawaban itu menghantam tepat di dada Aurely.

☀️☀️☀️

Keesokan paginya, sesuatu yang tidak biasa terjadi. Aurely bangun pagi pagi tanpa dibangunkan oleh ibunya.. Tanpa dipaksa.

Ibunya terkejut melihatnya mengenakan kaus sederhana dan celana panjang, rambutnya diikat asal, tanpa riasan, tanpa sepatu mahal.

“Kamu mau ke mana?” tanya ibunya hati-hati.

“Ke pasar,” jawab Aurely singkat. “Aku ikut Ayah bantu bantu yang Aurely bisa .”

Pak Baskoro menoleh, jelas tidak percaya. “Rel, kamu nggak harus...”

“Aku mau,” potong Aurely. Suaranya belum sepenuhnya yakin, tapi tekad kecil mulai tumbuh di sana.

Mereka berdua pergi ke pasar desa, dengan motor pinjaman dari tetangga.

Di pasar desa, Aurely memakai masker. Ia ikut ke pasar karena kasihan pada Ayahnya. Namun ia masih malu dengan pekerjaan kasar itu.

Ia kembali menjadi pusat perhatian, tapi bukan karena kecantikan atau barang bermerek. Ia kikuk membawa barang, tangannya kotor, bajunya sedikit basah oleh keringat. Beberapa orang tersenyum melihatnya.

“Pelan-pelan, Mbak,” kata seorang bapak penjual sambil tertawa ramah.

“Kalau berkeringat jangan pakai masker, nanti enggap.” Kata pedagang yang lain.

Aurely hampir tersinggung… tapi tawa dan sarannya tulus. Tidak ada ejekan. Tidak ada sindiran.

Saat istirahat, Aurely duduk di bangku kayu, napasnya terengah. Ia menurunkan sedikit maskernya ..

“Capek?” tanya ayahnya.

Aurely mengangguk jujur. “Iya.”

Pak Baskoro tersenyum. “Ayah juga.”

Untuk pertama kalinya, mereka capek di level yang sama.

Sesaat kedua mata Aurely menatap seorang pemuda bersama dua bocil laki dan perempuan, kira kira berusia lima tahun.. Tiga orang itu juga mengangkat angkat barang barang.

Tiga orang yang begitu menarik perhatiannya..

1
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
slmt mbk yu sudah smpe tamat

pokok nya ttp smgt tab
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wadihnselalu saja gagal
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wow ini namanya beneran laki2 sejati bukan mengadalkan hartaborg tua
Siti Naimah
keren banget ceritanya Aurel sama Rizky...ditunggu karya selanjutnya kakak author 👍🙏😍
Arias Binerkah: Terimakasih Kak 🙏🙏🙏♥️♥️♥️
total 1 replies
Neng Saripah
ini ada season 2 nya ga thor kisah rizky sama istrinya ?
Arias Binerkah: Kak, ada novel baru Judul Benih Satu Milyar, yukkk baca yukkk 🙏🙏🙏🙏🙏♥️♥️♥️♥️🥰🥰🥰🥰
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ
akhirnya happy ending 😘
balik horor ceu othor 👻👻👻🥳🥳
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: hooh ya
total 9 replies
Nancy Nurwezia
uda ending ternyata... perasaan baru aja.. pasti kangen sama 3 bocah imut itu..
Arias Binerkah: Terimakasih Kak 🙏🙏🙏♥️♥️♥️
total 1 replies
Ariany Sudjana
bagus ceritanya, ga bertele-tele
Arias Binerkah: Terima kasih Kak 🙏🙏🙏♥️♥️♥️
total 1 replies
Lisa
Wah udh ending nih..g terasa y..terimakasih y Kak Author utk ceritanya yg bagus banget 😊👍 Tetap semangat y Kak utk karya² selanjutnya..
Lisa: oke Kak..aq baca ya
total 3 replies
Neng Saripah
waduh...jangan2 tim keamanan pada heboh 🤭
Siti Naimah
yaah...seharusnya hp dimatikan sementara...biar mendapat ketenangan🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ
paling juga bocil tu lagi pada nyariin 🤣🤣
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: tp wis merdeka buu
total 11 replies
Lisa
Wah Rizky udh menyiapkan rmh nih..bahagia selalu y utk kalian..
Siti Naimah
betul 2 surprise Rizky mempersiapkan rumah sendiri... tanpa memberi tau Aurel sebelumnya.bener2 co cwet deh Rizky 🤭😍
Arias Binerkah: Kak, ada novel baru Judul Benih Satu Milyar , yukkk baca yukkk 🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰♥️♥️♥️♥️
total 19 replies
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
ehhh riski dah beli rumah kan ya

ahahhaha siap2 ja lah uarel.. hayooo
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: ayo knp dlu mbk yun🤔🤔🤔
total 3 replies
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
hahahah kenpa berhnti hayookk

ada pa gerangan buuu 🤣🤣🤣
Siti Naimah
Rizky ternyata sudah menyiapkan rumah sendiri... Kereen banget deh👍😍
Lisa
Setelah 3 bocil pulg..Rizky & Aurely lebih tenang 😊
Ai Emy Ningrum
keren mbul...hidup emang jgn bnyak drama,banyakin derma,dan semakin menyalaaaaa 🙋🏻‍♀️🔥🔥🔥🔥🔥
maem..maem...👶🏻👶🏻👶🏻
Arias Binerkah: Dek embul; He eh.. bis bis.. nyang.. bo bok 👶👶👶😴
total 8 replies
Siti Naimah
nasihat buat Nurul..makanya jangan hanya iri dengki dan kepengen mencelakai orang lain saja.. upgrade diri supaya berakhlak mulia .. meningkatkan ketrampilan..rajin ibadah biar memperoleh kehidupan yg lebih baik .. seperti Aurel gitu😄👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!