NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Reina

Ibu Susu Untuk Reina

Status: tamat
Genre:CEO / Single Mom / Janda / Hamil di luar nikah / Romansa / Ibu susu / Tamat
Popularitas:29.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chika Ssi

Gendis baru saja melahirkan, tetapi bayinya tak kunjung diberikan usai lelahnya mempertaruhkan nyawa. Jangankan melihat wajahnya, bahkan dia tidak tahu jenis kelamin bayi yang sudah dilahirkan. Tim medis justru mengatakan bahwa bayinya tidak selamat.

Di tengah rasa frustrasinya, Gendis kembali bertemu dengan Hiro. Seorang kolega bisnis di masa lalu. Dia meminta bantuan Gendis untuk menjadi ibu susu putrinya.

Awalnya Gendis menolak, tetapi naluri seorang ibu mendorongnya untuk menyusui Reina, putri Hiro. Berawal dari menyusui, mulai timbul rasa nyaman dan bergantung pada kehadiran Hiro. Akankah rasa cinta itu terus berkembang, ataukah harus berganti kecewa karena rahasia Hiro yang terungkap seiring berjalannya waktu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika Ssi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. ASI yang Rembes

Pipi Gendis sampai berpaling. Rasa panas pada permukaan pipinya seakan membuat Gendis kembali tertarik pada kenyataan. Sementara itu Ayaka membatu.

Ayaka menatap tangannya yang kini gemetar. Gendis masih terdiam. Perlahan dia mengalihkan pandangan, menatap Ayaka dengan tatapan nanar.

Mata Gendis tak lagi kosong. Akan tetapi, tatapan itu berganti dengan kesedihan yang bertumpuk. Ayaka langsung memeluk Gendis.

"Ma-maafkan aku, Ndis. Aku ...."

"Aya, jadi ... bayiku udah meninggal?" Perlahan Gendis mengangkat wajahnya.

Tatapan Gendis kosong. Ayaka mengangguk perlahan. Mendadak tubuh Gendis lemas, badannya ambruk ke atas lantai.

"Gendis, bangun! Bangun, Ndis! Gendis!" Ayaka berusaha membangunkan sang sahabat.

Akan tetapi, Gendis tetap bergeming. Ayaka berteriak sekuat tenaga untuk menarik perhatian tim medis. Tak lama kemudian, beberapa perawat menghampiri.

Gendis pun langsung dibawa ke ruang IGD. Sejak hari itu, Gendis mendapatkan perawatan dari dokter jiwa untuk memulihkan kondisi mentalnya. Perlahan kondisinya pun membaik.

Satu bulan berlalu. Pagi itu Gendis sedang berada di kamarnya. Perempuan tersebut sudah terlihat rapi dalam balutan setelan kemeja formal berwarna biru muda. Riasan tipis dan segar membuat wajah Gendis tampak lebih ceria.

"Kamu yakin bisa handle event ini?" tanya Ayaka.

Gendis menatap cermin riasnya. Kini Ayaka ada di ambang pintu sambil menyandarkan lengannya pada kusen. Tatapannya tampak meragukan kondisi Gendis yang masih belum benar-benar pulih.

"Iya, kamu nggak usah khawatir, Ya. Aku sudah merasa lebih baik, kok." Gendis tersenyum tipis.

Perlahan Ayaka masuk dan duduk di tepi ranjang. Dia menatap bayangan Gendis yang terpantul melalui cermin. Perempuan tersebut mengembuskan napas kasar.

"Perusahaan kita sangat menggantungkan hal ini kepadamu. Jika kamu belum sanggup bekerja, aku akan menggantikanmu, Ndis. Kamu istirahatlah," ucap Ayaka dengan tatapan tak lepas dari Gendis.

"Tenanglah, aku pasti bisa mengatasi semuanya." Gendis tersenyum lembut, kemudian beranjak dari kursi.

"Aku berangkat dulu, doakan semuanya lancar, ya?" Gendis akhirnya berpamitan.

Ayaka tidak bisa mencegah sang sahabat. Meski Gendis mengatakan siap kembali bekerja, Ayaka tetap khawatir mengingat kondisi mental Ge dia yang belum stabil. Dia hanya bisa mendoakan kelancaran acara hari ini.

***

Ballroom Hotel Grand Arcadia sore itu berkilau di bawah cahaya lampu gantung kristal. Deretan kursi penuh oleh arsitek, pengembang, pejabat, dan jurnalis. Di tengah ruangan, panggung besar berdiri megah dengan backdrop bertuliskan “Sustainable Architecture Conference 2025 – Building the Future Responsibly”.

Di belakang panggung, Gendis memegang pointer presentasi sambil mengatur napas.

“Kamu kelihatan sangat siap,” suara wanita di sampingnya terdengar manis, tetapi tajam di ujung. Dialah Clara, salah satu pembicara sesi sebelumnya.

“Walaupun … ya, wajar sih, kan kamu diundang bukan karena jam terbang, tetapi karena perusahaan itu butuh wajah baru yang segar.”

Gendis menoleh, tersenyum tipis. “Kalau segar bisa menarik audiens, kenapa tidak?” Dia tak memberi ruang untuk sindiran itu meresap.

Clara mengangkat alis, lalu memalingkan wajah. “Semoga materimu nggak cuma cantik di slide.”

Perempuan tersebut balik kanan dan meninggalkan Gendis di ruang tunggu. Gendis hanya menatapnya datar, kemudian kembali fokus pada laptopnya.

Tak lama berselang, nama Gendis dipanggil. Gendis beranjak dari kursi, lantas melangkah ke podium. Suaranya tenang, gesturnya mantap.

“Selamat sore. Hari ini, saya ingin mengajak kita melihat bagaimana kearifan lokal dapat berpadu dengan teknologi modern untuk menciptakan arsitektur yang berkelanjutan dan efisien.”

Slide pertama menampilkan rumah bambu modern berpadu panel surya. Gendis menjelaskan detail desain, teknik pengolahan material, dan manfaatnya. Sejumlah peserta mengangguk, mencatat. Bahkan beberapa mengambil foto layar.

Namun saat sesi tanya jawab dimulai, tangan Rendra—kontraktor senior berjas hitam—terangkat tinggi.

“Konsep Anda memang … terdengar manis. Tapi apakah realistis untuk proyek besar? Bukankah biaya akan membengkak, dan risiko konstruksi meningkat?” Nada Rendra begitu nyaring, sehingga memancing perhatian.

Ruangan hening. Clara di barisan depan menyilangkan tangan, ekspresinya seakan menunggu Gendis tersandung. Gendis tetap tersenyum.

“Pertanyaan yang sangat relevan. Jika kita lihat biaya awal, memang ada kenaikan. Namun .…” Gendis mengganti slide ke tabel analisis biaya lima tahun.

“Penghematan energi bisa mencapai 40%, yang artinya biaya operasional lebih rendah. Dengan konstruksi modular, risiko keterlambatan dan pemborosan bisa ditekan.” Suara Gendis begitu mantap dan penuh keyakinan.

Rendra menahan komentar. Gendis melanjutkan dengan contoh proyek di Maluku yang tahan cuaca ekstrem. Beberapa peserta bertepuk tangan. Clara bersandar di kursinya, menyipitkan mata.

Gendis pun bisa menjelaskan slide demi slide dengan sangat lancar. Hampir semua peserta terpukau akan presentasi yang dibawakan oleh Gendis. Mereka tak pernah tahu, di balik kehebatan yang ditunjukkan perempuan tersebut terdapat sisi lemah yang sedang berusaha disembunyikan dari orang lain.

Usai konferensi, para peserta mendekat untuk bertanya. Salah satunya, lelaki muda dengan name tag “Leo – Arsitek Independen”, dia tersenyum setengah mengejek.

“Keren sih, Mbak … tapi, jujur, saya agak heran konsep ini dibawa ke forum besar. Terlalu idealis. Pasar nggak selalu mau bayar untuk idealisme, kan?” ejek Leo.

Gendis menatapnya langsung. “Kalau kita tidak mencoba, pasar tidak akan pernah berubah.”

Leo tersenyum miring. “Semoga investor perusahaan kamu sepemikiran.”

Leo pun melangkah pergi meninggalkan Gendis. Gendis masih berdiam di ruangan itu sambil menebarkan senyum kepada beberapa kolega yang masih menghargainya dengan memberi salam dan menyapa.

Setelah kerumunan berkurang, Gendis merasa dadanya mulai nyeri. Dia tahu ini tanda ASI mulai penuh. Namun dia bertahan, berbasa-basi dengan panitia dan sponsor.

Dari kejauhan, Hiro berdiri di pintu. Matanya mengikuti Gendis. Begitu suasana agak longgar, dia melangkah mendekat.

“Apa kabar, Ndis? Bagaimana rasanya menjadi pusat perhatian?” sapa Hiro dengan senyum lembut.

“Pusat perhatian apanya? Aku cuma kerja.” Gendis tertawa kecil, kemudian melangkah meninggalkan ruangan.

Mereka berjalan ke lobi. Namun langkah Hiro terhenti. Dia melihat noda lembap di bagian depan kemeja satin biru muda Gendis. Warna kainnya menjadi sedikit transparan di bawah lampu.

“Gendis .…” Suara Hiro rendah, nyaris berbisik. “Bajumu basah.”

Gendis menunduk, wajahnya memerah. Ia cepat menutup dada dengan map. “Astaga … ASI-nya keluar.”

Hiro tanpa ragu melepas jas dan menyampirkannya di bahu Gendis. “Kita keluar lewat pintu samping.”

Di parkiran basement, mereka berhenti di samping mobil. Hiro membukakan pintu. Gendis pun segera masuk ke mobilnya.

“Kamu luar biasa tadi. Bahkan waktu ada yang nyerang di forum, kamu tetap tenang. Dan …” Hiro menghela napas, “…aku nggak suka lihat orang memandangmu dengan cara meremehkan.”

Gendis tersenyum tipis. “Kalau semua orang setuju, artinya aku nggak membuat perubahan. Lagipula, ada yang lebih penting sekarang.” Gendis melirik kemejanya dan semakin basah.

"Itu ... ASI? Apa kamu sudah menikah? Kamu sedang memiliki bayi?" cecar Hiro tanpa basa-basi.

1
Ana Akhwat
Sebenarnya ceritanya bagus,hanya karena terlalu banyak dramanya akhirnya saya lompati langsung baca di akhir bab🤭
Nani heri Upitarini
sat set dong....bergerak dlm senyap,...
Ika Yanti Unyil
setelah lewati berbagai hal.akhirnya hiro bisa bersatu dengan gendis
aksara bener2 superhero untuk mereka
terima kasih bacaannya thor
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️❤️
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻 bikin mewek. salut sama penantian cinta dan semangatnya Hiro.🥰🥰 semangat Thor 💪🙏🏻
Debora Dwi
mungkin Reina anak kk Hiro, suami Yumi? 🤔
Esther
Happy ending.
Akhirnya sah Hiro dan Gendis
Meski ada hati yang terluka dibalik kebahagiaan mereka.
Semangat Aksara
tiara
akhirnya berakhir bahagia kehidupan Hiro dan Gendis.terima kasih karyanya thor semangat berkarya sehat selalu
Bisa Pesan Cover di Saya: Makasiiih kakkk, sudah bersedia baca karyaku yang jauh dari kata sempurna ini sampai akhir. Baca juga karya baruku yaaa
total 1 replies
ovi eliani
Alhamdulillah akhirnya syah juga , cinta sejati diantar mereka sdh terlaksana melalui akad nikah yg sakral semoga bahagia , menjadi keluarga SAMAWA Hiro dan gendis BTW jgn Lupa Buatin adek buat Reina ya thor , semangat thor di tunggu cerita yg lainnya, klo bisa squel nya cerita hiro dan gendis menceritakan hiro dan gendis anaknya aksara , tetima kasih author🙏
ovi eliani: oke siap Insya Allah🙏
total 2 replies
ovi eliani
Alhamdulillah akhirnya hiro sadar semoga semua berakhir dengan bahagia , baik hiro gendis dan reina bersatu sampai kakek nenek . terima kasih ini cerita yg kunantikan istimewa . vote dan bunga untuk mu thor semangat thor selalu berkarya yg terbaik 🙏
Esther
Hiro terselamatkan demi Gendis dan Reina.
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya.🙏

Hai Kak, Baca juga di novel ku yang berjudul "TABIR SEORANG ISTRI"_on going, atau "PARTING SMILE"_The End, Biar lebih mudah boleh langsung klik profil ku ya, Terimakasih 🙏
total 1 replies
ovi eliani
terkadang aku baca cerita author ada harapan hiro sembuh, terkadang harapan palsu pliss thor jgn membuat cerita ini seolah ingin panjang dan menyakit kan banyak orang, berilah secerca harapan buat mereka gendis , jiro dan reina , terutam yg baca. jgn terlaku berlarut dalam cerita menyedihkan hinga membuat pembaca kadang menanti kadang tidak diaini pwrlu ketegasan. maaf ini hanya komentar thor semangat thor🙏
ovi eliani: saya suka gaya elo👍
total 2 replies
Esther
😭😭 nangis lagi bacanya
Esther
semoga hasil pemeriksaan lanjutannya baik...semangat Hiro untuk sehat
ovi eliani
ngak busa berkata apa semua kata sefihb, bahagia semua menjadi satu, semoga hasil ya baik hiro bisa sehat, semua karena kekuatan cinta meteka bertiga saling yayangi satu sama lain terima kasih thor ceritanya keren banget perjuangan yg tak mengenal rasa lelah dan cinta yg sesunggunya.
Esther
ceritanya bagus 👍👍
Esther
semoga Hiro mendapatkan kesembuhan dan mendampingi Reina sampai dewasa.
Aksara....pengorbananmu untuk Gendis dan Hiro begitu luar biasa
ovi eliani
Subahanallah, ya Allah semoga berhalan lancar, Hiro bisa sembuh dari sakitnya karena waki nikah reina adalah hiro biarkan mereka menjadi keluarga kecil bahagia, di mana hiro fendis dan reina bersatu. ubtyk aksara tetima kasih cari wanita yg lain untuk mu. buat author keren keren👍
tiara
huhuhu bingung kasian Hiro juga Aksara,mereka orang-orang yang baik tapi menghadapi situasi yang sulit
Esther
masih berapa part nih episode sedihnya😭.
Hiro-Gendis-Aksara......kemana hati akan berlabuh
tiara
huhuhu sediih jadinya kan, apakah Gendis menikah dengan Aksara ya, karea Hiro sepertinya kritis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!