NovelToon NovelToon
Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:258.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Haryani

Memiliki wajah tampan tak membuat Briana memperlakukannya dengan baik karena William hanyalah seorang sopir.

Namun apa jadinya bila seorang sopir itu menikahi Briana karena kesalah pahaman?

Dan seiring berjalannya waktu jati diri William akhirnya terbongkar. Ternyata ia adalah seorang pengusaha sukses.

"Aku bahkan lebih kaya dari orang tuamu." William Horrison.

"Maafkan aku. Aku mencintaimu." Briana Alesya Darwin.

Namun kata cinta yang Briana ucapkan bersamaan dengan kembalinya wanita di masa lalu William.

Siapakah yang akan William pilih, wanita di masa lalunya yang selama ini ia nantikan kedatangannya atau kah Briana istri yang selalu merendahkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 2 Menjadi Tukang Cuci Mangkok

William menyunggingkan bibirnya saat melihat resepsionis memberikan kunci kamar kost padanya.

Memang wajah tampan yang Ia miliki selalu membuat wanita terkagum padanya bahkan menjadi lemah dihadapannya.

"Jangan bilang-bilang ya Mas kalau saya menyewakan kamar kost tanpa identitasnya Mas," ucap resepsionis.

"Aman." William menerima kunci kamar kost tersebut.

"Itu kamarnya ada dilantai 3 ya, Mas. Mulai sekarang Mas sudah bisa menempatinya," ucap resepsionis itu.

"Ok. Terima kasih ya, Mbak." William mengangkat kunci yang ada ditangannya.

"Sama-sama Mas," ucapnya.

William membalikkan tubuhnya dan bergegas menaiki anak tangga untuk menuju lantai tiga dimana kamarnya berada.

Satu persatu pintu kamar kost William lihati nomornya, hingga ia menemukan pintu kamar bernomor 114 sesuai dengan kunci kamar yang ia pegang.

William membuka pintu kamar itu lalu masuk kedalamnya.

"Ahh, akhirnya aku bisa bebas." William merebahkan tubuhnya diranjang single kamar itu.

Rasanya begitu lega setelah keluar dari rumah orang tuanya. Ia jadi tidak dituntut lagi untuk menikah dan punya anak.

William terus menyunggingkan bibirnya membayangkan kebebasan yang tengah ia rasakan.

"Ternyata enak juga ya jadi orang biasa," gumamnya.

Posisi tubuh yang terlentang dengan kaki yang ia silangkan, William menatap langit-langit kamar itu.

Di saat orang lain ingin kaya, William justru ingin menjadi orang biasa. Ia sama sekali tidak menyesal meninggalkan rumah kedua orang tuanya.

Karena baginya bahagia itu bukan karena harta yang melimpah melainkan karena kepuasan didalam hatinya, bebas dari tuntutan serta penatnya pekerjaan.

Kring.. Kring..

Ponsel William berdering, pria itu merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponsel tersebut.

"Mamah," gumam William melihat ponselnya.

Pria itu mengabaikan panggilan telepon tersebut hingga akhirnya panggilan itu terlewatkan. Tapi sayangnya dering ponsel William terus saja berbunyi sehingga William mau tidak mau menjawab panggilan telepon tersebut.

"Kamu dimana sekarang? Ayo pulanglah," bujuk Irene di sambungan telepon.

"Tidak Mah. Aku tidak akan pulang karena aku sudah bertekad ingin menjadi orang biasa." William mengakhiri sambungan telepon tersebut, lalu mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.

Agar Irene tidak lagi menghubunginya, William mematikan ponsel tersebut lalu menyimpannya kedalam tas.

Disaat hendak bangkit dari ranjang, William melihat sepatu miliknya berada di lantai. Sepatu mahal yang ia bawa dari rumah.

William membuka lagi tas miliknya lalu mengeluarkan cutter dari dalam sana.

Mata cutter sengaja William goreskan pada sepasang sepatu miliknya membuat sepatu mahal itu robek dibeberapa bagian.

"Nah, kalau beginikan aku beneran jadi orang biasa." Pria itu mengenakan lagi sepatu yang sudah robek itu, hingga jempol kakinya sedikit keluar.

William geli sendiri, melihat penampilan dirinya yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Setelah puas dengan penampilan barunya, William bergegas keluar dari kamar untuk mencari makan malam.

William akan mencari makanan yang sesuai dengan isi kantongnya sekarang ini.

Mie ayam menjadi pilihan William, selain harganya terjangkau, rasanya juga enak, membuat pria itu kini mengantri didepan warung mie ayam.

"Pak, didaerah sini ada lowongan pekerjaan tidak ya?" tanya William pada pedagang mie ayam tersebut.

Pria itu baru saja menyebutkan pesanannya yakni 1 porsi mie ayam bakso, dan 1 gelas es jeruk.

Jiwa pembisnis yang William miliki tidak pernah hilang kapanpun dan di manapun ia berada, William akan memanfaatkannya. Seperti sekarang ini, sembari menunggu pesanannya jadi dibuatkan pria itu bertanya mengenai lowongan pekerjaan untuknya.

"Memangnya Mas mau kerja apa?" tanya pria yang ditanyai William.

"Apa saja Pak. saya tidak pilih-pilih pekerjaan kok. Mau pekerjaan kasar atau tidak saya akan mengerjakannya," ucap William yakin.

"Jadi tukang cuci mangkok di warung saya mau?" tawarnya.

William mengangkat sebelah alisnya, lalu melirik pada tempat pencucian piring tak jauh dari tempatnya berdiri.

Tak terhitung ada berapa jumlahnya mangkok, sendok dan gelas kotor disana, yang jelas itu sangat banyak karena sejak warung dibuka satupun belum ada yang dicuci.

"Tidak apa-apa, Pak. Saya mau kok jadi tukang cuci mangkok," ucap William.

Pria itu benar-benar tidak pilih-pilih pekerjaan, meski jadi tukang cuci mangkok juga akan ia lakukan.

"Kalau begitu sehabis makan, Mas langsung cuci semua mangkok disana ya," titah pedagang mie ayam itu menunjuk pada tempat pencucian piring .

"Iya Pak," ucap William.

Tidak lama kemudian mie ayam dan es jeruk pesanan William sudah jadi dibuatkan.

Pria itu membawa sendiri makanan dan minuman itu ke salah satu meja kosong dan memakannya di sana.

Sesuai dengan apa yang sudah ia sepakati dengan pedagang mie ayam tersebut, William kini sedang mencuci mangkok dan perabotan lainnya.

*

*

Ditempat berbeda ada seorang wanita sedang bergelut dengan pekerjaannya. Tidak perduli hari sudah semakin malam wanita itu tetap saja bekerja seorang diri dikantornya.

"Pulang malam lagi?" tanya Larissa disambungan telepon.

"Iya Mom, aku pulang malam lagi. Ini pekerjaanku masih banyak," jawab Briana.

"Tinggalkan saja pekerjaanmu, Bri. Dilanjutkan besok saja," titah Larissa.

"Tidak bisa, Mom. Aku harus menyelesaikannya sekarang, karena besok pagi harus aku bawa meeting dengan klien," ucapnya.

Terdengar helaan nafas keluar dari mulut Larissa bisa didengar oleh Briana.

"Ya sudah, kamu hati-hati kalau pulang," ucapnya kemudian.

"Siap Mom! Mommy tidur aja duluan tidak usah nunggu aku pulang," ucap Briana.

"Heem."

Sambungan telepon itu berakhir.

Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam tapi Briana enggan untuk bangkit dari tempat duduknya.

Briana melanjutkan lagi pekerjaan yang masih menumpuk di meja kerja. Rasa lapar di perutnya juga ia abaikan, fokusnya hanya pada pekerjaan saja.

Wanita itu ingin menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan mendapat hasil yang terbaik.

Menjadi Direktur Utama Darwin properties membuat Briana jadi semakin sibuk, mengingat kendali perusaahan ada diposisinya saat ini yang mengharus ia bekerja dengan baik.

Sebelumnya Briana hanya menjabat sebagai Manajer Personalia dan baru dua minggu ini ia dilantik menjabat Direktur Utama menggantikan sang kakak kembar yang memutuskan membangun usaha sendiri.

Kretek.

Briana meregangkan otot tangan dan leher yang terasa pegal karena sudah terlalu lama bergelut dengan pekerjaannya.

"Tidak terasa udah jam 11.00 aja." Briana melihat jam di ponselnya.

Briana mematikan laptop yang masih menyala, lalu merapikan semua map yang ada di meja, menumpuk jadi satu lalu meletakkan ditempat semula.

Briana bergegas bangkit dari duduknya dan segera pulang ke rumah.

Wanita itu mengemudikan mobil seorang diri. Meski malam begitu larut tapi Briana sama sekali tidak merasa takut.

Berbeda dengan Briana yang tidak merasa takut. Kedua orang tua wanita itu justru sangat mengkhawatirkannya, dan takut terjadi sesuatu pada putri mereka saat perjalanan pulang ke rumah.

Kedua orang tua Briana berniat mencarikan sopir sekaligus pengawal untuk putri mereka.

Bersambung...

*

*

Jangan lupa tinggalkan jejak, vote, like dan komentarnya ya..

1
gemar membaca
salah sendiri ortu Sabrina tdk dari awal ngasih kabar ke wiliam, tapi malah terus menyalahkan dia atas kecelakaan yang terjadi.
Sri Siyamsih
satu lg pendukungmu Liam, Brian
Sri Siyamsih
jika kmu tau bri siapa ayahmu sesungguhnya dulu kt" kamu akan berfikir swribu kl bilang miskin pd Liam yg notabene jls" keturunan orkay
Sri Siyamsih
kyknya jln dr kantor k rmh briana nglewati perkampungan yg disiplin alias ketat peraturan
Sri Siyamsih
ada y seorang ceo tp nggk ad etika spt itu, percuma pendidikn tinggi, kaya lg. sungguh d sayangkn, kasihan ortunya pdhal org baik, terllu sombong dn angkuh
Sri Siyamsih
ujung"nya tar liam yg turun tangan bantuin
Ririn Nursisminingsih
mkanya jg sombong kmu briana
Ririn Nursisminingsih
jg sombong bri yg kmu hina itu ceo...hargailah orang lain
Safa Almira
,bagusnya
Citra Kamila
aku mampir thor
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
ini daerah kampung mana sih?? klo jakarta kyknya gk mungkin deh warga nya begitu..🤭
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
briana ngukutin sifat emaknya wktu blm nikah
Mba Wie
Luar biasa
Devys
kenapa ada sad boy🥲🥲
Devys
cuma 5 aja 🤣🤣
Devys
saran buat unsur kendaraan 🤣🤣
🌸WINA🌺
briana jd wanita tdk ada kelam2nya sangat bar2 banget kesel william tdk perlu pake acara mencakar wajahnya,,,ayah reyhan nasehati putrinya hrs bs menghargai orglain....
🌸WINA🌺
wkwkwk🤣🤣🤣william kena cakaran lagi wajahnya yg tampan dan mama irene sudah menduga anknya jd supir pribadi briana.....
🌸WINA🌺
kucing bar2 sangat angkuh dan arogan dan kemanapun pergi wiliam akan sll mengawal/menyupiri gadis bar2 itu....
🌸WINA🌺
ya iyalah kena wong anknya sendiri william yg kabuuuur dr rmh tdk Mau dijodihkan,,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!