NovelToon NovelToon
Noda Dan Luka

Noda Dan Luka

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Single Mom / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:188.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nita.P

Sebuah Noda di masa lalu membuat Vania harus menanggung semuanya sendiri saat pria yang membuat Noda dan Luka dalam hidupnya itu memilih untuk pergi dan meninggalkan tanggung jawabnya. Vania benar-benar banyak berkorban. Hingga dia harus pergi jauh dari kota tempat tinggalnya dulu.

Sagara Werden pergi ke luar kota untuk menyiapkan resepsi pernikahan dan istrinya yang sempat tertunda. Namun dia harus di kejutan ketik bertemu dengan Wanita di masa lalunya yang pergi dan menghilang dari hidupnya tanpa memberi dia alasan yang jelas.

"Kau telah membuat Noda dalam diriku dan luka yang masih membekas sampai sekarang" Vania

"Aku mencarimu selama ini, tapi kenapa kau pergi begitu saja tanp memberiku kabar apapun?"

Entah apa yang sebenarnya telah terjadi di masa lalu. Semua jawabannya ada di Noda dan Luka... Jangan lupa Like komen di setiap chapter.. dan berikan bintang rate 5

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 #Apa Yang Sebenarnya Terjadi?#

Vania yang sedang merapikan beberapa bunga di atas meja di ruko itu, langsung terdia saat sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti didepan toko. Vania terdiam saat melihat orang yang keluar dari mobil itu. Dia sudah menduganya jika tidak mungkin kalau Gara tidak kembali datang menemuinya.

Gara langsung masuk ke dalam toko tanpa mengucapkan apapun. Vania hanya berdiri diambang ditempatnya dan menatap Gara dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Jadi kenapa?"

Vania menatap bingung pada Gara yang menanyakan hal itu. "Untuk apa datang kesini lagi?"

Gara menatap Vania dengan tatapan dingin, sungguh hatinya tetap berdebar ketika Gara kembali melihat keberadaan Vania di depannya. Gara berjalan mendekati Vania yang seketika langsung memundurkan langkahnya. Hingga Vania benar-benar tidak bisa lagi bergerak ketika tubuhnya terpojok di meja tempat bunga-bunga berjejer. Gara langsung mengukung tubuh Vania. Kedua tangannya berada di sisi tubuh Vania, bertumpu pada meja.

Debaran jantung keduanya saling berlomba cepat. Vania menatap Gara dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Sungguh meski  Vania sangat kecewa pada apa yng dilakukan oleh Gara padanya di masa lalu. Tapi hatinya tetap tidak bisa berbohong jika masih merindukan pria di depannya ini.

"Kenapa kau pergi meninggalkan aku? Kenapa kau menghilang begitu saja dari kehidupanku? Apa alasannya Vani? Apa? Jawab aku!"

Vania menatap Gara dengan lekat, dari tatapannya benar-benar tersirat luka yang mendalam. "Kamu tanya aku, kenapa aku meninggalkan kamu? Apa kamu lupa atau hanya pura-pura lupa? Jelas kamu sendiri yang meminta aku untuk pergi dari kehidupanmu. Tapi kamu benar-benar sangat pengecut, karena kamu tidak beerani mengatakan secara langsung padaku"

Gara mengrutkan keningnya, dia benar-benar tidak mengerti apa yang baru saja diucapkan oleh Vania barrusan. "Apa maksudmu? Aku jelas terus mencarimu kemana-mana. Mana mungkin aku yang menyuruhmu pergi dariku. Kau jangan mencari alasan jika tidak mau mengakui kesalahanmu!"

Vania mendorong tubuh Gara hingga pria itu mundur dua langkah. Dia masih tidak percaya dengan Gara yang malah menyalahkannya. Padahal jelas sekali jika Gara yang memintanya untuk peergi dari kehidupannya 5 tahun yang lalu. Gara telah menghancurkan hidupnya.

"Sekarang lebih baik kamu pergi dan jangan temui aku lagi. Kau juga sudah mempunyai istri, jadi pergi sebelum istrimu tahu tentang pertemuan kita ini"

Gara menahan tangan Vania ketika gadis itu siap pergi dari hadapannya. "Tunggu! Kau harus menjelaskan dulu, kenapa kau pergi meninggalkan aku?"

Vania menatap lengannya yang di pegang oleh Gara. Lalu dengan perlahan dia melepaskan cekalan tangan Gara dilengannya. "Jika memang kau ingin mengetahuinya, karena aku sudah tidak mencintaimu!"

Deg..

Gara terdiam mendengarnya, jadi Vania meninggalkannya karena dia sudah tidak mencintainya lagi. Lalu apa gunanya selama ini Gara mencari-cari keberadannya jika Vania sudah tidak lagi mencintainya.

Vania berlalu ke arah tangga setelah dia mengatakan hal yang berbanding terbalik dari apa yang dirasakan hatinya saat ini.

"Baiklah jika memang itu adalah jawabanmu, aku akan terima. Tapi kau perku tahu jika sampai saat ini perasaanku padamu tidak pernah berubah"

"Jika kau bicara seperti itu seribu kali pun padaku, jelas aku tidak akan mempercayainya. Karena kau tidak mungkin menikahi wanita lain jika benar kau masih mempunyai perasaan yang sama seperti dulu padaku"

Vania berlalu ke lantai atas ruko ini, dia tidak bisa terlalu lama berada di depan Gara. Hatinya tidak akan kuat jika terus berada di depan Gara. Setelah dia menutup pintu, Vania bersandar di pintu yang tertutup. Air mata yang sejak tadi dia tahan, langsung luruh begitu saja di pipinya.

"Aku tidak mau sampai dia mengetahui semuanya. Apalagi saat ini dia telah menikah. Jangan sampai Gara mengetahui tentang keberadaan Gevin"

######

Gara masih berdiri di tempatnya dengan mengusap wajah kasar. "Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku menikahinya jelas bukan karena cinta"

Gara kembali pulang dari toko bunga, dia berjalan masuk ke dalam apartemennya dengan wajah lesu. Dia benar-benar bingung dengan sikap Vania yang tidak dia kenal seperti Vania yang dulu.

"Be kamu sudah pulang?"

Gara tersadar jika ada Yunita di ruang tengah. Saking dia tidak fokus pada keadaan di sekitarnya. Gara menoleh pada Yunita. "Iya Yu, ada apa?"

"Kamu kenapa si? Apa ada masalah?"

Yunita berdiri dari duduknya diatas sofa, berjalan menghampiri Gara yang terlihat kacau itu. Yunita mengelus dada Gara, namun tangannya langsung di tepis pelan oleh Gara. Yunita menghela nafas pelan, dia sudah terbiasa dengan perlakuan suaminya ini.

"Maaf Yu, aku sedang lelah jadi aku mau istirahat sebentar"

Yunita menatap Gara yang berlalu dari hadapannya. Dia hanya menghela nafas pelan, sudah sangat terbiasa dengan sikap dingin suaminya itu.

Didalam kamar mndi, Gara sedang berendam di dalam bak mandi. Mencoba merilekskan tubuh dan fikirannya yang lelah.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi di masa lalu? Kenapa Vania berkata jika aku yang telah memintanya untuk pergi, padahal jelas aku sangat mencintainya dan tidak mungkin melakukan hal itu"

Sampai saat ini Gara benar-benar tidak tahu dan tidak mengerti dengan ucapan Vania saat di toko bunga tadi. Gara tidak merasa pernah menyurunya untuk pergi, tapi kenapa Vania bisa menanyakan hal itu.

Sebenarnya apa yang telah terjadi?

######

Jenny baru saja kembali ke ruko dan melihat toko yng kosong. Dia segera naik ke lantai atas toko dan melihat Vania yang duduk di atas lantai dengan memeluk lututnya sendiri. Tentu saja pemandangan itu membuat Jenny panik dan terkejut.

"Vani, kau kenapa?"

Vania mendongak dan menatap Jenny dengan mata yang basah dan tatapan yang benar-benar menunjukan jika dirinya terluka.

"Kak... Hiks"

Jenny langsung memeluk Vania tanpa banyak bertanya apapun padanya. Jenny tahu jika yang diperlukan Vania saat ini adalah sebuah pelukan, bukan sebuah pertanyaan 'kau kenapa? Ada apa? Karena semua itu malah semakin membuat Vania menangis dan bingung untuk menjelaskannya.

Jenny menuntun Vania untuk duduk diatas sofa, mencoba menenangkan Vania dan membiarkan gadis itu memuaskan tangisannya terlebih dahulu.

Barulah setelah Vania tenang, Jenny memberinya minum dan mulai menanyakan keadaannya. "Jadi ada apa? Kenapa kamu sampai menangis seperti itu? Apa ada yang melukaimu?'

Vania menatap Jenny dengan tatapan penuh luka. "Dia kembali datang Kak, dia menemukan aku"

Jenny mengerutkan keningnya, mencoba mencerna ucapan Vania barusan. "Dia.. Maksudmu Ayahnya Gevin?"

Vania mengangguk dengan air mata yang kembali menetes di pipinya. Melihat itu Jenny langsung memeluknya, meski dia tidak tahu siapa pria yang Vania hindari sampai dia berlari  ke kota ini. Tapi Jenny mendengar setiap cerita Vania tentang itu.

"Yaudah, mungkin memang sudah saatnya Gevin mengetahui Ayahnya"

Vania langsung menggeleng pelan, dia merubah posisi duduknya dan menatap Jenny dengan lekat. Tangannya memegang tangan Jenny. "Jangan lakukan itu Kak, dia telah menikah dan aku tidak mau merusak pernikahan orang lain"

"Dia bisa menikah dan tidak memikirkan penderitaanmu selama ini? Benar-benar laki-laki yang tidak perlu kau perjuangkan"

Bersambung

1
Jeni Safitri
Coba aja pala gara setuju dna menerima baik vania pasti todak akan kejadiankan, seharusnya papa gara begitu menyadari vania anak dr org yg dia bunuh krn merampok memyesali dna berbuat kebaikan utk vania
Jeni Safitri
Jangan" perampokkan yg terjadi di rumah vania dulu adalah papanya gara yg sengaja utk bunuh ortu vania krn persaingan bisnis
Jeni Safitri
Ck.. Knp gara ngak lgsg jatuhkan talak 3 ke yunita di depan ortu nya jadi mrk ngak bisa lg menghalangi proses perceraian di pengadilan
Indah Alifah
ssemua karya author seru lho
Nita.P: makasih loh udah mampir.. jangan lupa dukungannya ya..
total 1 replies
Indah Alifah
kdri awal rada2 berat konfliknya aku suka clbk yah👍
Surati
bagus 🙏🙏
Sumarni Tina
mantap nasehat kak Jenny
Suherni Erni
Perebut itu dirimu yunita..klu dibilang perempuan murah ya dirimu.menjijikkan
Sarah Andry Ani
knp tdk jujur sj si vania itu sm gara agar dis tdk tersiksa sendiri
Ida Widiawati
gavin dapat donor ginjal dari siapa ya...
Saira
Luar biasa☺
uyhull01
slmat atas klhiran nya Va,,
uyhull01
ta ampun Gar kmu ini ada ada aja masih sempet kah berpikir kjlasan masa depan🤣🤣🤣
uyhull01
slmat atas kehamilan kdua ya Va,
uyhull01
good job Va,,
Yuni Yanti
gara memang toop lanjut thooor
uyhull01
Va bnar apa kata Jenny ,
mungkin itu calon adik Gevin hadir,
uyhull01
Kmu ykin Va akn bercerai dgan Gara ??
uyhull01
Hahhh akibat ke egoisan mu Pa liat Gara sma Vania jd korban nya,
uyhull01
puas kah pa dri awal papa ingin mnghancurkan Vania dan Gara ??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!