NovelToon NovelToon
Cinta Bersemi Di Turki

Cinta Bersemi Di Turki

Status: tamat
Genre:Romantis / Cerai / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:98.8k
Nilai: 5
Nama Author: Moyna Pakhi

Aku tak pernah menyangka, pria pemilik netra cokelat terang yang indah itu akan menjadi suamiku.

Salahkah aku jika aku mengharap cinta darinya? Atau mungkin aku memang tak sempurna untuknya, sehingga dia tidak akan pernah bisa mencintaiku. Hanya ada seorang gadis bernama Liza di hatinya. Bahkan, namanya masih melekat di hatinya meskipun dia sudah pergi dan tak akan pernah kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moyna Pakhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan

Dia beranjak menghampiriku ... Dia adalah seseorang yang baru saja menjadi suamiku. Aku tidak berani menatapnya, tapi aku bisa merasakan keberadaannya. Aku juga bisa merasakan rasa tak suka darinya kepadaku, rasa yang tak asing lagi untukku. Karena, aku pun sering medapatkannya dari kedua orang tuaku dan orang-orang di sekitarku dulu.

Aku merasakan matanya menatapku sejenak.  Kurasa dia sedang memperhatikanku. Sangat lucu! Ya, karena aku tidak memiliki apapun yang menarik untuk diperhatikan.

Aku jelek dan tidak berharga.  Dia pantas mendapatkan yang lebih baik dariku. Meskipun aku tidak mengenalnya, tapi setiap orang berhak mendapatkan lebih dari diriku.  Aku tidak pantas mendapatkan apa-apa.

Aku tidak punya apa-apa dan tidak akan pernah pantas menjadi seseorang yang berharga.  Begitulah bagaimana aku dibesarkan, bagaimana aku diajarkan oleh orang tuaku.

"Lihat aku!" perintahnya padaku.

Aku menunduk, tidak berani menatapnya.  Aku tidak bisa. Aku takut untuk melihat raut wajahnya. Raut wajah yang menggambarkan bagaimana perasaannya terhadapku dan aku takut jika mengetahui apa yang dia pikirkan tentang diriku.  Meskipun aku sudah tahu apa yang dia pikirkan, tapi tetap menyakitkan jika aku melihatnya secara langsung.  Meski sudah terbiasa dengan itu semua, namun masih menyakitkan saat mendapatkannya dari orang baru.

“Aku bilang lihat aku!” teriaknya, membuatku terlonjak karena aku tidak menduga dia akan berteriak.

Rasa takut dalam diriku meningkat.  Nada suara itu sama seperti nada suara yang selalu digunakan ayahku untukku.  Aku perlahan menatapnya dan melihat wajahnya untuk pertama kali.  Aku menatap mata cokelat terangnya yang indah. Kulit wajahnya yang putih bersih, disertai jambang yang halus. Namun, kesombongan terpancar dari wajahnya. Apakah dia memintaku untuk melihatnya hanya untuk menunjukkan betapa tampannya dia, dan betapa jeleknya aku?

"Jika kamu sudah selesai melihatku, aku akan pergi. Dan, jangan harap aku kembali!" ucapnya kemudian.

Dia bahkan tidak ingin menunggu jawaban dariku. Dan setelah beberapa saat aku mendengar pintu depan ditutup dengan kasar.

***

Ini adalah hari pertama pernikahan kami.  Orang tuaku memaksaku untuk menikah dengannya tanpa izin dariku. Mereka tidak pernah meminta pendapatku tentang apa pun. Aku seolah menjadi orang asing dalam keluargaku sendiri, hanya digunakan sebagai bola tinju. Bahkan mereka tak segan-segan untuk membunuhku jika aku bertanya sesuatu tentang itu. Aku harus mendengarkan mereka.  Mereka akan memukuliku lebih buruk dari biasanya jika aku tidak mendengarkan mereka. Aku tidak menginginkan hal itu. Tidak pernah!

Aku melihat ke arah cermin dan melihat diri sendiri.  Gaun pengantin ini bukanlah gaun yang akan membuatmu tampak mempesona.  Warnanya putih bersih dan tidak cocok untuk kulitku yang kotor.  Ketika aku melihat gadis-gadis di sekitarku yang menjalani kehidupan bahagia mereka, kebahagiaan itu seolah hanya dongeng belaka bagiku.

Aku tahu, ini semua karena diriku sendiri.  Ini semua karena aku jelek dan aku pantas mendapatkan perlakuan seperti itu darinya. Meski aku percaya bahwa suatu hari nanti semuanya akan berakhir, setidaknya itulah yang dikatakan nenekku.

Kedua mataku beradu dengan bayangan mataku di cermin.  Mata dengan setengah lingkaran gelap di bawahnya, semua orang bisa melihatnya. Mata yang menunjukkan bahwa aku tidak tidur selama beberapa malam.  Mata yang menggambarkan bagaimana aku masih menahan rasa takut itu. Rasanya aku ingin lenyap dari dunia ini. Nafasku mulai tak beraturan.

"Kamu jelek!" ucapku sambil melihat bayanganku sendiri di cermin. Aku mengulanginya lagi dan lagi.

"Tidak akan ada yang mencintaimu. Pernahkah kamu melihat mata dan rambut sejelek ini?"  Kataku sambil menunjuk mataku yang bengkak dan rambutku yang acak-acakan. Air mataku mulai mengalir, tapi aku tidak peduli.

"Bahkan suamimu sendiri tidak akan pernah mencintaimu."

"Lebih baik kamu bunuh diri saja!" Aku mulai merusak ruangan. Aku meninjukan tanganku ke dinding dan menendang sofa.  Aku merobek jepit rambutku dan mengambil vas di sebelah cermin dan membantingnya ke bayangan wajahku di cermin. Rasanya aku ingin sekali melenyapkan diriku sendiri.

Aku sudah tidak tahan dengan diriku sendiri dan semua ingatan itu. Ingatan tentang bagaimana orang tuaku mengajarkanku tentang diriku.

Aku melihat lengan dan leherku yang sering kali terdapat bercak ungu atau kekuningan.  Ketika memar-memar itu hilang, mereka akan menyiksaku lagi untuk mengembalikan bercak ungu itu lagi, hingga membuatku terlihat jelek.  Aku meremas lenganku agar bercak itu hilang tapi tak memberikan hasil apa pun.  Bercak warna yang menghantuiku itu masih ada.

Aku menggelengkan kepala.  Sudah waktunya aku pergi.  Tidak akan ada yang merindukanku. 

"Bahkan dia tidak akan pernah mencintaimu," ucapku untuk yang terakhir kalinya, sebelum aku lari keluar rumah.

Aku tidak tahu kemana aku berlari tapi aku tetap berlari.  Ketika aku sampai di sebuah jembatan, aku memperlambat langkahku, aku terengah-engah.

Aku melihat ke samping jembatan.  Bagaimana jika aku lompat dari sini?  Tidak akan ada yang merindukanku.  Aku bahkan yakin bahwa Vian akan mengadakan pesta ... atau keluargaku yang mengadakan pesta.  Mereka semua akan senang, karena dunia telah terselamatkan dari sampah sepertiku.

Aku melangkah ke tepi jembatan dan melihat ke bawah.  Airnya berwarna biru tua dan mengalir deras.  Rasanya seolah-olah air itu memanggilku untuk datang. Panggilan yang tak mungkin kuabaikan, tak peduli apa pun yang terjadi. Perlahan aku melepas sepatu dan menutup mata.  Lalu aku naik ke sisi jembatan, memegang besi jembatan itu dengan erat.

"Kurasa, satu tarikan napas terakhir tidak akan merugikan siapa pun," ucapku sembari menarik napas dalam-dalam. Aku mendengar suara gemuruh air di bawah sana.  Suara yang seolah mengundangku untuk masuk kedalamnya.

Aku memejamkan mataku. Aku kembali mendengar suara-suara lain. Itu adalah suara orang tuaku.  Mereka berteriak dan mengumpat. Aku masih bisa merasakan sakit yang mereka berikan saat mereka memukuliku. Aku kembali mengingat ketika aku berteriak dan memohon agar mereka berhenti.

Aku merasakan air mata mengalir di wajahku. Aku memejamkan mataku lebih erat sambil melepaskan satu pegangan.  Aku sangat takut ketinggian, aku masih berpegangan dengan salah satu tanganku. Tinggal satu tangan lagi, dan aku akan pergi selamanya.

Selamanya ... Ah, terdengar sangat bagus.  Aku tidak akan pernah merasakan sakit lagi.  Semuanya akan berakhir. Dan akhirnya, semua orang akan beruntung jika aku pergi, terutama Vian.  Aku tahu bahwa dia tidak ingin menikahiku. Lagi pula, siapa yang mau menikah denganku?  Dia bisa menikah dengan gadis yang sesempurna dirinya jika aku pergi, bukan begitu?

Aku mengendurkan salah satu jari yang memegang besi jembatan itu. Sedangkan, kempat jari yang lain, membuatku masih bertahan hidup.  Apakah aku ingin hidup?  Tidak, aku tidak menginginkannya.  Bahkan aku tidak perlu memikirkan itu lagi.

Aku mengendurkan satu jari lagi.  Tinggal tiga jari lagi yang akan memberikanku  neraka jika aku tidak melepaskannya.  Baiklah, satu jari lagi .. Sekarang tinggal dua jari dan aku kesulitan menahan diriku di jembatan.

'Ayo, terjun saja! Tunggu apa lagi?' Aku seolah mendengar suara ibuku.

Dalam hitungan ketiga, aku akan menjatuhkan diri.  Aku mengambil napas terakhir dalam-dalam dan memejamkan mataku lebih erat.

Satu ... Dua ...

1
hìķàwäþî
ud gw duga.. sadiya itu anak pungut
hìķàwäþî
liza? kaukah itu? are you haunted me? what i've done to you? did i take your man, that's it? is that my mistake?
hìķàwäþî
munkin sadiya adalah anak org lain.. laki2 yg dy liat ad.sdr kandungnya?
hìķàwäþî
laaa.. wkt nikah dy ngucap ap? mantera sihir? ingerdium la viossah!!! wkwkwk.. jd kucing dah
Hnɐſnɐu🎐ᵇᵃˢᵉ
mampir kak 🤗
Mammi Rachmah
ksh vian bucin thor
Mammi Rachmah
otw ksni ,hbs liat ig ceritanya bgs pnasran jdnya..
eyecleany
thorrrr seriouslyyyy
eyecleany
cerita sebagus ini kok sepiii... udah banjir air mata nihh thor
eyecleany
banjirrr thorrr4
eyecleany
good job sadiyah....
princess purple
okee kita coba lanjut dulh, siapa tau dipertengahan ep udah mulai seruu..
semangat thor
princess purple
jdi penasaran trauma apa aja yg didapet sama mreka br2
princess purple
uwaaa isi pikirannya udah negatif semuaa, dari kecil ortunya udah nanemin pikiran buruk kalo dia gak bharga dan gak dibutuhkannn.. 😭😭
afifah iskandar
cerita nya kok kentang gini sih thor...😔
dilanjut dong thor 😍
istriHanbinPacarKyungSoo
harusnya ini sedih bangt kan? tapi aku ga dapet feel nya sama sekali
Giralexta: Idem😁
total 2 replies
Ajril Bm
kyk pov trus y, baca@ , agk aneh
dhara chantika
ini katanya udah tamat, tapi kok ngegantung sih?
pawon Ibuk: pertanyaan yg akan kutanyakan juga
total 1 replies
Tri Susanti
kapan vian bucin ma sadiya
Tri Susanti
lanjut....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!