NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:80
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Mahar Rp 288 Juta

Senja menikahkan dirinya sendiri dengan mahar Rp 288 juta.

Tiga hari setelah akad, uang itu sudah tidak tersisa sepeser pun di rekeningnya. Seluruhnya ia kirim kepada Bapak dan Emak sebagai pelunasan atas kalimat yang bertahun-tahun ditanamkan ke kepalanya: anak perempuan harus tahu membalas budi.

Kini ia berdiri di depan sebuah rumah di Pondok Indah dengan satu tas kanvas kusam di tangan.

Kaos putih, celana jeans, sandal datar. Hanya itu yang ia pakai ketika satpam kompleks mengantarnya sampai ke gerbang berlapis besi hitam. Di balik gerbang, halaman membentang begitu luas sampai Senja sempat menoleh ke belakang, memastikan ia tidak salah turun.

Tulisan kecil di dinding batu membuatnya berhenti.

Bintang Residence.

"Mbak Senja?" tanya satpam melalui interkom.

Senja mengangguk terlalu cepat. "Iya, Pak. Tapi... benar ini rumah Pak Damar?"

Gerbang terbuka tanpa suara.

Belum sempat ia melangkah, seorang anak perempuan bergaun kuning berlari keluar dari pintu utama. Rambutnya tergerai berantakan, sebelah kaus kakinya melorot.

"Kakak!"

Tubuh kecil itu menghantam kakinya dan memeluk erat.

"Kakak akhirnya datang!"

Tas kanvas Senja nyaris terlepas. Ia menunduk dan menemukan mata bulat yang pernah ia lihat penuh air dan ketakutan di tepi danau.

"Bintang?"

Anak itu mengangguk, lalu menyembunyikan wajah di perutnya. "Kakak lama banget. Bintang nunggu dari pagi."

Sesuatu yang dingin di dada Senja menghangat sedikit. Tangannya terangkat ragu sebelum akhirnya mengusap rambut anak itu.

"Maaf. Kakak naik busnya kejauhan."

"Sekarang masuk. Ini rumah Bintang. Rumah Kakak juga."

Kalimat sederhana itu membuat tenggorokan Senja tercekat.

Seorang perempuan paruh baya berkerudung keluar tergesa. "Astaga, Non Bintang, jangan lari-lari. Selamat datang, Bu Senja. Saya Inah. Panggil saja Bik Inah."

"Jangan panggil saya Bu," ujar Senja cepat. Sebutan itu terasa seperti baju mahal yang bukan miliknya. "Senja saja, Bik."

Bik Inah hendak mengambil tasnya, tetapi Senja menahan pegangan lusuh itu. Di balik mereka, lantai marmer mengilap memantulkan lampu gantung yang besarnya hampir menyamai ruang tamu rumah Emak di desa. Sofa krem tanpa noda, tangga melengkung, dan vas bunga setinggi pinggang membuat tasnya terlihat semakin buruk.

Semua milik Senja muat di dalamnya: tiga set seragam, dua kaos, satu jeans, mukena, ijazah, dan buku tabungan dengan saldo nyaris nol.

Tidak ada foto keluarga di dalam tas itu. Foto-foto lama tertinggal di rumah desa, sebagian karena terburu-buru, sebagian lagi karena Senja tidak tahu kenangan mana yang benar-benar ingin ia bawa. Satu-satunya benda pribadi yang disimpannya di saku depan hanyalah gelang kain buatan Wulan dan Hana.

"Biar saya bawa sendiri. Ringan, kok."

Bintang menggandeng tangan Senja. "Kamar Kakak dekat kamar Papa. Bintang yang pilih."

Tiga hari lalu, tangan kecil itu juga menggenggamnya. Namun saat itu jari-jarinya dingin dan bibirnya membiru.

Senja masih mengingat suara orang-orang berteriak di tepi danau. Seorang anak jatuh ke air. Tak ada yang berani melompat karena hujan membuat permukaan keruh dan licin.

Ia sedang duduk sendirian di bawah pohon, memandangi pesan dari Emak.

Pulang minggu ini. Calon yang dipilih Bapak sudah setuju. Jangan bikin malu keluarga.

Laki-laki itu berusia empat puluh enam tahun. Salah satu kakinya diamputasi setelah kecelakaan, tetapi ia punya sawah dan bersedia memberi uang muka besar kepada Bapak. Emak menyebutnya rezeki. Senja menyebutnya hukuman karena berani menolak ketika seluruh mahar lamaran pertama telah dijanjikan untuk uang muka rumah Bagas.

Teriakan itu menyobek pikirannya.

Senja melempar ponsel, menendang sandal, lalu terjun.

Ia tidak sempat takut. Latihan keperawatannya mengambil alih. Satu tangan menyangga dagu anak, satu lagi menarik tubuh kecil itu ke permukaan. Lututnya terluka oleh batu ketika merangkak ke darat, tetapi ia terus menekan dada Bintang sampai anak itu memuntahkan air dan menangis.

Keesokan harinya, seorang pria datang menemuinya di klinik.

Damar Adiwangsa.

Kemeja putihnya sederhana, tetapi arloji di pergelangan tangannya mungkin cukup untuk membeli seluruh rumah Bapak. Ia berusia tiga puluh dua tahun, sepuluh tahun lebih tua dari Senja. Wajahnya bersih dan tegas, suaranya tenang, matanya terlalu dingin untuk seseorang yang sedang berterima kasih.

"Kamu menyelamatkan anak saya," katanya. "Sebutkan apa yang kamu mau."

Senja seharusnya meminta biaya perawatan Wulan atau pekerjaan tetap. Seharusnya ia meminta apa saja yang masuk akal.

Namun pesan Emak masuk lagi pada saat yang sama.

Kalau tidak pulang, jangan anggap kami orang tuamu. Uang membesarkanmu harus kembali.

Senja menatap angka yang pernah disebut Bapak, angka yang cukup untuk DP rumah Bagas dan menutup semua tuduhan bahwa ia anak tidak tahu diri.

"Nikahi aku saja," katanya.

Untuk pertama kali, wajah Damar berubah.

Senja menggenggam ujung seragamnya. "Tapi beri aku mahar Rp 288 juta."

Diam yang jatuh begitu panjang membuatnya ingin menarik kembali semua ucapan. Lalu Damar bertanya, "Kapan?"

Akad dilaksanakan keesokan harinya. Hanya ada penghulu, dua saksi, Bintang yang terus menempel di sisi Senja, serta Bapak dan Emak yang datang terutama untuk memastikan uang masuk. Pernikahan itu dicatat di KUA. Sah menurut agama dan negara, tetapi harus dirahasiakan dari lingkungan bisnis Damar.

Penghulu sempat bertanya apakah Senja menerima pernikahan itu tanpa paksaan. Ruangan kecil mendadak sunyi. Emak menatapnya dari balik bahu penghulu, sementara Damar duduk lurus tanpa berusaha memengaruhi jawabannya.

"Saya menerima," kata Senja.

Suara itu miliknya sendiri. Pilihannya buruk, terburu-buru, dan lahir dari jalan yang disempitkan orang lain, tetapi tetap ia ucapkan dengan sadar. Ketika ijab kabul selesai dalam satu tarikan napas, Bintang bertepuk tangan paling keras dan menyelipkan bunga melati dari meja ke telapak Senja.

"Buat Mama," bisiknya.

Senja menyimpan bunga itu di antara halaman buku tabungan. Sampai hari ini kelopaknya masih ada, terjepit bersama saldo kosong dan bukti transfer Rp 288 juta.

Sesudah akad, Emak tidak memeluk Senja. Ia hanya memeriksa notifikasi transfer, lalu tersenyum kepada Bagas melalui panggilan video.

Sekarang Senja berdiri di kamar yang ukurannya lebih luas daripada rumah masa kecilnya.

Tas kanvasnya diletakkan di atas bangku beludru. Bintang berputar sambil menunjuk lemari, kamar mandi, dan jendela yang menghadap taman.

"Papa pulang malam. Tapi nanti kita makan bareng." Bintang memiringkan kepala. "Kakak bakal pergi lagi?"

"Enggak."

"Janji?"

Senja menahan napas. Ia belum berani membuat janji terlalu jauh. "Kakak tinggal di sini dulu."

Jawaban itu cukup untuk membuat Bintang tersenyum.

Menjelang magrib, suara mobil masuk ke halaman. Bintang langsung berlari ke bawah. Senja menyusul dengan langkah lebih lambat dan berhenti di ujung tangga ketika Damar memasuki ruang tengah.

Jas abu-abu gelap membingkai bahunya. Ia menerima pelukan Bintang, mengangkat anak itu tanpa kesulitan, lalu mencium keningnya. Kelembutan itu hilang ketika pandangannya beralih kepada Senja.

"Sudah datang?"

"Sudah, Pak."

Alis Damar bergerak tipis. Ia tidak mengoreksi, hanya menurunkan Bintang. "Makan dulu."

Di meja makan, Bintang bercerita tanpa henti. Senja duduk tegak, takut sendoknya berdenting terlalu keras. Bik Inah menyajikan sup buntut dan sayur, makanan yang aromanya membuat perut Senja perih karena sejak pagi ia hanya minum teh botolan.

Damar nyaris tidak menyentuh makanannya.

"Besok Bintang sekolah," katanya kepada Bik Inah. "Jangan tidur terlalu malam."

"Senja yang antar!" seru Bintang.

Damar menatap Senja sekilas. "Dia bekerja."

"Tapi sekarang dia Mama Bintang."

Sendok di tangan Senja berhenti. Bik Inah pura-pura sibuk menuang air.

Damar mengusap kepala anaknya. "Panggil Kakak dulu."

Ia bangkit sebelum makan malam selesai. Kursinya bergeser pelan, tetapi bunyinya terasa tajam di telinga Senja.

"Setelah Bintang tidur, datang ke ruang duduk kamar utama."

Pukul sembilan, Senja mengetuk pintu yang sedikit terbuka. Damar berdiri di dekat meja rendah. Di depannya ada map hitam dan sebuah pena.

"Masuk."

Ia mendorong map itu ke arah Senja. "Perjanjian pranikah. Sudah dibuat notaris sebelum akad dan disesuaikan dengan kesepakatan kita. Ada klausul kerahasiaan. Baca."

Senja membuka halaman pertama. Huruf-huruf kecil berbaris rapat, membahas harta, kewajiban, dan denda jika pernikahan mereka terbongkar. Ia tidak punya pengacara. Bahkan untuk ongkos ke sini tadi, ia menghitung sisa saldo tiga kali.

"Ada masalah?" tanya Damar.

"Enggak."

"Kamu belum membacanya."

"Kalau saya baca sampai besok pun, hasilnya sama." Senja mengambil pena. "Saya tetap harus tanda tangan."

Ujung pena bergetar sedikit ketika menyentuh kertas. Ia menulis namanya, halaman demi halaman.

Damar bersandar, mengamatinya tanpa menyembunyikan curiga. "Mahar sudah diterima keluargamu. Rumah ini menyediakan semua kebutuhanmu. Jangan mencari perhatian di luar."

Senja menutup map. "Saya mengerti."

"Dan satu lagi." Tatapan Damar jatuh ke tas kecil murah yang masih menggantung di bahunya. "Jangan memakai Bintang untuk meminta lebih."

Jari Senja menegang di atas map. Sakitnya singkat, seperti ujung jarum. Ia lalu mendorong dokumen itu kembali dengan kedua tangan.

"Aku nggak akan biarkan siapa pun tahu aku istrimu," katanya, untuk pertama kali menatap mata Damar tanpa menunduk. "Dan aku nggak akan pakai uangmu sepeser pun."

Keheningan mengisi ruang itu.

Jam berdetak.

Damar tidak segera menjawab. Untuk sesaat, hanya ada tatapannya yang berubah, seolah perempuan yang sudah ia putuskan sebagai pemburu uang baru saja mengucapkan kalimat yang tidak tercantum dalam perhitungannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!