Mo Tianxia pernah berdiri di puncak dunia.
Sebagai seorang kultivator yang telah mencapai Absolute Realm, tidak ada lagi lawan yang mampu menandinginya dan tidak ada lagi batas yang mampu menghalanginya. Namun, setelah mencapai segala sesuatu yang bisa dicapai, yang tersisa baginya hanyalah kebosanan.
Dalam sebuah keputusan yang tidak masuk akal bagi siapa pun, Mo Tianxia menghancurkan jiwanya sendiri dan memulai kembali kehidupannya dari nol.
Kini, ia terbangun dalam tubuh yang lemah dengan kultivasi paling dasar.
Tidak ada kekuatan absolut. Tidak ada kedudukan tinggi. Tidak ada nama besar.
Hanya pengetahuan tentang jalan yang pernah ia tempuh.
Dengan sikap tenang dan pengalaman yang jauh melampaui usianya, Mo Tianxia kembali melangkah di jalan kultivasi. Sekte, turnamen, dunia rahasia, para jenius, dan berbagai ancaman mulai muncul di hadapannya.
Namun kali ini, tujuannya bukan menjadi yang terkuat. Ia hanya ingin menikmati kembali perjalanannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Kamar asrama yang ditempati Mo Tianxia dihuni oleh tiga disciple luar lainnya selain dirinya—termasuk Wang Dazhi, yang memaksa Liu Yang mengatur agar mereka bisa sekamar, dan dua anak lain dari desa berbeda: seorang bernama Tie Zhu, anak pandai besi yang bertubuh gempal dan pendiam, serta seorang lagi bernama Xiao Hei, anak periang yang selalu punya cerita untuk dibagikan.
"Hari ini melelahkan sekali," keluh Xiao Hei, merebahkan diri di atas ranjang kayu sederhana. "Tapi seru juga. Kalian lihat tidak waktu Mo Tianxia mengalahkan Zhao Kuang tadi pagi—maksudku, kemarin?"
"Semua orang lihat," gumam Tie Zhu, tanpa mengangkat kepala dari buku catatan teknik dasar yang sedang ia baca.
"Zhao Kuang itu terkenal sombong," lanjut Xiao Hei bersemangat, mengabaikan nada datar Tie Zhu. "Katanya dia dari Klan Zhao, salah satu klan kultivator yang cukup dihormati di wilayah ini. Makanya dia selalu merasa lebih hebat dari disciple lain."
Wang Dazhi, yang sedang mengoles minyak pada memar kecil di lengannya bekas latihan siang tadi, menoleh penasaran. "Kalau begitu, Tianxia baru saja membuat musuh dengan garis keturunan penting."
"Tidak apa," jawab Mo Tianxia santai, duduk bersila di sudut ruangan sambil merapikan pedang kayu latihannya. "Aku tidak berencana menjadi musuhnya. Dia yang memilih jadi begitu."
"Kau tenang sekali soal itu," Xiao Hei tertawa kecil. "Kalau aku yang mengalahkan Zhao Kuang seperti itu, mungkin aku sudah ketakutan sendiri sekarang."
Mo Tianxia hanya tersenyum tipis, tidak menjelaskan lebih lanjut.
'Zhao Kuang,' pikirnya, mengingat pertarungan kemarin. 'Bakatnya sebenarnya tidak buruk. Kalau saja ia belajar mengendalikan egonya, ia bisa menjadi kultivator yang cukup kuat di masa depan.'
Ia teringat ribuan disciple berbakat yang pernah ia temui sepanjang hidup sebelumnya—sebagian menjadi kultivator hebat, sebagian lainnya hancur oleh kesombongan mereka sendiri sebelum sempat mencapai potensi penuh.
'Menarik untuk melihat jalan mana yang akan diambil Zhao Kuang,' pikirnya.
Percakapan berlanjut hingga larut, Xiao Hei bercerita tentang berbagai gosip sekte yang sempat ia dengar dari disciple senior, mulai dari rivalitas antar sekte hingga rumor tentang elder yang jarang terlihat.
"Kalian dengar soal Grand Elder Mu?" tanya Xiao Hei, suaranya merendah seolah membicarakan rahasia besar.
"Grand Elder Mu?" ulang Wang Dazhi bingung.
"Mu Qingshan," jelas Xiao Hei. "Katanya dia salah satu elder terkuat di Tian Yun Sect, tapi sudah bertahun-tahun melakukan seclusion. Tidak ada yang tahu kenapa, atau kapan dia akan keluar."
Mo Tianxia, yang sedang membersihkan debu dari pedang kayunya, menghentikan gerakan tangannya sejenak.
'Mu Qingshan,' pikirnya, nama itu terdengar samar-samar familiar di suatu tempat dalam ingatannya yang luas—namun ia tidak bisa langsung mengingat konteksnya. Ribuan nama telah melintasi hidupnya selama seribu dua ratus tahun; tidak semuanya bisa ia ingat dengan jelas.
'Mungkin hanya kebetulan nama yang mirip,' pikirnya akhirnya, melanjutkan membersihkan pedangnya. 'Atau mungkin tidak.'
Ia tidak terlalu memikirkannya lebih jauh malam itu. Xiao Hei akhirnya tertidur di tengah ceritanya sendiri, disusul Tie Zhu yang menutup buku catatannya dan berbaring tanpa suara. Wang Dazhi, sebelum tidur, menoleh ke arah Mo Tianxia yang masih duduk tenang di sudut ruangan.
"Tianxia," bisiknya, "terima kasih sudah membantuku sampai di sini. Aku tidak yakin bisa lolos ujian tanpa bantuanmu."
"Kau lolos karena usahamu sendiri," jawab Mo Tianxia. "Aku hanya menunjukkan arah."
Wang Dazhi tersenyum, lalu memejamkan mata, tertidur tidak lama kemudian, kelelahan oleh hari yang panjang.
Mo Tianxia duduk sendirian di tengah keheningan kamar, mendengarkan napas teratur ketiga rekan sekamarnya. Ia menatap ke luar jendela kecil, ke arah langit malam yang dipenuhi bintang.
'Rekan sekamar,' pikirnya, sesuatu yang tidak pernah ia miliki di kehidupan sebelumnya—bukan karena tidak ada yang menawarkan, melainkan karena tidak ada seorang pun yang berani berbagi ruangan dengan seseorang di level Absolute Realm.
'Ini,' pikirnya, sedikit geli dengan pemikirannya sendiri, 'terasa jauh lebih menenangkan dari yang kuduga.'
Ia mulai duduk bersila, memasuki meditasi malam untuk melanjutkan pembangunan fondasi kultivasinya, perlahan namun pasti.