NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Jeda Makan Siang

Begitu Ara selesai, kepala pelayan dan beberapa pelayan mulai berdatangan. Mereka merapikan peralatan yang telah digunakan.

Ara tidak ikut membantu. Dengan cuek, ia pergi meninggalkan dapur. Luca sudah datang. Entah sejak kapan Dante sudah mengirimnya kembali ke rumah. Sepertinya Dante sudah menghitung waktunya secara tepat.

Luca masih berbicara dengan instruktur ketika ia berpamitan. Ia sungguh tidak peduli apa yang sedang dibicarakan mereka. Ia tidak berniat menguping. Ia terlalu sibuk memikirkan kakinya yang sedikit mengeras. Dengan langkah sedikit tertatih, dan menahan sakit ia pergi ke ruang makan. Ia menarik salah satu kursi dan duduk memijat betisnya sendiri.

Meja makan di depannya masih kosong. Belum ada makanan yang tersaji. Bahkan piring dan gelas pun belum ada. Baginya, itu tidak masalah. Ia bisa menunggu. Ia bisa maklum. Pelayan masih sibuk di dapur membereskan ulahnya. Yeah setidaknya timbangan, grinder, kettle, dan banyak gelas gagal perlu dibereskan.

Ara hanya melirik ke arah dapur. Instruktur berjalan keluar bersama Luca. Ia memperhatikan mereka yang berdiri di ambang pintu.

Instruktur wanita tua itu bisa tersenyum ramah pada Luca. Bahkan suaranya jauh lebih lembut. Ia masih memperhatikan sampai instruktur itu menghilang dari pandangan. Luca mengantar di depan mobil dan membukakan pintunya.

Ara mengangkat alis dan lupa dengan kakinya yang kram. Ia bergidik melihat senyum terurai lagi di kedua sudut bibir instruktur. Dalam hati ia bertanya-tanya--apakah wanita tua itu menyukai Luca--mungkin untuk dijadikan menantu--bagaimanapun Luca tipe lelaki potensial. Tampan, tinggi, gagah dan kepercayaan Dante. Dari segi ketampanan, Luca tidak kalah dari Dante. Sebelas, duabelas perbandingannya. Beda tipis.

Tunggu!!--batin Ara menyadari ada yang salah dengan pikirannya, bukankah ia baru saja mengatakan Dante itu tampan. Sepertinya otaknya pun harus dibereskan dan diformat ulang.

Tak lama, para pelayan sudah menyiapkan meja makan. Makanan hangat tersaji satu demi satu. Uap tipis mengepul dari sup, sementara aroma lauk yang baru matang jauh lebih menggoda dibanding aroma kopi yang sejak pagi memenuhi hidungnya.

Ara mengambil sendok. Begitu suapan pertama masuk ke mulut, bahunya sedikit turun. Akhirnya, ia bisa makan dengan tenang.

Setelah berjam-jam berkutat dengan takaran kopi, sekarang ia hanya ingin menikmati makan siang tanpa ada seseorang yang menyuruhnya mengulang sesuatu atau menginterupsi.

Luca muncul di pintu ruang makan.

Ara mengangkat mata. “Ada apa?”

Luca berjalan mendekat sambil membawa sebuah botol kecil berwarna gelap. “Untuk Nyonya.”

Ara meletakkan sendoknya. Ia menatap botol itu. “Untuk aku?”

Luca mengangguk. “Dari Tuan.”

Ara langsung memasang wajah curiga. “Dia mau apa?”

Luca meletakkan botol itu di samping piring Ara. “Ini hanya minyak pijat. Nyonya tidak perlu kawatir, Tuan tidak ada niat buruk terhadap Nyonya.”

Ara menoleh ke arah botol itu. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke Luca. Ia mengernyit. Luca sepertinya bisa membaca pikirannya. Ia harus hati-hati saat bicara dengannya.

Luca berdiri tegak, lalu menyampaikan pesan majikannya dengan nada formal.

“Tuan berkata, terima kasih karena Nyonya sudah bekerja keras hari ini.”

Ara mengangkat alis.

Luca melanjutkan, “Tuan tahu kaki Nyonya pasti pegal karena terus berdiri hampir setengah hari di dapur. Jadi Tuan mengirim minyak pijat itu.”

Luca masih belum selesai, ia membuka mulutnya lagi, sebelum Ara memotong. “Tuan juga berpesan, setelah selesai makan jangan lupa dioleskan.”

Ara menghela napas.

Luca masih menyambung lagi dengan kalimat berikutnya, “Tuan akan melihatnya dari CCTV ruang makan.”

Ara perlahan mengangkat wajah. Matanya bergerak ke sudut ruangan. Di sana sebuah kamera CCTV kecil terpasang di dinding. Lampu indikatornya menyala.

Ara menatap kamera itu beberapa detik. Ia beralih kembali menatap Luca. “Dia benar-benar tidak punya pekerjaan lain?”

Luca menahan senyum. “Saya tidak berani berkomentar, Nyonya.”

Ara mendengus kesal. "Masih ada lagi yang ingin tuanmu sampaikan?"

Luca mengangguk. "Tuan juga berkata jika Nyonya tidak bisa atau tidak mau mengoleskan sendiri, Nyonya bisa memberi tahu Tuan by phone. Tuan tidak keberatan pulang ke rumah dan membantu Nyonya."

Huft.. Ara membuang muka. Ia menahan diri tidak emosi di depan Luca. Ia menarik kedua sudut bibirnya dengan paksa dan berkata, "Katakan pada Tuanmu itu, aku yang keberatan. Aku akan mengoleskannya sendiri. Tidak perlu bantuan. Aku bisa."

Ara kembali mengambil sendok. Ia bergumam sendiri, "Aku bahkan tidak tahu apa yang direncanakan dalam pikiran kecil, sempit dan piciknya itu untuk menghukum ku."

Luca belum pergi ketika Ara menggumamkan itu. Ia tahu nyonyanya sengaja memperdengarkannya supaya disampaikan ke tuan.

“Saya harus pamit untuk kembali ke kantor."

Ara berhenti mengunyah dan mengiyakan. Ia menikmati makan siangnya. Ia menyuapkan makanan ke dalam mulut.

Beberapa detik kemudian, Ara kembali melirik kamera. Seolah yakin Dante benar-benar sedang melihat dari sana.

“Dia benar-benar punya banyak waktu, banyak mata, dan banyak tangan, mungkin juga banyak kaki. Ia cukup membuka mulut dan semua berjalan sesuai perintah dan pengaturannya." Ara berbicara sendiri. Ia menggigit bibirnya sendiri. Ia menarik nafas dan menarik botol minyak itu mendekat. Setidaknya kakinya memang kram dan kaku.

Dan kalau Dante benar-benar bisa melihat dari CCTV, Ara tidak akan memberinya kepuasan dengan mengoleskan minyak itu sekarang. Ia akan makan dulu lebih pelan bahkan kalau perlu lebih lama.

Baru setelah itu ia akan menggunakan minyak itu. Tentu ia melakukannya bukan hanya semata Dante menyuruh. Meskipun itu juga menjadi alasan di balik tindakannya. Ia akui ia tidak ingin siang ini Dante datang dan memberikan hukuman baru untuknya. Ia harus sadar siapa yang sedang ia lawan. Ia tidak mungkin menang melawan Dante di wilayah kekuasaannya. Itu ibarat semut melawan gajah. Ia bakal mati terinjak dulu.

Lagipula bukankah harusnya ia berterimakasih kepada Dante. Bagaimanapun ini bisa dikatakan sebagai bentuk perhatian. Kakinya yang sakit memang membutuhkannya.

Ara kembali menguyah makanannya. Ia sengaja mengulur waktu. Entah Dante sadar atau tidak, ia bakal tetap melakukannya. Sekalipun harus kalah atau mengalah di tangan Dante, ia tidak akan membiarkan Dante menang dengan mudah.

Sementara di sudut ruangan, kamera CCTV tetap menyala. Sepasang mata dingin mungkin memang sedang memperhatikannya. Dante memang sedang mengawasi Ara makan sembari ia juga makan. Sebenarnya apa yang sedang dilakukan istrinya? Kenapa siang ini istrinya makan jauh lebih lama dari kemarin? Apakah kakinya sungguh sakit? Ataukah istrinya sengaja mengerjainya karena tahu ia sedang mengawasi.

Ia akan tunggu dan melihat lebih jauh apa yang dapat dilakukan oleh istrinya. Ia menunggu Luca kembali ke kantor. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya digumamkan lirih oleh istrinya di meja makan.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!