Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 : Masuk Rumah Sakit Jiwa
Di Rumah Sakit Jiwa Harapan sehat...
Di dalam bangsal Mawar, seorang wanita muda berjalan menyusuri lorong sambil membawa map berisi data pasien. Rambut hitamnya dikuncir rapi, wajahnya cantik, dan senyumnya mampu membuat pasien merasa lebih tenang.
Dia adalah Suster Nadira Anindya, sudah lima tahun ia mengabdikan diri sebagai perawat di rumah sakit jiwa itu. Bagi Nadira, semua pasien adalah manusia yang pantas diperlakukan dengan kasih sayang. Mereka bukan bahan tertawaan, bukan pula orang yang harus dijauhi.
"Suster Nadira." Seorang dokter memanggilnya dari ruang administrasi.
"Ya, Dok?" jawabnya pelan.
"Akan ada pasien baru dan kasusnya cukup berat. Tolong kamu tangani"
Nadira mengangguk. "Baik, Dok."
Tak lama kemudian, suara ambulans terdengar memasuki halaman rumah sakit. Nadira bersama dua perawat lain berjalan menuju ruang penerimaan pasien.
Pintu ambulans terbuka.
Seorang pria bertubuh tinggi keluar dengan kedua tangan diborgol. Wajahnya tampan, rahangnya tegas, rambut hitamnya dan sedikit agak berantakan. Meski mengenakan pakaian pasien berwarna abu-abu, auranya tetap berbeda dari pasien lain.
Tatapannya kosong, ia tidak berteriak-teriak dan hanya diam. Di belakangnya berdiri seorang wanita paruh baya yang mengenakan pakaian serba hitam elegan. Air matanya mengalir deras sambil memegang sapu tangan.
"Dokter... tolong sembuhkan anak saya..." isaknya.
Di samping wanita itu berdiri seorang pria muda yang tampak terlihat sedih. "Kakak saya sering mengamuk. Bahkan beberapa kali hampir membunuh kami."
Dokter hanya mengangguk sambil melihat berkas pemeriksaan. "Pasien mengalami gangguan psikotik berat disertai perilaku agresif."
Nadira menatap pria itu sekilas. Pasien itu aneh, Nadira tidak melihat tanda-tanda pria itu sedang terkena gangguan jiwa. Pria itu hanya berdiri diam dengan kepala terus menunduk.
"Namanya siapa, Dok?" tanya Nadira pelan.
"Adrian Mahendra," jawab Dokter.
Nadira hanya mengangguk dan masih terus memperhatikan pria itu.
Dokter segera menandatangani dokumen penerimaan. "Mulai hari ini pasien menjadi tanggung jawab rumah sakit."
Wanita paruh baya itu kembali menangis. "Tolong jangan biarkan dia keluar sebelum benar-benar sembuh."
Nadira ikut merasa iba, pasti berat menjadi keluarga pasien gangguan jiwa seperti ini. Ia tidak tahu... air mata wanita itu hanyalah sandiwara.
Adrian digiring menuju bangsal khusus, sepanjang perjalanan ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Beberapa pasien lain mulai berteriak ketika melihatnya.
"Ada orang gila!"
"Ih orang gila baru!"
Sebagian tertawa sendiri, sebagian lagi bertepuk tangan. Namun Adrian tetap diam, tatapannya sesekali mengarah ke jendela yang dipenuhi jeruji besi. Di balik wajah tenangnya, pikirannya berputar.
Nadira segera membuka pintu perlahan. Ruangan itu terlihat rapi di dengan satu tempat tidur, satu meja kecil dan ada sebuah jendela yang dipasangi jeruji besi.
"Silahkan duduk."
Adrian menurut tanpa perlawanan.
Nadira melepas borgolnya dengan bantuan petugas keamanan. "Aku Nadira," ucapnya sambil tersenyum.
Tidak ada jawaban.
"Aku yang akan merawatmu mulai hari ini."
Adrian tetap diam, pandangannya tetap kosong.
Nadira tersenyum tipis. "Tidak apa-apa kalau belum mau bicara." Ia mengambil kotak P3K, di pergelangan tangan Adrian tampak bekas luka akibat borgol yang terlalu kencang. "Ini pasti sakit."
Dengan sangat hati-hati Nadira membersihkan luka itu menggunakan kapas dan cairan antiseptik. Gerakannya begitu lembut, tak sekalipun ia menunjukkan rasa jijik ataupun takut.
Adrian hanya memperhatikan wanita itu. Sudah lama... tak ada yang menyentuhnya dengan kelembutan seperti ini. Sejak ayahnya meninggal, semua orang hanya menganggapnya sebagai beban. Hari itu ada seseorang yang mengobati lukanya tanpa mengharapkan apa pun.
"Kalau terasa perih, tahan sebentar, ya." Suara Nadira begitu lembut.
Adrian menurunkan pandangannya. Entah mengapa, dadanya terasa sesak. Bukan karena sakit, melainkan karena ia hampir lupa bagaimana rasanya diperlakukan seperti manusia.
Nadira selesai membalut lukanya. "Nanti siang, akan ku bawakan makanan untukmu."
Ia berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia sempat menoleh. "Selamat datang di Bangsal Mawar, Adrian."
Pintu tertutup perlahan.
Ruangan kembali sunyi, Adrian memandangi perban putih yang melingkari pergelangan tangannya. Lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang sangat tipis.
Di luar ruangan, Nadira menarik napas lega. "Semoga suatu hari nanti dia bisa sembuh."
Waktu terus berjalan, kini jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Bangsal Mawar kembali dipenuhi berbagai suara yang sudah akrab di telinga para perawat.
Ada pasien yang tertawa sendiri, ada yang terus memanggil nama seseorang yang tak pernah datang, dan ada pula yang duduk diam menatap halaman rumah sakit tanpa berkedip.
Nadira bersama beberapa perawat lain sibuk membagikan makan siang.
"Suster Nadira, kamar tujuh belum diberi makan," ucap seorang perawat senior.
"Baik, Sus. Biar aku saja."
Nadira mengambil nampan berisi nasi, sayur bening, ayam rebus, serta segelas air hangat. Ia kemudian berjalan menuju kamar nomor tujuh.
Tok... tok...
"Adrian, aku masuk ya."
Tak ada jawaban.
Nadira membuka pintu perlahan.
Adrian masih duduk di tepi ranjang dengan posisi yang sama seperti beberapa jam sebelumnya. Tatapannya lurus mengarah ke jendela.
"Kamu belum berpindah tempat dari tadi?" gumam Nadira pelan. Ia meletakkan nampan di atas meja kecil. "Waktunya makan."
Adrian tidak bergerak sedikit pun, Nadira sudah terbiasa menghadapi pasien yang menolak makan. Karena itu, ia tidak merasa aneh.
"Kalau kamu tidak makan, nanti lambungmu bisa sakit."
Adrian tetap tidak merespons.
Nadira menghela napas pelan. Ia mengambil kursi, lalu duduk di samping Adrian. "Aku suapin, ya?"
Tanpa menunggu jawaban, ia mulai menyendok sedikit nasi dan lauk, kemudian mengarahkannya ke bibir Adrian.
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya Adrian membuka mulutnya.
Nadira tersenyum lega. "Nah... begitu dong."
Suapan demi suapan ia berikan dengan sabar. Sesekali ia meniup makanan agar tidak terlalu panas. Bagi Nadira, semua itu adalah bagian dari pekerjaannya.
Namun... bagi Adrian, setiap perhatian kecil itu terasa begitu asing. Sudah berberapa bulan terakhir, di rumahnya sendiri... ia tidak pernah diperhatikan lagi. Bahkan semua orang percaya, kalau ia berbahaya.
"Kamu harus cepat sembuh, ya," ucap Nadira lembut. "Di luar sana pasti masih banyak orang yang menunggumu."
Kalimat itu membuat tangan Adrian yang berada di atas pahanya mengepal pelan. Menunggu? Tidak... tak ada siapa pun yang menunggunya. Yang ada hanyalah orang-orang yang berharap ia tidak pernah kembali.
Selesai makan, Nadira menyodorkan segelas air putih.
"Minum dulu."
Adrian menerimanya tanpa membantah.
"Bagus." Nadira kemudian mengeluarkan beberapa butir obat dari kemasan. "Ini obatmu."
Tatapan Adrian langsung jatuh pada obat-obatan itu. Jantungnya berdegup lebih cepat. Obat-obat itulah yang selama ini membuat kepalanya sering terasa berat dan tubuhnya lemas.
Ia tahu obat itu bukan untuk menyembuhkan dirinya. Melainkan untuk membuatnya terlihat seperti orang yang benar-benar mengalami gangguan jiwa.
Adrian mengangkat wajahnya, menatap Nadira beberapa saat. Di mata wanita itu tidak ada kebencian. Tidak ada tipu daya, hanya ketulusan. Perlahan, Adrian mengambil obat itu lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Nadira tersenyum puas. "Terima kasih sudah mau meminum ini."
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sesaat setelah dirinya menoleh untuk merapikan nampan, Adrian diam-diam menyembunyikan obat itu di bawah lidahnya.
Begitu Nadira keluar dari kamar, Adrian segera memuntahkan obat itu ke dalam tisu.
"Aku tidak boleh kehilangan kesadaran lagi..." gumamnya lirih.
Ia tahu, selama pikirannya masih jernih, masih ada harapan untuk keluar dari tempat itu.
Sore harinya, Nadira kembali melakukan pemeriksaan rutin. Saat melewati taman kecil di tengah bangsal, ia melihat beberapa pasien sedang mengikuti terapi melukis.
Seorang pasien menggambar matahari berwarna hijau. Yang lain menggambar rumah tanpa pintu. Namun pandangan Nadira tertuju pada Adrian. Pria itu duduk sendirian di bawah pohon ketapang dengan sebuah buku kosong di pangkuannya.
"Pria yang aneh..." gumam Nadira.
Bukannya mencoret-coret seperti pasien lain, Adrian justru memegang pensil dengan cara yang benar. Tatapannya tenang, sesekali ia menulis sesuatu dengan tulisan yang indah dan teratur.
"Suster Nadira!" Seorang perawat memanggilnya dari kejauhan.
Nadira spontan menoleh. "Ya?"
"Tolong bantu di ruang terapi."
"Baik!"
Saat Nadira kembali menatap ke arah Adrian. Pria itu telah menutup bukunya dan kembali memasang wajah kosong.
Nadira hanya menggeleng pelan. "Mungkin dia sedang mengalami fase tenang," pikirnya.
Sementara itu, Adrian menggenggam buku kecil di tangannya. Di halaman pertama, hanya ada satu kalimat yang baru saja ia tulis.
"Namaku Adrian Mahendra... aku tidak gila."
Kalimat itu menjadi satu-satunya pengingat bahwa dirinya masih waras... meski seluruh dunia telah memutuskan untuk menganggapnya orang gila.