NovelToon NovelToon
Mekanik Sang Ustadz

Mekanik Sang Ustadz

Status: tamat
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pintu yang terkunci

Suara mesin mobil berhenti di halaman depan. Dari balik gorden kamar yang sedikit tersingkap, Alya melihat sebuah sedan hitam terparkir rapi. Di dalamnya, seorang pria muda dengan kemeja batik keluar bersama orang tuanya. Mereka tersenyum lebar, membawa bingkisan yang dibungkus kain tile cantik.

"Alya, cepat keluar! Tamunya sudah sampai," suara Ibu melengking dari balik pintu kamar.

Alya merapikan jilbab instan yang melingkar sempurna di wajahnya. Ia menarik napas panjang, menatap pantulan dirinya di cermin yang tampak tenang, santun, dan tanpa cela. Persis seperti apa yang diinginkan ibunya untuk ditunjukkan kepada dunia.

Namun, perhatian Alya teralih pada pintu kayu di sudut ruangan yang menghubungkan kamarnya dengan kamar sebelah. Pintu itu terkunci dari sisi luar. Di baliknya, tidak ada suara, tapi Alya tahu kembarannya, Alika, sedang duduk di sana.

"Al," panggil Alya pelan sambil mendekat ke pintu.

"Jangan panggil-panggil. Pergi saja sana, jadilah anak emas yang sholehah," sahut suara serak dari balik pintu. "Ibu sudah mengancamku. Kalau aku berisik atau berani keluar kamar tanpa kerudung saat mereka di sini, uang jajan sebulanku dipotong."

Alya terdiam. Ia merasa bersalah, tapi ia juga tidak punya kuasa untuk mendebat Ayah dan Ibu. Bagi orang tua mereka, Alika adalah aib yang harus disembunyikan. Alika yang hobi pulang malam, Alika yang rambutnya dicat pirang, dan Alika yang menolak memakai selembar kain pun untuk menutupi kepalanya.

"Ini cuma ta’aruf, Al. Belum tentu jadi," bisik Alya.

"Halah, Ayah sudah pasti memilihkanmu yang terbaik. Anak sahabatnya, kan? Lulusan Kairo, kan? Cocok sekali denganmu yang seperti malaikat tanpa sayap," sindir Alika, disusul suara dentuman musik dari earphone yang volumenya sengaja dikeraskan.

Alya mundur. Ia keluar dari kamar dan mendapati ruang tamu sudah harum semerbak wangi melati. Ayahnya duduk dengan tegak, wajahnya berseri-seri. Di depannya, pria bernama Farhan itu menunduk sopan.

"Nah, ini Alya," ujar Ayah dengan nada bangga yang tidak pernah diberikan pada Alika. "Satu-satunya putri kami yang bisa kami andalkan."

Kalimat itu menyengat hati Alya. Satu-satunya? Ayahnya baru saja menghapus eksistensi Alika di depan tamu-tamu itu.

Di ruang tamu, teh dituangkan dan tawa kecil terdengar sopan. Sementara beberapa meter dari sana, di balik pintu yang sengaja dikunci, satu nyawa lain sedang diasingkan karena dianggap tidak cukup suci untuk diperkenalkan.

Selembar Kertas dan Rahasia di Balik Pintu

Di ruang tamu, suasana mencair. Ayah dan sahabatnya, Pak Ridwan, tertawa mengenang masa muda mereka di pesantren. Sementara itu, Farhan hanya sesekali tersenyum sopan, matanya lebih banyak tertuju pada hamparan karpet.

"Ini profil putra saya, Farhan," ujar Pak Ridwan sambil menyerahkan sebuah map kuning berisi CV ta’aruf. "Lulusan teknik, sekarang sedang merintis usaha bengkel modern. Orangnya agak kaku, tapi insya Allah tanggung jawab."

Ayah menerima map itu dengan tangan gemetar karena bangga. "Terima kasih, Ridwan. Kami akan mempelajarinya dulu. Nanti kalau Alya setuju, kita atur pertemuan berikutnya untuk kelanjutan khitbah."

Alya tertunduk. Tangannya meremas ujung khimar. Ia bisa merasakan tatapan bangga ibunya yang seolah mengatakan, Inilah jalan hidupmu yang lurus. Namun, pikiran Alya justru melayang ke kamar sebelah. Ia membayangkan Alika yang mungkin sedang meringkuk di pojok tempat tidur, merasa terbuang di rumahnya sendiri.

Setelah tamu-tamu itu pulang dan mobil mereka menghilang di ujung aspal, suasana rumah yang tadinya hangat mendadak berubah dingin.

"Alya, bawa masuk CV ini ke kamarmu. Baca baik-baik," perintah Ayah sambil menyerahkan map itu. Wajahnya yang tadinya ramah pada tamu, kini kembali datar saat menatap ke arah lorong kamar Alika. "Jangan biarkan kembaranmu menyentuh kertas ini. Ayah tidak mau dia merusak suasana dengan komentar-komentarnya yang tidak sopan."

Alya menerima map itu tanpa membantah. Ia berjalan pelan menuju kamarnya. Begitu pintu depan dikunci oleh Ibu, Alya segera menuju pintu penghubung yang masih terkunci dari luar. Ia memutar kunci cadangan yang ia sembunyikan di bawah tumpukan buku.

Ceklek.

Pintu terbuka. Bau asap rokok elektrik rasa stroberi menyengat hidung Alya. Alika sedang duduk di lantai, mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek, sedang asyik memainkan ponselnya. Rambut pirangnya yang acak-adakan terlihat kontras dengan cahaya lampu kamar.

"Gimana? Pangeran Arab-nya sudah pulang?" sindir Alika tanpa menoleh.

Alya tidak marah. Ia justru duduk di samping Alika, di atas lantai yang dingin. Ia meletakkan map kuning itu di antara mereka berdua.

"Ayah bilang dia lulusan teknik. Namanya Farhan," kata Alya lembut.

Alika melirik map itu dengan sinis. "Terus kenapa dikasih lihat ke aku? Mau pamer kalau kamu bakal dapat suami mapan sementara aku bakal berakhir di jalanan?"

"Enggak, Al. Aku cuma mau kamu tahu. Kita ini kembar. Apa yang terjadi padaku, kamu juga harus tahu," Alya menggeser map itu lebih dekat ke Alika. "Lagipula, aku belum bilang iya. Aku nggak mau melangkah kalau kamu merasa makin terasing di rumah ini."

Alika terdiam sejenak. Matanya menatap map kuning itu, lalu beralih ke wajah Alya yang bersih tanpa riasan. Ada kilat kesedihan yang coba ia sembunyikan dengan tawa hambar.

"Kamu terlalu baik, Alya. Itu masalahmu," Alika bangkit berdiri dan melempar ponselnya ke kasur. "Percuma kamu peduli padaku. Di mata Ayah dan Ibu, aku ini cuma bayangan hitam di foto keluarga yang harus mereka sensor."

Alya meraih tangan kembarannya. "Kamu bukan bayangan, Al. Kamu bagian dari aku."

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NN
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!